unclegoop.com

melintas batas

Follow me on TwitterRSS Feeds

  • Home
  • penjaga
  • tetangga
  • peraduan lupa
  • kontak diri

Proses

Aug 5th

Posted by unclegoop in jendela dunia

6 comments

Api menyala kebiruan persis di bawah wajan. Secukupnya minyak dituangkan dari botol bekas kecap ke wajan. Perlahan-lahan, api yang menjilati pantat wajan itu pun mulai memanaskan minyak sehingga mendidih.

Di saat yang hampir bersamaan, telur dipecahkan, dituangkan isinya ke dalam gelas, ditambah sedikit garam, diaduk. Pisau memotong daun bawang dan sawi menjadi potongan kecil-kecil. Telur yang telah diaduk dituangkan ke dalam minyak yang mendidih di atas wajan. Nasib yang sama pun menimpa sawi dan daun bawang, dilempar-lemparkan begitu saja masuk ke dalam wajan. Menambah lengkap rasa, ditambahkan pula: sambal—tergantung permintaan pedas atau tidak—garam, penyedap rasa.

Semua diaduk bersama minyak di atas wajan. Wajan bergoyang-goyang, pedagang bergoyang, gerobak bergoyang.

Nasi ganti diambil kini, tak terlalu banyak. Ukurannya sepiring saja, atau tergantung pesanan. Dituangkan begitu saja di atas wajan, menimbun telur dadar dan bumbu-bumbu. Hiruk pikuk kini di atas wajan karena semua bercampur, semua diaduk, semua saling memengaruhi.

Bau harum menyeruak mencemarkan udara malam. Kepulan asap mengganggu cahaya petromax yang temaram. Bau yang sama mampir di hidung, membuat cacing di perut tak hanya keroncongan kini, namun sudah memainkan nada lain pertanda protes yang gegap gempita.

Ada kecap dituangkan. Adukan bertambah kuat. Warna nasi berubah lagi, dari putih, kemerahan sekarang menjadi sedikit kehitaman. Bau gosong tak jarang datang pula tak diundang. Terbayang sudah rasa pahit yang akan terbit. Namun tak benar-benar pahit, belum tentu juga karena semua masih absurd.

Makanan tak mungkin dinilai sekadar dari baunya saja, bukan?

Akhirnya, semua ritual selesai. Api dikecilkan, wajan dipegang dengan lap kemudian diangkat di atas piring. Semua nasi, semua isi wajan disorong perlahan-lahan jatuh di atas piring. Diatur-atur sedikit biar rapi dan membentuk gundukan cantik. Ditambahkan kerupuk bulat-bulat kecil yang seperti ditaburkan di atas gundukan nasi. Bawang goreng tak ketinggalan ikut dijatuhkan di atas nasi persis seperti hujan menusuki bumi. Hmmm, harumnya pun menguar menambah lapar. Terakhir, acar berisi timun, wortel dan cabai rawit dibubuhkan, diletakkan sedikit di sudut.

Nasi goreng pun jadi dan selamat makan.

  • Share/Bookmark
api, garam, nasi goreng, wajan

Teras Mungil

Jul 29th

Posted by unclegoop in jendela dunia

5 comments

Aku bangun rumah dua lantai. Sementara, entah untuk apa lantai pertama aku lupa.

“Mana bisa kamu lupa, itu kan rumahmu?”

“Diam, kamu riwil!”

Pendek kata, aku membuat sebuah kamar di lantai dua. Untuk apa? Begini mulanya:

Pokoknya kubuat kamar di lantai dua…errr, maksudku tentu banyak maksud dengan kubangun dua lantai. Di sana aku bisa menikmati angin yang semilir meniupi ketiakku. Di lantai dua itu, aku bisa melihat gedung-gedung nun jauh di sana. Di lantai dua itu, ingin pula kubikin sebuah teras di mana aku bisa melihat dan merasakan sinar pertama matahari pagi. Manakala senja, ingin sambil menikmati teh hangat dan membaca koran, bisa pula kulirik semburat jingga sinar matahari terakhir yang lenyap di balik bukit.

Akan kupasang tirai yang tipis, pula sebuah lampu yang temaram. Saat memutuskan ini, aku teringat sebuah adegan film di mana dua orang pasangan selingkuh berpelukan di pinggir jendela. Bayangan tubuh keduanya yang membentuk siluet, terlihat oleh kekasih si perempuan dari seberang jalan di bawah jendela itu. Esoknya, polisi menemukan sesosok mayat lelaki persis di mana sang kekasih itu malamnya berdiri.

Tentu saja aku tidak ingin kejadiannya seseram itu. Dan bagiku tidak elok bila rumah dibuat bermesraan dengan selingkuhan. Tentu saja aku akan melakukannya dengan istriku, dan biarkan pedagang nasi goreng yang mangkal di depan rumah menjadi saksi saat kami berpelukan. Mungkin aku begundal kelas kakap, namun soal kesetiaan jangan ditanya, jangan sekalipun meragukanku. Catat itu.

Maka, jadilah sebuah rumah dua lantai dengan kamarnya persis di tempat yang kuinginkan.

Pasca pembangunan rumah dengan kamar itu, aku pun bersiap-siap menikmati. Dan, tralala…masuklah aku di kamar yang baru. Interior persis seperti yang kuinginkan, tukang-tukang telah bekerja keras dan terpaksa namun manut mengikuti petunjuk-petunjuk yang biasanya kuberikan dalam bentuk bentakan.

Jendela dengan kaca yang lebar dan tirai menerawang. Ough, sempurna.

Kubuka perlahan-lahan tirai, sangat perlahan. Mula-mula terpampang teras mungil yang sudah sejak lama kuidam-idamkan. Yang di sana, aku bisa melihat semburat matahari pagi dan berkas cahaya jingga yang tersisa sebelum mentari tenggelam. Tak ragu segera kubuka lebar-lebar tirai itu.

Ada yang aneh. Memang teras mungil itu di sana, persis dengan instruksiku. Namun, tepat di atasnya melintang sebuah benda hitam. Dengan bergegas aku membuka pintu di samping jendela yang menghubungkan bagian dalam kamar dengan teras. Ah, ternyata bayangan indahku memudar dengan cepat.

Persis di atas teras itu melintang kabel telepon dan listrik. Itulah ternyata benda hitam yang kulihat melintang tadi. Kupandang ke timur, sebuah gedung yang agak jauh menghalangi pandangan kukira bila pagi menjelang. Agak ke bawah, deretan rumah-rumah kumuh berderet-deret sama sekali tak rapi. Saat kuarahkan pandangaku ke depan, ada ruko yang berdiri menjulang. Ruko yang memanjang sampai ke barat dan tentu saja aku menduga akan menghalangi sinar jingga mentari senja.

Sebuah rumah dua lantai, dengan kamar di lantai dua, pun teras mungilnya tiba-tiba terasa sesak. Aku kecewa….

  • Share/Bookmark
kabel, teras

First Lesson

Jul 28th

Posted by unclegoop in jendela dunia

11 comments

Pito baru saja membuka botolnya yang ke dua. Botol berisi cairan seputih susu itu mengeluarkan aroma yang memikat. Tak berapa lama, mulailah dia meracau. Saya pun, manggut-manggut mendengarkan aneka rupa petuahnya.  Di antara semua ocehannya yang ajaib itu, hahaha, ada pula saran agar saya tidak takut untuk menulis dalam Bahasa Inggris. “Udah, hajar aja!” Begitu kurang lebih pesannya.

Meskipun begitu, tetap saja, saya merasa kurang percaya diri. Maka, diam-diam saya menyusun strategi–halah! Saya berencana akan mengirimkan email kepadanya, berupa tulisan saya dalam Bahasa Inggris yang masih acak-adul. Harapannya, nanti tulisan saya akan diperiksanya, ada saran darinya dan bagaimana cara yang benar menuliskannya. Saya juga tertarik untuk mengikuti kelas BHI english club yang diasuhnya itu.

Maka inilah dia, percobaan menulis saya itu. Harapannya dengan ditulis di sini, bisa memudahkan saya juga bila sewaktu-waktu ingin membuka catatan. Di bawah ini, ada tiga tulisan. Pertama, tulisan asli dari saya. Ke dua, revisi dan saran yang dibuat Pito. Ke tiga, hasil akhir tulisan jadinya. Mau belajar juga? Hyuukkkk….

—-

as your suggestion for me this morning, that i should try to write in english….

so, please check this note and i hope you not mind to give attention in every mistakes i have made in this note, hehehe

[...]I have just finished seen ‘Public Enemies’. It was a good movie, indeed.

The movie tells us about Johny Billinger, a bank robbery. How he stole money from the bank and escaped from the biro investigation. Also, don’t forget about his love to gorgeous girl whom he met in the party.

I’ve try to find a memorable quote that won’t go from my mind trough the internet. But again and again I just found the same quote. Actually, in the end I couldn’t find quotes I meant.

Well, this is a quote from Johny to Billie, his girl friend. I little forget what the pre action, but he just say that this doesn’t important about our origin. The most important is our destination, where we will go?

Have you ever heard about this quote before? [...]

—-

as for your request, i think i could give high light and explanation in different font color in between brackets as explanation, as follows:

as your suggestion for me this morning, that i should try to write in english….

so, please check this note and i hope you not (don’t. i mind means i reluctant. i don’t mind means i’m not reluctant in doing it) mind to give attention in every mistakes i have made in this note, hehehe

[...]I have just finished seen ‘Public Enemies’. It was a good movie, indeed.

The movie tells (sentence concord–as my teacher said–is the most important thing in writing. in the first paragraph, you used past, so, it supposed to be past also) us about Johny Billinger, a bank robbery (check the dictionary. robbery is the action, while the person commits robbery is called robber). How (i don’t think ‘how’ is needed) he stole money from the bank and escaped from the biro investigation. Also, don’t forget about his love to gorgeous girl whom he met in the party.

I’ve try (tried, but i think ‘i’ve been trying’ is more proper) to find a memorable quote that won’t go from my mind trough the internet (“i’ve been trying to find a memorable quote trough the internet, the quote that won’t go from my mind”. what do you think if you put that sentence this way?). But again and again I just found the same quote. Actually, in the end I couldn’t find quotes I meant (haha! that’s funny! no, you haven’t made any mistakes in this one).

Well, this is a quote from Johny to Billie, his girl friend. I little forget what the pre action (was), but he just say (said) that this doesn’t important about our origin (‘it’s not important where we come from’?). The most important is our destination, where we will go (where will we go)?

Have you ever heard about this quote before? [...]

—-

I had just finished watching ‘Public Enemies’. It was a good movie, indeed.

The movie told us about Johny Billinger, a bank robber. He stole money from the bank and escaped from the bureau of investigation. Also, he could not forget about his love to a gorgeous girl whom he met in the party.

I’ve been trying to find a memorable quote through the internet, the one that won’t go from my mind. But again and again I just found the same quotes. And actually, in the end, I couldn’t find the quotes that I meant.

Well, this is a quote from Johny to Billie, his girlfriend. I quite forget what the pre action was, but he just said ‘where we came from is not important. The most important is our destination, to where we will go’.

—-

fuhhhh…. *ngelap keringet*

  • Share/Bookmark
first lesson, quote

UP, Sebuah Kenangan

Jul 27th

Posted by unclegoop in jendela dunia

7 comments

Rumah selain sebagai tempat pulang, barangkali juga menjadi tempat menyampirkan kenangan.

Adalah Carl Fredriksen, seorang tua yang ditinggal mati istrinya. Dia mesti hidup sendiri di rumahnya yang telah dikepung situs pembangunan entah apa. Rumah itu menjadi satu-satunya yang tertinggal di lokasi proyek dan sudah diincar oleh para pengembang untuk dibeli.

Carl tak menyerah, dijaganya rumah itu dengan sepenuh hati, meski keterbatasan usia tua menghalanginya. Satu ketika, sebuah kendaraan berat dari proyek pembangunan di sekitar rumahnya menyenggol kotak surat yang berada persis di depan rumah. Carl kalap, tongkat penyangga tubuhnya pun mengambil peran. Kepala seorang pekerja menjadi sasaran tongkatnya dan berdarah. Pengadilan memutuskan Carl bersalah dan harus tinggal di panti jompo.

Rumah di mana ia menjalin ‘petualangan’ bersama dengan istrinya ternyata begitu berarti buat Carl. Tak sudi ia berpisah dengan rumah itu. Di lain sisi, masih ada impian Carl dengan Ellie istrinya yang belum tercapai. Ingin dibangunnya rumah di samping air terjun surga.

Menggunakan beribu balon yang bisa terbang, diikatnya rumah itu. Kekuatan balon bisa membuatnya mengambang dan kemudian terbang di udara. Sebuah rumah terbang lengkap dengan peralatan kemudi. Sungguh ide yang brillian. Tujuannya? Ke mana lagi kalau bukan menuju ke air terjun surga.

Berbagai petualangan muncul dalam perjalanan rumah itu menuju air terjun. Banyak yang terlibat sedari anak kecil yang ingin mencari lencana mendampingi orang tua sampai dengan burung langka dan anjing.

Tak perlulah diceritakan panjang dan lebar bagaimana petualangan itu terjadi. Tontonlah sendiri bagaimana Carl menundukkan seorang petualang tua lain yang menginginkan burung langka dalam film berjudul ‘UP’.

Yang menarik, bagi saya, adalah keinginan besar Carl untuk menuntaskan mimpi lamanya bersama sang istri. Mimpi menuju air terjun surga dan membangun rumah di sana. Mimpi ini, bukannya tidak diperjuangkan sedari mula kehidupan rumah tangga mereka. Sudah dicoba menabung, namun kebutuhan lain banyak yang memaksa mereka menggunakan hasil tabungannya. Saat tiket sudah di tangan, sakit datang tanpa diundang yang kembali menjadi penghambat.

Dengan rumahnya dan balon, akhirnya Carl bisa juga mencapai air terjun meski capaian ini baru bisa terlaksana setelah istrinya tiada. Walaupun begitu, entah kenapa, terlihat sekali di rumah itu istri Carl serasa masih hidup. Melalui foto-foto, kursi khusus untuk istrinya dan yang paling penting sebuah buku petualangan.

Bagi Carl, rumah bukan hanya tempat pulang. Rumah telah menjelma menjadi penghubung antara dia dengan istrinya yang telah tiada. Kenangan yang tertinggal dalam setiap sudutnya, membuat Carl merasa kalau istrinya masih hidup.

  • Share/Bookmark
air terjun surga, balon, jendela dunia, kenangan, rumah, up
« First...10«1920212223»304050...Last »
  • My latest tweets

    Loading tweets...
    Follow me on Twitter!
  • cari dengan google

    Google
  • kata-kata

    kata-kata mengalir dari lidah manusia sesuai dengan batas ukuran dan kemampuan yang dimiliki manusia. kata-kata kita, bagaikan air dialirkan oleh penjaga pengairan. air akan mengalir sesuai keinginan sang penjaga. air tidak mengetahui ke ladang mana atau tempat mana ia akan dialirkan. -rumi-

  • selintas pesan

  • kata mengawan

    anak angin baca banting bayangan buang air besar buih buku bulan bunga camar cantik dunia hape hati hujan Ibu jakarta jepang jiwa karang kenangan kitaro mandi manusia menulis menunggu merdeka mobil odol ombak pantai pulang quote Rindu robot ruang sabun sendiri senja senyum setahun Spanyol tangga tolstoy
  • Alexa


  • google analytics


    34
    Unique
    Visitors
    Powered By Google Analytics
previous next
    • jejak tertinggal

      • ai caem on Hachiko-Tentang Menunggu
      • haris on Gerson Poyk
      • haris on Bekisar Merah – Sebuah Review
      • yansDalamJeda on Remah-remah Piala Dunia 2010
      • jensen99 on Remah-remah Piala Dunia 2010
    • tautan

      • Log in
      • Entries RSS
      • Comments RSS
      • WordPress.org
    • rumpun kata

      • jendela dunia
      • kamar hati
      • loteng baca
      • pintu jiwa
      • tak terjelaskan
      • tetirah lain
Mystique theme by digitalnature | Powered by WordPress
RSS Feeds XHTML 1.1 Top

Alexa Plugin created by Tech Forum - ?Powered by Ibanez and r4 ds.