Tafsir Kitaro IV

Spirit Of The West Lake

Di sini semua terjadi, kawan.

Kelahiran ikan-ikan, perburuan dan kematiannya sekaligus. Di tengah air yang beriak karena gerakan mereka. Sebentuk perayaan kehidupan tatkala bertahan hidup berarti adalah pembunuhan dan perampasan nyawa liyan. Manakala berkuasa dan memimpin, menjadi raja.

Percintaan dua angsa yang seperti tidak perduli pada sekitar. Bercumbu, bergandengan tangan kian kemari. Membentuk dunia sendiri.

Sebuah bayangan rembulan di permukaan danau yang membuat jangkrik menahan nafas tidak berkerik. Daun bambu enggan berisik dan angin pun malas mengusik.

Jiwa-jiwa di sini merayakan cinta, merayakan kehidupan. Meski tidak selalu dengan meriah, walau terkadang berkubang sunyi. Di antara luka, dendam dan iri hati.

Meski tanya masih juga mengemuka, kapankah jiwa-jiwa tenang? Setenang jiwa yang menaungi danau ketika bulan bisa bercermin melihat bayangan wajahnya sendiri. Tidakkah pernah akan terjadi?

Album : Kitaro-Impressions Of The West Lake

Sridewanto Edi/220509

Tafsir Kitaro III

Reflection Of The Moon

Tenang-tenanglah air. Diamlah ikan-ikan. Berhentilah bergerak angin. Wahai angsa tidakkah kau capai bercumbu mesra?

Lihatlah sebentar lagi bulan yang cantik akan bercermin di sini, di danau ini.

Nah, sudahkah kau lihat? Bagaimana kuning emasnya, bulat sempurnanya wajah rembulan.

Maka, sentuhlah dia wahai ikan, namun jangan kau gerakkan air atau kau akan melukai wajahnya.

Belailah dia duhai angin, namun jangan terlampau keras. Cukup kau sapu saja sedikit permukaannya. Jadilah bedak tipis yang tidak menghalangi namun mempercantiknya. Membuatnya menjadi sedikit lebih misterius, bisakah?

Aku sarankan padamu angsa, belajarlah mencinta dari rembulan. Tak pernah dia menyimpan cinta matahari sedikitpun. Diberikan semuanya kepada kita di danau ini, di bumi ini. Walau karena itu juga terkadang tubuhnya ditelan raksasa buruk rupa yang iri karena tak bisa mencinta.

Namun kau lihat sendiri, bukan? Tak pernah ada menyerah dalam kamus hidupnya dia mulai lagi mencintai dari sedikit seperti sabit petani yang menyiangi rumput. Beranjak separuh seperti terbelahnya hati, separuh untuk kekasih dan separuh untuknya. Kendati pada akhirnya dia tak lagi perduli, diserahkannya semua utuh semacam purnama.

Sayang semua itu tak lama. Karena memang cinta begitu indah untuk hidup yang terlampau singkat ini. Maka, kenapa tidak segera kau rayakan.

Hei! Kenapa begitu sunyi? Ah, rupanya jangkrik pun menahan nafas melihat kecantikan rembulan di danau. Biarlah, karena perayaan tak selamanya gegap-gempita. Mungkin sedang dikenangkan pula sebentuk cinta lama. Biarlah dan nikmatilah semua, kunyahlah, kerkahlah, lumatlah dalam perayaan cinta. Selagi bisa, mumpung masih bisa.

Album : Kitaro-Impressions Of The West Lake

Sridewanto Edi/220509

Tafsir Kitaro II

The Moon On The Lake

Air telaga begitu tenang. Sedikit angin mengusiknya, membentuk riak kecil. Ada suara jangkrik dan gemerisik daun bambu yang bergesekan.

Air berkecipak dan memercik sedikit manakala seekor ikan mencapai permukaan dan melakukan gerakan anggun kembali menyelam.

Di mana rembulan? Di atas sana diam-diam memandang tanpa bersembunyi di balik awan. Melihat, menjadi saksi dua angsa yang memadu kasih. Berenang hilir mudik di permukaan danau, meski karena itu, rembulan tidak bisa melihat bayangan wajahnya.

Karena barangkali cinta adalah sebuah perayaan, yang berulang dan terus berulang.

Album : Kitaro-Impressions Of The West Lake

Sridewanto Edi/220509

Tentang Jawaban Menunggu

Menunggu itu, seperti sebentuk tanya tanpa jawab.

Dan jawaban, terkadang berupa berita yang berakhir dengan titik atau perintah yang ditutup dengan tanda seru. Ah, itu ternyata belum seberapa, karena satu ketika kamu akan bertemu dengan tanda tanya lagi, begitu berulang-ulang.

Namun, tahukah apa yang paling menyedihkan? Yaitu bila elipsis yang kamu jumpai, hanya bentukan sunyi yang harus kamu isi sendiri.