<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>unclegoop[dot]com &#187; tak terjelaskan</title>
	<atom:link href="http://unclegoop.com/category/uncategorized/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://unclegoop.com</link>
	<description>melintas batas ruang dan waktu</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 11:02:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Tafsir Kitaro IV</title>
		<link>http://unclegoop.com/2009/06/25/tafsir-kitaro-iv/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2009/06/25/tafsir-kitaro-iv/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 23:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[tak terjelaskan]]></category>
		<category><![CDATA[tetirah lain]]></category>
		<category><![CDATA[angin]]></category>
		<category><![CDATA[berkerik]]></category>
		<category><![CDATA[daun bambu]]></category>
		<category><![CDATA[kitaro]]></category>
		<category><![CDATA[spirit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.dagdigdug.com/2009/06/25/tafsir-kitaro-iv/</guid>
		<description><![CDATA[Spirit Of The West Lake
Di sini semua terjadi, kawan.
Kelahiran ikan-ikan, perburuan dan kematiannya sekaligus. Di tengah air yang beriak karena gerakan mereka. Sebentuk perayaan kehidupan tatkala bertahan hidup berarti adalah pembunuhan dan perampasan nyawa liyan. Manakala berkuasa dan memimpin, menjadi raja.
Percintaan dua angsa yang seperti tidak perduli pada sekitar. Bercumbu, bergandengan tangan kian kemari. Membentuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong>Spirit Of The West Lake</strong></p>
<p class="MsoNormal">Di sini semua terjadi, kawan.</p>
<p class="MsoNormal">Kelahiran ikan-ikan, perburuan dan kematiannya sekaligus. Di tengah air yang beriak karena gerakan mereka. Sebentuk perayaan kehidupan tatkala bertahan hidup berarti adalah pembunuhan dan perampasan nyawa liyan. Manakala berkuasa dan memimpin, menjadi raja.</p>
<p class="MsoNormal">Percintaan dua angsa yang seperti tidak perduli pada sekitar. Bercumbu, bergandengan tangan kian kemari. Membentuk dunia sendiri.</p>
<p class="MsoNormal">Sebuah bayangan rembulan di permukaan danau yang membuat jangkrik menahan nafas tidak berkerik. Daun bambu enggan berisik dan angin pun malas mengusik.</p>
<p class="MsoNormal">Jiwa-jiwa di sini merayakan cinta, merayakan kehidupan. Meski tidak selalu dengan meriah, walau terkadang berkubang sunyi. Di antara luka, dendam dan iri hati.</p>
<p class="MsoNormal">Meski tanya masih juga mengemuka, kapankah jiwa-jiwa tenang? Setenang jiwa yang menaungi danau ketika bulan bisa bercermin melihat bayangan wajahnya sendiri. Tidakkah pernah akan terjadi?</p>
<p style="text-align: justify"><em>Album : Kitaro-Impressions Of The West Lake</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right"><em><em><strong>Sridewanto Edi/220509</strong></em></em></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://unclegoop.dagdigdug.com/?p=22&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_22" class="akst_share_link">Berbagi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2009/06/25/tafsir-kitaro-iv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Kitaro III</title>
		<link>http://unclegoop.com/2009/06/10/tafsir-kitaro-iii/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2009/06/10/tafsir-kitaro-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 23:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[tak terjelaskan]]></category>
		<category><![CDATA[tetirah lain]]></category>
		<category><![CDATA[angsa]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[kitaro]]></category>
		<category><![CDATA[moon]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.dagdigdug.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Reflection Of The Moon 
Tenang-tenanglah air. Diamlah ikan-ikan. Berhentilah bergerak angin. Wahai angsa tidakkah kau capai bercumbu mesra?
Lihatlah sebentar lagi bulan yang cantik akan bercermin di sini, di danau ini.
Nah, sudahkah kau lihat? Bagaimana kuning emasnya, bulat sempurnanya wajah rembulan.
Maka, sentuhlah dia wahai ikan, namun jangan kau gerakkan air atau kau akan melukai wajahnya.
Belailah dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Reflection Of The Moon </strong></p>
<p style="text-align: justify">Tenang-tenanglah air. Diamlah ikan-ikan. Berhentilah bergerak angin. Wahai angsa tidakkah kau capai bercumbu mesra?</p>
<p style="text-align: justify">Lihatlah sebentar lagi bulan yang cantik akan bercermin di sini, di danau ini.</p>
<p style="text-align: justify">Nah, sudahkah kau lihat? Bagaimana kuning emasnya, bulat sempurnanya wajah rembulan.</p>
<p style="text-align: justify">Maka, sentuhlah dia wahai ikan, namun jangan kau gerakkan air atau kau akan melukai wajahnya.</p>
<p style="text-align: justify">Belailah dia duhai angin, namun jangan terlampau keras. Cukup kau sapu saja sedikit permukaannya. Jadilah bedak tipis yang tidak menghalangi namun mempercantiknya. Membuatnya menjadi sedikit lebih misterius, bisakah?</p>
<p style="text-align: justify">Aku sarankan padamu angsa, belajarlah mencinta dari rembulan. Tak pernah dia menyimpan cinta matahari sedikitpun. Diberikan semuanya kepada kita di danau ini, di bumi ini. Walau karena itu juga terkadang tubuhnya ditelan raksasa buruk rupa yang iri karena tak bisa mencinta.</p>
<p style="text-align: justify">Namun kau lihat sendiri, bukan? Tak pernah ada menyerah dalam kamus hidupnya dia mulai lagi mencintai dari sedikit seperti sabit petani yang menyiangi rumput. Beranjak separuh seperti terbelahnya hati, separuh untuk kekasih dan separuh untuknya. Kendati pada akhirnya dia tak lagi perduli, diserahkannya semua utuh semacam purnama.</p>
<p style="text-align: justify">Sayang semua itu tak lama. Karena memang cinta begitu indah untuk hidup yang terlampau singkat ini. Maka, kenapa tidak segera kau rayakan.</p>
<p style="text-align: justify">Hei! Kenapa begitu sunyi? Ah, rupanya jangkrik pun menahan nafas melihat kecantikan rembulan di danau. Biarlah, karena perayaan tak selamanya gegap-gempita. Mungkin sedang dikenangkan pula sebentuk cinta lama. Biarlah dan nikmatilah semua, kunyahlah, kerkahlah, lumatlah dalam perayaan cinta. Selagi bisa, mumpung masih bisa.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Album : Kitaro-Impressions Of The West Lake</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right"><em><em><strong>Sridewanto Edi/220509</strong></em></em></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://unclegoop.dagdigdug.com/?p=21&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_21" class="akst_share_link">Berbagi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2009/06/10/tafsir-kitaro-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Kitaro II</title>
		<link>http://unclegoop.com/2009/06/06/tafsir-kitaro-ii/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2009/06/06/tafsir-kitaro-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2009 12:07:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[tak terjelaskan]]></category>
		<category><![CDATA[tetirah lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.dagdigdug.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[The Moon On The Lake
Air telaga begitu tenang. Sedikit angin mengusiknya, membentuk riak kecil. Ada suara jangkrik dan gemerisik daun bambu yang bergesekan.
Air berkecipak dan memercik sedikit manakala seekor ikan mencapai permukaan dan melakukan gerakan anggun kembali menyelam.
Di mana rembulan? Di atas sana diam-diam memandang tanpa bersembunyi di balik awan. Melihat, menjadi saksi dua angsa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>The Moon On The Lake</strong></p>
<p style="text-align: justify">Air telaga begitu tenang. Sedikit angin mengusiknya, membentuk riak kecil. Ada suara jangkrik dan gemerisik daun bambu yang bergesekan.</p>
<p style="text-align: justify">Air berkecipak dan memercik sedikit manakala seekor ikan mencapai permukaan dan melakukan gerakan anggun kembali menyelam.</p>
<p style="text-align: justify">Di mana rembulan? Di atas sana diam-diam memandang tanpa bersembunyi di balik awan. Melihat, menjadi saksi dua angsa yang memadu kasih. Berenang hilir mudik di permukaan danau, meski karena itu, rembulan tidak bisa melihat bayangan wajahnya.</p>
<p style="text-align: justify">Karena barangkali cinta adalah sebuah perayaan, yang berulang dan terus berulang.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Album : Kitaro-Impressions Of The West Lake</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right"><em><em><strong>Sridewanto Edi/220509</strong></em><br />
</em></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://unclegoop.dagdigdug.com/?p=20&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_20" class="akst_share_link">Berbagi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2009/06/06/tafsir-kitaro-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Jawaban Menunggu</title>
		<link>http://unclegoop.com/2009/04/17/tentang-jawaban-menunggu/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2009/04/17/tentang-jawaban-menunggu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 06:51:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[tak terjelaskan]]></category>
		<category><![CDATA[tetirah lain]]></category>
		<category><![CDATA[jawaban]]></category>
		<category><![CDATA[menunggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.dagdigdug.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Menunggu itu, seperti sebentuk tanya tanpa jawab.
Dan jawaban, terkadang berupa berita yang berakhir dengan titik atau perintah yang ditutup dengan tanda seru. Ah, itu ternyata belum seberapa, karena satu ketika kamu akan bertemu dengan tanda tanya lagi, begitu berulang-ulang.
Namun, tahukah apa yang paling menyedihkan? Yaitu bila elipsis yang kamu jumpai, hanya bentukan sunyi yang harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Menunggu itu, seperti sebentuk tanya tanpa jawab.</p>
<p>Dan jawaban, terkadang berupa berita yang berakhir dengan titik atau perintah yang ditutup dengan tanda seru. Ah, itu ternyata belum seberapa, karena satu ketika kamu akan bertemu dengan tanda tanya lagi, begitu berulang-ulang.</p>
<p>Namun, tahukah apa yang paling menyedihkan? Yaitu bila elipsis yang kamu jumpai, hanya bentukan sunyi yang harus kamu isi sendiri.</p>
</blockquote>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://unclegoop.dagdigdug.com/?p=17&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_17" class="akst_share_link">Berbagi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2009/04/17/tentang-jawaban-menunggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanda Cinta</title>
		<link>http://unclegoop.com/2009/02/17/tanda-cinta/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2009/02/17/tanda-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 13:46:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[tak terjelaskan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Tanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[â€œBibirmu, terasa begitu manis.â€ Kata Shah Jahan â€œIni hanya manis untukmu, kekasihku, untuk orang lain: rasa pahit yang akan ditemui.â€ Arjumand Banu menjawab dengan mata yang berbinar. Pasti semua pun tahu bahwa keduanya baru saja berciuman. Ciuman terlarang seperti juga cinta mereka yang tak direstui oleh Padishah, Sang Sultan. Jahangir, Sultan Mughal India ayah dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">â€œBibirmu, terasa begitu manis.â€ Kata Shah Jahan</p>
<p style="text-align:justify;">â€œIni hanya manis untukmu, kekasihku, untuk orang lain: rasa pahit yang akan ditemui.â€ Arjumand Banu menjawab dengan mata yang berbinar.</p>
<p style="text-align:justify;">Pasti semua pun tahu bahwa keduanya baru saja berciuman. Ciuman terlarang seperti juga cinta mereka yang tak direstui oleh Padishah, Sang Sultan. Jahangir, Sultan Mughal India ayah dari Shah Jahan berpikir jauh ke depan. Putranya adalah putra mahkota. Hidupnya bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun untuk seluruh bangsa, semua negeri di bawah panji-panji Mughal.</p>
<p style="text-align:justify;">Perkawinan politik kemudian terjadi. <span id="more-459"></span>Seorang keponakan Sultan Persia dinikahkan dengan Shah Jahan. Kasihan sekali putri yang malang itu, karena perceraian menjadi akhir kisah biduk rumah tangga mereka. Mandul menjadi alasannya, padahal yang benar: Shah Jahan tak sudi, ogah untuk sekadar menyentuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Arjumand Banu menunggu janji Shah Jahan dengan gelisah. Menjadi perawan tua dan digunjingkan oleh para harem karena tak kunjung menikah. Janji, hutang Shah Jahan untuk hidup bersama dengan Arjumand Banu yang dipercayanya suatu hari nanti, entah kapan akan terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pasca perceraian sebuah pernikahan yang dilandasi oleh alasan-alasan politik itu, pernikahan akbar Shah Jahan dan Arjumand Banu dilaksanakan. Keduanya pun hidup bahagia bersama. Apakah kemudian berakhir?</p>
<p style="text-align:justify;">Jauh panggang dari api bila akhir dari kisah ini Anda harapkan, pembaca. â€“halah!-</p>
<p style="text-align:justify;">Lima tahun sudah Arjumand Banu dan Shah Jahan menunggu untuk bisa hidup bersama. Bukan hal yang aneh bila gairah mereka berdua begitu bergelora, seperti ombak di pantai selatan saat musim Barat tiba. Berdebur kencang di pantai, menghempas karang dan tebing-tebing terjal.</p>
<p style="text-align:justify;">Shah Jahan sering mendapat perintah dari ayahnya untuk berperang menaklukkan negeri-negeri di sekitar. Perjalanan yang jauh melintasi gurun-gurun tandus nan gersang dilalui dengan sepasukan tentara, lengkap dengan kuda, gajah, persenjataan dan perbekalan. Yang istimewa, Arjumand Banu tak pernah ketinggalan turut serta. Janji mereka berdua adalah tidak akan saling berpisah apapun yang terjadi dan ke mana pun pasangannya pergi.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbagai perjalanan yang tidak mudah harus dilalui Arjumand Banu. Kondisi fisiknya seringkali melemah bila terkena hawa panas, terutama bila dia sedang mengandungâ€”dan ini seringkali terjadiâ€”buah cintanya dengan Shah Jahan. Selain perkasa di depan musuh-musuhnya manakala berperang, Shah Jahan juga begitu digdaya di depan istrinya. Kemenangan gemilang yang diraih, dirayakan dengan bercinta berapi-api dan membuahkan kehamilan.</p>
<p style="text-align:justify;">Putra putri keduanya satu demi satu lahir sampai dengan tujuh orang yang hidup. Jumlah total mengandung empat belas kali dan separo di antaranya meninggal saat dilahirkan atau keguguran. Penyebabnya sendiri, karena kondisi yang tidak mendukung kesehatan seorang ibu hamil pun karena obat yang diberikan oleh Wahid istana atas permintaan Arjumand yang tidak tahan akan penderitaan kehamilan yang begitu melemahkan fisiknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak jarang Arjumand mendapat nasihat dari orang-orang terdekat juga tabib agar menjarangkan sedikit jarak dari kehamilan ke kehamilan. Bukannya tidak mendengar, karena Arjumand pun pernah bersitegang dengan suaminya karena kondisi ini. Satu ketika, penolakan pernah pula dilakukannya ketika Shah Jahan datang menghampiri di malam yang bergairah.</p>
<p style="text-align:justify;">â€œAku seperti berbaring dengan orang mati.â€ Desis Shah Jahan dan kemudian berbaring terlentang tanpa melihat Arjumand yang tidur di sisinya.</p>
<p style="text-align:justify;">â€œPuaskanlah nafsumu dengan para putri atau budak, ambillah istri ke dua, ke tiga seperti juga ayah dan kakekmu melakukannya.â€ Ratap Arjumand di sisi Shah Jahan.</p>
<p style="text-align:justify;">â€œAku tidak bisa, tidak mungkin aku melakukan itu. Kamu begitu mulia, tak mungkin aku bersama dengan mereka.â€ Hanya itu yang keluar dari mulut Shah Jahan karena begitu cintanya kepada Arjumand.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya, karena cinta pula Arjumand selalu menuruti kehendak dari suaminya yang tercinta. Biarlah rusak tubuhnya, tak apa bila dia harus sakit dan menderita. Sejauh suaminya terpuaskan karena dia acap kali merasa kasihan saat suaminya begitu menderita karena nafsu.</p>
<p style="text-align:justify;">Shah Jahan tidak bisa hidup tanpa Arjumand, dia adalah pendukung setia di belakang setiap kemenangan pun ketika Shah Jahan dianggap memberontak oleh ayahnya dan menjadi pelarian. Arjumand adalah teman tatkala kejayaan menghampiri dan kegagalan yang tidak diundang datang bertamu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanda cinta Arjumand adalah kesediannya untuk bersenang-senang bersama suaminya. Tak lupa, kesedihan, air mata dan derita yang juga turut ditanggungnya ketika suaminya berada pada titik nadir. Namun, lebih dari semua itu adalah tubuhnya yang rusak karena mengandung begitu banyak putra putri dan calon jabang bayi dari benih suaminya. Sampai akhirnya, Arjumand melemah dan kian melemah hingga maut datang membawanya pergi.</p>
<p style="text-align:justify;">Shah Jahan goyah, singgasana yang sedari awal dirasanya begitu sunyi karena menjauhkannya dari orang-orang di sekitarnya kini dirasa makin sepi. Ketika Arjumand masih ada, dialah satu-satunya yang tetap memandang sama kepadanya tanpa menghiraukan statusnya sebagai Sultan; Sang Penakluk Dunia. Tak pernah bermuka manis seperti penjilat melakukannya, tak pernah berlebihan dan selalu jujur. Arjumand adalah rem tatkala Shah Jahan kehilangan kendali dan lupa diri.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat Arjumand pergi, Shah Jahan pun lupa diri, tenggelam dalam duka nestapa dan nelangsa yang begitu dalam tak berdasar. Malam-malam dilaluinya masih dengan nafsu yang bergelora bersama para putri dan budak-budak, namun tetap satu nama yang disebutnya, â€œArjumand&#8230; Arjumand&#8230;.â€</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah makam untuk mendiang istrinya yang tercinta pun dibangun sebagai tanda cinta. Sebagian juga bentuk penyesalan karena paksaannya kepada Arjumand yang terjadi berulang-ulang di tiap malam. Makam yang dihiasi dengan marmer, pualam, emas, berlian dan diukir dengan begitu indah bernama Taj Mahal. Makam yang dibangun selama 22 tahun dengan tinggi 55 meter dan memiliki kubah yang berdiameter 18 meter dan tinggi 44 meter ini begitu agung. Keagungan cinta seorang sultan yang mendalam kepada istrinya tercermin dari bangunan ini. Namun, tak hanya itu, bangunan ini juga mencerminkan kesederhanaan cinta Arjumand kepada suaminya. Kesederhanaan dalam bentuk pengorbanan dirinya yang kian merapuh demi suaminya.</p>
<p style="text-align:justify;">Taj Mahal kemudian adalah kerepotan bagi para tukang, mulai dari ahli kubah, tukang kayu, tukang batu sampai ahli pahat. Semua harus memenuhi selera Sultan yang menginginkan sebuah bangunan di mana mencerminkan keagungan namun kesederhanaan yang sunyi dari cinta. Begitulah, karena Taj Mahal adalah tanda cinta.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian, apa yang sudah Anda berikan sebagai tanda cinta Anda untuk orang-orang tercinta pada Valentine day, kemarin? Sekadar coklat, sekuntum bunga, atau kecupan yang paling manis?</p>
<p style="text-align:justify;">PS : bagaimana kisah cinta, pengkhianatan, intrik di istana dan suka duka membangun sebuah â€˜tanda cintaâ€™ silakan dibaca selengkapnya dalam buku berjudul â€˜Tajâ€™ karya Timeri N. Murari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2009/02/17/tanda-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
