Senandika BHI
Dari atas nampak air mancur itu mulai lelah
Menari
Melihat mobil yang berputar-putar
Akankah tarian itu berhenti?
–
Senandika Gelas
Dari samping aku melihatmu, lengkungmu, kilaumu dan sederet huruf seperti merk yang menempel di badanmu.
Kamu gelas.
Lengkungmu mendadak terlihat bagus.
Di lengkung itu, aku mencarimu, manis yang barangkali tertinggal di sana.
Di dasarmu, ada ampas. Sepertinya pahit, barangkali getir. Apa perlu aku mencoba bagaimana rasanya dan kemudian kuceritakan padamu?
Di peganganmu malah kutemukan kunci dari rasa manis dan pahit. Hanya dengan menggenggamnya erat, tak hendak melepas.
Bolehkah?
Kadar
Tentu saja bukan sekadar aksara ‘e’ di dalam sekedar Hanya satu huruf itu yang membedakan Dan kau pun akan selalu terbawa dari ‘kedar’ ke ‘kadar’ Karena ‘kedar’ ada namun tanpa makna Saat ‘kedar’ hanya menjadi penunjuk untuk ‘kadar’ Jadi, mengapa masih kau tulis sekedar? Hanya sekadar mengingatkan – kedar (sekedar) –> kadar (sekadar)
Peran
Kamu bilang kamu subyek Berarti kamu di awal mula Eh, tapi mungkin juga kamu di akhir Satu yang pasti, kamu harus ada Lantas, kamu diubah menjadi obyek Biasanya memang di akhir Kadang-kadang saja di muka Tapi tetap, kamu ada di sana Walau, barangkali sedikit kurang beruntung Entah kenapa Akhirnya, inilah peranmu paling pungkasan “pelengkap penderita” [...]



jejak tertinggal