Pena

Selepas berjalan beberapa saat meninggalkan kamar, barulah teringat lupa membawa pena. Tak tepat benar pena, kalau sesuai artinya dalam kamus daring: alat untuk menulis dengan tinta, dibuat dari baja dsb yang runcing dan belah. Karena pena yang kupunya terbuat dari plastik saja dan tak belah.

Pena itu biasa bertengger dengan gagah di saku kiri baju, di lokasi yang dekat dengan jantung. Benda itu menjadi modal nanti manakala hendak membubuhkan tanda tangan di absen. Agak repot bila benda itu tak ada, tapi bukan persoalan besar. Nanti kau akan tahu kenapa begitu.

Bila petani punya cangkul untuk menggarap sawah dan ladangnya, pemulung punya gancu, polisi punya pistol dan wasit punya peluit. Oya, sebaiknya tak menyandingkan polisi dekat dengan wasit, karena keduanya punya kewenangan yang mirip, makanya suka bersinggungan. Baiklah, kalau begitu ditulis ulang saja: bila wasit punya peluit, petani punya cangkul untuk menggarap sawah dan ladangnya, pemulung punya gancu dan polisi punya pistol. Aha, sekarang terlihat lebih pas, agar dua yang suka bersinggungan itu tak makin bersitegang. More >

Senandika Dapur

Di dapur ada berjuta potensi bahaya
Angka berjuta itu pun masih menjadi perdebatan
Ada yang bilang: 9 juta, namun ada pula yang berkata: 20 juta
mana yang benar?

Apakah karena warnanya hijau
lantas ia meledak?
Seperti halnya balon yang dipegang oleh aku dalam lagu balonku?

Atau apakah untuk meringankan kerja teroris ?
sehingga mereka tak perlu bersusah menebar teror
Bom kecil-kecil, imut dan hijau lucu

Tapi bahaya, bukan soal jumlah, lucu dan imut
Siapa yang mestinya menanggung, bukan hanya terus menjawab?
???


Kutipan dari ‘Bekisar Merah’

ed404598f3113cabce3c87822d75dacaBagi seorang santri kuno seperti Eyang Mus, suluk yang diantar oleh irama gambang tak lain adalah tangis rindu seorang kawula akan Gustinya; tangis seorang pengembara yang ingin menyatu kembali dengan asal-mula dan tujuan akhir segala yang ada, sangkan paraning dumadi. Maka bila sudah tenggelam dalam suluk-nya Eyang Mus lupa akan sekeliling, mabuk, keringat membasahi tubuh dan air matanya berjatuhan. Suaranya ngelanguk menusuk malam, menusuk langit. Apalagi bila yang ditembangkan adalah bait-bait pilihan.

Adalah manusia istimewa yang telah sampai kepada kebenaran sejati; pandangan hatinya menjadi bening begitu ia berhadapan dengan Tuhan. Luluh lebur segala tabir dunia. Pandangannya larut dalam kebesaran Tuhan-nya. Tak putus menyebut nama-Nya. Baginya yang ada hanyalah Allah.

Semua geraknya menjadi sembah, salat jiwanya tegak sepanjang waktu bahkan ketika raganya dalam keadaan tak suci. More >