Meniti Tangga

Tulisan ini adalah kebalikan dari lift yang tempo hari saya tulis. Jadi, bila Anda sudah bisa menerka-terka apa yang akan saya tulis ya silakan saja kalau akan melanjutkan blogwalking Anda. Eh, Anda bandel dan tetap mau membaca? Itu pun juga silakan, barangkali tidak benar-benar berkebalikan; saya pun belum tahu saat saya menulis kata ini. Ah, gaya benar saya ini, “Siapa juga yang mau baca, Goop?” Hahaha. Saya tahu, lho, ada yang berkata begitu di belakang sana.

Seperti kemarin yang tertulis, Continue reading “Meniti Tangga”

Tentang Baru (Sebuah Posting Tertunda)

Kegairahan pada hal yang baru saja dimiliki, adalah sebuah kewajaran. Sebuah motor baru, tak lelah dipandang, sebentar-sebentar ditengok, kain lap tak jauh dari jangkauan, sekadar berjaga-jaga bila ada setitik debu yang menempel. Seorang sahabat, memiliki kebiasaan unik. Dia akan memakai baju atau celana yang baru saja dibeli pada waktu tidur, alih-alih menggunakan baju tidur, dia memakai pakaian baru ini.

Waktu berselang, dan barang yang tadinya baru kemudian akan usang. Continue reading “Tentang Baru (Sebuah Posting Tertunda)”

Pencet Tombol Lift

Memasuki kantor setiap pagi selalu menghadapi sambutan yang sama. Udara dingin yang keluar dari Air Conditioner (AC) serta merta menyapa. Dingin itu: menyegarkan tubuh selepas berjalan kurang lebih lima belas menit, ditambah makan pagi yang mau tidak mau, suka tidak suka akan mengundang keringat menempel di baju.

Office Boy kantor, pasti sudah datang lebih awal daripada saya. Entah, jam berapa mereka tiba di kantor tak pernah saya tahu. Bahkan, beberapa di antara mereka ada yang menginap karena enggan berangkat pagi dan ogah menghadapi macet yang menggila di kota ini. Bersejatakan tongkat dengan salah satu ujungnya di genggaman, sementara ujung yang lain memiliki semacam penahan untuk menempatkan kain pel mereka telah berkarya. Digerakkannya kain pel itu ke kanan dan ke kiri, menyusuri pola-pola keramik, merata ke seluruh ruangan. Dan saya, apa yang saya lakukan? Continue reading “Pencet Tombol Lift”

Baru Setahun

Sebuah manggala dari Sumansantaka

  1. Sang dewa yang menguasai papan tulis seorang kawi, dia merupakan hakikat aksara-aksara, awal mula dan tujuan akhir sebuah syair (palambang)—sukarlah mendekati kediamannya yang sekaligus juga seorang pangeran di antara para kawi, yang mempersatukan diri secara rumit dengan dan tinggal tersembunyi di dalam debu sebuah pensil bila itu diruncingkan dengan kuku seorang penyair yang berusaha untuk meraba keindahan. Oleh samadhi terus-menerus ia dapat dihadirkan dalam wujud kebendaan yang fana agar ia sudi turun ke dalam sanjak tertulis ini, bagaikan ke dalam candinya.
  2. Inilah sebabnya kuletakkan tindak kebaktianku pada kakinya, sambil mengharapkan agar dapat menjadi seorang taruna dalam sarekat para kawi. Aku meniarap bagaikan seorang hamba yang hina serta mempersembahkan hormatku. Semoga satu kuntum puisi yang bersemi dari kakawinku berhiaskan keindahan, merupakan persembahan bungaku pada kakinya, karena kini aku sedang mengawali cerita sumanasantaka semoga syair ini diterimanya dengan kemurahan hati. Continue reading “Baru Setahun”

Pantat di atas Trotoar

Aku tidak akan membuat disclaimer, karena aku tak yakin tulisan ini akan kamu baca. Pede betul sehingga berani-beraninya kubuat disclaimer di sini. Singkatnya begini: aku tidak akan menulis tentang pantat. Meski kau pun tahu sekarang pantatku lebih seksi karena sering dipakai berjalan, jadi mandan lumayan kencang. Ah, kenapa masih memikirkan pantat? Apa kamu sejenis wanita yang gemar pria berdada bidang, perut six pack dan pantat kencang? Kan tidak, to? Kamu pun bukan dari jenis kaum yang suka memutilasi setelah kamu puas dengan pantat, kan? Tunggu, Continue reading “Pantat di atas Trotoar”

Laron

“Setiap manusia kurang lebih adalah saingan. Kita lebih senang memberi tahu dunia jika kita berada di atas orang lain, sepenuhnya dan dalam segalanya.” (Albert Einstein)

Hari-hari yang lembab baru saja terasa. Penanda datangnya musim penghujan itu masih ditambah dengan hujan rintik, sampai dengan sedang. Rerumputan di halaman menggeliat senang, segar karena siraman hujan. Debu enggan lagi terbang, kini basah menguarkan aromanya: harum tanah ke segala penjuru. Tunggulah beberapa hari lagi, Continue reading “Laron”

Sambutan Jakarta

Bagaimana Jakarta menyambut Anda?

Pagi itu, terminal Lebak Bulus belum sepenuhnya terbangun ketika aku tiba di sana. Kumandang adzan; bus satu demi satu memasuki terminal. Dan penumpang, bergegas turun dari bus masing-masing. Ketergesaan terpampang jelas di sana, entah apa yang dikejar. Sebentuk khawatir nampak di wajah seorang gadis yang tangannya gemetar memegang dan terus memencet tombol-tombol, mengamati layar hape di tangannya. Barangtentu dia sedang menunggu seseorang, pikirku. Continue reading “Sambutan Jakarta”

Penjara Jiwa

Dalam film “Kungfu Panda”, air di kolam dalam Istana Giok haruslah tenang agar bisa memantulkan gulungan kitab untuk Pendekar Naga. Sebuah patung naga yang melingkar di atas kolam itu mulutnya mencengkeram erat gulungan kitab. Orang yang datang barangkali akan teralihkan perhatiannya pada kolam yang permai dan memesona ketimbang memerhatikan gulungan kitab yang tersembunyi; digigit oleh mulut naga. Paling jauh, mereka akan kagum pada patung naga bukan pada kitab yang tersembunyi itu. Tatkala riak-riak di air berhenti dan permukaan air begitu tenang barulah bayangan patung naga dan kitab di mulut naga itu terpantul sempurna.

Continue reading “Penjara Jiwa”