tetirah lain

Senandika Satpam Transjakarta



Pernahkah kau perhatikan ia yang berdiri di dekat pintu itu?

Satu pagi, manakala bis yang membawaku tiba di ibu kota, kulihat satu per satu dari mereka datang. Setelah memarkir sepeda motor masing-masing, lantas mendekati pedagang makanan yang banyak tersebar di sekitar halte.

Dipesannya sepiring nasi dengan lauk-pauk pilihan, namun sekadarnya yang ada di masing-masing penjual. Sudah itu, mereka pun bergerombol sambil mengobrol. Lepas makan,
sambil minum kopi, dinikmati pula rokok yang mungkin sudah basi.

Bila waktu sudah menunjukkan pukul lima, kemudian mereka berbaris rapi. Diawali dari penjuru kanan, dilakukan berhitung satu demi satu. Briefing singkat pun diberikan namun tak lama lantas bubar.

Selanjutnya, satu demi satu mereka memasuki bus yang menjadi tanggung jawab masing-masing. Berdirilah mereka di dekat pintu, siap atur lalu lintas penumpang keluar masuk bus.

Sering kau lihat, bukan? Ia marah-marah pada penumpang di halte yang tak mau berikan jalan pada penumpang yang hendak keluar. Tak kalah sering ia pun kerap dibuat jengkel dengan penumpang di dalam bus yang ogah bergeser dan berkumpul di dekat pintu.

Manakala ia lihat penumpang yang tertidur menikmati dinginnya bus, kakinya mesti kuat menahan tubuhnya agar ia bisa terus berdiri. Beberapa kali ia lihat penumpang asik menikmati musik melalui perangkat mp3 yang memutar musik-musik kegemaran. Sementara ia, mesti perhatikan jalan, ukur jarak dengan halte terdekat, dengar suara merdu yang senantiasa terdengar, atur lalu lintas penumpang yang turun dan naik.

Kerinduan dan cemburu, tentu saja kerap ia rasakan. Terutama, bila dilihatnya penupang yang sibuk menekan tombol-tombol kirimkan pesan singkat atau senyum-senyum sendiri padahal karena bertelepon dengan kekasih atau selingkuhannya bincangkan mungkin hal yang tabu. Bahkan, ia kadang iri dengan penumpang yang bisa membaca buku, berurai air mata, tertawa lantang.

Ia mengukur jalan, atur penumpang, dengar suara, waspada bila halte sudah kian mendekat. Ia pun iri dan cemburu sesekali. Tapi dengan itu, ia antar dan pastikan penumpang tiba dengan aman dan selamat di halte tujuan. 

Gambar meminjam dari Paman Tyo

Jakarta: Jakarta. History of Jakarta, Jakarta Kota Station 18 Jakarta Monorail, TransJakarta, List of universities in Indonesia, Jakarta International ... stations in Jakarta, 2009 Jakarta bombings


Senandika Busway

Seperti biasa ia akan terbangun begitu pagi. Dihangatkannya alat geraknya bahkan sampai panas. Hal ini untuk menjamin agar darah mengalir sempurna di semua syaraf dan sendi-sendinya bisa bergerak dengan baik.

Seringkali ia merasa masih mengantuk, bahkan tak jarang menggerutu bila badannya dihela tak santun. Ia otomatis, namun yang mengendarainya tak punya kaki yang peka, sehingga tercipta hentakan-hentakan tak perlu itu.

Ia benci
bila melewati jalanan yang berlubang-lubang dan tak rata. Seperti ada tonjokan-tonjokan di ulu hatinya yang membuatnya meringis kesakitan.

Pabila ia baru saja keluar dari rumahnya, ia merasa takut pada gerakan-gerakan di dalam tubuhnya. Tak hanya itu, ia pun kadang suka gemetar mendengar suara-suara dari beradunya benda-benda di tubuhnya. Benda itu adalah pegangan penumpang yang bergoyang dan baku pukul satu dengan yang lain karena tiada tangan yang memegang.

Pagi hari selepas bangun baginya adalah siksaan. Yang memasuki tubuhnya adalah mereka yang belum mandi dan bau iler. Ia akan senang saat pukul tujuh atau manakala mereka para penggunanya itu berangkat bekerja. Saat mereka semua itu masih rapi dan wangi. Nanti bila sore hari, kembali ia akan merasakan gerah saat penumpang yang menaikinya sudah terbalur keringat dan membuat pengap.

Satu hal yang menjadi hiburan baginya adalah suara merdu yang berkala terdengar. Suara-suara itu muncul sebagai penanda ia akan berhenti sejenak untuk menghela nafas.

Apa ya, yang dilakukannya saat ia tiba di rumah? Sampai sekarang, hal itu masih menjadi pertanyaan.

 Bus lanes and busway systems: A report (Road research)


Senandika Tanjakan

Saat ia berjalan menanjak
Ia sadar betapa dalamnya tapak
Ia sabar bila harus tinggalkan jejak
Bahkan sekali waktu bila mesti merangkak

Di mana kecepatan diturunkan
Terkadang ancang-ancang diperlukan
Menggeram sesekali agar dapat kekuatan
Terus berjuang sampai penghabisan

Ia menjadi akrab dengan udara
Yang teratur keluar masuk paru-parunya
Ia hirup sepuas-puasnya
Sampai penuh rasa di dada

Sekali waktu
ia pun lelah
Tak jarang ingin menyerah
Tapi kehendak tak mau kalah
Ia paksa sebelum mulai pasrah

Saat nafas kian terasa berat
Ketika kaki tak tahan lagi bawa penat
Manakala begitu butuh waktu rehat
Rupanya puncak tanjakan sudah dekat

Ia pun kemudian tak sabar
Lupa dada yang mulai berdenyar
Alpa kaki yang mulai bergetar
Hanya hatinya yang terasa berdebar

Di puncak itu ia kembangkan tangannya
Disapanya udara dan matahari di atasnya
Disentuh pucuk daun di sekelilingnya
Diucap syukur sepenuh-penuhnya

Kemudian ia hembuskan nafasnya yang paling penghabisan