unclegoop.com
melintas batas
melintas batas
Aug 5th
Senja datang lagi. Di pucuk-pucuk gedung aku bisa melihat semburat mentari memanggang langit. Memoleskan nuansa merah saga ditingkahi kuning hampir orange yang terpantul di dinding gedung. Aku kurang suka bicarakan senja dan gedung. Kau tahu, kan, apa alasannya?
Buatku jelas lebih nyaman bila menyusuri sepanjang jalan, seperti hendak mengejar matahari yang hampir tenggelam itu. Lalu, berhenti di sebuah sudut yang sepi memandangi burung yang beriring terbang, pulang ke kandang. Dan kamu, kupeluk erat. Terkadang kupukul kalau lupa dan terlampau laju mengendarai motormu.
Terkadang kamu pun sering jahil, manakala aku lupa memeluk, maka kamu mainkan gas agar aku yang hampir terpelanting dengan sigap gerakkan tanganku More >
Aug 4th
Selepas berjalan beberapa saat meninggalkan kamar, barulah teringat lupa membawa pena. Tak tepat benar pena, kalau sesuai artinya dalam kamus daring: alat untuk menulis dengan tinta, dibuat dari baja dsb yang runcing dan belah. Karena pena yang kupunya terbuat dari plastik saja dan tak belah.
Pena itu biasa bertengger dengan gagah di saku kiri baju, di lokasi yang dekat dengan jantung. Benda itu menjadi modal nanti manakala hendak membubuhkan tanda tangan di absen. Agak repot bila benda itu tak ada, tapi bukan persoalan besar. Nanti kau akan tahu kenapa begitu.
Bila petani punya cangkul untuk menggarap sawah dan ladangnya, pemulung punya gancu, polisi punya pistol dan wasit punya peluit. Oya, sebaiknya tak menyandingkan polisi dekat dengan wasit, karena keduanya punya kewenangan yang mirip, makanya suka bersinggungan. Baiklah, kalau begitu ditulis ulang saja: bila wasit punya peluit, petani punya cangkul untuk menggarap sawah dan ladangnya, pemulung punya gancu dan polisi punya pistol. Aha, sekarang terlihat lebih pas, agar dua yang suka bersinggungan itu tak makin bersitegang. More >
Jul 29th
Jul 16th
Bagi seorang santri kuno seperti Eyang Mus, suluk yang diantar oleh irama gambang tak lain adalah tangis rindu seorang kawula akan Gustinya; tangis seorang pengembara yang ingin menyatu kembali dengan asal-mula dan tujuan akhir segala yang ada, sangkan paraning dumadi. Maka bila sudah tenggelam dalam suluk-nya Eyang Mus lupa akan sekeliling, mabuk, keringat membasahi tubuh dan air matanya berjatuhan. Suaranya ngelanguk menusuk malam, menusuk langit. Apalagi bila yang ditembangkan adalah bait-bait pilihan.
Adalah manusia istimewa yang telah sampai kepada kebenaran sejati; pandangan hatinya menjadi bening begitu ia berhadapan dengan Tuhan. Luluh lebur segala tabir dunia. Pandangannya larut dalam kebesaran Tuhan-nya. Tak putus menyebut nama-Nya. Baginya yang ada hanyalah Allah.
Semua geraknya menjadi sembah, salat jiwanya tegak sepanjang waktu bahkan ketika raganya dalam keadaan tak suci. More >