Quis Custodiet Ipsos Custodes*

“Siapa yang akan mengawasi sang pengawas?”

National Security Agency (NSA) memiliki hak istimewa untuk memeriksa e-mail dari seluruh dunia. Hak ini, mendapat reaksi dari aktivis yang merasa privacy-nya terancam. E-mail adalah satu hal yang sangat pribadi dan tidak semestinya pihak lain mengetahui e-mail tersebut, meskipun barangkali isinya adalah sekedar berkata “hallo!” atau hal remeh temeh lainnya.

NSA beralasan, hal itu dilakukan untuk menjaga stabilitas keamanan. Modus operandi terorisme kian berkembang, dan pemanfaatan internet secara maksimal adalah salah satunya. Penggunaan perangkat lunak dan keras yang dimiliki oleh NSA, memungkinkan e-mail dan produk internet yang lain dapat diperiksa. Hasilnya, sebuah ancaman pengeboman dapat diketahui lebih dini, serta memungkinkan dilakukannya tindakan pencegahan yang perlu.

Bagaimana konflik kepentingan di tubuh NSA sendiri, trik menyelendupkan sebuah file untuk mengelabui sistem keamanan yang canggih. Sampai dengan kisah cinta tanpa lilin, dapat anda temukan di novel Dan Brown, berjudul “Digital Fortress”.

Ide yang menarik adalah, siapakah yang kemudian akan mengawasi NSA? Sang pengawas semestinya juga perlu diawasi. Bukankah seringkali kekuasaan yang berlebihan dapat membuat lupa? Sepertinya banyak bukti yang mendukung, pernyataan ini.

Mari berandai-andai sejenak. Perlukah seorang pengawas, pada mereka yang sudah sadar? Bukankah kemudian semua terkendali, berjalan pada rel-nya dan tidak perlu diawasi. Pengandaian yang berlebihan, agaknya. Bila kereta tidak masalah, maka rel yang mendapat giliran masalah. Haha!

Mengawasi pengawas, seperti rangkaian mata rantai yang berputar. Barangkali bila tidak salah, istilah kerennya adalah proses monitoring dan evaluasi, atau audit. Pengawas akan datang secara berkala, dalam jadwal yang pasti, itu yang biasa terjadi. Akibatnya, laporan dapat disusun terlebih dahulu, bukti-bukti dapat disiapkan, entah benar atau salah. Bagaimana bila pengawas datang tiba-tiba? Panik, berdebar, mengeluarkan keringat dingin, mungkin adalah reaksi yang wajar.

Seandainya semua berjalan dengan benar, kedatangan pengawas tentu akan disambut dengan tenang. Seperti kawan lama yang bersilaturahim, dan menanyakan kabar. Dijawab dengan antusias, tanpa menyembunyikan maksud, kepentingan dan rahasia di belakang.

Sistem yang ada, seringkali memberikan peluang. Jeda untuk menyusun alibi, seperti pembunuh profesional yang pandai menghilangkan jejak. Sayangnya, detektif yang bekerja juga bagian dari sistem. Adalah jamak kemudian, bila di antara pengawas dan pihak yang diawasi terjadi main mata. Tahu sama tahu.

Kesadaran menjadi langka, lupa sering terjadi, atau pura-pura lupa sebenarnya? Siapa yang akan mengawasi pengawas? Nurani, moralitas dan nilai-nilai, bisakah menjadi jawaban? Bagaimana bila hal ini juga dilupakan?

Perjuangan manusia melawan kekuasaan, adalah perjuangan ingatan melawan lupa.

Quote dari Milan Kundera, dalam novel The Book of Laughter and Forgetting, dan biasa juga dikutip Goenawan Muhammad, sepertinya tak akan pernah lekang. Melupakan lupa, justru hal yang sukar dilakukan. Tapi, barangkali kita masih bisa berharap. Stephen Covey menuliskan, bahwa naluri dasar manusia tidak akan pernah padam. Saat seorang pencopet sadar, bahwa apa yang dilakukan tidak sesuai dengan nuraninya. Ketika pendosa mengerti, bahwa tindakannya tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya.

Harapan masih ada, sobat. Bila mantan copet menjadi kiai, seorang preman menjadi pendakwah, dan lain-lain. Meski mungkin di seberang sana, mantan kiai justru menjadi tukang copet, atau polisi menjadi bandar narkoba. Ah, anggap saja sebuah keseimbangan. Hehe!

*) Satir Juvenile, pada buku “Digital Fortress”

[adsenseyu1]

Ornamen Wanita

Menunggu

Pukul 18.15 sebuah sms baru saja terkirim “lima belas menit lagi, aku akan tiba sayang!”. Semua telah siap, bersama dengan sepeda motor kesayangan, mulai dijalankan aksi malam ini.

Pagar rumahmu telah terbuka separo, tidak perlu susah payah untuk membukanya. Rerumputan bergoyang pelan, seperti menyambutku. Jangkrik bernyanyi riang di balik semak, seakan mendengungkan nyanyian selamat datang. Ah! Sebuah rembang petang yang sempurna.

Di teras rumahmu, bangku-bangku yang biasa kita duduki di sabtu malam, tertata rapi. Tak ada perubahan berarti, hanya beberapa kuntum bunga yang ada di atas meja sepertinya baru saja diganti. Pintu dari kayu Mahagoni yang gagah itu menunggu kuketuk. Tanpa menunggu lebih lama lagi, kuketuk pelan. Aku tahu, di antara derik jangkrik kamu masih bisa mendengar sentuhan pelan itu di daun pintu.

Aku menunggu.

Di dalam sana, tentu kau sedang bingung, aku tahu itu. Rambut yang masih setengah basah, tentu sedang kau keringkan. Sembari menyisir tiap helai, beragam rencana di kepalamu. Haruskah kau membiarkannya tergerai lepas, perlukah disanggul? Jepit di bagian atas, atau mengenakan bandana? Bermacam rencana, berkelebat di rongga kepalamu. Belum juga menentukan pilihan.

Debar, menemani penantianku.

Leher jenjangmu, tiba-tiba saja ikut merepotkan. Beragam pilihan dapat kau ambil. Seuntai kalung hadiah ulang tahun dariku dapat ikut mempercantiknya. Syal, sepertinya pilihan yang tepat untuk menangkal angin jahat yang akan membelai lehermu. Aduh! Bagaimana dengan warnanya? Tentu tidak elok bila tidak selaras dengan baju yang akan kau pakai.

Nada nadi, menjadi melodi kawan sepi.

Argh, baju! Hampir seluruh isi almari kau aduk. Di antara jas panjang, silk organdi, atau terusan belum juga kau putuskan. Sederet tipe kerah, juga menunggu kau pilah-pilah. Cutting kerah terbuka, kerah model a-morf, v-neck, helter neck ataukah sabrina? Fuhh! Kenapa desainer wanita begitu kreatif membuat model baru setiap hari?

Lagi-lagi warna, kau tentu akan berpikir warna baju apa yang kupakai. Seingatku, selama ini kita berjalan bersama, busanamu tidak pernah tidak sesuai dengan warna bajuku. Itu saja baru satu pertimbangan. Belum kau padukan dengan syal, celana, sepatu dan tasmu. Wuah! Pasti kau akan menggigit-gigit bibirmu, tanda sedang berpikir.

Desah dihela lambat-lambat.

Hey! Aku tahu kau jarang berdandan. Tube-tube warna-warni di dekat cermin itu, toh kau timang-timang juga. Foundation perlahan kau sapukan, diikuti dengan bedak. Tanganmu seperti menari, menorehkan lipgloss pada bibirmu. Menggambarkan mascara di kelopak matamu dengan komposisi warna serasi. Blush ikut berperan mengawani shading, tapi tetap saja lesung pipitmu begitu menarik kurasa. Kau bimbang nantinya, perlukah liquid lipstick, lip liner dan eye liner?

Goyangan rumput dan nyanyian jangkrik menggodaku.

Lha?! Bagaimana dengan kakimu? Relakah betismu dibelai cahaya lampu merkuri yang usil, mengabarkan indahnya? Basic, hipster ataukah stocking yang beruntung kali ini?

Telapak mungilmu, apa yang akan membungkusnya? Sandal biasa yang membuat buku-buku jarimu menyembul cantik. Stilleto yang membuatmu susah berjalan, ataukah wadge yang akan membebani langkahmu?

Lampu teras, ditiup angin malam.

Saat itu, berkas cahaya lain mengganggu; menambah terangnya. Itulah berkas cahaya dari lampu di ruang tamu, menjadi penanda kau telah membuka pintu. Diiringi senyum, dan pertanyaan “cantikkah aku malam ini?”

Lidahku kelu, sayang! Ke mana perginya umpatan yang kusiapkan karena penat menunggu tadi? Aku lupa dengan semua rambut basah, segala baju dan pernak-perniknya. Kamu telah berdiri di depanku, menjadi satu paket. Paket yang cantik, seperti senja yang tak lelah kupandang.

__________________________________________________________

Hanya bait pertama dari “Wondeful Tonight” bait selanjutnya, ada yang tertarik?

it’s late in the evening; she’s wondering what clothes to wear.
She puts on her make-up and brushes her long blonde hair.
And then she asks me, “Do I look all right?”
And I say, “Yes, you look wonderful tonight.”

We go to a party and everyone turns to see
This beautiful lady that’s walking around with me.
And then she asks me, “Do you feel all right?”
And I say, “Yes, I feel wonderful tonight.”

I feel wonderful because I see
The love light in your eyes.
And the wonder of it all
Is that you just don’t realize how much I love you.

It’s time to go home now and I’ve got an aching head,
So I give her the car keys and she helps me to bed.
And then I tell her, as I turn out the light,
I say, “My darling, you were wonderful tonight.
Oh my darling, you were wonderful tonight.”

Terima Kasih untuk mbak Ulan, atas semua istilah pakaian dan hal-hal aneh yang lain, penyangga itu apa mbak kemaren 😳

[adsenseyu1]

saat mati lampu

CPU mati, monitor mati

Internet mati, blogwalking mati

Semua mati

Ada kertas bisa ditulis
Modal rautan dan sebatang pensil
UPS berbunyi tit… tit… tit…
Berisik

Dulu, tak ada CPU, monitor

Dulu, UPS tak menghiasi kantor

Dulu, tak ada konslet teledor

Jadi?
Ya ngga papa
Anggap saja jeda, seperti koma
Layaknya spasi, saat dihela

 

Sedih dan Malu, sebuah e-mail ber-disclaimer dari saya

:::DISCLAIMER:::

Apa yang akan anda baca berikut adalah curhat tidak mutu, sedih dan malu. Sangat tidak nyaman dibaca oleh anda yang menganggap memiliki kebenaran di ketiak anda, para pembela agama yang menganggap agamanya perlu dibela. Tidak disarankan dibaca oleh mereka yang berpikiran sempit, dan mendewa-dewakan dogma, dalil dan menafikkan pikiran yang telah dikaruniakan kepada anda. Bila anda adalah orang-orang ini, maka saya persilakan segera menutup email ini dan berganti membaca yang lain. Namun bila anda berkenan, mari menari bersama saya, dalam tarian kata-kata.

___________________________________________________________________________________

Dahulu sewaktu SMA, saya memiliki teman bernama Muhammad Izzuddin, Muhammad Syafruddin, Muhammad Sahal Saiful Haq, Nur Affiah Maizunati, Faizzatuzahro, dan lain-lain. Tanpa perlu saya tambahkan Habib, Syekh atau Kiai, tentu anda sudah dapat menduga siapa mereka-mereka ini.

Di saat bersamaan, saya juga memiliki teman bernama Albertus Mimas Banu Hisworo, Elizabeth Rosalia Anggraeni Yuniar, Gregorius, A.C Bayu Putra, Alluwisia Hediyanti (bener ra?), Leonardus Yogi. Pada nama-nama ini, tidak perlu juga saya tambahkan romo, pastur, frater dan lain-lain tentu anda juga sudah dapat menduga apa maksud saya.

Itu saja masih belum cukup, ada lagi Yoke Kurniawati, Hendro Baskoro, Wilson, Kurniawan Nugroho Widjaksono Pada nama-nama ini, tidak perlu saya tambahkan koko, cici, tacik atau apapun yang lain anda juga sudah dapat menduganya, bukan?

Nama saya sendiri Sridewanto Edi Pinuji, ada lagi Antuk Dwi Nugroho, Sentot Sugiarto Wibowo, Kusmadewi Eka Damayanti, Dian Jatmiko Adi, Joko Kurniawan. Tentu tanpa perlu saya tambahkan Kangmas atau Mbakyu anda juga sudah dapat melihat bahwa itu adalah nama-nama jawa.

Sebenarnya saya hanya ingin menunjukkan betapa beragamnya teman yang saya miliki saat SMA dulu. Apakah kemudian dengan beragam itu, saya menjadi tidak nyaman dengan mereka ini? Ternyata kok ya tidak, saya nyaman-nyaman saja berkawan dengan mereka. Eh, kalau anda merasa tidak nyaman berteman dengan saya, hehe itu bukan urusan saya, kawan.

Saya percaya, dahulu anda berteman dengan siapa saja. Tanpa mempertimbangkan ada atau tidak jenggot yang tumbuh di dagunya. Tanpa mengukur, apakah celananya ngatung kurang panjang atau tidak. Tanpa melihat, apakah di lehernya berkalungkan salib atau tidak. Anda memilih teman juga tanpa memperhitungkan lebar membuka matanya. Saya percaya itu, tetapi jika ternyata ada yang mempertimbangkan perbedaan-perbedaan itu. Wah saya kurang tahu, saya akan berprasangka baik, bahwa anda berteman tanpa prasangka, begitu saja.

Ah, sebagai contoh kecil. Saya satu kos di Jogja dengan Banu, selama hampir dua tahun. Benar memang kami berbeda dalam beberapa hal. Tapi apakah itu menjadi penghalang? Tolong dijawab bila beberapa hal berikut ini yang terjadi : Banu akan mengecilkan volume musik dari PC, bila saya menunaikan sholat atau mengaji. Saya akan menitip salam kepada gadis-gadis yang akan ditemuinya bila Banu ke gereja (logh?!) ah ya, maafkan saya masih saja usil.

Dalam ranah pribadi, agama misalnya, saya akan menghormati beliau. Tapi dalam keseharian, saya akan bergandengan tangan dengannya. Saling meminjam uang, bergantian memakai komputer karena tegangan listrik yang terbatas, tukar menukar rokok dan lain-lain.

Pada akhirnya, saya melihat Indonesia mini di SMA kita, kawan. Ada heterogenitas di sana, sebuah keberagaman, yang lain di luar saya. Tetapi meski berbeda, kita satu SMA. Jadi teringat sebuah semboyan berikut ini : Bhinneka Tunggal Ika. Semoga anda tidak lupa.

Dalam kehidupan saya memilih kemudian, sebuah agama karena pertimbangan satu dan lain hal. Apakah agama saya paling benar? Sejujurnya saya kurang tahu, karena saya hanya memeluk sebuah agama dari lahir sampai sekarang ini. Satu lagi, bukankah kebenaran itu relatif? Siapa yang memiliki kebenaran mutlak?

Saya akan mengucapkan bahwa agama saya paling benar bila saya sudah pernah memeluk dan merasakan semua agama. Saya bisa membandingkan satu dengan yang lain secara obyektif karena menggunakan parameter-parameter yang sama. Kemudian kenapa saya memilih islam? Ah, yang satu itu biarkan hanya saya saja yang tahu apa alasannya.

Di SMA kita, di Indonesia anda tidak pernah sendirian kawan, meskipun anda “merasa” paling besar. Di SMA kita, di Indonesia anda tidak perlu merasa terkucil, meski “mungkin” anda kecil. Selalu ada “liyan” –yang lain- dalam perjalanan hidup ini.

Apakah anda merasa bahwa karena anda besar, kemudian berhak mengebiri hak-hak yang kecil? (aduh, maaf saya lupa apa antonim tirani minoritas?). Yah, dan apakah anda akan menjadi tirani minoritas, kecil, eksklusif, mencil?

Pluralisme, heteregon, mau tidak mau, suka tidak suka terjadi juga. Selama anda di SMA kita, selama anda di Indonesia, ini yang akan kita temukan. Kecuali, kecuali kalau anda akan mendirikan negara sendiri bernawa Kowait mungkin, hidup bersama para Habib, syekh. Bernama Vatikon, Chine, atau yang lain, mungkin?

Tetapi selama anda di SMA kita, selama anda di Indonesia, jangan harap kawan. Negeri ini didirikan bersama oleh Soekarno dan Hatta, dengan meminta nyawa dari Sitorus, Joko, Acong dan lain-lain. Kita mengenal persatuan Indonesia, kita mengenal kemanusiaan yang adil dan beradab, kita juga mengenal keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sekarang kita tinggal mengisinya dengan sepenuh hati. Tetapi, kita malah mencari musuh sendiri, di antara bangsa sendiri. Di mana itu ketuhanan yang maha esa? Diselundupkan ke mana itu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan? Busyed, apakah juga ikut-ikutan dikorupsi?

Saya sedih karena saat saya, bersama dengan anda dan menjadi kita, menjadi kami. Saya merasa kuat, jumawa. Kita berani karena banyak, apakah karena benar? Benar menurut siapa? Menurut kita? –ndhasmu!-

Saya melihat orang lain salah, halal darahnya, berhak nyawanya, kafir. Sejak kapan kita menggantikan posisi Tuhan, menentukan benar dan salah, halal dan haram, mencabut nyawa?

Ayolah kawan, bukankah kita hanya membutuhkan sebuah ruang saja? Sebuah ruang tidak lebih lebar dari meja makan, saat kita telah tiada? Bukankan kita akan menjadi bangkai, dimakan belatung?

Siapa yang memberikan hak kepada anda untuk menjadi hakim menentukan ini benar dan itu salah? Bila kita keluar dari “ruang” kita, maka akan ada “ruang” orang lain. Mungkin akan bersinggungan, tak jarang berbenturan. Apakah anda sudah lupa tentang tenggang rasa? Tepo seliro?

Yah, ngga papa sih, kalau anda lupa, karena saya juga. Saya tahu bahwa kita menggunakan jawa hanya sebagai tempat lahir dan almari bangkai kita. Saya faham, kita lebih mempelajari syair padang pasir, atau manuskrip barat ketimbang, sebuah “Serat Kalathido, Babad Tanah Jawi, Wedhatama, Jongko Joyoboyo “. Budaya kita kawan, sebentar lagi akan mati seperti senandung megatruh, sebuah tembang dalam macapat yang ngelangut, perlambang pisahnya nyawa. Ups, maaf malah membelokkan permasalahan.

Saya juga merasa malu, karena agama –dalam bahasa jawa krama inggil : ageman artinya pakaianyang saya pakai compang-camping. Sobek di sini dan di sana. Berlubang di sana-sini. Bukan karena siapa-siapa, karena tangan-tangan kita sendiri. Sebelum saya benar-benar melepasnya dan memilih telanjang sekalian, bantulah saya menjahitnya kawan. Dengan penuh kasih, dengan penuh sayang seperti yang diajarkan oleh Baginda yang mulia.

Terlepas dari segala macam konspirasi di balik itu, entah pengalihan isu BBM entah apa lagi. Demikianlah sedih dan malu saya. Sekian.

Ps :

  • Maaf untuk semua nama yang disebutkan, hanyalah sebagai contoh.
  • Terpengaruh oleh beberapa tulisan Goenawan Muhammad tentang pluralisme, yup saya pendukung pluralisme, ada yang mempermasalahkannya?
  • Teringat pancasila yang diinjak-injak dengan kekerasan justru saat seharusnya diperingati.
  • Oya, ayolah kawan, saya tahu anda di sana hanya berdiam diri, suarakan apa yang ingin anda suarakan, jangan takut bersuara.
  • Terima kasih untuk yang tetap membaca sampai dengan kalimat ini, untuk moderator semoga ini tidak melanggar netiket dari milist ini, dan untuk nama-nama lain yang akan saya sebut dalam hati.

[adsenseyu1]

Sendiri

Setiap hari lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Bangun tidur, tidak ada siapapun yang ditemukan saat membuka mata. Hal biasa yang dilakukan di kamar mandi, juga tak ada yang menemani. Jok belakang sepeda motor yang lega lebih sering kosong, sehingga batas kecepatan dapat dicapai dengan mudah.

Kesendirian menjadi sahabat karib, menemani ke manapun kaki melangkah. Pada akhirnya, justru nyaman dengan itu semua. Terganggu bila banyak orang, bising dan ramai ditemui. Merasakan kesendirian, seperti menikmati teh hangat, dicecap pelan, dirasakan dengan penuh kenikmatan.

Pada teh hangat, tidak ada kejutan berarti yang ditemui, sedikit pahitnya adalah kewajaran. Bila gula terlalu banyak dibubuhkan, menjadi terlalu manis, maka tinggal ditambahkan air. Tak jarang, beberapa jenis teh memberikan keharuman yang berbeda. Sedikit kejutan memang, tapi tak lama.

Segelas teh kemudian begitu personal. Saya memiliki takaran gula sendiri, kadar panas air sendiri, jenis atau mungkin merk teh sendiri. Bila itu tidak terpenuhi, kemudian saya akan kecewa, kurang nyaman dan serasa ada yang kurang.

Egois

Ah ya, benar sekali! Saya menjadi begitu egois dan terobsesi dengan kesendirian. Alih-alih berjamaah ke masjid, saya malah akan lebih nyaman di rumah. Entahlah, barangkali beberapa saat lagi akan berdiri agama dengan saya sebagai nabinya.

Saya merasa merdeka bila sendirian. Tak ada batasan, bebas terbang seperti burung di angkasa. Mengepakkan sayap yang terentang di antara gemawan. Menelusup di balik mega-mega. Mencumbui pucuk-pucuk rembulan dan ketiak matahari.

Sayang, dunia ini tidak pernah saya miliki sendiri. Tidak pernah menjadi sebenarnya egois dan merdeka seutuhnya. Seperti camar yang kaget dengan hadirnya rajawali, mengecil, mendadak merasa tidak berarti. Awan-awan harus dibagi, mega-mega dipecah. Rembulan pun sembunyi-sembunyi dilihat, dan hangat mentari hanya sedikit bisa dirasakan.

Orang lain selalu ada, lengkap dengan kemerdekaan mereka sendiri. Menjadi saling bersinggungan, tak jarang berbenturan. Mungkin akan tiba suatu masa saat benturan-benturan itu bersatu padu, menjadi ledakan dahsyat. Lubang hitam terbentuk, dengan sejuta kali gaya gravitasi.

Alangkah indah bila camar terbang beriringan dengan rajawali. Saling membimbing, berkelok di antara awan. Menunjukkan jalan bila rajawali lupa, dan camar sok tahu. Menuju ke batas, saat matahari mulai terbenam dan bulan berganti memainkan perannya.

Saat besar tak selalu benar, ketika kecil tak selalu salah. Bilakah?

saya adalah

Presiden

“Kemarin saya menaikkan BBM setelah mendengar pertimbangan menteri-menteri, yang panjang kali lebar, kali tinggi, yang sebenarnya tidak begitu saya pahami.”

Polisi

“Duh!! Pekerjaan saya bertambah. Razia sepeda motor tidak bisa lagi saya lakukan. Perangkat kerja saya bertambah, helm, perisai dan pentungan. Saya baku pukul dengan mahasiswa. Oya, saya harus berhati-hati bila pulang kerja, karena bisa saja saya dikeroyok oleh kerumunan.”

Mahasiswa

“Agenda hari ini demonstrasi, kemaren juga demonstrasi dan sempat baku pukul dengan polisi. Rencana minggu depan adalah mogok makan, persiapan aksi teatrikal dan penyusunan exit strategy. Sebenarnya saya tidak begitu mengerti. Errrr!!”¦ sudahlah, saya sedang bingung memfotocopy catatan, karena besok ujian akhir semester. Oya, dan tentu saya belum belajar.”

Nenek penumpang angkutan

“Copot, eh copot, copot!! Saya dipaksa turun dari angkutan. Mana saya susah berjalan, osteoporosis dan monopouse menghalangi gerak. Sekali itu, tumben saya bisa berjalan cepat. Aih, hitung-hitung olah raga. Meski saya khawatir, sungguh!”

Bloger kurang kerjaan

“Saya sibuk mencatat dan ehm “¦ bingung!! Siapa anda, kawan? Apakah salah satu di antara sosok-sosok ini?

Ternyata, seru juga yak!™

[adsenseyu1]

Halaman Belakang

Sebagai bagian dari bangun rumah, halaman belakang biasanya ada. Beragam fungsi serta peran yang dimainkannya. Halaman belakang, menjelma menjadi taman-taman indah nan artistik, penuh sentuhan nilai seni pada rumah yang mewah. Tak jarang, kolam renang dengan air kebiruan menjadi pelengkapnya. Di lain pihak, halaman belakang adalah tempat menimbun perkakas yang tidak penting dari suatu rumah sederhana yang kelebihan perabot.

Tempat bercengkerama keluarga, menyatukan pendapat, berbagi cerita dan cinta. Wahana menikmati secangkir teh, susu atau kopi panas di pagi hari sambil membaca koran. Di sore hari, halaman belakang bisa menjadi tempat pelepas lelah dan penat setelah seharian bekerja. Kursi malas dengan busa empuk, meja-meja bundar bercita rasa seni, tumpukan koran dan buku, beberapa toples cemilan, dan tidak lupa senyum manis istri di sore yang cerah akan lengkap dinikmati di halaman belakang.

Kandang ayam yang reot, ayam yang berkotek cemas khawatir pakannya kurang. Tumpukan kardus bekas wadah televisi dan tape. Susunan kardus yang berantakan menempel di dinding. Telek ayam dengan bau yang tak sedap. Seringkali sampah plastic dan organik yang terserak, karena tak ada tempat sampah dan kemalasan mengumpulkannya, serta anggapan akan menjadi pupuk. Lengkap sudah, halaman belakang sebuah rumah di kampung.

Sekarang ini, tidak semua rumah memiliki halaman belakang. Tinggal di perumahan, rumah yang ada saling berhadapan dan memunggungi. Halaman belakang yang semestinya ada, menjadi rumah orang lain. Halaman depan yang luas, menjadi gang atau jalan kecil. Tinggal di lingkungan kumuh, makin parah karena tiada lagi punggung dan muka rumah. Rumah yang ada seperti terserak begitu saja, muka bertemu muka, muka bertemu punggung, atau punggung bertemu punggung mudah sekali ditemukan.

Lega tidaklah mudah ditemukan. Halaman sebagai salah satu prasyarat untuk mencapainya telah tiada. Berganti jalanan atau gang, pun muka dan punggung rumah orang lain. Sesak; terhimpit dijejalkan seperti kaos kaki tua, di almari yang sudah penuh. Paksaan terjadi, dan pemberontakan biasanya akan mengikuti. Pemberontakan yang muncul dari diri sendiri, perasaan tertekan sampai dengan stress. Iri dan dengki melihat keberhasilan orang lain atau tetangga.

Kehidupan harus terus berjalan, ada atau tiada halaman belakang. Penyeimbang bagi halaman depan dan tempat buang penat, hanyalah pelengkap yang kini telah hilang. Berpusaran dari pintu depan, dalam rumah yang pengap, kemudian keluar lagi melalui pintu depan. Tidaklah aneh kemudian bila tidak lengkap, mirip seperti makanan yang masuk dan dimuntahkan.

Aha, pintu! Seiring hilangnya halaman belakang, pintu butulan* pun tiada kini. Hanyalah pintu depan, atau garasi yang tersedia. Jalan keluar lain itu, hilang! Wajar bila masalah demi masalah, seperti tamu yang datang dan lupa pamit malah tinggal. Jalan keluar itu, tidak menemukan muaranya di halaman belakang. Mirip bom waktu yang dipendam, suatu saat, entah kapan akan meledak.

*) adalah istilah untuk pintu belakang dalam bahasa jawa

[adsenseyu1]

Warisan Kemerdekaan

“Paman, ceritakanlah tentang kemerdekaan!”

“Apa yang ingin kau ketahui?”

“Semuanya Paman, semuanya.”

Dahaga keingintahuan ponakan saya yang pintar, ataukah usil sebenarnya? Tidak pernah mudah saya jawab. Ada saja pertanyaan lanjutan, dan keraguan yang muncul setiap mendapatkan jawaban baru. Malas, dan rasa penasaran yang sama, membuat saya mengajaknya kepada mBah Darmo, konon beliau ini pejuang pada masa kemerdekaan dahulu.

Tiada yang istimewa dari orang tua itu, keriput telah menjadi hiasan muka; tangan dan sekujur tubuhnya. Rambutnya yang putih keperakan, menjadi penanda jumlah umur yang telah dilewati. Gigi sudah tidak lengkap mendiami rongga mulutnya yang berjelaga nikotin. Lebih banyak melamun di beranda rumah, mengawasi cucunya bermain. Nampak putus asa, terengah-engah tertinggal laju jaman yang kian cepat dan tak bisa diikuti olehnya.

Matanya berkilat memancarkan semangat, saat ponakan saya mulai bertanya tentang kemerdekaan. Tak lama kemudian redup, seakan menanggung derita yang dalam. Binar yang bergelora dan berapi-api, bahkan dalam usia senja yang tak bisa ditutupinya. Kesedihan mendalam, seperti remaja putus cinta mengakhiri ceritanya.

***

Kampung kita, adalah tempat pertemuan pejuang dengan penjajah cucuku. Tidak akrab, bukan diawali dengan saling bersalaman dan bertukar senyuman. Kami berkumpul di rumah Pak Lurah, pada malam itu. Penjajah sudah merapat di selatan desa.

Sawah yang menguning sekarang ini, adalah saksi. Di sana kami mengendap-endap di antara pematang, parit dan rimbun ilalang. Beringsut, semakin mendekati perkemahan musuh. Jelas kami dengar, celoteh para penjaga dalam bahasa kita. Penghianat, selalu saja menjijikkan bahkan dalam gelap itu, kami dapat melihat seringai mencibir dari bibir mereka.

Darah mendidih, bambu runcing erat dalam genggaman. Bersijingkat pelan, di antara batang padi muda; gulma dan ilalang. Diam; waspada, kami berjalan. Di dalam sana, degup jantung tidak karuan. Begitu riuh, seperti akan menghancurkan rongga-rongga dada.

Teriakan membahana menjadi awal penyerbuan kami. Kecewa, kami kecewa! Mereka telah siap ternyata. Suasana sepi dan santai yang tersaji, adalah strategi mereka. Memerangkap kami, dalam pertempuran jarak dekat yang sudah dirancang sebelumnya. Korban berjatuhan dari kedua pihak, sawah di selatan desa tergenang darah. Darah perjuangan!

Pemimpin kami, anak sulung Pak Lurah telah terluka pahanya. Segera memberikan aba-aba mundur, sambil membakar ilalang dan rumah-rumah di kampung kita. Aksi bumi hangus, kami menyebutnya. Bukit, lereng bukit di utara itu kau lihat? Di sana kami bersembunyi, sesekali masih melakukan gerilya. Memotong jalur logistik musuh, merampas makanan untuk wanita dan anak-anak kami.

Kami tidak mengetahui, apakah itu kemerdekaan sebenarnya. Bagi kami, bisa mengolah sawah dengan bebas, tanpa terbebani pajak. Bagi kami, bisa bercengkerama dengan orang tua, anak dan cucu tanpa khawatir, adalah kemerdekaan. Mahal harga yang harus kami bayar, harta; nyawa; waktu luang menjadi penebusnya. Demi sebuah udara yang bebas; air yang jernih, telah menganak sungai darah yang tertumpah.

Sayang, kemerdekaan itu belum tercapai hingga kini. Lihatlah! Di beranda ini aku melihat dunia. Udara bebas kuhirup, membawa kabar duka lara dari tempat-tempat yang jauh. Duka mereka yang terpinggirkan di rumah sendiri. Lara mereka yang teraniaya oleh saudara sendiri. Di beranda ini, semua itu kulihat.

Perjuangan tidak pernah berakhir. Padi menguning, bulir-bulirnya yang padat; penuh. Punggung kami yang menghitam, dan melengkung aneh kebanyakan mencangkul. Masih kurang, untuk menebus minyak tanah dan minyak goreng. Makanan yang ada, hanya ikan asin, nasi aking dan sambal. Meski sederhana, peluh tak henti mengalir untuk menebusnya.

Kami tak pernah menuntut, memberi dan memberi itu yang kami bisa. Penderitaan kami, adalah harga yang pantas. Demi anak dan cucu yang bisa tertawa bahagia; demi kesempatan yang akan terbuka lebar. Sudah menjadi kewajiban kami menderita, kami percaya, bila di balik itu kejayaan membayang. Negara ini sungguh besar dan kaya. Tak berkurang kekayaannya, bahkan bila perutnya diaduk, hasilnya dimasukkan kantong sendiri. Korupsi takkan mengurangi kekayaannya. Pengkhianatan perjuangan, sudah ada semenjak dahulu kala. Bukan masalah yang besar bila kami dipinggirkan, dipandang sebelah mata dan dimasukkan panti jompo.

Hari-hari kami, sudah tidak berbeda lagi. Pengulangan demi pengulangan sejarah selalu terjadi. Mereka yang hari ini jumawa, mungkin besok akan menderita. Mawas diri, melihat dunia hanya dua sisi mata uang yang berganti-ganti kita dapatkan. Tiada lagi yang menjadi kejutan, semua adalah kewajaran. Aji mumpung ada dan mendapatkan kesempatan, masih ampuh diterapkan. Tersenyumlah, lihatlah semua itu! Petiklah pelajaran, menjadi pengalaman.

Aku tidak pernah bosan menjadi saksi. Kesedihan; dipinggirkan; ditinggalkan sudah biasa kudapatkan. Tersenyum yang semestinya mudah, menjadi susah. Bukan; bukan karena aku tidak bisa tersenyum. Aku hanya malu tersenyum, karena gigi yang tanggal, kempot di pipi menjadi bahan tertawaan. Seperti apa yang kau tahan-tahan dari tadi itu kan cu? Kenapa tidak kau lanjutkan menjadi tawa? Dan marilah kita tertawa bersama-sama.

***

“Paman, apakah kita sudah merdeka?”

“Paman?!”

Saya bukannya tidak mendengar panggilan ponakan saya, juga pertanyaannya. Saya masih tertawa, teringat gigi yang tanggal, dan kempot di pipi. Ah, jahatnya saya …

Cerita: Hujan dan Basah

girl and rain

Perjalanan sehari-hari, didukung oleh sepeda motor nan kencang, tapi sayangnya saya bawa dengan kecepatan seperti nenek-nenek. Pendek kata, kecepatan rata-rata yang cenderung rendah saya pilih. Tidak sedikit memang sahabat yang mencibir, gaya mengendarai sepeda motor saya.

Pertimbangan keamanan, di mana jalanan tak ubahnya medan pertempuran menjadikan berkendara harus ekstra hati-hati. Barangkali kehati-hatian, menjadi keharusan dan niat yang ditanamkan terus menerus. Tetapi jalanan, bukan hanya kita. Banyak sekali pengendara lain, pengguna jalan lain yang tidak sama watak dan kepribadiannya. Kita sudah berhati-hati, tapi orang lain mungkin tidak.

Berkendara bagaimanapun menjadi tidak aman. Teori dan praktek harus dikuasai penuh, diterapkan dengan segenap kesadaran. Ups, sepertinya saya mengambil jatah Baginda bila saya menuliskan tentang berkendara ini.

Alasan lain sehingga saya cenderung pelan naik sepeda motor adalah, banyak sekali hal-hal yang bisa saya perhatikan sambil berkendara. Barangkali ini tidak aman, tapi kecepatan pelan memungkinkan untuk mengambil berbagai keputusan yang “aman”. Mahasiswi yang baru pulang kuliah, karyawati bank yang mengenakan rok, atau anak SMU yang sembarangan menyeberang. Ah, indah sekali jalanan, meski beberapa catatan, tentu menyertainya. Tidak macet, polusi tidak banyak, cuaca tidak terlalu panas dan hal-hal nyaman yang lain.

Musuh berkendara sepeda motor adalah hujan. Sibuk sekali bila hujan turun saat asik berkendara. Mulai dari harus menepi untuk mengenakan jas hujan. Penggunaan jas hujan itu sendiri yang merepotkan dan membatasi gerak. Tak kalah repot, bila menghadapi jalanan yang licin dan perlu ekstra hati-hati.

Membayangkan berada dalam mobil, dengan AC menyala. Sound system canggih yang mengeluarkan suara empuk, dari radio atau penyanyi idola sungguh menyenangkan. Titik-titik air yang jatuh di kaca depan, disapu wiper dengan gerakan konstan, menjadi pemandangan tersendiri. Kaca jendela samping, yang berkabut, menggunakan tangan mengusapnya dan terlihat pemandangan baur bertirai hujan sungguh indah.

Bila kesempatan tidak sering itu datang, maka saya akan sangat menikmatinya. Duduk diam, melihat pemandangan di luar mobil yang hiruk pikuk. Menikmati kering dan dingin AC, alunan melodi lembut dari tape mobil benar-benar melenakan. Saya seperti hidup dalam dunia tersendiri, yang asing dari kejadian dan kondisi di luar. Merasa aman, terlindungi, kadang juga hening.

Di luar, seorang gadis sibuk memegang payung. Satu tangan yang lain berulang kali membetulkan rok yang berkibar tertiup angin nakal. Dua sejoli berboncengan, berpelukan erat terlindung oleh ponco yang tidak bisa menahan air hujan jatuh di celana. Begitu mesra, dan tidak peduli pada basah. Nenek tua, ragu-ragu menyeberang, dan anak jalanan basah kuyup.

Saya tertawa, benar-benar jumawa. Kaca tipis dan di dalam mobil telah merubah saya menjadi orang lain. Seseorang yang tertawa, saat orang lain mungkin menggerutu karena dingin, basah. Beginikah rasanya menjadi berkuasa? Menikmati sedikit kesenangan dan lupa? Lupa bila sebentar lagi saya harus turun, dan kembali ke habitat asal. Kehujanan, basah dan kedinginan.

Apakah sekali waktu jumawa itu perlu? Sekedar menjaga keseimbangan, agar hidup tidak monoton dan berwarna. Saat kemudian, saya harus berkendara naik sepeda motor dengan jas hujan, dingin dan basah. Mengapa saya ingin? Ataukah iri pada mereka yang bermobil? Apakah ini wajar, sobat?

Bila sebentar saja, saya berpindah moda transportasi. Ah, parah sekali akibatnya. Menjadi orang lain yang mungkin bukan saya. Berharap-harap atau iri pada kesempatan yang hanya sebentar itu. Menggerutu saat kenikmatan itu hilang dan kembali ke habitat asal. Tidak bersyukur, atau lebih parah ingkar akan nikmat? Bahkan jumawa, sombong pada sesuatu yang bukan milik saya, dan sebentar lagi hilang, lepas.

Benarkah perasaan nikmat bermobil itu? Tidakkah mereka khawatir pada macet, genangan air dan mesin mendadak mati kemasukan air?

Barangkali saya ini manusia tanggung. Iri kepada mereka yang bermobil, tanpa benar-benar mengerti kekhawatiran mereka. Bukankah mereka sibuk mengabarkan kepada orang rumah, atau selingkuhan posisi di mana persisnya mereka berada saat ini? Harap-harap cemas, di mobil yang terjebak dan susah keluar dari macet yang basah. Gelisah teringat keterlambatan yang mungkin terjadi, pada sebuah janji bisnis maha penting.

Saya lupa, di antara nikmat itu pasti ada senyum kecut, khawatir, sedih dan gelisah. Menjiwai semua itu, berkenalan dengan nikmat dan susahnya sekaligus, belum sempat saya lakukan. Secuil kenikmatan, bila itu benar-benar nikmat, telah menggoda untuk menjadi jumawa. Lupa diri, sungguh permainan kecil yang berbahaya.

Jas hujan saya pakai, mulai berkibar ketika pelan saya jalankan sepeda motor. Tetes-tetes air jatuh di helm, ponco dan sepatu. Selapis tipis air di atas jalan tersibak saat ban sepeda motor membelahnya, menjadi semacam pisau yang mengiris lapisan brownies menjadi persegi. Serombongan siswi SMU menjerit, saat saya melintas genangan dan air terpercik di seragamnya. Berhenti sebentar, membiarkan anak jalanan menuntun nenek tua yang akan menyeberang.

Gadis yang mengenakan rok dan berpayung itu tersenyum, pelan kemudian saya hampiri. Keruh di wajahnya tersapu hujan, meninggalkan rona di pipi. Menutup payung dengan anggun, pelan menelusup di balik ponco. Meletakkan pantatnya di jok belakang, dengan sedikit hentakan pada shockbreaker. Sebelah lengannya kembali membetulkan rok, yang sebelah lagi melingkar erat di pinggang. Sepeda motor berjalan, deru mesin, rintik hujan dan desau angin menjadi melodi, saat mulut saya berdendang dalam gigil.

Apalah hujan? Apalah basah?

Picture


Sebuah Ruang

Suatu ketika, sebuah titik telah berubah menjadi garis. Di sisi lain, garis-garis tersebut saling bersilangan kemudian membentuk ruang.

Berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan?

Ide tentang ruang untuk hidup, telah menjadi pembenaran berjuta bangsa guna menguasai bangsa lain. Tak peduli ribuan pelor, literan minyak dan peluh, lembaran dolar, serta beberapa nyawa yang telah melayang.

Demi beberapa meter persegi yang lebih luas, beberapa depa tanah yang lebih subur, beberapa jengkal ladang kaya minyak dan entah apa lagi…

Berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan?

Dimensi tubuh kita tidaklah terlalu luas, namun justru karena otak kecil kita, segenggam hati kita dan seonggok jantung kita yang tentu juga kecil, mulai muncul masalah.

Rentetan keinginan dan kebutuhan yang dihasilkan dari sensasi mata, desiran kulit, dan getaran gendang telinga. Terhubung melalui syaraf halus dengan otak yang mulai bekerja, merembet pula ke jantung yang perlahan mulai berdegup dan mengendap-endap menjadi ketetapan hati.

Keinginan yang menjelma menjadi ular dengan bisa dan bahaya laten. Memaksa kita untuk mendapatkan lebih dan lebih banyak lagi ruang. Padahal bukankah dimensi tubuh kita tidak terlalu luas?

Berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan?

Membicarakan hati, bukankah kecil? Hitam tidak terlalu enak dan sumber penyakit? Jangan tergesa-gesa dengan fakta ini, semua ini terjadi ketika hati telah mati.

Dalam perjalanannya hati mengalami cerita selayaknya tubuh, ada muda dewasa dan tua. Selayaknya hari, ada pagi, siang dan malam. Kemudaan hati menyebabkan ia diisi dengan sejuta harapan. Seperti anak-anak, semua keinginan dan harapan harus terpenuhi. Saat itu, keinginan kita masih sangat sederhana, serta akan sangat banyak orang yang akan membantu kita, bukankah saat itu semua orang sayang kepada kita? Hati, waktu itu seperti taman yang tidak luas namun indah.

Seiring bertambahnya usia kita, keinginan akan semakin bertambah pula. Saat bersamaan, kita akan mulai mengenal kegagalan, harapan yang tak kunjung menjadi nyata dan keinginan yang tidak terkabul. Ada pula saat ketika hati mulai menyediakan ruang spesial untuk sesuatu bernama cinta. Saat itu hati telah menjadi ruang-ruang dengan isi masing-masing ruang yang berbeda. Ada ruang untuk kegagalan, harapan, keinginan dan cinta.

Bila hati telah menjadi tua, banyak yang bisa terjadi. Bergantung kepada masing-masing individu. Si tua ini, adalah hasil dari perjalanan di masa lalu. Bisa saja menjelma menjadi ruang dendam yang diisi dengan senjata pemusnah masal atau tiang gantungan. Namun tak jarang, ada pula yang berubah menjadi ruang penuh maaf, berisi bilik pengakuan dosa, dan ruang kosong sangat luas untuk membuang semua resah, gagal dan benci.

Akhirnya, berapa banyakkah ruang yang kita butuhkan?

-sedikit banyak terinspirasi Leo Tolstoy-

Sebuah repost dari sini