Hujan dan Basah
Perjalanan sehari-hari, didukung oleh sepeda motor nan kencang, tapi sayangnya saya bawa dengan kecepatan seperti nenek-nenek. Pendek kata, kecepatan rata-rata yang cenderung rendah saya pilih. Tidak sedikit memang sahabat yang mencibir, gaya mengendarai sepeda motor saya. Pertimbangan keamanan, di mana jalanan tak ubahnya medan pertempuran menjadikan berkendara harus ekstra hati-hati. Barangkali kehati-hatian, menjadi keharusan dan [...]
Sebuah Ruang
Suatu ketika, sebuah titik telah berubah menjadi garis. Di sisi lain, garis-garis tersebut saling bersilangan kemudian membentuk ruang. Berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan? Ide tentang ruang untuk hidup, telah menjadi pembenaran berjuta bangsa guna menguasai bangsa lain. Tak peduli ribuan pelor, literan minyak dan peluh, lembaran dolar, serta beberapa nyawa yang telah melayang. Demi [...]
Hello world!
Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
perjalanan masa
Dik kenanglah suatu masa
Dalam jarak ribuan depa
Kita bercengkerama
Hanya huruf dan deretan kata
Sonder swara
Bahkan pandangpun hanya bertumbuk kaca
Tak tentu apa yang kita bincangkan
Segalanya mengalir
Seperti air mencari sungai
Seperti hawa mencari rongga
Seperti awan menunggang udara
Seperti riak mencapai pantai
Dik kenanglah kelak di suatu masa
Meski saat itu kita tlah renta
Anak dan cucu adalah hari-hari kita
Boleh jadi kitapun tlah samar akan swara dan rupa
Tapi setidaknya kita pernah berbicara
Lama kita tak berkata-kata
Swara hampa dipacu jarak
Huruf-huruf luruh didera makna
Kutulis catatan di pekat malam
Kupahat ingatan di palung dalam
Marilah merapat lebih dekat
Kaudengar kalimat pada nafasku
Kautangkap bisik pada kedipku
Kaubaca makna pada diamku
Marilah mendekat lebih rapat
Di rentang sekat kita menatap
Sejauh pandang hanya cakrawala
Dan sepi menyergap
Dik, rasanya kita tak perlu
Membilang waktu
Biarkan saja ia menemukan tepinya
Kita menyaksikan siang menjemput malam
Berulang-ulang
Bulan bintang berpendaran
Daun kering berguguran
Hujan reda dan bunga bermekaran
Dik, sepertinya kita tak perlu mengeja masa
Biarkan ia mengguratkan catatannya
Pada kerut di wajah
Pada uban di kepala
Pada kesabaran yang dalam
Pada kearifan yang memancar
Dik, masihkah perlu
Kita menoreh waktu
Sedang ia sesungguhnya
Bukanlah milik kita
_____________________________
puisi dari seorang sahabat, yang rindu…
makasih untuk sumbangsih tulisan ini



jejak tertinggal