batas ruang

bingkai kata tak terbatas

Rahasia Kenikmatan Kerupuk

Wednesday, 9 July 2008 pukul 10:31 WIB 36 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam pintu jiwa

Makan nasi goreng senikmat apapun, masih kurang lengkap bila tiada kerupuk yang menemani. Kerupuk bukanlah makanan utama, tak juga bervitamin. Bahkan mungkin menimbulkan batuk karena kandungan minyak di dalamnya. Fakta yang demikian jelas tentang kandungan kerupuk dan efek negatifnya, tak juga menyurutkan langkah tukang makan, semisal saya untuk terus memakan kerupuk.

Kerupuk selalu dicari ketika soto terhidang di meja makan. Kerupuk diincar, dilirik-lirik saat menikmati mie goreng, atau mie godok. Pendek kata, apapun makanannya kerupuk teman menyantapnya. Biar makanan selezat apapun, bila tiada kerupuk terhidang rasanya ada yang kurang, hampa dan tidak lengkap.

Sayang, tidak semua kerupuk nikmat. Kerupuk yang terhidang ini harus dalam kondisi keras alias tidak melempem. Kerupuk yang keras, tak jarang menimbulkan bunyi saat dimakan benar-benar bernilai mahal. Bukan mahal harganya, sobat. Tetapi mahal kenikmatan yang ditawarkannya.

Guna menjaga kekerasan kerupuk, dibuatlah sebuah wadah yang istimewa. Di tempat saya, wadah kerupuk ini terbuat dari bahan yang sejenis dengan material dasar kaleng roti. Desain yang sedemikian hebatnya, membuat udara tak mungkin masuk dan mencederai rasa nikmat kerupuk. Udara yang tidak berganti di dalam kaleng kerupuk, adalah syarat agar kerupuk tetap keras dan tidak melempem.

Di salah satu sisinya, kaleng kerupuk memiliki kaca tembus pandang. Dari sini, kita bisa melihat bagaimana bentuk, warna dan penampilan dari kerupuk yang ada di dalam sana. Saya kira, ini salah satu bentuk bagaimana menawarkan kerupuk itu, semacam beriklan melalui penampilan langsung dari kerupuk.

Tak jarang, di sisi atas dari kaca tembus pandang ini, dituliskan siapa yang memproduksi kerupuk istimewa ini. Hanyalah nama, tengara untuk kaleng kerupuk itu sendiri, agar tidak tertukar dengan produsen kerupuk yang lain. Tetapi, bila ditelusur lebih jauh, rasa-rasanya nama ini juga menjadi salah satu cara beriklan juga. Tanpa sadar, kita akan menandai sebuah merk kerupuk bila dirasa lebih nikmat dari merk lain, kemudian bila di suatu warung kita bertemu dengan beberapa kaleng kerupuk yang merk-nya beragam, tentu kita akan memilih merk-merk yang sudah kita kenal.

Hebat bukan, peran dari sebuah kaleng kerupuk? Fungsinya tidak saja kepada kerupuk yang dijaga kekerasannya, tetapi juga kepada pelanggan rumah makan agar kian nikmat dalam menikmati hidangan. Sebuah kaleng kerupuk menyimpan rahasia, bukan sembarang rahasia, karena rahasia yang disimpan adalah rahasia kerupuk. Kenikmatan beberapa buah kerupuk yang akan menjaga pengunjung tetap setia pada sebuah rumah makan, kenikmatan yang akan menambah rasa nikmat pada makanan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Lebih jauh, kaleng kerupuk menyimpan sebuah rahasia kenikmatan.

Peran yang sama, meski pada obyek yang berbeda, dapat juga kita temukan pada sebuah termos, magic jar, magic comp dan peralatan rumah tangga yang lain, (maaf ngga hapal).

Bagaimana dengan manusia, sobat? Apakah yang dirahasiakan oleh seonggok tubuh manusia? Kenikmatan macam apa yang bisa ditawarkan?

Seorang wanita, kenikmatan yang ada apakah hanya sebatas selaput dara? Setahu saya, tidak hanya itu. Rasa keibuan yang dimiliki, sifatnya yang lebih peka sekaligus perasa. Tentu saja, sebagai mitra pria dalam menjalani hari demi hari. Kepolosan, jujur dan nakalnya anak kecil, sepertinya adalah rahasia dari masa kanak-kanak. Kebijaksanaan orang tua, ajaran dan wejangannya juga terawangan yang awas sebagai hasil dari memakan asam dan garam pengalaman, barangkali sebuah kenikmatan cawan-cawan yang ditawarkan dari perjalanan usia.

Potensi kenikmatan, akhirnya ada pada setiap diri. Bagaimana cara mengungkapkannya kemudian yang menjadi masalah. Apakah tersembunyi dalam sebuah kaleng yang tertutup rapat? Apakah ada media tembus pandang yang dari sana kita dapat melihatnya, tapi tiada kuasa untuk menyentuh dan menikmatinya? Ataukah terhidang begitu saja, di atas meja makan dan tinggal kita santap?

Bagaimana dengan Tuhan, ya?

Felicity : an american girl adventure (Bagian II)

Friday, 4 July 2008 pukul 16:23 WIB 18 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam jendela dunia

Apakah, sekarang ini Anda sedang terikat dengan sebuah kontrak, sobat? Bisa kontrak apa saja, mungkin kontrak kerja, bisa juga sebuah kontrak cinta yang melembaga dalam pernikahan, atau kontrak hidup? Sebuah kontrak yang sudah jelas kapan akan berakhir, mungkin juga tidak jelas kapan akan menemui garis finish.

Kakek yang mengajarkan bagaimana melakukan manajemen marah, berkata :

Jangan mengejar sesuatu saat kau lari dari sesuatu

Sejujurnya saya kurang mengerti bagaimana esensi dari perkataan itu. DI film ini, diceritakan bagaimana seorang pegawai magang yang masih terikat kontrak melarikan diri, karena ingin bergabung dengan pasukan loyalis. Dia ingin mendarmabaktikan hidupnya untuk perjuangan, bukan hanya menjadi seorang pegawai magang.

Sebuah kontrak, menurut kakek Felicity, adalah janji yang telah diberikan. Nilainya tidak lebih rendah dari darma bakti untuk perjuangan. Walaupun bentuknya secara kasat mata terlihat lebih rendah “hanya” sebagai pegawai magang, namun janji adalah janji, dan harus ditepati. Akhirnya Ben, sang pegawai magang memegang janjinya kepada bosnya yaitu ayah Felicity. Tindakan Ben ini, selaras dengan pesan jangan mengejar sesuatu saat kau lari dari sesuatu. Ben memutuskan untuk menyelesaikan kontraknya terlebih dahulu, barulah kemudian akan berjuang untuk keyakinannya.

Saat yang sama, mengingatkan saya pada sebuah adegan dalam film berjudul “9,5″. Waktu itu, gempa besar baru saja terjadi, gempa yang mengakibatkan sebuah kota hilang. Adegan menampilkan seorang ayah dan anak gadisnyanya yang sedang tersesat mencari jalan pulang. Mereka berdua harus memutar, bukan melewati jalan yang sebenarnya karena jembatan yang menghubungkan runtuh. Mobil yang ditumpangi, ditelan medan pasir hisap yang tiba-tiba terbentuk pasca gempa. Ayah dan anak ini, terpaksa berjalan menempuh jarak yang tidak diketahui, serta di lain pihak masih ada ancaman gempa susulan. Kira-kira beginilah percakapan di antara keduanya.

“Ayah, bagaimana kita akan menemukan jalan pulang dan bertemu dengan Ibu? Sementara kita tidak tahu di mana saat ini kita berada, lagipula aku sudah demikian capek, Ayah!.”

“Kau lihat belokan itu, Nak? Kita hanya perlu menuju ke sana, kemudian kita akan menentukan langkah selanjutnya setelah sampai di belokan itu.”

“Tapi, bagaimana dengan Ibu, Yah? Apakah Ibu baik-baik saja? Bagaimana bila terjadi sesuatu dengannya? Bagaimana bila kita tidak akan pernah bisa pulang? Bagaimana bila tak ada seorangpun yang akan kita temui dan mungkin bisa memberikan tumpangan?”

“Kita tak mungkin memikirkan semua itu secara bersamaan, Nak. Fokuslah pada belokan itu, bila kita bisa mencapainya, maka jawaban akan tersaji satu demi satu kemudian. Begitu juga, bagaimana cara Ayah dalam bekerja, begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, namun akhirnya tetap harus diselesaikan satu per satu.”

Saya kurang tahu, apakah Anda bisa multitasking? Mengerjakan beberapa hal dalam waktu yang bersamaan, seperti sebuah mesin komputer? Beberapa orang yang kebetulan cewek, mengaku dirinya bisa multitasking. Wah, saya sangat kagum dibuatnya. Saya sendiri, bisa sangat fokus ketika sedang disibukkan dengan satu hal yang menyenangkan, atau saat mendekati deadline. Tak jarang saya tidak menengok saat ada panggilan dari orang lain, bukannya menjadi tuli. Tidak seperti itu, karena panggilan itu tetap saja terdengar, hanya sayang meninggalkan hal yang begitu mengasyikkan untuk sekedar menengok.

Fokus pada sesuatu dan mengesampingkan hal lain. Saya kira, kerja sebuah lensa kamera bisa menjadi contoh yang mewakili. Kita akan mengatur lensa, dengan memutarnya atau melakukan zooming sampai dengan sebuah obyek terlihat jelas. Bila lensa telah fokus, maka obyek yang menjadi incaran akan terekam dengan baik. Selanjutnya, bila niat kita sudah fokus, sudah bulat, apa kira-kira yang akan terjadi pada obyek yang ingin kita tangkap, kita capai?

Sebenarnya saya khawatir hanya menuliskan teori-teori tanpa diwujudkan dalam praktek. Mencoba menerjemahkan pesan kakek Felicity, mencoba mengambil intisari dari perkataan seorang ayah di film “9,5″ tanpa menjadikannya nyata dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa saat yang lalu, saat menjalin hubungan dengan seseorang, ternyata saya tidak fokus padanya. Seorang yang lain hadir, lengkap dengan pesonanya. Lensa saya kabur, bingung menangkap obyek yang mana. Akhirnya hanyalah gambar buram yang tersaji. Sepertinya ini curhat colongan, hehe. Tetapi biarlah, mungkin dengan itu kita bisa belajar bersama. Akhirnya, fokusss yuuukkkk!!!

asal gambar

Felicity : an american girl adventure (Bagian I)

Thursday, 3 July 2008 pukul 18:05 WIB 25 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam jendela dunia

Apakah Anda masih memiliki seorang kakek, sobat? Seorang kakek yang pasti lebih tua dari Anda, mengajarkan bagaimana hidup dilaluinya, dijalani dan dinikmati olehnya? Seorang kakek, memiliki cara yang berbeda untuk mengajarkan kehidupan pada tiap cucunya.

Barangkali kakek Anda adalah seorang yang galak, mungkin juga beliau ini sangat penyayang. Keriput di kulitnya, uban di sebagian atau seluruh rambutnya, menjadi penanda tahun-tahun yang telah dilewati. Bukan hanya kesenangan saja yang mewarnai, tentu kesedihan akan ikut memberikan bentuk, pola dan tekstur pada kanvas hidupnya. Menjadi sebuah lukisan yang lengkap, tetapi entahlah, apakah kita para cucu akan bisa memasuki dan menyatu dengan lukisan itu? Atau sekedar menjadi pemirsa, saksi, penikmat mungkin juga penghujat dari lukisan itu?

Di sebuah kota di Amerika sana, perang saudara antara kaum patriot dengan kaum loyalis baru saja akan dimulai. Warga gamang, bingung dan sibuk menentukan pilihannya, ke mana harus menaruh dukungan dan harapan. Sebuah keluarga kecil, harus menentukan langkah apa yang bisa diambil untuk menjaga keutuhan keluarga tersebut. Akhirnya, sang ayah harus tetap berjuang, sementara ibu dan anak-anaknya dititipkan di rumah kakek yang tinggal di desa.

Di rumah kakek inilah, Felicity seorang gadis, sekaligus anak tertua dari keluarga kecil itu diajarkan berbagai hal oleh kakeknya. Termasuk bagaimana semestinya menjalani kehidupan, adalah bab yang tidak lupa diajarkan. Beberapa kutipan yang mungkin menarik, di antaranya :

Kata-kata yang keluar saat marah, tidak berasal dari hati

Seorang yang sudah tua, seringkali tidak sabar melihat bagaimana kita bertingkah laku, karena mungkin tingkah laku kita sudah tidak sesuai dengan jaman beliau-beliau ini. Selain itu, banyak irama kehidupan yang sudah tidak sama frekuensinya dengan apa yang terjadi pada masa beliau. Itu saja belum cukup, mungkin juga hal-hal lain masih banyak yang bisa menyebabkan beliau naik pitam. Kesabaran orang muda benar-benar diuji saat menghadapi orang tua yang seperti itu. Perlakuan yang tidak nyaman dari orang tua, kemarahan mungkin, bahkan umpatan, adalah ujian bagi kesabaran.

Di lain pihak, kesabaran orang tua juga diuji oleh tingkah polah bocah. Utamanya bila yang dihadapi adalah seorang anak kecil yang belum benar-benar paham akan dirinya sendiri. Tindakan seperti mengompol, mencakar, menendang tidak jarang diterima oleh kakek dan nenek, bukan? Bocah-bocah yang lebih besar, akan memberikan umpatan, teriakan mungkin, serta tindakan lain yang kurang menyenangkan bila keinginannya tidak terpenuhi. Keinginan yang sepele sebenarnya, namun barangkali sudah bisa membuat kakek dan nenek mengelus dada.

Kemarahan, baik yang dilakukan oleh orang tua, pun kebandelan seorang balita, adalah warna-warni lain. Tidak sebenarnya marah, mungkin hanya upaya pengalih perhatian saja, atau perwujudan lain dari bentuk-bentuk kasih sayang? Saya kurang mengerti mana di antara hal-hal itu yang sebenarnya terjadi. Namun saya cenderung untuk sepakat dengan kutipan dari film itu. Ketika marah, bukan kata-kata jernih yang keluar dari hati.

Sikap dan tindakan untuk mengatasi amarah itu kemudian yang menjadi penting. Apakah kita akan ikut-ikutan marah, kemudian menjadi letupan-letupan kecil, yang kemungkinan bisa menjadi ledakan besar? Ataukah akan diam saja, menerima kemarahan sebagai sebuah kewajaran di samping senyum, duka cita yang berubah-ubah seiring berjalannya waktu dan kejadian-kejadian? Saran saya, tunggulah sebentar, sobat. Tunggulah, ketika amarah berubah menjadi tawa penuh canda, ungkapan sayang dan rasa terima kasih. Saya jadi teringat saat seorang sahabat menuliskan :

jika hujan bisa lahir dari rahim kemarau, tawa pun pasti bisa terbit dari fajar airmata

asal gambar

Dendang Riang dalam Bus

Wednesday, 2 July 2008 pukul 9:03 WIB 30 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam jendela dunia

Baru saja menikmati ruangan bus ber-AC “APOLLO” jurusan Semarang-Solo. Perjalanan masih harus dilanjutkan menuju Klaten dengan terlebih dahulu berganti bus ekonomi jurusan Solo-Jogja. Terminal Kartosuro pukul empat sore. Tidaklah nyaman di sana, panas dan berdebu, kemungkinan ada copet dan bus-bus yang bersicepat mengejar jam sambil tak lupa meninggalkan polusi. Bukanlah sebuah pilihan yang tepat untuk menghabiskan senja, menikmatinya dan merangkai cerita darinya. Tetapi meski demikian merana keadaan yang harus dihadapi, suka tidak suka tetap harus dinikmati.

Menunggu bus jurusan Solo-Jogja, pada pukul empat sore tidaklah mudah. Bus yang lewat tinggal beberapa gelintir. Ada memang sebuah bus yang sedang ngetem menunggu penumpang di terminal Kartosuro. Tetapi, beberapa waktu yang lalu saya sudah memetik pengalaman dengan bus itu. Lama menunggu, dilirik terus cowok-cowok sangar, sepertinya copet –emang eike lelaki apaan, bo’?- dan pedagang kaki lima yang naik turun menjajakan dagangan benar-benar membuat tidak nyaman.

Akhirnya, memilih berdiri menunggu di pintu masuk, dekat tempat pembayaran retribusi bus-bus yang akan memasuki terminal. Aha! Setelah seperempat jam menunggu, ditemani terik mentari senja, polusi, bau selokan dan keringat, datang juga bus yang dinanti. Sebuah bus ekonomi yang sudah penuh nampaknya. Benar saja, masuk melalui pintu depan, melayangkan pandangan ke belakang di seantero bus, arghhh tak ada satupun bangku yang kosong. Harus berdiri lagi, yah barangkali hitung-hitung sebagai olah raga karena memang jarang sekali melakukan kegiatan ini.

Bersama saya, berdiri juga seorang bapak dan gadis, errr atau lebih tepat wanita mendekati usia tiga puluhan yang sepertinya baru pulang dari kerja entah di pabrik mana. Saya berdiri di lorong bus, agak di tengah. Berdiri dengan menyandarkan pantat di sandaran bangku, sedikit mengganggu penumpang yang duduk di sana memang, tetapi boleh dong sedikit berbagi?

Berdiri di tengah, membuat saya bisa mengamati wajah dan ekspresi satu per satu penumpang yang duduk di bagian belakang. Sebagian besar penumpang tertidur, mungkin karena kelelahan, ada juga yang melemparkan pandangannya melampaui jendela melihat pemandangan, sepertinya melamunkan sesuatu, ataukah sedang berfikir? Ada juga seorang lelaki agak seram duduk di bangku paling belakang, mengawasi saya dan penumpang lain, gerak-geriknya mencurigakan, mungkin beliau ini polisi. Seorang gadis berjilbab biru muda, mengelap peluh dengan sapu tangannya yang berwarna merah jambu. Sekilas kami bertukar pandang, kemudian dia menunduk, tersipu dan pipinya menjadi sewarna dengan sapu tangannya. Cess! Barangkali inilah embun di kala pagi, mungkin juga oasis di tengah gurun.

Koordinat tempat saya berdiri, tidak memungkinkan mengamati penumpang yang duduk di deretan depan. Kecuali rambut-rambut yang berantakan karena bergesekan dengan sandaran kursi penumpang, saya juga melihat peci usang, topi murahan. Uban sehelai dua di kepala ibu-ibu menjadi tengara usia yang sudah dilalui, kepala yang sama bersandar di bahu seorang bapak yang rambutnya sudah memutih semua, sebuah kemesraan yang tidak malu-malu ditunjukkan. Sebuah kemesraan yang tidak sehari dua, mungkin. Dua gadis berjilbab duduk berdampingan, bercerita dengan suara nyaring dan kadang berbisik, terkikik tidak peduli dengan sekitar. Sayang, hanya dari belakang saya mengawasi, sehingga hanya suara, gerakan kepala dan jilbab saja yang terekam.

Ketika sedang nikmat-nikmatnya berdiri, mengamati satu per satu penumpang, sedikit mengantuk karena angin yang mengalir melalui sela-sela kaca jendela. Ibu-ibu yang duduk di dekat saya berdiri, beranjak pergi, sepertinya tempat tujuan beliau sudah dekat dan akan mendekati pintu keluar. Sebuah bangku kosong di dekat saya, ah senang sekali karena saya bisa duduk. Setelah menawarkan kepada bapak dan mbak-mbak yang juga berdiri, mereka tidak mau duduk, ternyata sebentar lagi mereka sampai di tempat tujuannya. Wah rejeki memang tidak akan lari ke mana.

Duduk, beberapa saat yang lalu ketika saya berdiri begitu mahal rasanya. Saat saya duduk, nyaman sekali, saya bisa melamun, melayangkan pandangan ke luar bus, atau tertidur. Ternyata selama saya berdiri tadi, saya menginginkan duduk. Terlintas sebuah pesan, bila keinginan sudah digenggam terasa puas, dan akan dipertahankan kenikmatan itu, rasa puas itu selama mungkin. Hal ini, akan terbukti beberapa saat lagi.

Benar saja, tidak perlu menunggu terlalu lama. Bus yang saya tumpangi melintasi sebuah pabrik yang pekerjanya baru saja bubar. Banyak sekali pekerja pabrik yang sebagian besar wanita itu naik ke bus ini. Mendadak bus menjadi riuh, di antara mereka saling berdesakan, saling bercerita sampai-sampai bapak yang tertidur di samping saya terbangun. Lelah dan capek mungkin yang membuat bapak itu hanya membuka mata sejenak dan beberapa saat kemudian mengalun nafasnya dengan teratur, tanda sudah tertidur kembali.

Bukan karena isu gender, namun rasa-rasanya saya ingin menawarkan kursi saya ini kepada mbak-mbak yang berdiri itu. Tetapi… bila saya tawarkan kepada seorang, nanti bagaimana dengan yang lainnya? Tentu akan terjadi iri hati, cemburu dan dengki di antara mereka karena memperebutkan saya, eh maksudnya kursi saya. Akhirnya saya tetap memilih duduk saja, diam, menunggu.

Posisi lagi-lagi memainkan perannya. Saya duduk di pinggir yang dekat dengan lorong di mana mbak-mbak itu berdiri. Saya cuma duduk dan diam, tetapi mbak-mbak ini bergerak-gerak terus, saling berdesakan dan bergoyang seirama gerakan bus. Saat bus mengerem mereka akan terdorong ke depan, dan demikian juga sebaliknya. Akibatnya beberapa bagian tubuh mereka –apakah perlu dijelaskan, point ini?- seringkali bersenggolan dengan saya, ya memang saya diam, tetapi saya berkeringat, terengah-engah dan serba salah. Kenapa yak?

Beberapa saat kemudian, penumpang mulai berkurang karena satu demi satu sampai di tempat tujuan dan turun dari bus. Mbak-mbak yang berdiri itu, tidak lagi berdesakan, mereka menyandarkan –maaf- pantatnya di sandaran bangku seperti kala saya berdiri di awal-awal saya menaiki bus ini. Saya baru sadar, ternyata motif di saku belakang celana jeans cewek itu bermacam-macam, yak?

Dulu saya hafal bagaimana motif jahitan di saku belakang. Misalnya jahitan celana jeans merk ini, akan berbeda dengan jahitan celana jeans merk yang lain. Saya paling ingat merk favorit saya, motifnya seperti huruf “W” wah gagah sekali bila mengenakan celana dengan motif ini terpampang di saku belakang. Sekarang saya bertanya-tanya, apakah motif di saku belakang sudah berubah? Ataukah itu hanya berlaku untuk motif di celana jeans cewek. Saya fikir kok repot sekali yak, mengukir bunga-bungaan, memahat dedaunan di saku belakang, tujuannya kira-kira apa ya? Hihi.

Bus terus berjalan, menuju Jogja, dan Klaten sudah tidak jauh lagi. Melintasi sebuah terminal kecil, semacam terminal transit di kota kecamatan. Saat itu seorang pengamen naik, ibu-ibu dengan alat yang sangat sederhana. Hanyalah sebuah kayu yang di salah satu ujungnya dipasang tutup botol, digerak-gerakkan dan mengeluarkan bunyi crek… crek… crek… membosankan. Suara ibu ini jauh dari merdu, tetapi terus terang menimbulkan iba. Beberapa receh yang ada di saku saya pun berpindah ke bungkus rokok yang sudah dilipat sedemikian rupa, untuk menampung uang dari penumpang.

Terminal Klaten dilalui, saya masih harus menunggu beberapa saat lagi sampai saya sampai di tempat saya turun. Di terminal ini, pengamen yang juga ibu-ibu itu turun, berganti dengan seorang pemuda yang membawa gitar butut, ada tatto di tangannya. Suaranya menggelegar, serak-serak kering tidak nyaman di telinga. Tapi ada beberapa bait lirik yang dinyanyikan usil dan membuat tersenyum. Demikian kira-kira bunyinya :

“Nuwun sewu Pak, nuwun sewu Bu
Kulo namung badhe nderek ngamen, Bu
Matur nuwun diparingi satus, nopo malih telung ngewu
Ampun ethok-ethok turu, nanging kalih ngampet ngguyu”

Masih berbait-bait sebenarnya yang dinyanyikan, namun sebait di atas yang saya paling ingat. Sebenarnya lupa-lupa ingat. Apalagi bagaimana nada menyanyikannya sudah lupa sama sekali. Di bait itu, ada pembuka berupa ucapan permisi karena akan mengamen. Ternyata, untuk “sekedar” mengamen saja membutuhkan permisi. Sebuah basa-basi yang sudah banyak dilupakan, bukan?

Selanjutnya, harapan untuk mendapatkan uang, bukan sekedar ratusan rupiah saja, namun kalau bisa ribuan. Bukan harapan yang aneh, saya kira. Harapan yang wajar, seperti halnya harapan saya untuk duduk dan menikmati perjalanan selagi saya malah berdiri. Di baris terakhir, adalah sindiran kepada mereka yang pura-pura tidur, namun menahan tawa saat mendapat sindiran ini. Point ini, sepertinya menjadi jamak sekali. Bukankah kita sering menutup mata? Seringkali tidak melihat, ataukah sebenarnya berlagak tidak melihat? Saat di sekitar orang membutuhkan bantuan kita, ketika kesengsaraan dan penderitaan merajalela? Contoh paling gampang sebenarnya saya sendiri, yang masih saja merasa nikmat duduk, ketika ada ibu-ibu yang berdiri. Sebuah kursi, menyimpan banyak reaksi, memendam misteri.

Sisa Juni

Thursday, 26 June 2008 pukul 18:57 WIB 47 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam jendela dunia

Juni hampir berakhir
Kemarau baru saja dimasuki
Hujan belum lama pergi
Tapi kerinduan, bagai duri

Mampir di kaki, enggan pergi
Harapkan hujan di kala pagi
Rumput basah tanah mewangi
Embun pagi hanya ditemui

Tanah kering
Meranggas jati
Jiwa kering
Keringkah hati?

Maaf, toleran hanya ilusi
Pada jiwa-jiwa yang mati
Suara-suara demonstrasi
Menyisakan seorang mati

Bila nurani tumpul dikebiri
Menebar janji di satu provinsi
Benarkah akan ditepati?
Harap-harap cemas dalam hati

Tanah kering
Meranggas jati
Jiwa kering
Keringkah hati?

Jiwa-jiwa lelah, tubuh mati
Gentayangan menghantui
Tanyakan janji, tanyakan janji
Dagelan lagi-lagi ditemui

Lawakan yang sudah basi
Diputar lagi, lagi dan lagi
Ke manakah kesadaran diri
Jangan dulu mati, berseri mari

Tanah kering
Meranggas jati
Jiwa kering
Janganlah hati!

Saat Bulan Separo

Tuesday, 24 June 2008 pukul 8:03 WIB 48 komentar
Ditulis oleh unclegoop dalam jendela dunia

Ada hikmah di balik listrik mati

Kebiasaan menikmati berbagai perangkat yang sangat tergantung listrik, menjadikan saya alpa pada beberapa hal. Nyaman sekali bila listrik tersedia dan semua perangkat yang terhubung pada listrik bisa bekerja maksimal. Saat yang sama, saya lupa bahwa banyak hal lain, gratis yang tidak membutuhkan listrik.

Kapan terakhir Anda menikmati sinar lembut rembulan? Pernahkah mengamati, bagaimana pergerakan rembulan? Sekedar mengingatkan –bila tidak salah- diawali bulan mati, bulan sabit, bulan separo dan purnama. Purnama adalah puncak, sebelum kemudian bergerak kembali menjadi bulan separo, bulan sabit dan diakhiri bulan mati.

Melingkar penuh, seperti purnama

Di sudut desa, pada sebuah perempatan. Biasanya sebuah lampu yang menempel di tiang listrik, akan menyala terang di sana. Saat listrik tidak menyala, perempatan akan gelap. Sinar rembulan yang jatuh menimpa pohon pisang, menimbulkan bayangan.

Dedaunan pisang bergerak ditiup angin. Seperti tangan-tangan yang menggapai cahaya. Gerakannya lembut, syahdu, berirama. Indah namun menyembunyikan misteri. Dalam gelap, bayangan akan menjelma menjadi tubuh-tubuh tanpa nyawa, menyeramkan!

Umbra dan penumbra terbentuk di bumi. Berkas cahaya menelusup di antara dedaunan dan dinding-dinding rumah. Telusurilah, dan temukan rembulan sebagai sumber cahaya tersenyum-senyum. Cantik, malu-malu dan sesekali bersembunyi di balik awan.

Anggun, malu-malu seperti pipi gadis yang merona

Masuklah ke dalam rumah! Ada lilin, apinya bergerak dihembus angin. Cahaya kembali bermain-main. Bayangan terbentuk dari perabot, jatuh di dinding. Sepertinya tubuh-tubuh tanpa nyawa kembali bangkit. Mengggapai-gapai laksana arwah penasaran yang sudah bergentayangan selama ribuan tahun.

Suara yang ada adalah keheningan. Pada jeda yang pasti, hanya detak jarum jam yang terdengar. Tetap, ajeg seperti metronom penjaga nada. Jangan heran bila kemudian terbawa pada suasana. Perenungan mendalam, menelusup di relung-relung kesadaran, kenangan, harapan. Namun, bisa juga menjadi irama yang meninabobokan, mengantar pada lelap pasca lelah tubuh.

Bayangan, harapan, bergentayangan menelusuri dinding. Sebagai jeda, selain cahaya lampu. Istirah dari cahaya televisi, redup layar monitor. Saya kira, mati listrik menawarkan variasi.

Seperti kesedihan, di antara kebahagiaan. Saat sedih, begitu berarti kebahagiaan. Bak sakit di tengah-tengah sehat. Tatkala sakit, begitu nikmat sehat.

Kehilangan hanyalah milik mereka yang “merasa” memiliki

Kebahagiaan, sehat bukanlah milik kita. Kesedihan, sakit adalah karunia. Bentuk cinta, pengingat bahwa tak ada yang abadi. Tak ada jaminan, tak ada milik kita.

Seandainya bisa, tentu berharap listrik tak pernah mati. Menyala terus, disibukkan selalu dengan layar monitor, debat dan gosip di televisi. Meski saat itu, barangkali kita lupa bahwa ada rembulan yang cantik di atas sana. Mungkin ketika itu, tak pernah kita dengar detak jarum jam.

Menikmati semua, merasakan, memaknai, bisakah?