<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>batas ruang</title>
	<atom:link href="http://unclegoop.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://unclegoop.com</link>
	<description>bingkai kata tak terbatas</description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 Feb 2010 14:55:16 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Air Mata</title>
		<link>http://unclegoop.com/2010/02/18/air-mata/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2010/02/18/air-mata/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 14:50:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[jendela dunia]]></category>
		<category><![CDATA[kamar hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=929</guid>
		<description><![CDATA[Di luar gerimis baru saja turun untuk kemudian menderas. Butiran air menjadi selarik tirai yang hanya sekilas saja kita lihat; menghalangi berkas-berkas cahaya sampai di tempat kita. Ditambah lajunya mobil Innova hitam ini, semakin susah cahaya menerangi tempat kita duduk bersama di bangku paling belakang ini.
Pada suatu detik yang begitu istimewa, aku menjadi saksi. Ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Di luar gerimis baru saja turun untuk kemudian menderas. Butiran air menjadi selarik tirai yang hanya sekilas saja kita lihat; menghalangi berkas-berkas cahaya sampai di tempat kita. Ditambah lajunya mobil Innova hitam ini, semakin susah cahaya menerangi tempat kita duduk bersama di bangku paling belakang ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Pada suatu detik yang begitu istimewa, aku menjadi saksi. <span id="more-929"></span>Ketika air matamu turun, jatuh dari matamu. Begitu bening seperti embun yang bergoyang seirama dengan daun. Daun <span>tempat<span lang="IN"> embun bertengger <span>di ujungnya <span lang="IN">untuk kemudian jatuh, luruh ke bumi. Adapun air matamu setelah menggumpal di sudut matamu yang terpejam, kemudian karena beratnya jatuh ke pangkuanmu.</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Seiring dengan jatuhnya butiran bening itu, bukan prisma pembias cahaya yang kuingat. Tidak indah, berwarna-warni seperti ketika sinar matahari menembusi embun dan terbiaskan menjadi warna-warni pelangi. Manakala matamu kian terpejam dan mengikhlaskan sebuah butiran bening pergi darinya tanpa ucapan selamat tinggal. Ketika itu pula sebagian diriku terampas. Ada kesedihan yang memaksa masuk, menjadi pengganggu kebersamaan; kebahagiaan kita.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Kata Eistein, “Seandainya <span>saja <span lang="IN">aku bisa membagi kebahagiaanku denganmu, agar kamu tidak termenung dan bersedih.” Namun, Eistein lupa, pengandaian justru lebih menyakitkan. Seperti mimpi yang musykil tergapai.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Akhirnya, sebuah kemestian bila kita harus menikmati betapa pun sedihnya saat itu. Kamu menangis dalam diam, duduk sedikit jauh di sampingku, air matamu berderai, sedikit pun tanpa isak yang terdengar. Lebih menyakitkan melihat air matamu jatuh satu demi satu seperti itu. Tidak&#8230; bukan seperti gerimis yang entah kenapa menurutku berisik saat jatuh di badan mobil ditingkahi bunyi <em>wiper.</em> Padahal, di lain saat yang berbeda, kita begitu menikmati bebunyian gerimis itu, entah ketika menabrak genteng, berbenturan dengan kaca jendela atau ketika bertumbukan dengan kerikil di halaman. Bunyi yang sama, tik-tak gerimis ternyata memberi efek yang berbeda bergantung pada suasana hati. Salahkah gerimis?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Dan aku, apa yang kulakukan selain duduk di sampingmu menyaksikan butir demi butir gerimis jatuh di luar pun butir demi butir air matamu jatuh di sampingku. Seperti patung polisi di perempatan yang tidak berdaya apa pun. Begitulah aku, tiada yang dapat kulakukan sekadar untuk menghiburmu. Mungkin ketika itu, kamu memasuki duniamu yang tak terpermanai, bahkan olehku. Sebenarnya, memang aku tak selalu memahami dan mengerti kamu. Ah, maafkan aku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Sebuah hikayat pernah kubaca, tentang seorang gadis kecil. Dia memiliki teman khayalan. Seringkali dia akan berbicara sendiri; bermain-main sendiri<span>. <span>B<span lang="IN">egitulah yang terlihat oleh mata khalayak, namun tidak oleh gadis itu. Menurutnya dia sedang bercakap-cakap dengan ‘teman’-nya itu. Sangkanya, ia sedang bermain penuh keceriaan dengan teman khayalannya. Orang tua, saudara-saudaranya, mengira gadis itu bermasalah, tetapi ternyata tidak, seiring waktu, kemudian gadis itu tumbuh dengan wajar dan teman khayalnya pun ditinggalkan hanya menjadi kisah usang masa lalu. Namun, sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Suatu ketika di saat yang begitu istimewa ‘teman’ yang juga istimewa itu akan muncul kembali, menemani.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Barangkali saat kamu terpejam itu, ketika butiran-butiran bening itu jatuh, manakala bibirmu terkatup rapat tak membiarkan sekadar isak. Saat itu kamu sedang kembali bercanda dengan teman khayalmu yang mungkin adalah bagian lain dari dirimu sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Prasangkaku itu, mungkin sekali salah, meski juga tidak menutup kemungkinan bahwa itu benar. Tetapi tidak, aku tak berani berjudi denganmu ketika kamu seperti itu. Salah-salah malah merusak segalanya. Seperti membangun tiruan gedung dari korek api. Banyak jeda yang harus diambil saat napas dihela agar ketegangan dan hembusannya tidak merusak susunan pondasi dari bangunan awal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Detik-detik yang berjalan mengiringi mutiara air matamu yang berkelap-kelip saat cahaya menyapa. Hening yang ngelangut ketika diammnu seperti batu gunung yang teguh tak tergoyahkan. Mungkin adalah penanda ketika rapuhmu hancur menjadi serpihan yang terserak. Rapuh yang sama dengan sekumpulan air terjun yang jatuh menimpa batu cadaas, menjadi percikan untuk nantinya bersatu lagi, namun kapan?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Masa untuk terpejam, kemudian air bening menggumpal di sudut mata, lantas jatuh dan terpercik di celanamu pada akhirnya juga akan selesai. Ketika kamu sadar bahwa sudah tak ada lagi kepingan yang tersisa yang masih mungkin merepih, retak dan terserak. Saat tak ada lagi yang tersisa, kembali kesadaran merampasmu dari pengembaraanmu di negeri antah berantah dan hanya kamu yang tahu rute menuju ke sana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Di titik berangkat dan kembali, di sanalah aku kan menunggu. Penanda kedua titik itu adalah kesadaranmu yang kembali menguasaimu. Ketika kamu sadar pada usapan-usapan lembut telapak tanganku di punggungmu, menatapku sekilas kemudian rebah di bahuku dan tanganku terhenti untuk kemudian merangkulmu. Saat itu aku tahu kamu kembali di sini bersamaku tidak lagi mengelana entah ke mana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Kau telah pulang, begitu batinku. Tetapi itu tak berarti berhenti menangis dan terdiam. Butiran bening itu masih juga terus keluar dari sesela matamu yang kembali terpejam. Ketika kemudian menggumpal di sudut-sudut kelopak matamu, maka tak canggung kuseka dengan ujung jemariku. Begitu keluar lagi, kuseka lagi demikian seterusnya. Sesekali kamu melihatku, ada takut di sana, ada khawatir membayang di matamu yang memerah. Kemudian kamu peluk aku begitu erat. Melalui pelukan itu kamu seperti mengisyaratkan, “Temani aku, jangan kau tinggalkan aku.” Tak kalah hangat dan rapat kudekap pula kamu, semoga pun kamu tahu, bisikku dalam diam, “Tak akan kupergi, aku kan menunggumu di sini, menanti meski hanya sekadar menemanimu, sekadar itu.” Dan&#8230; kita berpelukan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Pelukan yang tak lama karena kamu capek, lelah dengan semua yang terjadi. Perlahan-lahan kamu beringsut, kemudian rebahkan kepalamu di pangkuanku dan terpejam. Tidak&#8230; bukan tertidur karena butiran-butiran bening itu masih juga keluar, menggumpal lagi dan kuseka. Inilah masa ketika kamu mengumpulkan kembali serpihan-serpihan yang terserak, kiraku. Sedikit demi sedikit dikumpulkan dan dibentuk lagi menjadi kamu yang kukenal, meski entah kapan akan merepih lagi dan terserak, kita berdua tahu benar itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Biarlah derai air mata itu tetap jatuh, jangan kau tahan. Puaskanlah tangismu, bila dengan itu kamu merepih menjadi serpihan untuk kemudian terkumpul lagi. Seperti percikan air terjun yang kemudian berkumpul menjadi anak sungai menuju samudera. Mungkin dunia tak akan pernah mengerti, bahkan tak juga aku akan apa yang kau rasakan. Abaikan saja mereka yang kembali bercakap-cakap dan tak juga hirau pada apa yang kau rasakan. Sedangkan aku, ijinkan aku menemanimu, sekadar menyeka air mata yang menodai pauh pipimu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Gerimis masih juga turun di luar, tak hirau pada kita. Pada kamu yang membuat gerimis sendiri dengan air matamu. Pada aku yang tak berdaya kecuali hanya menyeka dan menemanimu. Pada kita yang sebentar lalu karena air mata terpisah dan tak lama karena sebab yang sama saling berpelukan. Apakah kemudian kita berpagutan atau sekadar kukecup lembut keningmu? Jangankan gerimis, dunia pun sebaiknya tak perlu tahu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2010/02/18/air-mata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Tua</title>
		<link>http://unclegoop.com/2010/02/11/menjadi-tua/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2010/02/11/menjadi-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 00:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[jendela dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=915</guid>
		<description><![CDATA[Salah seorang teman di milis alumni SMA lintas angkatan berkata, bahwa menjadi tua itu, kian banyak hal-hal yang bisa dilakukan tanpa perlu merasa sungkan. Tentu saja ini bukan berarti bebas sekehendak hati sebebas-bebasnya. Ini berarti bila ia—orang yang sudah sepuh tadi—melakukan sesuatu, akan banyak dimaklumi. Bila pandangannya sudah tak awas, misalnya, maka orang akan bilang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Salah seorang teman di milis alumni SMA lintas angkatan berkata, bahwa menjadi tua itu, kian banyak hal-hal yang bisa dilakukan tanpa perlu merasa sungkan. Tentu saja ini bukan berarti bebas sekehendak hati sebebas-bebasnya. Ini berarti bila ia—orang yang sudah sepuh tadi—melakukan sesuatu, akan banyak dimaklumi. Bila <span id="more-915"></span>pandangannya sudah tak awas, misalnya, maka orang akan bilang, “Wajarlah, sudah tua.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Usia barangkali sesuatu yang aneh di antara banyak hal lain yang aneh pula. Ia berkurang detik demi detik, namun pada hari tertentu pengurangan itu ditandai, bahkan dirayakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">‘The Spy Next Door’ bercerita ihwal seorang agen internasional yang hendak pensiun, namun mesti menyelesaikan sebuah misi terakhir. Di sini tak bisa dipungkiri, bahwa Jacky Chan masih saja memukau kendati telah berumur. Dan hebatnya, ia memanfaatkan ketuaannya itu dalam perannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Jacky bukan lagi seorang agen yang lincah menangkap penjahat. Ia menjelang pensiun, sudah setengah hati menyelesaikan kasus yang mesti dipecahkannya. Ia justru sibuk dengan dirinya dan rencana masa depannya guna membentuk keluarga. The Spy Next Door kemudian bercerita bagaimana usaha Jacky untuk meyakinkan anak-anak kekasihnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Tambatan hatinya itu memang seorang janda beranak tiga. Ibu nan cantik ini sudah kepincut kepada Jacky yang kala itu menyamar sebagai seorang pengusaha pulpen dan penyayang keluarga. <span> </span>Trauma masa lalu dengan suaminya yang pergi meninggalkannya dengan anak-anak membuat ia berharap pada seorang lelaki dengan karakter Jacky dalam penyamarannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Mula-mula, Jacky kesulitan meluluhkan anak-anak yang bandel itu. Waktu berjalan dan ada kasus baru yang harus diselesaikan Jacky. Sayangnya, dalam prosesnya ia malah melibatkan anak-anak dalam bahaya. Melalui aksi Jacky, kepiawaiannya menggebuk musuh satu per satu, alat-alat canggih yang dimiliki, pada akhirnya ia berhasil memikat anak-anak. Lantas, apa yang perlu disayangkan?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Pelibatan itu jualah penyebabnya. Dengan melibatkan anak-anak, berarti juga membawa mereka dalam masalah dan terancam keselamatannya. Nah, ini yang menjadi masalah karena kemudian ibu itu tak setuju dan mengancam memutuskan hubugan cintanya dengan Jacky. Bagaimana akhir dari film ini? Barangkali tak sulit bagi Anda untuk menebaknya, bukan?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Satu yang menarik ialah tatkala Jacky menjelaskan arti keluarga pada salah seorang anak yang mulanya menjadi penentang terbesarnya. Ia bilang, “Keluarga bukan mengenai darah siapa yang mengalir di dalam tubuhmu. Keluarga adalah tentang siapa yang mencintai dan dicintaimu.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Selanjutnya, saya melihat ‘Edge of The Darkness’. Di sini, tokok sepuh itu diperankan oleh Mel Gibson. Ia menjadi seorang bapak yang mesti menyaksikan putri satu-satunya meregang nyawa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Sebagai veteran perang dan detektif. Ia mengira dirinyalah sasaran sebenarnya dari penembakan itu dan bukan putrinya. Namun, manakala ia melihat satu demi satu kasus yang telah dipecahkannya, tak ia lihat seorang pun yang berpotensi mengincar nyawanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Gibson akhirnya seperti petualang goa yang masuk ke kegelapan kasus itu dengan obor dan peta yang terbatas. Ia mengawali dari dugaan-dugaan sampai kemudian perlahan-lahan kebenaran demi kebenaran tersibak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Nyatalah kemudian, bahwa ia begitu kehilangan putri semata wayangnya itu. Melalui foto, video dan kenangan, ia bahkan seperti mendengar suara-suara putrinya yang memanggil-manggil. Masih diliputi kesedihan dan dendam, ia berlawalata mencari siapa sebenarnya pembunuh putrinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Film ini bagus, namun saya kurang begitu suka dengan musik latarnya. Menurut saya, ini seperti film-film lama yang menunjukkan peningkatan ketegangan dengan perubahan musik latar. Agak membosankan jadinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Bukan pada tempatnya, saya kira bila membandingan goncangan perasaan yang harus dialami Gibson dengan Iwan Fals, misalnya. Sengaja di sini Iwan sebagai contoh karena saya juga melihat tayangan Kick Andy tentang musisi besar ini. Selepas melihat tayangan itu, kemudian saya membaca artikel panjang berjudul ‘Dewa Dari Leuwinanggung’ buah karya Andreas Harsono.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Di situ Iwan bilang, “Bila anak kehilangan orang tua agak wajar. Namun, bila orang tua kehilangan anak, ini berat.” Kemudian kita maklum, Iwan mesti beristirahat sekitar lima tahun dari dunia musik untuk mengembalikan ‘kesehatan’ jiwanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Kembali menyoal Mel Gibson. Saya kurang tahu, barangkali juga karena itu film, maka kehilangan itu bisa dilewati dengan mudah. Atau, mungkin karena dendam dan amarah yang membuat ia sepertinya melenggang saja menghadapi itu? Persis seperti yang dibilang Seno Gumira, bahwa ia berkarya satu di antaranya karena marah. Kemudian, ada hal yang tak hendak kita lupakan: seorang anak, begitu berarti bagi orang tuanya. Walaupun barangkali perhatian kurang tercurah. Meski mungkin rasa sayang ditunjukkan dengan malu-malu.Dan keluarga? Silakan lirik kembali pesan Jacky Chan di atas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2010/02/11/menjadi-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dedaunan</title>
		<link>http://unclegoop.com/2010/02/07/dedaunan/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2010/02/07/dedaunan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 18:43:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[jendela dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=901</guid>
		<description><![CDATA[Daun I
Daun Belimbing jatuh
Dahannya berderak patah
Tersisa batang yang kikuk berdiri sendiri
Daun II
Beringin rimbun pernah berdiri
Kemudian datang puting beliung
Akarnya tercerabut batangnya terpelanting

Daun III
Seorang gadis sentuh pucuk ilalang
Kakinya santai injak rerumputan
Tersenggol putri malu yang buru-buru tersipu

Daun IV
Daun Palem bergetar tertiup angin
Bergoyang kuat menggerakkan batang
Tetes hujan sukar membelai dedaunan itu

Daun V
Padi merunduk butirnya penuh
Daunnya menjuntai menyentuh tanah
Batangnya lelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong>Daun I</strong></p>
<p class="MsoNormal">Daun Belimbing jatuh</p>
<p class="MsoNormal">Dahannya berderak patah</p>
<p class="MsoNormal">Tersisa batang yang kikuk berdiri sendiri<span id="more-901"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;"><strong>Daun II</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;">Beringin rimbun pernah berdiri</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;">Kemudian datang puting beliung</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;">Akarnya tercerabut batangnya terpelanting</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;">
<p class="MsoNormal"><strong>Daun III</strong></p>
<p class="MsoNormal">Seorang gadis sentuh pucuk ilalang</p>
<p class="MsoNormal">Kakinya santai injak rerumputan</p>
<p class="MsoNormal">Tersenggol putri malu yang buru-buru tersipu</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;"><strong>Daun IV</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;">Daun Palem bergetar tertiup angin</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;">Bergoyang kuat menggerakkan batang</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;">Tetes hujan sukar membelai dedaunan itu</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;">
<p class="MsoNormal"><strong>Daun V</strong></p>
<p class="MsoNormal">Padi merunduk butirnya penuh</p>
<p class="MsoNormal">Daunnya menjuntai menyentuh tanah</p>
<p class="MsoNormal">Batangnya lelah hampir menyerah</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;"><strong>Daun VI</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;">Mawar bertengger di ujung dahan</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;">Seorang lelaki menatapnya sendu</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;">Teringat jemarinya yang tertusuk duri</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2010/02/07/dedaunan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sketsa Pecas Ndahe</title>
		<link>http://unclegoop.com/2010/01/27/sketsa-pecas-ndahe/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2010/01/27/sketsa-pecas-ndahe/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 00:23:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[jendela dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=898</guid>
		<description><![CDATA[Setiap bulan milis CahAndong menghadirkan satu sosok untuk di-apresiasi. Bulan Desember dan entah kenapa berlanjut sampai Januari, Ndoro Kakung menjadi sosok itu. Saya tak mengenal beliau, dalam artian ngobrol bareng, nongkrong bersama-sama atau bertegur sapa dan kenal secara pribadi ke pribadi. Baru beberapa hari yang lalu saya menyapa YM beliau dan menanyakan satu dua persoalan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Setiap bulan milis <a href="http://cahandong.org/" target="_blank">CahAndong</a> menghadirkan satu sosok untuk di-apresiasi. Bulan Desember dan entah kenapa berlanjut sampai Januari, Ndoro Kakung menjadi sosok itu. Saya tak mengenal beliau, dalam artian ngobrol bareng, nongkrong bersama-sama atau bertegur sapa dan kenal secara pribadi ke pribadi. Baru beberapa hari yang lalu saya menyapa YM beliau dan menanyakan satu dua persoalan. Karena itu, apresiasi beliau mendasarkan pada tulisan-tulisannya yang ada dalam <a href="http://ndorokakung.com/category/sketsa/" target="_blank">kategori sketsa</a> pada blog <a href="http://www.ndorokakung.com">www.ndorokakung.com</a>, syumonggo. <span id="more-898"></span>Sebelum dan sesudahnya, serta kurang dan lebihnya mohon maaf, Ndoro.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Beberapa kisahnya tak perlu mengerutkan kening untuk memahami, meski menimbulkan keraguan antara fiksi dan kenyataan. Pada awal-awal sketsa, bertanya-tanya fiksikah ini, atau nyata? Beliau bilang saya orang ke tujuh ratus yang menanyakan itu. Dan ditambahkan pula—kurang lebih—dalam hidup, bukankah batas antara fiksi dan nyata itu baur, kabur?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Selanjutnya dalam catatan ini saya kutip beberapa hal yang menarik. Tentu sangat subyektif dan seperti pemulung yang tergesa di antara gegas memungut. Barangkali masih banyak yang tersisa, ada pula yang tercecer. Apapun itu, semoga berkenan menerimanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: center;">***<span style="mso-spacerun: yes;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Lelananging jagad itu, bukan hal yang aneh bila membacai tulisannya, tapi siapa yang tak bertekuk lutut padanya jika beliau ternyata seperti yang termaktub dalam kutipan berikut:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Kamu punya sesuatu yang dibutuhkan perempuan. Kata-kata yang menyejukkan dan hati yang meneduhkan. Kamu sabar, mau mendengarkan keluhan. Perempuan butuh laki-laki seperti itu, Mas. Aku berani taruhan, pacarmu dulu pasti banyak ya, Mas?” </em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Barangkali lelaki yang dibutuhkan perempuan tidak akan lengkap bila tak memiliki kemampuan mumpuni untuk membuat perempuan melambung. Meski tak langsung, siapa yang—meminjam salah satu ujaran darinya—dawai-dawai hatinya tak akan berdenting, bila dirindui begitu dalam seperti berikut, emmm… atau ini sebenarnya sebuah gombalan? Lebih baik saya menyebutnya sebagai ungkapan kerinduan yang tulus. Hahaha.</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Berjuang melawan godaan untuk meneleponnya, terutama di saat-saat saya tengah meranggas seperti pepohonan di musim kemarau, sungguh melelahkan.</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Jika yang baru saja dituliskan itu sebuah gombalan, maka simaklah niatannya untuk menjadi pelindung, meneduhkan:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Tapi aku tahu. Ada baiknya kalau aku menuruti kata penafsir takdir itu saja: menjadi pohon. Supaya bisa merindangi. Meneduhkan … hatimu yang gelisah.</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Ia seperti tentara yang mengelana di ujung-ujung saujana. Berdiri di tepian horizon untuk menjenguk ujung pelangi, lantas merekamnya dalam untaian-untaian kata. Maka, tepatlah kiranya bila ia adalah seorang pengelana yang bersenjata kata.</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Aku cuma pengelana murba yang berlawalata sepanjang masa. Rumahku udara. Pergi ke mana suka. Senjataku kata. Tamengku cinta. Jalanku sunyi. Arahku matahari.</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Namun, sebagai orang yang awas merekam apa yang terjadi di sekelilingnya, pemahamannya pun menumbuhkan kekhawatiran. Sebuah impian yang terlampau muluk—bila boleh menggunakan kata ini—baginya. Di sini bukan kelemahan yang mengemuka, namun sebentuk kesadaran diri. Sebuah hal yang mustahil untuk melipat dunia, bukan? Maka beliau pun mengandaikannya, mengharapkannya, yang akan terjadi entah kapan.</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Ah, seandainya saja aku punya keberanian … aku ingin melipat dunia.</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Selalu ada anak kecil dalam diri orang dewasa. Saya tak menyebut Ndoro seperti anak kecil, bukan itu maksud saya. Namun, kekhawatiran, rasa takut, barangkali trauma dimiliki oleh setiap orang.</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Seperti anak yang berjalan malam, kita takut kepada suara sendiri yang tak berjawab …</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Dan hati seorang lelaki? Kurang lebih memang seperti yang digambarkannya berikut ini:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Seperti apakah hati seorang lelaki? Cuaca yang mudah berubah atau lempung yang lembek? Begitu mudahkah kau berpindah kepada bayang-bayang?</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Mungkin lelaki memang sukar fokus. Beragam hal kerapkali menarik perhatiannya. Tapi, bagaimana bila ia terluka?</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">“Lelaki tak pernah menangis, tapi hatinya berdarah.”</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Air mata penanda kelemahan seorang lelaki. Maka tak pernah akan ditemukan lelaki yang menangis kecuali saking haru dan bahagianya. Atau, kalaupun menangis ia akan bersendiri, ketika lampu kamar telah mati, manakala selimut sudah menutupi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Seperti halnya lelaki, perempuan pun menghiasi sebagian besar kisah-kisah di sketsa. Perempuan dalam kedudukannya yang indah bak pualam namun rapuh. Perempuan yang seperti layaknya perempuan, semak hati, puspas bila ditinggal pergi. Namun, terselip pula kenyataan yang tak bisa ditolak ihwal pentingnya perempuan:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">“Karena perempuanlah yang sebetulnya lebih lengkap dalam mewujudkan ekspresi tubuh, dia yang hamil, menstruasi, menyusui, Sedang laki-laki tidak.”</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Ndoro tak canggung untuk memadukan Bahasa Indonesia, Inggris, Jawa dan sedikit Italia dalam kisahnya. Beberapa tulisan, bahkan hanya terdiri dari Bahasa Inggris.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Beliau juga tak kagok untuk memamerkan pernak-pernik yang menempel, digunakan dan dipakai dalam tokoh-tokohnya. Tersebutlah di antaranya: Marlboro mentol hijau, Marlboro Light, Chanel, Bvlgari, Prada, Nokia, Sony, Nakamichi, Foster’s, Audemars Piguet, dasi YSL, kemeja Hugo Boss, Jaguar S-Type, TAG Heuer, Breitling Chronomat, iPod Nano, Drakkar Noir.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Yang mengagumkan, khasanah musiknya lengkap. Itu pun masih ditambah kemunculan lirik-lirik atau sekadar judul lagu dan penyanyinya yang pas dalam sebuah kisah. Di sini, lirik dan lagu bukan hanya ditampilkan sebagai tempelan, namun melengkapi, menjadi bagian dari kisah itu sendiri. Tersebutlah di antaranya: Asti Asmodiwati, Phill Collins, The Beatles, Letto, Billie Holiday, Freddie Mercury, Samsons, Sting dan The Police, Bob Dylan, Enya, GreenDay, Dream Theatre, Titik Puspa, Maroon Five, Kikan-Cokelat, Kings Of Convinience.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Membacai sketsa seperti menyelam di Bunaken. Sebenarnya saya belum pernah. Dari cerita mereka yang sudah pernah dan berbagi pengalaman. Tersebutlah, bahwa berenang di sana tak hanya badan yang basah, namun mata pun dimanjakan oleh panorama bawah laut yang begitu indah, bukan? Dan apa maknanya? Tentu si penyelam sendiri yang bisa merasakannya. Di sini, ketika membacai sketsa kemudian bila seperti menyelam; luruh dalam kisahnya: bukanlah hal yang aneh. Anda bisa saja menjadi sesosok lelaki wangi pandan atau perempuan bermafela kelabu. Ndoro Kakung sanggup menyentuhi sisi-sisi jiwa setiap orang.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Mentari, gemintang, langit, burung adalah sebagian dari wajah alam yang diukir Ndoro melalui kata-katanya. Meminjam kredo seorang teman, “Mau Tehe?”</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Izinkan mentari pagi menghangatkan hatimu di masa muda. Dan biarkan angin siang yang lembut mendinginkan gairahmu — Arthur Rimbaud</em></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">“Bintang mungkin sebuah perlambang, bahwa yang telah mati pun bisa tetap terlihat indah dari kejauhan, bahkan setelah berabad-abad kemudian.</em></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Sebab, kamu burung dara. Dan aku langit. Kita bertemu di ujung ranting. Titian yang rapuh dan getas.</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Agus Noor menyebutnya fiksi mini, Sapardi biasa membuat puisi yang bercerita, entah apa istilahnya dalam dunia sastra? Ndoro pun tak ketinggalan, hanya tiga baris, namun merangkum semesta:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">aku matahari</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">kamu hujan</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">KITA melahirkan pelangi …</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Tentang kehidupan, barangkali nara blog yang sering melintas sampai sudah hafal ujaran beliau ini, “Selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan. Kita tak pernah tahu apa gerangan yang menunggu di sana.” Sesungguhnya, tak hanya itu, Kawan. Sabarlah sebentar dalam membaca di sana dan mutiara-mutiara itu, akan berkerlap-kerlip.</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Hidup seperti meniti tali dengan stik yang menjaga keseimbangan, apakah akan jatuh atau terus berjalan?</em></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Toh hidup tak selalu berjalan di atas garis lurus tanpa putus. Ada kalanya sebuah rehat menyela, agar kita berjarak, dan memandang lebih jernih.</em></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Hidup bergerak di dalam, jauh, seperti tatkala kita mendengarkan perubahan suara gerimis. Gemuruh sungai. Gejolak badai.</em></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Mungkin kamu juga tahu, hidup memang disesaki belukar penuh duri. Tak usahlah kau semak dan gamam hati. Selalu ada jalan simpang. Kamu tinggal memilih, ke kiri atau kanan. Pesanku satu, janganlah kau ambil jalan yang dilewati orang. Mungkin tak cocok buatmu. Pilihlah saja yang tak terlalu sukar, asal nyaman bagimu.</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Sudah mencatat semuanya? Harap jangan lupakan pula bagaimana ‘usilnya’ beliau : Dia bilang lelaki seksi itu adalah yang, “Tatapannya bisa membuat pedhot [putus] tali kutang.” Hahaha, saya masih bertanya-tanya, memangnya bisa? </p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Saya kurang tahu, dalam deskripsi yang begitu halus ini. Tahukah Anda apa yang sebenarnya sedang beliau ceritakan?</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Kami musafir sabar yang berkelana dari gurun ke gurun. Terkadang kami saling menyergap bagaikan dua pasukan yang sedang kalap berperang memperebutkan sejengkal oase di padang pasir.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Dia matahari. Aku hujan. Kami melahirkan pelangi.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Kami meronce angin. Meniti pasang buritan. Menyesap embun di pucuk-pucuk dedaunan … hingga kemudian terdampar di pantai kepasrahan setelah luluh lantak dihajar gelombang kebahagiaan. </em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Mengenai waktu, masa lalu dan perjalanan bulan. Saya terkesan pada kutipan berikut ini:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Old time? Dulu itu cuma abadi di masa lalu, Jeng.</em></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Selamat berpisah November. Selamat datang Desember. Esok pasti membawa gemuruh dan gempitanya sendiri. Dan kita masih sempat mengejar waktu dan mimpi — seribu tahun lagi.</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Disinggungnya pula ihwal usia, masa tua. Sebenarnya agar tidak terlampau panjang saya ingin memotongnya di beberapa bagian. Tapi dengan itu, saya khawatir ada yang terpotong, pesan yang tidak sampai dan tidak utuh. Maka, Ndoro, ijinkanlah saya menyajikan semuanya di sini.</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Para tetua adalah air yang tenang. Kau bisa becermin di permukaannya. Anak muda, mereka yang selalu bergegas, adalah air yang mengalir, arus deras. Kau hanya melihat gerak yang lekas. Bukan kedalaman.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Hanya yang pernah bercita-cita, tapi kemudian khilaf. Hanya yang pernah bergelora, tapi kemudian redup tahu betapa benarnya waktu. Dalam kesedihan dan kearifannya, waktu adalah teman yang baik. Ia membikin kita tua. Ia membikin sederet nama jadi sejarah. Ia membikin serangkai gelombang menjadi mandek. Ia membikin arus deras menjadi reda. </em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Orang tak dapat melihat bayangan dirinya di dalam air yang mengalir, tapi ia dapat melihatnya pada air yang diam. Orang tua memang punya kelebihan. Mereka adalah air yang diam.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Jika kau cermat memandang ke dalamnya, kau akan melihat dirimu lengkap. Kau akan melihat dirimu dalam perbandingan. Di air itu, pengalaman telah membuang sauh, dan jauh di dasar terkandung simpanan kenangan. Terutama kenangan tentang kesalahan.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Tapi jangan terlampau marah kepada kesalahan. Kesalahan mungkin hanya satu tahap dalam mencari kebenaran. Bukankah anak kecil pun baru bisa berjalan setelah ia pernah jatuh? </em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Janganlah kau juga tergesa menyelesaikan semua dalam semalam. Hidup toh bukanlah sebuah lakon wayang, bisa kita selesaikan sebelum siang. </em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Boleh saja kau mengutuk semua kenangan sebagai kesalahan. Tapi hendaknya kau jangan sampai lupa bahwa kita memang harus terus mencari bagaimana sebaiknya menjadi benar.”</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Tak lupa, menyoal cinta. Tema yang universal ini disajikan dengan begitu manis meminjam satu tokoh lain yang sepertinya begitu akrab dengan Ndoro. Ia adalah Paklik Isnogud. Seorang bijak tanpa menggurui yang selayaknya, Paklik, Paman, Uncle, terasa dekat dan hangat, seolah-olah tanpa jarak.</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Lagi pula, sampean mestinya tahu cinta itu bukan sesuatu yang final. Ia selalu terbuka untuk ditafsir ulang. Tapi justru itu menariknya. Kita akan terus menemukan definisi baru tentang cinta, sesuai ruang dan waktu.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Dalam perkara hubungan, cinta saja ndak cukup, Mas. Ia membutuhkan komitmen. Tapi komitmen pun selalu bisa ditinjau ulang. Terbuka untuk ditengok, dievaluasi, dikoreksi, bahkan mungkin dibatalkan.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Apa boleh buat, Mas. Ini soal manusia. Dan manusia bukan benda mati. Ia selalu berubah, setiap saat. Karena itu, kalau sampean — atau siapa pun — hendak menjalin hubungan, jalani saja dulu. Serahkan urusan lainnya belakangan,” </em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Sejauh yang bisa saya ingat, Tuhan bukan tema yang sering ia singgung. Begitu pula dendam dan amarah. Habis, apa pula perlunya menuliskan unsur-unsur gelap manusia itu? Dan tidak berhenti sampai di situ. Di akhir pun beliau menyadarkan peran manusia yang seolah-olah membela Tuhan, padahal benarkah Tuhan perlu dibela? Pun apa akibat dari dendam dan amarah itu.</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Tuhan toh tak pernah merestui peta. Kita manusia saja yang selalu merepotkan batas-batas.</em></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Balarama tak punya jawaban. Tapi, ia tahu, pada akhirnya, dendam dan pelampiasan tak melahirkan seorang pemenang pun. Pelampiasan dendam yang mengendap tebal hanya akan menyisakan getir. Semua terluka.</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Sebagai orang tua, ia bisa dengan mudah memasukkan pesan. Seperti seorang Bapak kepada anaknya. Pula bagaimana mestinya memberi jawab jika ada pertanyaan yang memusingkan. Berikut ini jurusnya.</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">“Menikahlah, Nak. Segeralah punya anak. Anak-anak itu di atas segalanya,”</em></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Kalau kau mendapatkan pertanyaan yang susah dijawab atau tak ingin kau jawab, lebih baik kau balik bertanya kenapa dia menanyakan pertanyaan itu.</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Di awal saya bilang tak perlu mengerutkan kening untuk memahami kisah-kisah yang tersaji dalam sketsa. Namun bukan berarti saya paham semuanya. Banyak pula yang saya lewati saking tidak ‘nyandak’nya saya. Namun, meminjam kata-kata Ndoro, barangkali itu: gara-gara menu makan siang yang aneh: nasi, sayur bayam, rendang daging, dan gorengan teks yang merajuk.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; text-align: justify;">Every cloud has its silverlines…. Sketsa itu kendati tidak sesering dulu mengalami pembaruan, saya yakin masih akan terus dan terus ditambah di masa-masa yang akan datang. Tidak deras seperi cucuran selokan ke sungai. Melainkan—meminjam salah satu kata arkais yang sering nampang juga di sketsa—merabas di antara daun-daun lukisan katanya yang saling berpalun. Bagaimana kalau kita tunggu saja, yuk?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2010/01/27/sketsa-pecas-ndahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>New Year Eve</title>
		<link>http://unclegoop.com/2010/01/22/new-year-eve/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2010/01/22/new-year-eve/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 00:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[pintu jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=889</guid>
		<description><![CDATA[
Dua malam tahun baru dilewatkan di kereta api. Apa itu permenungan? Apa itu kembang api? Apa itu perayaan? 
Stasiun dengan hiruk pikuknya penumpang.  Di sesela gegas gesa penumpang yang takut terlambat, saya sudah akan berdiri atau duduk di sana. Mendengar pengumuman yang selalu diawali bunyi penanda monoton yang anehnya terasa begitu melodius. Kereta, lokomotif, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://kampungrison.files.wordpress.com/2008/09/rel-12.jpg"><img alt="" src="http://kampungrison.files.wordpress.com/2008/09/rel-12.jpg" class="aligncenter" width="400" height="264" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dua malam tahun baru dilewatkan di kereta api. Apa itu permenungan? Apa itu kembang api? Apa itu perayaan? <span id="more-889"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Stasiun dengan hiruk pikuknya penumpang. <a title="sebenarnya, ini judul di blognya beliau sebelum berganti ke alamat sekarang" href="http://www.rumahputih.net" target="_blank"> Di sesela gegas gesa</a> penumpang yang takut terlambat, saya sudah akan berdiri atau duduk di sana. Mendengar pengumuman yang selalu diawali bunyi penanda monoton yang anehnya terasa begitu melodius. Kereta, lokomotif, gerbong, ganti-berganti melintas di atas jalur rel. </p>
<p style="text-align: justify;">Penumpang datang bersama kereta yang masuk lantas turun. Penumpang datang dari luar sana lalu masuk ke stasiun. Penumpang satu per satu masuk ke kereta. Kemudian kereta pergi. Ada jadwal yang harus dipenuhi, maka lekaslah karena kereta tak menunggu begitu pula hidup. </p>
<p style="text-align: justify;">Pukul tujuh malam, biasanya kereta saya tiba. Terkadang sedikit terlambat, namun lebih sering tepat waktu. Meliriki nomor gerbong di tiket saat berdiri di tempat menunggu di mana kira-kira gerbong yang tepat akan berhenti. Masuk berjubel bersama dengan penumpang lain. Walau nomor tempat duduk sudah ada, namun tetap saja berebutan. Terkadang, bila kalah cepat saya pun harus bersitegang dengan penumpang lain yang menduduki kursi saya. Sebagai catatan, saya suka kursi di pinggir yang dekat jendela. Entah kenapa, pada saat yang sama banyak orang lain juga demen dengan kursi itu, kendati tidak sesuai dengan nomor tempat duduk yang tertera di tiketnya. Menunggu saat yang tepat, berebutan kesempatan yang barangkali tak akan datang dua kali, seperti hidup, bukan? </p>
<p style="text-align: justify;">Kereta berjalan di atas rel. menyusuri sepanjang rel itu tak hendak pindah. Tujuan sudah jelas. Bebunyian mulai terdengar, beradunya roda rel, hantaman-hantaman besi itu monoton, menggerakkan, bersemangat. Percakapan di dalam kereta yang terdengar berdengung, tak jelas, sebuah pertemuan awal antara dua orang asing. Percakapan yang tak banyak, sekadarnya saja. Suara dari luar kereta pun tak banyak yang masuk. Seperti hening, gambaran yang berganti-ganti, namun diam. Pula hidup, bukan? Suara mana yang akan lebih sering didengar? </p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanannya, kadang kereta pun berhenti sejenak. Sampai di sebuah stasiun akan berhenti sebentar. Ada sedikit penumpang yang turun, ada pedagang yang naik. Rupanya memang tak semua harus dibawa, kadang ada yang perlu diletakkan. Ditinggalkan di belakang. Di sisi lain, ada yang harus dipungut, diingat, jangan dilupakan dan terus dibawa. Apa yang ditinggalkan dan dipungut dalam hidup kemudian? </p>
<p style="text-align: justify;">Alasan berhenti pun bisa juga karena berpapasan dengan kereta lain. Rel yang terbatas menyebabkan tak mungkin berjalan bersama-sama. Ada masa untuk mengalah, memberi jalan. Walau mungkin sedikit terlambat, kendati memperlama, namun selamat, bukan? Tak lupa kecepatan, ternyata tak tetap. Kadang lambat bahkan sampai-sampai berhenti. Lain saat begitu cepat, bahkan terasa seperti <a title="tulisan beliau tentang perjalanan menggunakan kereta api sangat bagus" href=" http://pejalanjauh.com/?p=282" target="_blank"> mengambang</a>. Rasa-rasanya ada irama di sana. Langgam yang tak tetap, berubah-ubah namun rancak. Dalam hidup, kapan harus mengalah? Kapan melambat? Kapan berhenti, mengambil <a title="Mas Yans, lebih paham bagaimana mengambil jeda" href=" http://jedahsejenak.blogspot.com" target="_blank"> jeda?</a> Kapan mesti bersicepat? Sudahkah irama dijaga? Bagaimana irama itu terasa? </p>
<p style="text-align: justify;">Duduk di kereta, leluasa melihat ke dalam kereta: polah penumpang, pedagang, awak kereta, kondektur, polisi, calo. Pemandangan di luar yang berganti-ganti: ada kembang api yang kepagian memencar di langit, petir yang sebentar membuat terang angkasa, kereta lain yang melintas bergemuruh. Ada pula yang melintas begitu saja, namun ada pula yang tercetak tak hendak dilupa. Dan <a title="Tuan Kawabata yang lebih dulu menyajikannya" href=" http://unclegoop.com/2009/10/31/snow-country-yasunari-kawabata/" target="_blank"> cermin jendela,</a> tak lupa pula dilihat. Ketika luar dan dalam menyatu dalam kesatuan pandang. Menjalani hidup, mana yang lebih diperhatikan? Yang terjadi di luar atau yang berlaku di dalam? </p>
<p style="text-align: justify;">Dan tentang tujuan, tak ke mana. Mendekat ke sana berarti gangguan pada tidur yang sudah tak nyenyak. Ada gairah, sedikit gelisah. Pula semangat walau terkencing-kencing. Padahal apa yang menunggu di tujuan itu tak kunjung jelas. Bisa serombongan tukang ojek yang menawarkan jasa atau pagi njekut yang masih berselimut kabut. Namun bila beruntung, sebundar purnama yang masih tersisa di dini hari pun bisa disaksikan. Dan hidup, apa tujuannya? Apakah ‘hanya’ gundukan tanah di bawah kamboja? </p>
<p style="text-align: justify;">Semalam di kereta itu menjadi demikian panjang. Tak hanya permenungan. Bukan sekadar percikan kembang api yang selintas terlihat di luar kemudian hilang dan ditinggalkan. Semalam itu juga perayaan menyambut datangnya pagi, sebuah hari yang baru lagi. Selamat. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2010/01/22/new-year-eve/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
