unclegoop.com
melintas batas
melintas batas
Jun 10th
Reflection Of The Moon
Tenang-tenanglah air. Diamlah ikan-ikan. Berhentilah bergerak angin. Wahai angsa tidakkah kau capai bercumbu mesra?
Lihatlah sebentar lagi bulan yang cantik akan bercermin di sini, di danau ini.
Nah, sudahkah kau lihat? Bagaimana kuning emasnya, bulat sempurnanya wajah rembulan.
Maka, sentuhlah dia wahai ikan, namun jangan kau gerakkan air atau kau akan melukai wajahnya.
Belailah dia duhai angin, namun jangan terlampau keras. Cukup kau sapu saja sedikit permukaannya. Jadilah bedak tipis yang tidak menghalangi namun mempercantiknya. Membuatnya menjadi sedikit lebih misterius, bisakah?
Aku sarankan padamu angsa, belajarlah mencinta dari rembulan. Tak pernah dia menyimpan cinta matahari sedikitpun. Diberikan semuanya kepada kita di danau ini, di bumi ini. Walau karena itu juga terkadang tubuhnya ditelan raksasa buruk rupa yang iri karena tak bisa mencinta.
Namun kau lihat sendiri, bukan? Tak pernah ada menyerah dalam kamus hidupnya dia mulai lagi mencintai dari sedikit seperti sabit petani yang menyiangi rumput. Beranjak separuh seperti terbelahnya hati, separuh untuk kekasih dan separuh untuknya. Kendati pada akhirnya dia tak lagi perduli, diserahkannya semua utuh semacam purnama.
Sayang semua itu tak lama. Karena memang cinta begitu indah untuk hidup yang terlampau singkat ini. Maka, kenapa tidak segera kau rayakan.
Hei! Kenapa begitu sunyi? Ah, rupanya jangkrik pun menahan nafas melihat kecantikan rembulan di danau. Biarlah, karena perayaan tak selamanya gegap-gempita. Mungkin sedang dikenangkan pula sebentuk cinta lama. Biarlah dan nikmatilah semua, kunyahlah, kerkahlah, lumatlah dalam perayaan cinta. Selagi bisa, mumpung masih bisa.
Album : Kitaro-Impressions Of The West Lake
Sridewanto Edi/220509
Jun 9th
Mungkin inilah biang masalah di pagi hari. Entah kenapa bunyi alarm dari weker, hape atau teriakan Ibu tidak juga berpengaruh. Padahal, mata sudah terbuka, lho, ketika bebunyian itu terdengar.
Kemudian ritual yang umum berlaku adalah bunyi itu terdengar, telinga bereaksi diikuti dengan mata terbuka. Tak lama, tangan bergerak, meraba-raba sumber suara. Bila bunyi berasal dari hape, pencet saja sembarang tombol dan hape pun terdiam. Jika itu weker ya cari tombolnya atau bisa juga pakai cara sahabat saya ini, yaitu dengan membanting wekernya. Nah, bagaimana kalau Ibu? Ya jangan ditampar, itu kurang ajar namanya. Cukuplah pindahkan bantal yang semula di bawah kepala, alihkah ke atas menutupi kuping. Nah, sekarang beres, kan?
Lantas, bila semua sumber bunyi sudah diam, ngapain dong? Ya merem, ah, masa gitu aja nanya? Dan anehnya, kenapa pasca melakukan ritual mendiamkan semua pengganggu tidur itu justru bobok kian lelap? Saya kira hal ini akan menjadi misteri abad ini—halah!
Tidur yang lelap itu, bagaimanapun juga tidak akan berlangsung lama, kecuali Anda semacam teman saya itu yang susah nian bangun bila matahari belum lengser ke Barat. Parahnya, selepas bangun yang sebenarnya ini, mulailah rentetan kebingunan terjadi. Semenjak pertanyaan tak penting semacam, “Kenapa aku bangun jam segini?” sampai dengan melakukan sesuatu di pagi itu dengan tergesa-gesa. Dapat dibayangkan, bukan? Mmm, atau tak perlu dibayangkan bila itu terjadi pada Anda setiap pagi? Hahaha.
Di kamar mandi terburu-buru, masih ada yang belum tuntas. Bisa sisa kotoran dalam perut yang masih antri di usus besar dan belum mau keluar. Mungkin juga sisa sabun masih ada yang tertinggal di telinga lupa belum dicuci. Argghhhh….
Tak heran kemudian jika di kantor atau sekolah Anda kembali diusik dengan urusan perut yang belum beres. Jangan marah pula bila ada teman yang menertawakan dan berkata, “Itu, kupingmu masih ada.” Batin Anda, ya masihlah, kan tiada yang memotong telingaku. Padahal maksudnya masih ada sisa sabun di telinga Anda.
Lalu, masih ingatkah kapan pagi Anda berlangusng dengan damai dan tenang?
Sridewanto Edi/040609
Jun 8th
“Tentang kebebasankah ini?” Tanyamu curiga, “Seperti layang-layang putus terbang terbawa angin.” Kamu menambahkan dengan sedikit bumbu sok tahu kali ini.
Sayang sekali, kawan, tak ada yang benar dari tebakanmu itu. Sebaliknya, ini justru mengenai kungkungan, penyanderaan.
Hanya hikayat tentang sebuah layang-layang yang tersangukut di tiang listrik. Pada kabel-kabelnya yang hitam.
Di sana, ia bergerak-gerak seiring hembusan angin yang juga menggoyang-goyangkan ranting pohon Belimbing dan Palem di bawahnya. Sedikit benangnya yang masih tersisa juga menjuntai berkibaran ditiup angin.
Benang dan layang-layang itu seolah ingin berkata, “Bebaskan aku, kuingin terbang membumbung tinggi ke langit, memagut awan.”
Tapi benarkah? Benarkah itu jeritan benang dan layang-layang? Maaf barangkali ini menjadi kisah yang sedikit ragu dan tak yakin.
Karena, bukankah layang-layang itu adalah sebuah pertanda, simbol dan sinyal?
Jeritan kanak yang tak bebas bermain menerbangkan layang-layangnya. Jalanan sempit di depan rumah tak cukup luas untuknya berlari ke sana kemari membawa lari layang-layang mengulur benang.
Angkasa yang semestinya luas telah menyempit dibatasi kabel-kabel listrik dan telepon. Pucuk-pucuk atap rumah yang angkuh atau sekadar lantai dua yang sesak, penuh dengan jemuran baju, celana, cawat dan kutang.
Maaf, nak, kaki mungilmu tak terlatih berlari. Tak biasa lecet dan terjatuh. Kamu tak bisa membawa lari layang-layangmu. Kami membatasi gerak kakimu dengan jalanan yang sempit. Kami membelenggu tingkah polah layang-layangmu dengan atap dan kabel-kabel.
Maka, cukuplah bermain di dalam rumah ya, sayang. Di depan televisi melihat selebriti pasang aksi. Gerakkanlah jemarimu jangan lelah menggenggam stick PS dan hancurkan lawanmu dalam permainan penuh denyar dan warna. Atau, marilah kita ke mall, mandi bola dan naik komidi putar yang harga tiketnya membuat mata papa berputar-putar.
Mau, kan?
Sridewanto Edi/030609
Jun 6th
The Moon On The Lake
Air telaga begitu tenang. Sedikit angin mengusiknya, membentuk riak kecil. Ada suara jangkrik dan gemerisik daun bambu yang bergesekan.
Air berkecipak dan memercik sedikit manakala seekor ikan mencapai permukaan dan melakukan gerakan anggun kembali menyelam.
Di mana rembulan? Di atas sana diam-diam memandang tanpa bersembunyi di balik awan. Melihat, menjadi saksi dua angsa yang memadu kasih. Berenang hilir mudik di permukaan danau, meski karena itu, rembulan tidak bisa melihat bayangan wajahnya.
Karena barangkali cinta adalah sebuah perayaan, yang berulang dan terus berulang.
Album : Kitaro-Impressions Of The West Lake
Sridewanto Edi/220509