kuadranOmBob

Bob Sadino

Celana pendek yang biasa ia pakai membuatnya mudah dikenali, beliau adalah Bob Sadino. Pernah ditolak masuk di gedung DPR karena kebiasaannya bercelana pendek tersebut. Namun, pernah pula mendampingi tiga orang presiden; Soeharto, Megawati dan SBY dengan busana yang sama. Memang sebenarnya ia selalu menekankan karunia yang dimiliki setiap orang ialah kemerdekaan, sehingga ia tak risau dengan penolakan, jabatan dll.

Om Bob mengaku bahwa beliau tak pernah memiliki rencana. Ia cukup dengan melihat dan melaksanakan apa yang ingin dilakukannya. Sebagai contoh, sewaktu melihat telur dari Eropa ia lantas terpikir untuk menjual telur tersebut dibantu oleh istrinya di daerah Menteng. Beliau bercerita bukan sekali dua ditolak, namun warga asing di daerah Menteng pada medio 70-an banyak yang tertarik.

Akhirnya setelah mengantarkan dari rumah ke rumah selama beberapa hari, mereka menjadi pelanggan dan justru datang ke rumah Om Bob. Dari telur, para pelanggan ini kemudian memesan merica, garam dan kawan-kawannya. Mula-mula jadilah toko, lalu pabrik dan terus berlanjut sampai kemudian dikenal sebagai pengusaha agrobisnis terkemuka di negeri ini.

Satu hal barangkali yang boleh disebutkan adalah kreatifitas dan inovasi Om Bob dalam berdagang. Beliau tahu betul di Eropa dan Amerika, anggrek menjadi sesuatu yang sangat mahal. Biasanya anggrek ini diberikan kepada kekasih pujaan hati sebagai persembahan. Menggunakan anggrek pula Om Bob menarik pelanggan. Seorang pelanggan, selain mendapatkan telur juga memeroleh anggrek khusus dari Om Bob.

Mengenai peran konsultan, Om Bob pun menyentil melalui ciri khas beliau dengan pernyataannya yang kontroversial. Beliau berkata, “Konsultan adalah seseorang yang tidak bisa melakukan apa yang diucapkannya.” Lebih lanjut, beliau juga menyayangkan banyaknya pelatihan-pelatihan yang hanya mengajarkan perencanaan dan perencanaan. Bila sebuah rencana gagal, maka akan ada rencana cadangan (plan B) kemudian dilanjutkan dengan contingency plan tanpa diikuti dengan praktik.

Gambar Kuadran Om Bob

Dari gambar kuadran di atas, Om Bob, ingin menunjukkan bahwa sekadar tahu yang diperoleh dari sekolah saja tidaklah cukup. Seseorang harus melengkapinya dengan belajar di masyarakat. Harapannya, selain tahu orang tersebut juga menjadi terampil, bertanggung jawab dan tanggap.

Practise make perfect benar-benar menjadi pedoman bagi Om Bob kendati beliau mengajarkannya dengan bercanda. Menurut beliau, selain pendidikan formal dari bangku sekolah, perlu juga diikuti dengan praktik. Hal ini, bisa ditempuh dengan menempuh pendidikan selama setahun dan melakukan praktik setahun pula.

Ilmu jalanan yang dilakukan dengan pintar adalah kunci lain dari majunya usaha Om Bob. Menurut beliau, tanpa melalui perencanaan yang matang, sebuah usaha bisa dikerjakan dan perbaikan di sana-sini bisa dilakukan sambil berjalan.

Kredo lain dari beliau adalah, semakin goblok seseorang, semakin banyak ilmu yang dimiliki. Tak lupa dengan setengah menyayangkan, beliau menyinggung orang pintar yang terlalu banyak berpikir tanpa beraksi. Dan pada akhirnya, walaupun tak begitu setuju dengan sistem pendidikan yang ada sekarang, salah seorang muridnya yaitu Sony Tulung berkata, bahwa perlu sinergi antara pendidikan di sekolah dan ilmu yang didapat dari bermasyarakat.

Ditulis selepas melihat program ‘Satu Jam Lebih Dekat’ di TvOne

Senandika Busway

Seperti biasa ia akan terbangun begitu pagi. Dihangatkannya alat geraknya bahkan sampai panas. Hal ini untuk menjamin agar darah mengalir sempurna di semua syaraf dan sendi-sendinya bisa bergerak dengan baik.

Seringkali ia merasa masih mengantuk, bahkan tak jarang menggerutu bila badannya dihela tak santun. Ia otomatis, namun yang mengendarainya tak punya kaki yang peka, sehingga tercipta hentakan-hentakan tak perlu itu.

Ia benci
bila melewati jalanan yang berlubang-lubang dan tak rata. Seperti ada tonjokan-tonjokan di ulu hatinya yang membuatnya meringis kesakitan.

Pabila ia baru saja keluar dari rumahnya, ia merasa takut pada gerakan-gerakan di dalam tubuhnya. Tak hanya itu, ia pun kadang suka gemetar mendengar suara-suara dari beradunya benda-benda di tubuhnya. Benda itu adalah pegangan penumpang yang bergoyang dan baku pukul satu dengan yang lain karena tiada tangan yang memegang.

Pagi hari selepas bangun baginya adalah siksaan. Yang memasuki tubuhnya adalah mereka yang belum mandi dan bau iler. Ia akan senang saat pukul tujuh atau manakala mereka para penggunanya itu berangkat bekerja. Saat mereka semua itu masih rapi dan wangi. Nanti bila sore hari, kembali ia akan merasakan gerah saat penumpang yang menaikinya sudah terbalur keringat dan membuat pengap.

Satu hal yang menjadi hiburan baginya adalah suara merdu yang berkala terdengar. Suara-suara itu muncul sebagai penanda ia akan berhenti sejenak untuk menghela nafas.

Apa ya, yang dilakukannya saat ia tiba di rumah? Sampai sekarang, hal itu masih menjadi pertanyaan.

 Bus lanes and busway systems: A report (Road research)


Senandika Tanjakan

Saat ia berjalan menanjak
Ia sadar betapa dalamnya tapak
Ia sabar bila harus tinggalkan jejak
Bahkan sekali waktu bila mesti merangkak

Di mana kecepatan diturunkan
Terkadang ancang-ancang diperlukan
Menggeram sesekali agar dapat kekuatan
Terus berjuang sampai penghabisan

Ia menjadi akrab dengan udara
Yang teratur keluar masuk paru-parunya
Ia hirup sepuas-puasnya
Sampai penuh rasa di dada

Sekali waktu
ia pun lelah
Tak jarang ingin menyerah
Tapi kehendak tak mau kalah
Ia paksa sebelum mulai pasrah

Saat nafas kian terasa berat
Ketika kaki tak tahan lagi bawa penat
Manakala begitu butuh waktu rehat
Rupanya puncak tanjakan sudah dekat

Ia pun kemudian tak sabar
Lupa dada yang mulai berdenyar
Alpa kaki yang mulai bergetar
Hanya hatinya yang terasa berdebar

Di puncak itu ia kembangkan tangannya
Disapanya udara dan matahari di atasnya
Disentuh pucuk daun di sekelilingnya
Diucap syukur sepenuh-penuhnya

Kemudian ia hembuskan nafasnya yang paling penghabisan