tetirah lain

Senandika Spanyol-Swiss

Mengurung tak kunjung jadi untung
Emosi memuncak
Semacam gemas yang kian menanjak
Gelisah yang sewaktu-waktu menjadi amarah
Akankah kalah?

-ditulis manakala waktu menunjukkan 90 menit dan perpanjangan waktu masih ada 5 menit lagi-



Tendangan bebas diambil
Bola ditepis bergulir
Kartu kuning diberikan
Umpan yang salah
Benar akhirnya kalah

Tim yang muda, namun begitu diunggulkan itu
Kembali sepak bola bukan matematika di atas kertas
Kembali diingatkan, bula itu bundar



Dan besok bermain lagi
Mari kita lihat lagi


Senandika Sebuah Warung

Warung itu sediakan pisang dan roti keju
Hmm, terbayang bukan, bagaimana rasa pisang panggang ditaburi keju?

Di warung itu pun, tersedia mi goreng dan rebus
Semua instan, tinggal buka bungkus lantas mi direbus

Tadi, aku tidak jajan di warung itu,
Aku duduk di sebelah warung itu
Di warung lain, namun bukan warung itu

Di warung lain itu, aku memesan soto
Di dalam soto ada gumpalan daging dan babat
Tak lupa, taoge rebus dan sejumput bihun
Hmm, setelah ditambah kecap dan sambal, terasa nikmat betul

Kembali ke warung yang menyediakan pisang dan roti keju itu
Seorang anak jalanan berkaos merah dengan topi hitam
Ia memesan mi rebus, nampaknya dua porsi karena mangkuknya nampak begitu penuh
Maksudku, lebih penuh dari biasanya jika hanya satu porsi

Ia, nikmati mi rebus itu pelan-pelan
Aku tak tahu betul sebenarnya
Terakhir yang aku lihat, ia sedang mengaduk mi-nya agar bumbu dan mi bercampur

Lantas aku berkonsentrasi pada soto pesananku
Menyendok kuah, menuangkan ke nasi di piring
Mengambil daging, menambahkan di nasi yang sudah berkuah
Mengangsurkan ke mulutku yang membuka kemudian mengunyahnya

Saat kembali kulirik si kaos merah dekil
Kini ia tak sendiri, di sampingnya ada lagi anak yang lebih kecil, lebih kurus
Si kecil ini pun memakai kaos yang tak kalah dekil dari si merah
Kakinya yang kurus begitu kotor

Ia menatap si kaos merah yang menyendok kuah
Ya, kuah karena mi sudah berpindah ke perut si kaos merah
Si kecil itu masih saja menatap ketika si kaos merah mengorek-korek kuah
Lantas apa yang ada di sendok itu pun dijilat sampai bersih
Dan si putih tetap saja menatap

Aku pun tak mau kalah, kuhabiskan kuah sotoku
Aku kenyang
Bagaimana dengan si kurus tadi, ya?
Aku tak melihatnya lagi, keduanya sudah pergi
Ia lapar, sepertinya

Instan


Senandika Kaos Ungu

Malam ini aku mengenakan kaos ungu
Dengan kaos ungu itu aku berjalan-jalan ke pasar baru
Aku berjalan kendati ragu dan sesekali malu
Apalagi manakala ada gadis cantik melirikku
Rasanya ada yang salah saat itu

Oya, dengan kaos ungu itu aku pun membeli buku
Sebenarnya itu di luar rencana, tapi aku lupa selalu
Saat mata dengan deretan buku sudah bertemu
Biarlah kubeli beberapa, toh itu kan uangku
Sekarang, aku sedang baca buku mengenakan kaos ungu


Senandika Penjaga Baju

Ia akan berdiri di samping rak tempat pakaian terlipat rapi bertumpuk-tumpuk
Ia akan berdiri di samping penyangga tempat baju bergantung-gantung
Ia akan berdiri di samping penyangga tempat celana bergantung-gantung
Ia akan berdiri di dekat kamar ganti, sigap
manakala pembeli yang usai mencoba menginginkan pakaian yang baru saja dicobanya
Ia akan memasang senyum lebar kepada siapa saja yang mendekat di pakaian yang ia jaga, kadang sambil berkata, “Silakan.”
Bila masa potongan harga tiba, dengan baik hati akan ia kabarkan pada calon pembeli yang terkadang hanya sekadar mengelus-elus baju tak beli
Seorang pembeli yang sudah pasti akan membeli lantas dibuatkan nota
Semacam tiket bagi pembeli untuk mengambil barang yang dibelinya
Sudah itu ia dilupakan
Kembali ia akan berdiri di tempatnya semula, di samping rak, di dekat gantungan baju atau celana, tak jauh dari kamar ganti
Kembali ia berdiri di sana menunggu pembeli yang lain datang
Kembali ia menunggui deretan, tumpukan pakaian itu tak hendak mencoba atau membeli
Kembali memasang senyumnya, sembari melirik pakaiannya sendiri yang sepertinya tak pernah ganti
Kembali ia di sana menunggu pembeli