
Baju toga itu, terasa panas di badan. Ruangan yang penuh, sesak dengan mahasiswa yang hendak diwisuda. Petinggi kampus dan orang tua/wali mahasiswa membuat kian gerah.
Syukur layak dipanjatkan karena ijazah yang baru saja didapat, juga kesempatan keluar dari gedung yang sudah demikian panas. Namun, dan baca selengkapnya…

Bulir-bulir padi itu mulai menguning. Seiring gerakan angin yang semilir, nampak tangkainya terasa begitu berat menahan beban. Ia semakin menunduk dan menunduk.
Para petani empunya sawah akan sibuk kemudian. dan baca selengkapnya…

Ini hujan pertama, Ara. Masihkah kau ingat, kira-kira setahun yang lalu. Saat itu, entah hujan ke berapa. Kau dan aku duduk di beranda. Apa yang kita bicarakan waktu itu, ya? Ah, iya. Kita berbicara tentang buku, kisahku dan kisahmu, kisah kita masing-masing.
Mula-mula dan baca selengkapnya…

Karena sebuah ketentuan, maka kau harus ada. Apabila kau tiada, sebuah kerepotan bagiku. Tak sadar, sebenarnya ketentuan itu untuk kepentinganku juga. Ini mengingat betapa pentingnya kau untukku. Namun, terkadang teman-teman beroda dua ada pula yang melepasmu. Atas nama gaya dan biar dibilang gaul, dilepaslah kau dan peranmu ditanggalkan pula.
Tapi baiklah, kita tak perlu bicarakan mereka. Kau lebih dan baca selengkapnya…

Tuan Kawabata memulai buku ini dengan suasana di dalam kereta. Saya yang seringkali, bahkan hampir tiap dua minggu sekali menggunakan kereta sampai termenung-menung dibuatnya.
Shimamura dalam perjalanan liburannya. Lelaki yang hidup dari warisan orang tua dan tak memiliki pekerjaan jelas ini hendak berlibur. Tujuan liburannya itu, dan baca selengkapnya…
Kamu bilang kamu subyek
Berarti kamu di awal mula
Eh, tapi mungkin juga kamu di akhir
Satu yang pasti, kamu harus ada
Lantas, kamu diubah menjadi obyek
Biasanya memang di akhir
Kadang-kadang saja di muka
Tapi tetap, kamu ada di sana
Walau, barangkali sedikit kurang beruntung
Entah kenapa
Akhirnya, inilah peranmu paling pungkasan
“pelengkap penderita”
Tidak, tak harus ada kamu
Boleh, sih, kamu dibubuhkan biar seru
Cuma itu, tak lebih
Maka, selamat sejak mula kamu sudah menderita
Sridewanto Edi/281009
ah iya, selamat hari sumpah pemuda, semoga tidak menderita, ya? ehehehe
Berbagi