unclegoop.com

melintas batas

Follow me on TwitterRSS Feeds

  • Home
  • penjaga
  • tetangga
  • peraduan lupa
  • kontak diri
afgangirl

Tak Lelahkah Menderita?

Jul 23rd

Posted by unclegoop in kamar hati

6 comments

http://photosthatchangedtheworld.com/wp-content/uploads/2008/07/afgangirl.jpg

“Derita menjadi tertanggungkan ketika ia menjelma sebuah cerita.” Hannah Arendt

Ara, aku tahu kamu sudah tidak asing dengan penderitaan. Lantas, kenapa aku masih juga memberikan sebuah bacaan mengenai penderitaan buatmu?

Ya, buku yang barangkali baru sempat kamu sentuh itu mengenai penderitaan Laila dan Mariam.

Tentang anak haram yang mendamba kasih sayang ayah yang tak pernah mengakuinya. Manakala kasih sayang itu didapat, harus ditebus dengan kematian ibunya. Tentang deritanya menjadi istri seorang lelaki yang tak pernah dicintai. Mengenai hujaman cambuk dan kepalan tangan yang senantiasa mendarat di tubuhnya. Yang semua derita itu dihadapinya dalam diam.

Mariam sedari mula sudah tahu, Nana—ibunya yang telah tiada—pernah berkata, “Camkan ini sekarang, dan ingatlah terus, anakku: Seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke utara, telunjuk laki-laki juga selalu teracung untuk menuduh perempuan. Selalu. Ingatlah ini, Mariam.”

Sepenggal kehidupan Mariam barangkali tak layak dikenang. Hanya menawarkan pahit dan getirnya menghadapi laki-laki; menerima setiap tuduhannya. Pada mulanya memang ibunya yang menerima tuduhan itu. Perbuatan dosanya bersama Jalil membuahkan Mariam. Nama baik dan kehormatan Jalil adalah alasan terpisahnya anak dengan bapak. Tinggal bersama menjadi sebuah kemustahilan.

Sampai pada satu ketika, saat keinginan berkumpul bersama bapaknya tak tertanggungkan. Disambangi rumah bapaknya, namun apa yang didapatnya? Hanyalah seraut muka yang mengintip di antara gorden jendela. Dia kemudian tidur di depan pintu gerbang dan diminta pulang lagi ke gubuk ibunya. Ibu yang membesarkannya, tak rela Mariam terluka, diancamnya bila dia ke rumah bapaknya, maka ibu itu akan bunuh diri. Dan benar kemudian tak ada sosok ibu yang ditemui Mariam di gubugnya di tepi sungai. Jasad ibunya yang tergantung di cabang pohonlah yang menanti. Duka lara dalam sendiri.

Kejadian itu, mau tidak mau telah memaksa Jalil untuk ‘sedikit’ bertanggung jawab atas nasib Mariam. Dibawanya anak malang itu ke rumahnya yang besar dengan tiga orang istri sahnya. Pandangan mencibir pun mesti Mariam terima. Sampai puncaknya sebuah pernikahan yang dipaksakan harus dijalaninya.

Adalah Rasheed, seorang duda yang ditinggal mati anak dan istrinya. Berselisih usia tiga puluh tahun dengan Mariam. Seorang yang selalu menguarkan bau rokok, kasar dan bukan penyayang. Meski, pernah pula masa indah dialami waktu Mariam mengandung anak Rasheed. Sayang, nasib sudah digariskan. Beberapa kali mengandung, beberapa kali pula keguguran dialami. Barangkali rahim Mariam terlampau lemah untuk persemaian janin benih dari Rasheed. Semenjak keguguran demi keguguran itu, maka peran Mariam tak lebih hanyalah seorang pembantu dan pemuas nafsu birahi pun amarah Rasheed. Tak jarang, sepulang Rasheed bekerja, diikuti dengan amarah yang meletup-letup hanya gara-gara makanan yang dimasak Mariam kurang asin. Bukan hal yang asing saat cambukan ikat pinggang Rasheed mendarat di tubuh Mariam.

Simaklah bagaimana Mariam menghadapi derita itu, seperti pada pasase berikut ini: Mariam berbaring di sofa, menjepit kedua tangannya di antara kedua lututnya, menyaksikan tarian salju di luar jendela. Dia teringat pada Nana, yang pernah mengatakan bahwa setiap kepingan salju adalah helaan napas seorang wanita terluka di suatu tempat di dunia ini. Setiap helaan napas itu terbang ke langit, berkumpul di awan, lalu dalam keheningan turun kembali dan menimpa orang-orang di bumi. Sebagai peringatan atas bagaimana wanita seperti kita menderita, kata Nana. Bagaimana kita menanggung semua beban dalam keheningan.

***

Laila di sisi yang lain adalah wanita yang memupuk berjuta harapan di dadanya. Dia dibesarkan di keluarga yang bahagia meski bayang-bayang kebesaran kakaknya tak lekang dari mata ibunya. Maka, bukan keluarga yang ideal memang, karena kematian kedua kakak laki-lakinya telah merenggut kewarasan ibunya. Meskipun demikian, kasih sayang ayahnya mampu membuka jalan Laila untuk belajar dan maju.

Harapan Laila akan kehidupan yang bahagia makin ditunjang oleh kedekatannya dengan Tariq, tetangga dan teman bermain yang kelak kemudian hari menjadi kekasihnya. Berciuman, sebuah hal yang sangat tabu di Afganistan pun pernah dua sejoli ini lakukan.

Laila besar dengan harapan. Dilengkapi dengan cita-cita besar ayahnya. Diiringi keinginan manis yang membayang penuh kebahagiaan bersama Tariq.

Sayang, negara tempatnya tumbuh bukanlah media yang bagus untuk menyemaikan harapan. Perang dan pergantian kepemimpinan yang terjadi berulang telah merenggut satu demi satu kebahagiaannya.

Tariq berpamitan padanya di sebuah siang yang lengas di tengah desingan peluru dan meriam. Dia berkata kedua orang tuanya tak mungkin lagi hidup dalam ketakutan dapat terbunuh dari hari ke hari. Sebuah perpisahan yang sudah bisa diduga itu pun tetap saja terasa menyakitkan. Maka, ketika dua insan yang dirundung kesedihan memadu kasih—walau dengan segudang perasaan takut yang bercampur dengan kebahagiaan dan kesedihan—bukanlah hal yang terlampau aneh. Tariq pergi dan Laila linglung sendiri.

Perang semakin hebat berkecamuk. Pun di rumah Laila manakala ibunya enggan meninggalkan rumah dan kenangannya akan kakak-kakak Laila. Sang ayah yang tak kenal putus asa sedikit demi sedikit berhasil pula membujuk ibu untuk mengungsi. Hari kepindahan pun ditentukan, sebuah hari yang nantinya juga berarti kepindahan kedua orang tua Laila dari alam dunia ke alam baka sebagai akibat hajaran meriam yang melanda rumah mereka.

Hal yang ajaib adalah Laila tetap hidup, meski luka melumuri sekujur tubuhnya. Datang rupanya sesosok malaikat penolong yang mengais tubuh Laila dari puing-puing reruntuhan. Dia adalah Rasheed.

Hutang budi, dan terutama janin—lagi-lagi haram, buah hubungannya dengan Tariq—yang mulai membuat perut Laila membesar memaksanya menerima pinangan Rasheed. Setengah alasan lain adalah agar ia tetap bisa hidup di tengah perang yang dimenangkan kaum yang sangat membatasi hak-hak perempuan.

***

Maaf, Ra, terlampau banyak kukira aku bercerita tentang buku yang sebaiknya kamu baca sendiri itu. Di sana, dalam setiap halamannya akan kamu temukan derita yang tak tertanggungkan berganti-ganti dengan kebahagiaan yang terpenggal-penggal.

Semua manusia kukira akan mengalaminya, bukan? Hanya, akankah manusia itu menempuh jalan sunyi Mariam atau melawan penderitaan itu seperti yang Laila lakukan?

Tak terlampau sukar menebak akhir buku itu. Yah, kematian memang merenggut Mariam saat dia membela satu-satunya sumber kebahagiaannya. Pembelaan yang terasa pantas untuk seseorang yang bersedia menerima Mariam tanpa syarat setelah semua penolakan di hampir sepanjang usianya.

Adapun Laila? Simaklah lagi kutipan berikut ini: Maka, Laila pun bertekad untuk terus maju. Demi dirinya sendiri, demi Tariq, demi anak-anaknya. Dan demi mimpi Mariam, yang masih mengunjungi Laila dalam mimpi, yang selalu bernapas di dalam kesadarannya. Laila terus maju. Karena, pada akhirnya, dia tahu bahwa hanya itulah yang bisa dia lakukan. Kemajuan dan harapan.

‘A Thousand Splendid Suns’ juga memberikan sebuah sajak dari Saib-e-Tabrizi berikut ini: “Siapa pun takkan bisa menghitung bulan-bulan yang berpendar di atas atap, ataupun seribu mentari surga yang bersembunyi di balik dinding.”

Aku kira, puisi itu mengamanatkan sebuah gerak; tindakan yang mesti diambil bila ingin merasakan kebahagiaan. Memang benar Mariam sepanjang usianya melewati penderitaan-penderitaan. Namun, bacalah bagaimana dia bahagia walaupun takut saat berhadapan dengan malaikat maut di hari di mana hukuman mati untuknya dijatuhkan. Jangan lupa pula saat Laila berjuang dengan bilur luka, dengan penyamaran yang tak selalu berhasil saat menyambangi anaknya yang terpisah darinya. Benar dia menderita, namun pertemuan-pertemuan singkat itu pun cukup untuk menyunggingkan senyum baginya, bukan?

Tentu kau pun masih ingat, Ara, manakala kita bersama membacai rumah putih tempat Mas Ia bercerita. Di mana kita temukan serangkum kata-kata begini bunyinya, “Jika hujan bisa lahir dari rahim kemarau, tawa pun pasti bisa terbit dari fajar airmata.” Bukankah menjadi benar sebuah lagu Peterpan yang berkata, “Tak ada yang abadi” itu?

Dan lagi-lagi sebuah sajak dari buku penuh cerita pengorbanan wanita itu barangkali layak pula dibaca dan direnungkan.

Yusuf ‘kan pulang ke Kanaan, jangan bersedih,

Gubuk ‘kan berganti taman mawar, jangan bersedih.

Jikalau banjir datang, semua yang hidup tenggelam,

Nuh ‘kan jadi pemandu dalam mata topan, jangan bersedih.

Selamat ulang tahun, Ara, jangan bersedih, ya. Meski air mata mungkin seperti fajar yang selalu datang esok hari, namun harapan akan terbitnya tawa masih boleh kita gantungkan, bukan? Oiya, sudahkah kamu mencoba saran Hannah Arendt seperti di awal tulisan ini? Jika belum, cobalah….

  • Share/Bookmark
a thousand splendid suns, afganistan, bintang, mentari surga, penderitaan, sajak

Nyanyian Warna

Jul 14th

Posted by unclegoop in pintu jiwa

12 comments

Anak kecil yang berjalan itu tak perhatikan langkahnya. Dibiarkannya kaki melangah tak hirau walau kadang terantuk batu. Kepalanya menengadah memandang ke langit.

Tak pelak, serangkum kekaguman melanda dirinya. Sejauh mata memandang hanyalah biru yang bersih. Lain saat, ketika pandangannya kembali diarahkan ke langit, tak hanya biru yang nampak, melainkan juga putih warna awan-awan. Waktu berbeda, awan yang sama menawarkan warna lain. Kelabu beranjak hitam, mengabarkan mendung walau tak selalu berarti hujan.

Bertahun kemudian, dia membaca sebuah buku dan tahulah kenapa awan berwarna kelabu. Seperti tertera pada buku itu: Jalil pernah memberi tahu Mariam, bahwa awan kelabu mendapatkan warnanya karena begitu tebal sehingga bagian atasnya menyerap cahaya matahari dan meneruskan bayangannya ke bagian dasarnya. (A Thousand Splendid Sun)

Liburan datang, darmawisata diadakan. Laut dan pantai menjadi tujuannya kini. Manakala dia dududk di pantai kembali nyanyian warna yang dia lihat. Kebiruan laut yang membentang sampai ke batas antara laut dan langit. Kehitaman pasir yang menelusup di jemari kakinya; membuat geli. Warna-warni terpal pedagang di tepi pantaiyang tak jauh dari jalan pun tak luput dari perhatiannya.

Semenjak itu, waktu entah kapan dia tak lagi ingat, tercetak jelas dalam pikirannya. Tergambar begitu rupa tak hendak lepas dari benaknya. Ihwal warna.

Ini mengenai selera. Maka, ketika dia beranjak besar mulai diketahuinya makna-makna warna. Dan, warna biru yang melabur langit begitu bersih tak pernah membuatnya risau. Detik itulah saat dia memutuskan warna kesukaannya.

Pengetahuan sedikit demi sedikit didapatnya. Takjub tak juga mengenal kata mandek ketika dia mengetahui perihal warna dasar: merah, hijau, biru. Pula, saat didapatnya pengertian mengenai jingga, kuning, ungu, sebagai hasil padu-padan warna-warna primer. Bahkan, kemudian muncul pula kesadaran bahwa kemungkinan tak juga mengenal tanda titik saat berkenalan dengan pink, merah maroon, biru donker, hijau daun.

Saat dia berjalan, senandung warna itu pun mulai terdengar. Sesekali mengalun dengan sempurna saat gradasi warna mata tertangkap bola matanya. Namun lebih sering bunyi yang acak karena tak bisa diaturnya komposisi warna jagat raya.

Satu hal yang dia ketahui dan tak hendak berubah, bahwa warna-warni lebih lengkap dan indah ketimbang hanya ada sebuah warna saja. Ibarat sebuah lagu yang terdiri dari sebuah nada, apa menariknya?

  • Share/Bookmark
biru, donker, gradasi, hijau daun, jingga, kelabu, merah maroon, primer, warna

Lagu Pesisir

Jul 9th

Posted by unclegoop in tak terjelaskan

1 comment

Dengarlah nyanyian ombak

Janganlah terlampau menyimak

Agar nyanyian camar

Masih bisa kau dengar

Tengoklah teluk yang menangis

Hatinya luka tubuhnya teriris

Digerus ombak yang bergulung

Laksana sepatah hati yang murung

Liriklah tanjung yang jumawa

Tempat suar berdiri lampunya menyala

Merangsek ombak menciutkan laut

Bagai hati mengkerut walau terpaut

Di mana panjang berderet karang?

Nun di sana tegak jadi penghalang

Ikan berenang di tenang laguna

Adalah hati senang kabar bahagia

Dan buih, gulungan ombak dan laut

Dan camar, lambaian nyiur, awan tersangkut

Ada nelayan pulang bersandar

Ada lagu pesisir bisa kau dengar

Sridewanto Edi/110609

Berbagi

camar, karang, ombak, pesisir, tanjung, teluk

Manggis

Jul 6th

Posted by unclegoop in jendela dunia

7 comments

Mari kita membicarakan manggis, semua tahu manggis, kan? Ah, manggis yang itu, tahu, kan? Masa tidak tahu manggis. Halah, yang itu lho…manggis, manggis….

Sebelum saya ditendang karena mengulang-ulang kata dan bertanya hal yang sama, maka baiklah begini ceritanya—halah!

Bapak saya gemar menanam berbagai macam pepohonan. Salah satu jenis pohon favorit yang beliau tanam adalah buah-buahan. Dahulu, banyak buah yang tumbuh di halaman dan sekitar rumah. Beberapa di antaranya adalah rambutan, duku, jambu, mangga, kelengkeng, nanas dan entah apa lagi saya lupa. Paling banyak rambutan, kira-kira ada 5 pohon waktu itu sekitar dua tahun yang lalu. Adapun sekarang, sudah banyak yang ditebang dengan berbagai alasan dan hanya menyisakan dua buah saja. Sementara jenis buah yang lain sepertinya tak lebih dari dua, kebanyakan satu pohon untuk setiap jenis buah.

Di antara semua jenis buah-buahan yang ada, manggis terasa istimewa. Pertama kali saya melihatnya berbuah cukup membuat terkagum-kagum. Oiya, posisi pohon manggis di dekat pagar terbuat dari tanaman yang membatasi kebun dengan pekarangan tetangga. Ia tidak terlalu tinggi, ia tumbuh di bawah pohon durian dan sengon serta pete. Agak jauh sedikit, sebuah pohon kelengkeng yang rimbun turut pula menaunginya. Pendek kata, ia dikepung, tak bisa tinggi. Kendati demikian, di sanalah ia tumbuh dan hebatnya berbuah. Ah, hebat, bukan?

Dan buahnya, tahukah kau, kawan? Tahukah buah manggis, pasti tahu, kan? Masa tidak tahu? Hahaha, khawatir ditendang lagi saya.

Begitu halus kulit luarnya, kemerahan. Oya, yang belum matang putih kehijauan, kemudian beranjak memerah dan terus menua warna merahnya. Di sisi lain dari bagian tangkai ada semacam sisa dari kelopak bunga barangkali bila saya tidak salah. Bagian ini, dipercaya mencerminkan jumlah anak-anak buah manggis yang ada di bagian dalam kulit luar. Dan anak-anak buah di dalamnya, begitu putih, lembut dan manis, bukan?

Manggis, biasa digunakan sebagai perlambang selain buah durian dan kedondong. Kulit luar dan buah di dalamnya yang digunakan sebagai perhitungan. Manggis memiliki kulit dan buah yang sama halus dengan isinya. Durian, tak perlu dijelaskan bagian luarnya menyeramkan sementara isinya menawarkan kenikmatan tiada tara. Dan kedondong, entah kenapa bagian luarnya halus namun di dalamnya pada bijinya berserabut tidak karuan.

Konon, begitu juga halnya manusia. Ada yang kulit dan isinya sama halusnya, ada yang hanya kulitnya yang halus, pun ada pula jenis isinya saja yang halus.

Jelas di sini manggis menikmati tempat yang istimewa. Laksana gadis, ia cantik luar dalam. Hebat, ya?

Kembali ke manggis di pekarangan itu, yukkk….

Nah, senang sekali mengamati bagaimana perubahan buah manggis dari mula dia kehijauan kemudian beranjak merah dan matang. Sayang, hal ini tidak setiap saat bisa dilakukan. Pada musim-musim awal, kami sekeluarga begitu memerhatikan pohon dan buah manggis kami.

Setelah dia semakin sering berbuah dari musim ke musim, maka perhatian pun memudar, acuh dan abai pada pohon dan buahnya. Maka, jangan salahkan ketika anak tetangga mulai ikut menikmatinya, tentu saja tanpa ijin mereka melakukannya.

Hal yang biasa terjadi kemudian adalah, pada saat belum matang saya bisa mengamatinya dengan takjub dan penuh kesabaran. Menjelang buahnya matang beberapa sudah hilang entah ke mana. Saatnya matang, tak pernah kami tahu di perut siapa dia berada. Meskipun ada pula beberapa buah tersembunyi yang jatuh, luruh ke tanah dan busuk. Buah pun mesti melalui seleksi alam untuk bisa saya saksikan bagaimana siklusnya. Eh, seleksi alam atau seleksi mata-mata jahil anak tetangga, ya? Hehehe.

Bila beruntung sekali menikmati yang matang, maka dengan adik-adik akan membuat tebakan. Menghitung jumlah kelopak di bagian yang berlawanan dengan tangkai dan mencocokkannya dengan jumlah daging buah di bagian dalam, apakah cocok atau tidak. Terkadang, bila jumlah buah manggisnya banyak, kami berebutan buah dan kemudian berlomba cepat menghitung kelopak mencari yang paling banyak. Tanpa sadar kami telah melakukan seleksi pada buah-buah itu.

Di sekumpulan buah itu, kami memilih secara langsung, bebas dan tidak rahasia. Tak ada KPU, tak ada kampanye, tak ada debat, namun kami bisa mendapatkan pilihan kami dan senang karenanya.

Dalam hitungan hari, Anda pun akan menentukan pilihan untuk masa depan bangsa ini. Saya bilang Anda karena memang saya tidak ikut memilih, saya golput karena berbagai kendala yang menghadang sehingga saya tak pulang dan turut memasuki kotak suara kemudian mencontreng.

Besar harapan saya, walaupun saya tidak turut memilih secara langsung, namun kepada Anda yang beruntung terdaftar dan bisa memilih agar bisa cermat dalam mencontreng. Seperti halnya manggis, barangkali di antara yang Anda pilih ada yang masih setengah matang. Lalu seperti halnya kami sekeluarga yang tak pernah menikmati manggis yang matang, saya kurang tahu apakah di antara yang akan Anda pilih ada yang matang atau tidak. Pula, semoga yang Anda contrng tidak sama dengan apa yang kami temukan saban pagi, yakni manggis busuk yang telah luruh, jatuh ke tanah.

Setelah itu jangan lupa pula untuk menghitung dan menimbang persis ketika kami, saya dan adik-adik menghitung jumlah kelopak untuk mengetahui manggis mana yang terbaik di antara sekumpulan manggis. Pada akhirnya, semoga yang Anda dapatkan mirip pula dengan yang biasa pemenang dapat di antara kami: sebutir manggis yang mendekati matang, sudah melewati setengah matang dan belum menjadi busuk, jumlah daging buahnya banyak dan saat dimakan rasanya pun nikmat sekali.

Namun kemenangan tak selalu dimiliki setiap orang karena hanya ada satu pemenang. Maka pihak yang kalah pun harus memakan manggis yang ada di wadah, walaupun barangkali jidat mengernyit, lidah berkata, “ogah.” Semoga tidak ada pula yang mendapat atau menjadi manggis busuk, karena nasibnya hanya dibuang dan mampir di tempat sampah. Amien.

  • Share/Bookmark
kampanye, manggis, memilih, mencontreng, pemilu, tetangga
« First...10«2021222324»304050...Last »
  • My latest tweets

    Loading tweets...
    Follow me on Twitter!
  • cari dengan google

    Google
  • kata-kata

    kata-kata mengalir dari lidah manusia sesuai dengan batas ukuran dan kemampuan yang dimiliki manusia. kata-kata kita, bagaikan air dialirkan oleh penjaga pengairan. air akan mengalir sesuai keinginan sang penjaga. air tidak mengetahui ke ladang mana atau tempat mana ia akan dialirkan. -rumi-

  • selintas pesan

  • kata mengawan

    anak angin baca banting bayangan buang air besar buih buku bulan bunga camar cantik dunia hape hati hujan Ibu jakarta jepang jiwa karang kenangan kitaro mandi manusia menulis menunggu merdeka mobil odol ombak pantai pulang quote Rindu robot ruang sabun sendiri senja senyum setahun Spanyol tangga tolstoy
  • Alexa


  • google analytics


    34
    Unique
    Visitors
    Powered By Google Analytics
previous next
    • jejak tertinggal

      • ai caem on Hachiko-Tentang Menunggu
      • haris on Gerson Poyk
      • haris on Bekisar Merah – Sebuah Review
      • yansDalamJeda on Remah-remah Piala Dunia 2010
      • jensen99 on Remah-remah Piala Dunia 2010
    • tautan

      • Log in
      • Entries RSS
      • Comments RSS
      • WordPress.org
    • rumpun kata

      • jendela dunia
      • kamar hati
      • loteng baca
      • pintu jiwa
      • tak terjelaskan
      • tetirah lain
Mystique theme by digitalnature | Powered by WordPress
RSS Feeds XHTML 1.1 Top

Alexa Plugin created by Tech Forum - ?Powered by Ibanez and r4 ds.