tetirah lain

Senandika Pintu Toilet Umum

Ia tak pernah bosan
Pada tubuh-tubuh telanjang yang dilindunginya
Ia bosan
Pada air, pada basah yang menempel di tubuhnya
Tapi ia mulai bimbang
Apa jadinya bila air dan basah tak ada?
Akankah tubuh-tubuh itu tetap keluar-masuk melewatinya?

--
~http://dewantoedi.blogspot.com/~


Senandika Gelas

Dari samping aku melihatmu, lengkungmu, kilaumu dan sederet huruf seperti merk yang menempel di badanmu.

Kamu gelas.

Lengkungmu mendadak terlihat bagus.

Di lengkung itu, aku mencarimu, manis yang barangkali tertinggal di sana.

Di dasarmu, ada ampas. Sepertinya pahit, barangkali getir. Apa perlu aku mencoba bagaimana rasanya dan kemudian kuceritakan padamu?

Di peganganmu malah kutemukan kunci dari rasa manis dan pahit. Hanya dengan menggenggamnya erat, tak hendak melepas.

Bolehkah?


Kadar

Tentu saja bukan sekadar aksara ‘e’ di dalam sekedar

Hanya satu huruf itu yang membedakan

Dan kau pun akan selalu terbawa dari ‘kedar’ ke ‘kadar’

Karena ‘kedar’ ada namun tanpa makna

Saat ‘kedar’ hanya menjadi penunjuk untuk ‘kadar’

Jadi, mengapa masih kau tulis sekedar?

Hanya sekadar mengingatkan

kedar (sekedar) –> kadar (sekadar)