unclegoop.com

melintas batas

Follow me on TwitterRSS Feeds

  • Home
  • penjaga
  • tetangga
  • peraduan lupa
  • kontak diri

Melihat Langit Jakarta

Jun 3rd

Posted by unclegoop in jendela dunia

6 comments

Melihat langit sepertinya perkara yang sederhana, bukan? Tapi tidak bagi saya. Barangkali saya memang suka membuat rumit masalah yang sebenarnya sederhana. Melihat langit tidak sekadar menengadahkan kepala ke atas, melihat pola awan, gerakannya, perubahan warnanya. Mengamati gerakan matahari dari timur ke barat dan rembulan. Meneliti dan menghitungi denyar gemintang yang kelap-kelip. Melihat langit lebih dari itu, kawan.

“Bagaimana, betah di Jakarta?” Tanya beberapa orang sahabat saya.

“Belum, mas, di sini saya tidak bisa melihat langit. Bila kepala sudah mendongak ke atas, hanya sepenggal, sepotong, sedikit bagiannya yang tertangkap oleh mata saya. Selain itu, selalu saja kembali mentok dan mentok lagi ke tembok-tembok gedung.”

“Hahahaha!”

Konyol sekali memang, bila saya menuntut untuk dapat melihat langit seluas di belakang rumah saya di kampung sana. Ketika di sana langit berujung pada saujana di Utara dan Selatan. Manakala di sana langit bercumbu dengan pucuk Sindoro Sumbing di Barat dan Merapi Merbabu di Timur. Maka, saya di tengah-tengahnya. Mabuk oleh rasa luas dan lega yang ditawarkan pemandangan itu tanpa perlu khawatir menjadi limbung dan terjatuh karena bumi masih dipijak.

Ada keemasan di Timur yang menghangatkan ketika berjalan-jalan di kala pagi. Lembayung kuning, jingga dan merah yang seperti ditorehkan di langit bila memandang ke Barat saat senja. Gumpalan awan kelabu yang akan beranjak hujan dan bukit-bukit kecil yang seperti menunduk pasrah tatkala pandangan ke Selatan. Serta tak lupa, lambaian pucuk bambu yang seperti menggapai-gapai langit di Utara.

Berkas cahaya yang masih tersisa dan terpancar saat matahari tenggelam di balik Sumbing. Dilanjutkan ketika malam-malam kemarau dengan rentetan api yang membakar hutan di punggung Sindoro. Lelehan lava pijar di Merapi yang merah menyala dan mengalir.

Ternyata, terlampau banyak memang saya meminta. Sementara apa yang ditawarkan di sini hanyalah sepenggal, sepotong dan sedikit bagian langit saja yang dibingkai, dibatasi oleh tembok-tembok gedung.

Dalam satu hari, belum tentu saya bisa melihat matahari karena kungkungan gedung. Saat pulang dan pergi saya seperti saling mengintip dengan langit. Mencuri-curi memandang ke atas di antara lirikan-lirikan panik ke mobil-mobil yang mepet dengan tubuh.

Tiada kelegaan itu, pun keluasan yang dirindu-rindu. Meski entah untuk apa tak mengerti. Kendati mungkin tubuh yang lelah, hati yang rupik dan jiwa yang menjadi rudin adalah alasan di baliknya. Kota ini meminta terlampau banyak dan hanya menawarkan begitu sedikit. Kota ini haus, kota ini lapar, kota ini rakus menyerap manusia dan nilai-nilainya. Parahnya tak pernah kenyang meski telah menjadi pencipta robot-robot yang berjalan. Dan barangkali saya dan Anda di antara yang sedang atau mungkin sudah dicipta itu.

Dan selanjutnya saya akan menyebut kita. Maka, menjadi kita yang berjalan di antara gedung yang sudah usang dengan perangkat AC yang menempel seperti parasit, berjalan di trotoar yang sempit, berada di tengah arus kendaraan dan terjepit. Mungkin pula kita yang terkurung di kereta besi yang juga ber AC dan muak dengan macet, baliho, tukang koran, pengamen dan pengemis pinggir jalan. Barangtentu juga kita yang menunggang kuda dan bebek besi yang sibuk menjaga agar paru-paru di dalam dada kita tidak terlampau rusak karena polusi. Pada akhirnya, kita kasihan sekali.

Tolong bila ada yang mengetahui alamat Toto-Chan berikanlah kepada saya. Hanya ingin bertanya bagaimana caranya dia membayangkan langit malam penuh bintang saat dia berkemah di dalam aula tanpa menjadi gila. Tolong benar, ya, saya tunggu.

Sridewanto Edi/020609

  • Share/Bookmark
gedung, jakarta, langit, melihat

Tafsir Kitaro 1

May 23rd

Posted by unclegoop in pintu jiwa

5 comments

Fish Dive In The Lake

Ikan-ikan bergerak dalam rombongannya masing-masing. Air beriak karena gerakannya, menukik ke bawah hampir-hampir menyentuh dasar danau. Membumbung ke atas menjelang permukaan danau. Terus dan terus bergerak-gerak lincah, berkelok-kelok masih terus berombongan.

Perayaan kehidupan

Rombongan ikan besar dan kecil berpapasan. Seperti sebuah genderang ditabuh, ada aba-aba diteriakkan. Bagi rombongan besar itu adalah penanda untuk mengejar rombongan kecil. Bagi si kecil itu adalah perintah untuk menyelamatkan diri. Bercerai-berai keduanya dalam gerakan tak beraturan.

Naluri kehidupan

Banyak ikan kecil tertangkap, dimangsa, dijadikan rebutan. Berkecipak lagi air dan sebagian berubah warna menjadi merah, darah ikan-ikan kecil. Sisa tulang dan sisik melayang-layang makin tenggelam ke dasar danau yang tenang, yang diam, yang seperti kuburan, yang misterius.

Senandung kematian

Dan ikan yang hidup? Kembali berenang ke sana kemari. Masih berombongan, masih saling intai dan terkam. Maka kehidupan di danau itu kembali berjalan, kembali berputar.

Album : Kitaro-Impressions Of The West Lake

Sridewanto Edi/220509

  • Share/Bookmark
kehidupan, kitaro, membumbung, menukik, menyelam

Meniti Tangga

May 15th

Posted by unclegoop in pintu jiwa

12 comments

Tulisan ini adalah kebalikan dari lift yang tempo hari saya tulis. Jadi, bila Anda sudah bisa menerka-terka apa yang akan saya tulis ya silakan saja kalau akan melanjutkan blogwalking Anda. Eh, Anda bandel dan tetap mau membaca? Itu pun juga silakan, barangkali tidak benar-benar berkebalikan; saya pun belum tahu saat saya menulis kata ini. Ah, gaya benar saya ini, “Siapa juga yang mau baca, Goop?” Hahaha. Saya tahu, lho, ada yang berkata begitu di belakang sana.

Seperti kemarin yang tertulis, More >

  • Share/Bookmark
meniti, tangga, tujuan

Tentang Baru (Sebuah Posting Tertunda)

May 9th

Posted by unclegoop in jendela dunia

13 comments

Kegairahan pada hal yang baru saja dimiliki, adalah sebuah kewajaran. Sebuah motor baru, tak lelah dipandang, sebentar-sebentar ditengok, kain lap tak jauh dari jangkauan, sekadar berjaga-jaga bila ada setitik debu yang menempel. Seorang sahabat, memiliki kebiasaan unik. Dia akan memakai baju atau celana yang baru saja dibeli pada waktu tidur, alih-alih menggunakan baju tidur, dia memakai pakaian baru ini.

Waktu berselang, dan barang yang tadinya baru kemudian akan usang. More >

  • Share/Bookmark
sebuah ruang, setahun, tunda
« First...1020«2425262728»304050...Last »
  • My latest tweets

    Loading tweets...
    Follow me on Twitter!
  • cari dengan google

    Google
  • kata-kata

    kata-kata mengalir dari lidah manusia sesuai dengan batas ukuran dan kemampuan yang dimiliki manusia. kata-kata kita, bagaikan air dialirkan oleh penjaga pengairan. air akan mengalir sesuai keinginan sang penjaga. air tidak mengetahui ke ladang mana atau tempat mana ia akan dialirkan. -rumi-

  • selintas pesan

  • kata mengawan

    anak angin baca banting bayangan buang air besar buih buku bulan bunga camar cantik dunia hape hati hujan Ibu jakarta jepang jiwa karang kenangan kitaro mandi manusia menulis menunggu merdeka mobil odol ombak pantai pulang quote Rindu robot ruang sabun sendiri senja senyum setahun Spanyol tangga tolstoy
  • Alexa


  • google analytics


    34
    Unique
    Visitors
    Powered By Google Analytics
previous next
    • jejak tertinggal

      • ai caem on Hachiko-Tentang Menunggu
      • haris on Gerson Poyk
      • haris on Bekisar Merah – Sebuah Review
      • yansDalamJeda on Remah-remah Piala Dunia 2010
      • jensen99 on Remah-remah Piala Dunia 2010
    • tautan

      • Log in
      • Entries RSS
      • Comments RSS
      • WordPress.org
    • rumpun kata

      • jendela dunia
      • kamar hati
      • loteng baca
      • pintu jiwa
      • tak terjelaskan
      • tetirah lain
Mystique theme by digitalnature | Powered by WordPress
RSS Feeds XHTML 1.1 Top

Alexa Plugin created by Tech Forum - ?Powered by Ibanez and r4 ds.