Sendiri

Setiap hari lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Bangun tidur, tidak ada siapapun yang ditemukan saat membuka mata. Hal biasa yang dilakukan di kamar mandi, juga tak ada yang menemani. Jok belakang sepeda motor yang lega lebih sering kosong, sehingga batas kecepatan dapat dicapai dengan mudah.

Kesendirian menjadi sahabat karib, menemani ke manapun kaki melangkah. Pada akhirnya, justru nyaman dengan itu semua. Terganggu bila banyak orang, bising dan ramai ditemui. Merasakan kesendirian, seperti menikmati teh hangat, dicecap pelan, dirasakan dengan penuh kenikmatan.

Pada teh hangat, tidak ada kejutan berarti yang ditemui, sedikit pahitnya adalah kewajaran. Bila gula terlalu banyak dibubuhkan, menjadi terlalu manis, maka tinggal ditambahkan air. Tak jarang, beberapa jenis teh memberikan keharuman yang berbeda. Sedikit kejutan memang, tapi tak lama.

Segelas teh kemudian begitu personal. Saya memiliki takaran gula sendiri, kadar panas air sendiri, jenis atau mungkin merk teh sendiri. Bila itu tidak terpenuhi, kemudian saya akan kecewa, kurang nyaman dan serasa ada yang kurang.

Egois

Ah ya, benar sekali! Saya menjadi begitu egois dan terobsesi dengan kesendirian. Alih-alih berjamaah ke masjid, saya malah akan lebih nyaman di rumah. Entahlah, barangkali beberapa saat lagi akan berdiri agama dengan saya sebagai nabinya.

Saya merasa merdeka bila sendirian. Tak ada batasan, bebas terbang seperti burung di angkasa. Mengepakkan sayap yang terentang di antara gemawan. Menelusup di balik mega-mega. Mencumbui pucuk-pucuk rembulan dan ketiak matahari.

Sayang, dunia ini tidak pernah saya miliki sendiri. Tidak pernah menjadi sebenarnya egois dan merdeka seutuhnya. Seperti camar yang kaget dengan hadirnya rajawali, mengecil, mendadak merasa tidak berarti. Awan-awan harus dibagi, mega-mega dipecah. Rembulan pun sembunyi-sembunyi dilihat, dan hangat mentari hanya sedikit bisa dirasakan.

Orang lain selalu ada, lengkap dengan kemerdekaan mereka sendiri. Menjadi saling bersinggungan, tak jarang berbenturan. Mungkin akan tiba suatu masa saat benturan-benturan itu bersatu padu, menjadi ledakan dahsyat. Lubang hitam terbentuk, dengan sejuta kali gaya gravitasi.

Alangkah indah bila camar terbang beriringan dengan rajawali. Saling membimbing, berkelok di antara awan. Menunjukkan jalan bila rajawali lupa, dan camar sok tahu. Menuju ke batas, saat matahari mulai terbenam dan bulan berganti memainkan perannya.

Saat besar tak selalu benar, ketika kecil tak selalu salah. Bilakah?

saya adalah

Presiden

“Kemarin saya menaikkan BBM setelah mendengar pertimbangan menteri-menteri, yang panjang kali lebar, kali tinggi, yang sebenarnya tidak begitu saya pahami.”

Polisi

“Duh!! Pekerjaan saya bertambah. Razia sepeda motor tidak bisa lagi saya lakukan. Perangkat kerja saya bertambah, helm, perisai dan pentungan. Saya baku pukul dengan mahasiswa. Oya, saya harus berhati-hati bila pulang kerja, karena bisa saja saya dikeroyok oleh kerumunan.”

Mahasiswa

“Agenda hari ini demonstrasi, kemaren juga demonstrasi dan sempat baku pukul dengan polisi. Rencana minggu depan adalah mogok makan, persiapan aksi teatrikal dan penyusunan exit strategy. Sebenarnya saya tidak begitu mengerti. Errrr!!”¦ sudahlah, saya sedang bingung memfotocopy catatan, karena besok ujian akhir semester. Oya, dan tentu saya belum belajar.”

Nenek penumpang angkutan

“Copot, eh copot, copot!! Saya dipaksa turun dari angkutan. Mana saya susah berjalan, osteoporosis dan monopouse menghalangi gerak. Sekali itu, tumben saya bisa berjalan cepat. Aih, hitung-hitung olah raga. Meski saya khawatir, sungguh!”

Bloger kurang kerjaan

“Saya sibuk mencatat dan ehm “¦ bingung!! Siapa anda, kawan? Apakah salah satu di antara sosok-sosok ini?

Ternyata, seru juga yak!™

[adsenseyu1]

Halaman Belakang

Sebagai bagian dari bangun rumah, halaman belakang biasanya ada. Beragam fungsi serta peran yang dimainkannya. Halaman belakang, menjelma menjadi taman-taman indah nan artistik, penuh sentuhan nilai seni pada rumah yang mewah. Tak jarang, kolam renang dengan air kebiruan menjadi pelengkapnya. Di lain pihak, halaman belakang adalah tempat menimbun perkakas yang tidak penting dari suatu rumah sederhana yang kelebihan perabot.

Tempat bercengkerama keluarga, menyatukan pendapat, berbagi cerita dan cinta. Wahana menikmati secangkir teh, susu atau kopi panas di pagi hari sambil membaca koran. Di sore hari, halaman belakang bisa menjadi tempat pelepas lelah dan penat setelah seharian bekerja. Kursi malas dengan busa empuk, meja-meja bundar bercita rasa seni, tumpukan koran dan buku, beberapa toples cemilan, dan tidak lupa senyum manis istri di sore yang cerah akan lengkap dinikmati di halaman belakang.

Kandang ayam yang reot, ayam yang berkotek cemas khawatir pakannya kurang. Tumpukan kardus bekas wadah televisi dan tape. Susunan kardus yang berantakan menempel di dinding. Telek ayam dengan bau yang tak sedap. Seringkali sampah plastic dan organik yang terserak, karena tak ada tempat sampah dan kemalasan mengumpulkannya, serta anggapan akan menjadi pupuk. Lengkap sudah, halaman belakang sebuah rumah di kampung.

Sekarang ini, tidak semua rumah memiliki halaman belakang. Tinggal di perumahan, rumah yang ada saling berhadapan dan memunggungi. Halaman belakang yang semestinya ada, menjadi rumah orang lain. Halaman depan yang luas, menjadi gang atau jalan kecil. Tinggal di lingkungan kumuh, makin parah karena tiada lagi punggung dan muka rumah. Rumah yang ada seperti terserak begitu saja, muka bertemu muka, muka bertemu punggung, atau punggung bertemu punggung mudah sekali ditemukan.

Lega tidaklah mudah ditemukan. Halaman sebagai salah satu prasyarat untuk mencapainya telah tiada. Berganti jalanan atau gang, pun muka dan punggung rumah orang lain. Sesak; terhimpit dijejalkan seperti kaos kaki tua, di almari yang sudah penuh. Paksaan terjadi, dan pemberontakan biasanya akan mengikuti. Pemberontakan yang muncul dari diri sendiri, perasaan tertekan sampai dengan stress. Iri dan dengki melihat keberhasilan orang lain atau tetangga.

Kehidupan harus terus berjalan, ada atau tiada halaman belakang. Penyeimbang bagi halaman depan dan tempat buang penat, hanyalah pelengkap yang kini telah hilang. Berpusaran dari pintu depan, dalam rumah yang pengap, kemudian keluar lagi melalui pintu depan. Tidaklah aneh kemudian bila tidak lengkap, mirip seperti makanan yang masuk dan dimuntahkan.

Aha, pintu! Seiring hilangnya halaman belakang, pintu butulan* pun tiada kini. Hanyalah pintu depan, atau garasi yang tersedia. Jalan keluar lain itu, hilang! Wajar bila masalah demi masalah, seperti tamu yang datang dan lupa pamit malah tinggal. Jalan keluar itu, tidak menemukan muaranya di halaman belakang. Mirip bom waktu yang dipendam, suatu saat, entah kapan akan meledak.

*) adalah istilah untuk pintu belakang dalam bahasa jawa

[adsenseyu1]

Warisan Kemerdekaan

“Paman, ceritakanlah tentang kemerdekaan!”

“Apa yang ingin kau ketahui?”

“Semuanya Paman, semuanya.”

Dahaga keingintahuan ponakan saya yang pintar, ataukah usil sebenarnya? Tidak pernah mudah saya jawab. Ada saja pertanyaan lanjutan, dan keraguan yang muncul setiap mendapatkan jawaban baru. Malas, dan rasa penasaran yang sama, membuat saya mengajaknya kepada mBah Darmo, konon beliau ini pejuang pada masa kemerdekaan dahulu.

Tiada yang istimewa dari orang tua itu, keriput telah menjadi hiasan muka; tangan dan sekujur tubuhnya. Rambutnya yang putih keperakan, menjadi penanda jumlah umur yang telah dilewati. Gigi sudah tidak lengkap mendiami rongga mulutnya yang berjelaga nikotin. Lebih banyak melamun di beranda rumah, mengawasi cucunya bermain. Nampak putus asa, terengah-engah tertinggal laju jaman yang kian cepat dan tak bisa diikuti olehnya.

Matanya berkilat memancarkan semangat, saat ponakan saya mulai bertanya tentang kemerdekaan. Tak lama kemudian redup, seakan menanggung derita yang dalam. Binar yang bergelora dan berapi-api, bahkan dalam usia senja yang tak bisa ditutupinya. Kesedihan mendalam, seperti remaja putus cinta mengakhiri ceritanya.

***

Kampung kita, adalah tempat pertemuan pejuang dengan penjajah cucuku. Tidak akrab, bukan diawali dengan saling bersalaman dan bertukar senyuman. Kami berkumpul di rumah Pak Lurah, pada malam itu. Penjajah sudah merapat di selatan desa.

Sawah yang menguning sekarang ini, adalah saksi. Di sana kami mengendap-endap di antara pematang, parit dan rimbun ilalang. Beringsut, semakin mendekati perkemahan musuh. Jelas kami dengar, celoteh para penjaga dalam bahasa kita. Penghianat, selalu saja menjijikkan bahkan dalam gelap itu, kami dapat melihat seringai mencibir dari bibir mereka.

Darah mendidih, bambu runcing erat dalam genggaman. Bersijingkat pelan, di antara batang padi muda; gulma dan ilalang. Diam; waspada, kami berjalan. Di dalam sana, degup jantung tidak karuan. Begitu riuh, seperti akan menghancurkan rongga-rongga dada.

Teriakan membahana menjadi awal penyerbuan kami. Kecewa, kami kecewa! Mereka telah siap ternyata. Suasana sepi dan santai yang tersaji, adalah strategi mereka. Memerangkap kami, dalam pertempuran jarak dekat yang sudah dirancang sebelumnya. Korban berjatuhan dari kedua pihak, sawah di selatan desa tergenang darah. Darah perjuangan!

Pemimpin kami, anak sulung Pak Lurah telah terluka pahanya. Segera memberikan aba-aba mundur, sambil membakar ilalang dan rumah-rumah di kampung kita. Aksi bumi hangus, kami menyebutnya. Bukit, lereng bukit di utara itu kau lihat? Di sana kami bersembunyi, sesekali masih melakukan gerilya. Memotong jalur logistik musuh, merampas makanan untuk wanita dan anak-anak kami.

Kami tidak mengetahui, apakah itu kemerdekaan sebenarnya. Bagi kami, bisa mengolah sawah dengan bebas, tanpa terbebani pajak. Bagi kami, bisa bercengkerama dengan orang tua, anak dan cucu tanpa khawatir, adalah kemerdekaan. Mahal harga yang harus kami bayar, harta; nyawa; waktu luang menjadi penebusnya. Demi sebuah udara yang bebas; air yang jernih, telah menganak sungai darah yang tertumpah.

Sayang, kemerdekaan itu belum tercapai hingga kini. Lihatlah! Di beranda ini aku melihat dunia. Udara bebas kuhirup, membawa kabar duka lara dari tempat-tempat yang jauh. Duka mereka yang terpinggirkan di rumah sendiri. Lara mereka yang teraniaya oleh saudara sendiri. Di beranda ini, semua itu kulihat.

Perjuangan tidak pernah berakhir. Padi menguning, bulir-bulirnya yang padat; penuh. Punggung kami yang menghitam, dan melengkung aneh kebanyakan mencangkul. Masih kurang, untuk menebus minyak tanah dan minyak goreng. Makanan yang ada, hanya ikan asin, nasi aking dan sambal. Meski sederhana, peluh tak henti mengalir untuk menebusnya.

Kami tak pernah menuntut, memberi dan memberi itu yang kami bisa. Penderitaan kami, adalah harga yang pantas. Demi anak dan cucu yang bisa tertawa bahagia; demi kesempatan yang akan terbuka lebar. Sudah menjadi kewajiban kami menderita, kami percaya, bila di balik itu kejayaan membayang. Negara ini sungguh besar dan kaya. Tak berkurang kekayaannya, bahkan bila perutnya diaduk, hasilnya dimasukkan kantong sendiri. Korupsi takkan mengurangi kekayaannya. Pengkhianatan perjuangan, sudah ada semenjak dahulu kala. Bukan masalah yang besar bila kami dipinggirkan, dipandang sebelah mata dan dimasukkan panti jompo.

Hari-hari kami, sudah tidak berbeda lagi. Pengulangan demi pengulangan sejarah selalu terjadi. Mereka yang hari ini jumawa, mungkin besok akan menderita. Mawas diri, melihat dunia hanya dua sisi mata uang yang berganti-ganti kita dapatkan. Tiada lagi yang menjadi kejutan, semua adalah kewajaran. Aji mumpung ada dan mendapatkan kesempatan, masih ampuh diterapkan. Tersenyumlah, lihatlah semua itu! Petiklah pelajaran, menjadi pengalaman.

Aku tidak pernah bosan menjadi saksi. Kesedihan; dipinggirkan; ditinggalkan sudah biasa kudapatkan. Tersenyum yang semestinya mudah, menjadi susah. Bukan; bukan karena aku tidak bisa tersenyum. Aku hanya malu tersenyum, karena gigi yang tanggal, kempot di pipi menjadi bahan tertawaan. Seperti apa yang kau tahan-tahan dari tadi itu kan cu? Kenapa tidak kau lanjutkan menjadi tawa? Dan marilah kita tertawa bersama-sama.

***

“Paman, apakah kita sudah merdeka?”

“Paman?!”

Saya bukannya tidak mendengar panggilan ponakan saya, juga pertanyaannya. Saya masih tertawa, teringat gigi yang tanggal, dan kempot di pipi. Ah, jahatnya saya …

Cerita: Hujan dan Basah

girl and rain

Perjalanan sehari-hari, didukung oleh sepeda motor nan kencang, tapi sayangnya saya bawa dengan kecepatan seperti nenek-nenek. Pendek kata, kecepatan rata-rata yang cenderung rendah saya pilih. Tidak sedikit memang sahabat yang mencibir, gaya mengendarai sepeda motor saya.

Pertimbangan keamanan, di mana jalanan tak ubahnya medan pertempuran menjadikan berkendara harus ekstra hati-hati. Barangkali kehati-hatian, menjadi keharusan dan niat yang ditanamkan terus menerus. Tetapi jalanan, bukan hanya kita. Banyak sekali pengendara lain, pengguna jalan lain yang tidak sama watak dan kepribadiannya. Kita sudah berhati-hati, tapi orang lain mungkin tidak.

Berkendara bagaimanapun menjadi tidak aman. Teori dan praktek harus dikuasai penuh, diterapkan dengan segenap kesadaran. Ups, sepertinya saya mengambil jatah Baginda bila saya menuliskan tentang berkendara ini.

Alasan lain sehingga saya cenderung pelan naik sepeda motor adalah, banyak sekali hal-hal yang bisa saya perhatikan sambil berkendara. Barangkali ini tidak aman, tapi kecepatan pelan memungkinkan untuk mengambil berbagai keputusan yang “aman”. Mahasiswi yang baru pulang kuliah, karyawati bank yang mengenakan rok, atau anak SMU yang sembarangan menyeberang. Ah, indah sekali jalanan, meski beberapa catatan, tentu menyertainya. Tidak macet, polusi tidak banyak, cuaca tidak terlalu panas dan hal-hal nyaman yang lain.

Musuh berkendara sepeda motor adalah hujan. Sibuk sekali bila hujan turun saat asik berkendara. Mulai dari harus menepi untuk mengenakan jas hujan. Penggunaan jas hujan itu sendiri yang merepotkan dan membatasi gerak. Tak kalah repot, bila menghadapi jalanan yang licin dan perlu ekstra hati-hati.

Membayangkan berada dalam mobil, dengan AC menyala. Sound system canggih yang mengeluarkan suara empuk, dari radio atau penyanyi idola sungguh menyenangkan. Titik-titik air yang jatuh di kaca depan, disapu wiper dengan gerakan konstan, menjadi pemandangan tersendiri. Kaca jendela samping, yang berkabut, menggunakan tangan mengusapnya dan terlihat pemandangan baur bertirai hujan sungguh indah.

Bila kesempatan tidak sering itu datang, maka saya akan sangat menikmatinya. Duduk diam, melihat pemandangan di luar mobil yang hiruk pikuk. Menikmati kering dan dingin AC, alunan melodi lembut dari tape mobil benar-benar melenakan. Saya seperti hidup dalam dunia tersendiri, yang asing dari kejadian dan kondisi di luar. Merasa aman, terlindungi, kadang juga hening.

Di luar, seorang gadis sibuk memegang payung. Satu tangan yang lain berulang kali membetulkan rok yang berkibar tertiup angin nakal. Dua sejoli berboncengan, berpelukan erat terlindung oleh ponco yang tidak bisa menahan air hujan jatuh di celana. Begitu mesra, dan tidak peduli pada basah. Nenek tua, ragu-ragu menyeberang, dan anak jalanan basah kuyup.

Saya tertawa, benar-benar jumawa. Kaca tipis dan di dalam mobil telah merubah saya menjadi orang lain. Seseorang yang tertawa, saat orang lain mungkin menggerutu karena dingin, basah. Beginikah rasanya menjadi berkuasa? Menikmati sedikit kesenangan dan lupa? Lupa bila sebentar lagi saya harus turun, dan kembali ke habitat asal. Kehujanan, basah dan kedinginan.

Apakah sekali waktu jumawa itu perlu? Sekedar menjaga keseimbangan, agar hidup tidak monoton dan berwarna. Saat kemudian, saya harus berkendara naik sepeda motor dengan jas hujan, dingin dan basah. Mengapa saya ingin? Ataukah iri pada mereka yang bermobil? Apakah ini wajar, sobat?

Bila sebentar saja, saya berpindah moda transportasi. Ah, parah sekali akibatnya. Menjadi orang lain yang mungkin bukan saya. Berharap-harap atau iri pada kesempatan yang hanya sebentar itu. Menggerutu saat kenikmatan itu hilang dan kembali ke habitat asal. Tidak bersyukur, atau lebih parah ingkar akan nikmat? Bahkan jumawa, sombong pada sesuatu yang bukan milik saya, dan sebentar lagi hilang, lepas.

Benarkah perasaan nikmat bermobil itu? Tidakkah mereka khawatir pada macet, genangan air dan mesin mendadak mati kemasukan air?

Barangkali saya ini manusia tanggung. Iri kepada mereka yang bermobil, tanpa benar-benar mengerti kekhawatiran mereka. Bukankah mereka sibuk mengabarkan kepada orang rumah, atau selingkuhan posisi di mana persisnya mereka berada saat ini? Harap-harap cemas, di mobil yang terjebak dan susah keluar dari macet yang basah. Gelisah teringat keterlambatan yang mungkin terjadi, pada sebuah janji bisnis maha penting.

Saya lupa, di antara nikmat itu pasti ada senyum kecut, khawatir, sedih dan gelisah. Menjiwai semua itu, berkenalan dengan nikmat dan susahnya sekaligus, belum sempat saya lakukan. Secuil kenikmatan, bila itu benar-benar nikmat, telah menggoda untuk menjadi jumawa. Lupa diri, sungguh permainan kecil yang berbahaya.

Jas hujan saya pakai, mulai berkibar ketika pelan saya jalankan sepeda motor. Tetes-tetes air jatuh di helm, ponco dan sepatu. Selapis tipis air di atas jalan tersibak saat ban sepeda motor membelahnya, menjadi semacam pisau yang mengiris lapisan brownies menjadi persegi. Serombongan siswi SMU menjerit, saat saya melintas genangan dan air terpercik di seragamnya. Berhenti sebentar, membiarkan anak jalanan menuntun nenek tua yang akan menyeberang.

Gadis yang mengenakan rok dan berpayung itu tersenyum, pelan kemudian saya hampiri. Keruh di wajahnya tersapu hujan, meninggalkan rona di pipi. Menutup payung dengan anggun, pelan menelusup di balik ponco. Meletakkan pantatnya di jok belakang, dengan sedikit hentakan pada shockbreaker. Sebelah lengannya kembali membetulkan rok, yang sebelah lagi melingkar erat di pinggang. Sepeda motor berjalan, deru mesin, rintik hujan dan desau angin menjadi melodi, saat mulut saya berdendang dalam gigil.

Apalah hujan? Apalah basah?

Picture


Sebuah Ruang

Suatu ketika, sebuah titik telah berubah menjadi garis. Di sisi lain, garis-garis tersebut saling bersilangan kemudian membentuk ruang.

Berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan?

Ide tentang ruang untuk hidup, telah menjadi pembenaran berjuta bangsa guna menguasai bangsa lain. Tak peduli ribuan pelor, literan minyak dan peluh, lembaran dolar, serta beberapa nyawa yang telah melayang.

Demi beberapa meter persegi yang lebih luas, beberapa depa tanah yang lebih subur, beberapa jengkal ladang kaya minyak dan entah apa lagi…

Berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan?

Dimensi tubuh kita tidaklah terlalu luas, namun justru karena otak kecil kita, segenggam hati kita dan seonggok jantung kita yang tentu juga kecil, mulai muncul masalah.

Rentetan keinginan dan kebutuhan yang dihasilkan dari sensasi mata, desiran kulit, dan getaran gendang telinga. Terhubung melalui syaraf halus dengan otak yang mulai bekerja, merembet pula ke jantung yang perlahan mulai berdegup dan mengendap-endap menjadi ketetapan hati.

Keinginan yang menjelma menjadi ular dengan bisa dan bahaya laten. Memaksa kita untuk mendapatkan lebih dan lebih banyak lagi ruang. Padahal bukankah dimensi tubuh kita tidak terlalu luas?

Berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan?

Membicarakan hati, bukankah kecil? Hitam tidak terlalu enak dan sumber penyakit? Jangan tergesa-gesa dengan fakta ini, semua ini terjadi ketika hati telah mati.

Dalam perjalanannya hati mengalami cerita selayaknya tubuh, ada muda dewasa dan tua. Selayaknya hari, ada pagi, siang dan malam. Kemudaan hati menyebabkan ia diisi dengan sejuta harapan. Seperti anak-anak, semua keinginan dan harapan harus terpenuhi. Saat itu, keinginan kita masih sangat sederhana, serta akan sangat banyak orang yang akan membantu kita, bukankah saat itu semua orang sayang kepada kita? Hati, waktu itu seperti taman yang tidak luas namun indah.

Seiring bertambahnya usia kita, keinginan akan semakin bertambah pula. Saat bersamaan, kita akan mulai mengenal kegagalan, harapan yang tak kunjung menjadi nyata dan keinginan yang tidak terkabul. Ada pula saat ketika hati mulai menyediakan ruang spesial untuk sesuatu bernama cinta. Saat itu hati telah menjadi ruang-ruang dengan isi masing-masing ruang yang berbeda. Ada ruang untuk kegagalan, harapan, keinginan dan cinta.

Bila hati telah menjadi tua, banyak yang bisa terjadi. Bergantung kepada masing-masing individu. Si tua ini, adalah hasil dari perjalanan di masa lalu. Bisa saja menjelma menjadi ruang dendam yang diisi dengan senjata pemusnah masal atau tiang gantungan. Namun tak jarang, ada pula yang berubah menjadi ruang penuh maaf, berisi bilik pengakuan dosa, dan ruang kosong sangat luas untuk membuang semua resah, gagal dan benci.

Akhirnya, berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan?

-sedikit banyak terinspirasi Leo Tolstoy-

Sebuah repost dari sini