unclegoop.com
melintas batas
melintas batas
Jun 9th
Jakarta, menjelang Tahun 1962….
Semburat senja merona kemerahan di langit barat. Angin bertiup lembut menerbangkan dedaunan yang telah jatuh dan terserak di jalan. Berkas sinar matahari yang berhasil menerobos gerumbul awan jatuh di tembok rumah sakit itu. Tembok yang warnanya putih pun kemudian bagaikan tersapu kuas berubah warna menjadi kekuningan.
Tidak semua bagian tembok terkena sinar matahari. Memang, meskipun sudah berhasil menerobos awan, namun ada pula di antaranya yang tertahan pepohonan. Hasilnya ialah bayang-bayang yang tercetak di tembok, yang bergerak, seirama dengan gerakan pohon yang dihembus angin.
Ahai, rupanya bukan hanya bayangan pohon saja yang jatuh di tembok itu. Di sana, di tembok itu, ada pula bayangan kaki jenjang, sesosok tubuh dan kibaran rambut. Empunya tubuh sendiri memang saat itu sedang tenang-tenang berdiri menunggu.
Ainun nama perempuan itu, ia seorang dokter anak. Sosoknya tak begitu tinggi, senyumnya ramah kepada siapa saja, lagaknya anggun dan terkendali. Dan sore itu, ia sedang menunggu kedatangan Rudy kekasihnya datang menjemput. Sudah beberapa lama ia berdiri seperti itu, setia menunggu.
Dari ujung jalan, nampaklah becak yang mendatangi Ainun perlahan-lahan. Ainun hapal betul siapa penumpang di becak itu, ialah Rudy yang duduk tak tenang. Di benak Ainun terbayang bagaimana Rudy akan meminta kepada tukang becak, “Ayo, Pak, kayuhlah lebih cepat. Kasihan bila Ainun mesti menunggu.”
Tak berapa lama kemudian, masih dengan kecepatannya semula, perlahan-lahan becak itu pun mulai mendekat. Sementara penumpang di dalamnya sudah hendak meloncat tak sabar lagi.
Senja pun kemudian menjadi saksi, bagaimana dua pasang kekasih yang saling peduli itu bertemu. Sesosok pria dengan bola mata bundar yang berkerjap-kerjap bahagia dan wanita dengan matanya yang seteduh telaga. Dua pasang mata itu pun baku pandang, waktu terhenti.
Ainun pun dituntun Rudy memasuki becak yang setia menunggu dengan tukangnya yang menyusut peluh karena bingung hendak melakukan apa saat menatap dua sejoli yang dilanda asmara begitu. Plastik penutup becak pun ditutup kendati hari tak hujan, barangkali khawatir angin nakal mengusik ketenangan mereka berdua. Sementara keduanya berasyik masyuk memadu kasih, becak itu pun berjalan perlahan-lahan.
Jun 5th
Jun 4th
Manakala manusia sudah tak percaya pada dirinya sendiri….
Surrogates adalah sebuah robot pengganti. Ia dibuat semirip mungkin dengan pemiliknya, bahkan tak jarang melampaui. Robot pengganti ini menjadi pencitraan sempurna dari pemiliknya.
Citra sempurna itu berarti manakala si empunya sudah memutih rambutnya, ringkih tubuhnya dan tak lagi sempurna berjalan, si robot pengganti adalah kebalikan dari itu semua. Ia masih memiliki rambut yang hitam sempurna, tebal dan indah untuk perempuan atau gagah dan berjalan tegap untuk lelaki.
Namun, semua itu hanyalah tipuan belaka.
Robot pengganti itu menjadi topeng yang dipasang sempurna. Ia nampak sempurna, padahal pemiliknya sendiri hanya mampu tergolek pada pusat kendali di rumahnya. Kira-kira begini gambaran para pemilik Surrogates itu: berpiyama, muka kusut, kelelahan dan kurang gerak yang berarti juga kurang sehat.
Dengan robot itu pula mereka menjalani aktivitasnya sehari-hari. Yang semula seorang sherrif tetap menjadi sheriff, pun bila awalnya seorang penjahat. Bedanya, sheriff dan penjahat itu tidak bisa mati karena yang ditembak, yang tertabrak mobil, yang patah kaki selepas beraksi dan berkelahi adalah robot-robot pengganti.
Masalah muncul manakala kerusakan yang terjadi pada robot pengganti berimbas pada pengendali yang duduk aman di rumah. Kerusakan itu muncul karena adanya senjata percobaan yang semestinya sudah tiada ternyata masih tersisa sebuah yang belum dimusnahkan. Akibatnya, ketakutan melanda para pengendali.
Apa yang terjadi pada para pengendali itu? Tontonlah Surrogates, jadilah saksi manakala dendam harus dibayar dengan mahal. Bagaimana eksistensi manusia perlahan-lahan digantikan oleh buah karyanya sendiri.
Jun 3rd