Review Buku: Taj

Novel Taj

“Bibirmu, terasa begitu manis.” Kata Shah Jahan

“Ini hanya manis untukmu, kekasihku, untuk orang lain: rasa pahit yang akan ditemui.” Arjumand Banu menjawab dengan mata yang berbinar.

Pasti semua pun tahu bahwa keduanya baru saja berciuman. Ciuman terlarang seperti juga cinta mereka yang tak direstui oleh Padishah, Sang Sultan. Jahangir, Sultan Mughal India ayah dari Shah Jahan berpikir jauh ke depan. Putranya adalah putra mahkota. Hidupnya bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun untuk seluruh bangsa, semua negeri di bawah panji-panji Mughal.

Perkawinan politik kemudian terjadi. Continue reading “Review Buku: Taj”

Wanita dalam Spartacus: Lucretia

lucretia

Istri dari Quintus Lentulus Batiatus ini sungguh pantas menjadi istri teladan. Dia total mendukung Batiatus dalam menggapai cita-cita. Eh, barangkali lebih tepat cita-citanya sendiri.

Dia berkawan dengan Ilithya, istri dari Legatus Glabber. Seseorang yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari Lucretia.

Kemudian, memang Lucretia selalu berteman dengan para bangsawan yang posisinya lebih tinggi. Teman ngerumpinya adalah istri-istri para bangsawan. Meskipun tak jarang, dia pun mendapat penghinaan dari kawan-kawannya ini.

Bosan dengan hal itu, maka Lucretia pun mendorong-dorong suaminya untuk merangkak ke strata sosial yang lebih tinggi. Segala cara akhirnya ditempuh untuk menggapai mimpi Lucretia ini.

Cara-cara itu termasuk dengan merendahkan Ludusnya yang sakral. Dia membuka rumahnya untuk kesenangan para bangsawan. Disodorkannya para Gladiator dan budak-budak wanita. Digelar pesta-pesta yang melibatkan persetubuhan di dalamnya.

Sebuah tindakan yang tidak disetujui oleh mertuanya, Titus Batiatus.

Lucretia_and_Titus

Memang, sedari awal Lucreria sudah tidak disukai oleh Titus. Ditambah lagi fakta bahwa dia tak kunjung punya momongan. Tak ada yang akan melanjutkan Ludus of Batiatus. Sebuah kekecewaan yang mendalam bagi Titus.

Diam-diam, Lucretia pun memanfaatkan salah seorang gladiatornya yang perkasa, Crixus. Dia meminta Crixus memasuki tubuhnya, membuahi, dan berharap akan mendapatkan keturunan. Usaha yang nantinya terbukti tak membuahkan hasil.

Nanti, ketika Ludus Batiatus sudah hancur dan Batiatus sendiri tewas karena pemberontakan Spartacus. Ajaibnya Lucretia masih hidup. Dia ditolong oleh seorang gladiator oportunis nan pragmatis, Ashur.

Keajaiban ini yang kemudian dilirik oleh Legatus Glabber untuk menarik hati orang-orang Capua. Hidup Lucretia pun diisi dengan menarik dukungan sebesar-besarnya dari rakyat Capua pada perjuangan Glabber untuk menindak Spartacus.

Ashur_and_lucretia

Sayangnya, keajaiban kehidupan yang kedua Lucretia ini tak dianggap oleh Ashur. Baginya, Lucretia berhutang hidup. Maka, Ashur pun bebas bertindak sesuka hati. Dia menganggap Lucretia seperti istrinya. Bisa direndahkan.

Ini tentu menjadi tekanan berat bagi seorang Domina atau majikan wanita seperti Lucretia. Direndahkan oleh Ashur yang semula adalah gladiator di ludusnya, adalah budaknya.

Lucretia hidup dengan kepahitan-kepahitan yang dengan itu justru dia bertambah kuat, penuh tekad, dan menghalalkan segala cara.

Sumber:

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Betina Super

cheetah-di-ujung-tandukTahukah populasi cheetah di dunia berapa sekarang ini? Menurut data dari National Geographic Indonesia, jumlahnya di alam liar kurang dari 10.000 ekor!

Cheetah, kucing besar nan pemalu ini memerlukan habitat liar yang luas. Sayangnya, karena besarnya ancaman dari sesama predator seperti singa dan dubuk, cheetah kalah bersaing. Belum lagi perubahan penggunaan lahan oleh manusia yang masif menyebabkan habitat alami cheetah makin menyempit. Continue reading “Betina Super”

Hal Sederhana dalam Rectoverso

rectoversoposter

“Cinta yang tak terucap.”

Itu adalah film Rectoverso dalam empat kata. Film ini mengenai beberapa kisah cinta yang menganut aliran kebatinan, alias tak terkatakan.

Barangkali sudah banyak yang bercerita mengenai betapa mengharu-birunya film ini sampai banyak yang menangis di dalam bioskop. Saya sendiri tak sampai berlinang air mata. Hanya, saya suka bagaimana hal sederhana bisa menjadi sebuah alasan seseorang jatuh cinta. Sesuatu yang sederhana itu menjadi satu cara bagi seseorang untuk menunjukkan cintanya. Continue reading “Hal Sederhana dalam Rectoverso”

Listrik di Indonesia

Kehadiran listrik di Indonesia dimulai pada akhir abad ke-19. Saat itu para pengusaha Belanda di Indonesia yang memiliki pabrik gula dan teh mendirikan pembangkit tenaga listrik untuk keperluan usahanya. Sementara itu, kelistrikan untuk umum mulai ada pada saat perusahaan swasta Belanda, yakni N V Nign, yang semula bergerak di bidang gas memperluas usahanya di bidang penyediaan listrik untuk umum.

Kemudian pada 1927, Continue reading “Listrik di Indonesia”

Sue Grafton dan Warisan dari Ayahnya

Ayah Sue, C.W. “Chip” Grafton adalah seorang pengacara obligasi di Louisville, Kentucky. Ia menghabiskan 40 tahun hidup profesionalnya dengan mengabdi kepada hukum. Ia membesarkan dua putrinya, Sue dan Ann dengan kecintaan kepada buku. Ia pun memberikan contoh, bagaimana selepas jam kerja ia menghabiskan waktu untuk menulis.

Sue kerap kali memperoleh pelajaran menulis dari ayahnya. Pada saat itu, ia tidak berniat menjadi penulis. Pada tahun-tahun itu, seorang wanita apabila sudah “besar”, maka pilihan profesinya adalah menjadi perawat, guru atau balerina. Secara sadar, karena menyadari kelemahannya, Sue memilih untuk menjadi seorang pengajar.

Satu hari, Chip mengajari Sue menulis. Chip berkata, “Kamu harus mempertahankan kesederhanaan tulisanmu. Bukan kamu yang berhak merevisi bahasa Inggris. Kamu harus selalu mengeja dengan benar dan menggunakan tanda baca yang tepat.” Bagi Chip, merupakan sebuah keajaiban bahwa seorang penulis bisa menciptakan sebuah bayangan di dalam kepalanya sendiri, menerjemahkan bayangan itu ke dalam tanda-tanda di atas sebuah halaman, kemudian melalui tindakan menulis yang bersifat katalis, memunculkan bayangan yang sama di dalam kepala orang lain. Bagaimana cara sebuah gagasan melompat seperti itu dari satu pikiran ke pikiran yang lain? Sue pun tak yakin, bahwa ayahnya pernah mengetahui cara kerjanya, tapi ia percaya tanggung jawab utama seorang penulis adalah memupuk dan mendukung keajaiban itu. Di dalam benaknya, tata bahasa yang baik penting untuk menjaga kelancaran jalur komunikasi.

Chip percaya pada kerja keras. Ia percaya, bahwa peralihan sangat penting dalam sebuah novel. Ia suka mengatakan, “Setiap penulis mempunyai adegan besar dalam pikiran mereka, tapi jika kamu tidak memikirkan dengan teliti adegan-adegan kecil yang membangun saat puncak dalam bukumu, pembacamu mungkin tidak memahamimu. Pembacamu, bahkan mungkin menjadi bosan atau tidak sabar dan melemparkan bukumu ke samping sebelum mencapai bagian penting yang mengilhamimu untuk mulai menulis.” Ia juga menganggap penting karakter-karakter kecil dan ia sangat senang membuat mereka hidup dalam buku-bukunya sendiri, meski mungkin pemunculan mereka hanya ada dalam satu paragraf.

Chip tak lupa mengajarkan pada Sue bagaimana menghadapi penolakan. Ia suka berkata, “Membungkuklah bersama angin. Ketika kekecewaan datang, sesuatu yang pasti kamu alami, jangan menjadi kaku karena perasaan pahit. Bersikaplah anggun. Pasrah. Anggap dirimu sendiri sebagai sebatang anak pohon, menyerah pada keadaan tanpa patah atau putus. Membungkuk mengikuti angin membuatmu bisa menegakkan diri lagi ketika kesulitan sudah berlalu.”

Sue kemudian memulai usahanya menulis. Ia menulis tiga novelnya dan hanya memperoleh penolakan. Ia terima penolakan itu, meskipun seringkali dengan tak anggun. Pada saat yang sama, ia belajar tiga hal penting tentang menulis: tekun, tekun dan tekun. Selanjutnya, novel keempatnya mulai diterima oleh penerbit. Hal ini diikuti oleh novel kelima yang bahkan sampai difilmkan.

Membuat skenario, Sue kemudian terlibat dalam proyek ini. Lima belas tahun ia menjalani hidupnya di Hollywood untuk membuat skenario bagi serial televisi. Di saat yang bersamaan ia pun membuat novelnya yang keenam dan ketujuh, namun tak pernah diterbitkan. Pada titik ini ia mulai merasa tak nyaman bekerja bersama dalam satu kelompok seperti menulis skenario itu. Ia pun mulai berpikir untuk kembali mencari bakatnya yang hanya bisa ia peroleh jika bekerja sendiri.

Sue kemudian keluar dan mulai menulis novelnya yang kedelapan. Pada saat proses penulisan novel ini, ayahnya yang banyak mengajari bagaimana menulis meninggal karena serangan jantung. Dalam kenangan Sue, ayahnya adalah seorang penulis yang tak kenal lelah. Namun, ia lebih memilih untuk bekerja di bidang hukum.

Inilah pelajaran terakhir yang Sue peroleh dari kematian ayahnya. Sebuah pelajaran yang barangkali lebih tepat diarahkan ke ayah Sue sendiri. Ikuti hatimu. Kerahkan keberanianmu untuk mewujudkan impianmu. Tidak ada di antara kita yang benar-benar mengetahui berapa banyak waktu kita yang tersisa. Menulis adalah tugas kita. Itulah tanggung jawab kita di bumi ini. Jika kamu gemar menulis, jangan tunda prosesnya. Menulislah setiap hari, penuhi hidupmu dengan khayalan yang tak kenal takut. Kamu mungkin akan kesulitan melakukannya, tapi disiplin yang kamu jalani akan membentuk dan mengisi hidupmu. Bekerja keras. Tekun. Dan, tolong, jangan lupa—mengejalah dengan benar. Gunakan tata bahasa dan tanda baca yang tepat. Pertahankan kesederhanaan tulisanmu dan perhatikan peralihan ceritamu. Cermati karakter-karakter kecil dan yang terpenting, belajarlah membungkuk mengikuti angin.

Dirangkum dari, Chicken Soup for the Writer’s Soul, Halaman 60-65.

Panggil Aku Kartini Saja

Pada suatu kali, Kartini ikut menghadiri “sembahyang istisqo” yang dilakukan oleh rakyat jelata, dan kemudian hujan pun turun. Menanggapi hal ini, Kartini pun menulis:

Rakyat-bocah kami yang naif itu menarik kesimpulan, kamilah yang telah memperkuat doa permohonan mereka itu dengan kekuatan kami, yang menyebabkan doa itu segera makbul. (Surat, 1 Februari 1903, kepada Mr. J.H. Abendanon).

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 258

Hal yang demikian itu dinamakan sentralisme magis. Suatu persoalan yang ditolak oleh Kartini sebagai bentuk feodalisme pribumi. Lebih jauh, penolakan ini dimanifestasikan Kartini dalam sebuah suratnya, di sana ia menulis:

Panggil aku Kartini saja—itulah namaku. (Surat, 25 Mei 1899, kepada Estelle Zeehandelaar).

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 258

Kartini yang menginginkan panggilan tanpa gelar, tanpa panggilan kebesaran adalah keluarbiasaan di kalangan feodal pada waktu itu. Hal ini bukan saja karena gelar-gelar itu justru merupakan ciri-ciri kedudukan seorang feodal dalam hierarki feodalisme, tata hidup, suasana dan organisasi sosial pada waktu itu, tetapi juga ciri-ciri kemartabatan dalam sistem sentralisme magis yang dianggap punya hubungan langsung dengan alam atas.

Kartini dan Agama

Dari sejarah Barat, Kartini melihat bagaimana kemajuan berjalan setindak demi setindak seperti orang membuat gedung yang memasang batu demi batu, dari renaissance sampai timbulnya pemikiran-pemikiran baru di lapangan keagamaan Nasrani, yang mengakibatkan terjadinya peperangan-peperangan agama yang terjadi beberapa generasi di Eropa. Kartini pun pernah menyatakan pendapatnya—sebagai suatu hal yang membuktikan ia memperhatikan sajarah Eropa dan perkembangannya.

Agama dimaksudkan sebagai karunia bagi umat manusia, untuk mengadakan ikatan antara makhluk-makhluk Tuhan. Kita semua adalah saudara, bukan karena kita mempunyai satu leluhur, yaitu leluhur manusia, tapi karena kita semua anak-anak dari satu Bapa, dari Dia, yang bertahta di langit sana. Duh, Tuhan, kadang aku ingin, hendaknya tiada satu agama pun di atas dunia ini. Karena agama-agama ini, yang justru harus persatukan semua orang, sepanjang abad-abad yang telah lewat menjadi biang keladi peperangan dan perpecahan, dari drama-drama pembunuhan yang paling kejam. Orang-orang dari orangtua yang sama berdiri berhadap-hadapan, karena cara mereka beribadah kepada Tuhan yang sama berbeda. Orang-orang dengan hati mereka yang terikat oleh kasih sayang yang mesra, berpalingan satu daripada yang lain membawa kecewa. Perbedaan gereja, di mana Tuhan yang sama itu juga dipanggil, telah menjadi tembok pemisah bagi kedua belah pihak, tembok pemisah yang mendebarkan jantung mereka.

Benarkah agama menjadi karunia bagi umat manusia? Sering pertanyaan itu timbul dalam hatiku yang ragu. Agama yang harusnya melindungi diri kita dari dosa ini, berapa saja kejahatan yang orang telah lakukan atas namaMu. (Surat, 6 Nopember 1899, Kepada Estelle Zeehandelaar)

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 146

Sebuah buku berjudul ‘Quo Vadis?’ telah memberikan pengaruh besar pada Kartini di bidang kesetiaan serta keuletan dalam memperjuangkan cita-cita pendeknya di bidang moral. Quo Vadis? sendiri adalah sebuah roman sejarah yang terjadi di masa Romawi purba, yang menceritakan tentang pengembangan agama Nasrani dan pengorbanannya, keuletan serta ketabahannya dalam menghadapi siksaan serta ancaman dari kekuasaan pasukan-pasukan Romawi. Akhirnya kemanusiaan juga yang menang atas kebiadaban. Dalam hubungan ini Kartini menulis:

Nyonya van Kol menceritai kami banyak tentang Jesus, Nyonya, tentang Rasul-rasul Petrus dan Paulus.

Tak pentinglah agama atau ras apa orang itu, jiwa besar tetaplah jiwa besar, watak yang mulia tetap watak mulia. Anak-anak Allah orang dapatkan dalam setiap agama, pada setiap ras.

Aku telah bawa Quo Vadis? Dan aku kagumi serta cintai pahlawan-pahlawan kepercayaan itu, yang dalam penderitaan yang paling pahit pun masih dapat bersyukur dan beriman pada Yang Mahatinggi., masih mengajarkan kebesaranNya dalam nyanyian yang indah. Aku ikut menderita bersama mereka, serta ikut bersorak dengan kemenangan mereka. (Surat, 5 Juni 1903 kepada Dr. N. Adriani)

Panggil Aku Kartini Saja, Halaman 172-173

Kartini pernah mengusulkan kepada Belanda, jika mereka hendak mengajarkan kesalehan mutlak pada orang Jawa, haruslah diajarkan kepada mereka itu cara mengenal Tuhan Yang Maha Esa, Bapa Cinta. Bapa seluruh makhlukNya, tak peduli orang Nasrani, Islam, Buddha, atau pun Yahudi. Kemudian Kartini menyatakan pula, bahwa:

…. Agama yang sesungguhnya ialah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani maupun sebagai Islam dan lain-lain. (Surat, 31 Januari 1903, kepada E.C. Abendanon).

Kembali di sini orang berhadapan dengan sinkretisme dalam jiwa Kartini, yang selalu mencoba meninggalkan syarat, untuk tidak terpeleset dari asas ajaran. Tapi lebih jelas ialah sebagaimana ia rumuskan sendiri:

Selalu menurut paham dan pengertian kami, ini segala agama adalah Kebajikan, yang membuat setiap agama menjadi baik dan indah. Tapi, duh! Orang-orang ini apakah yang telah kalian perbuat atasnya!

Agama adalah dimaksudkan sebagai karunia, untuk membentuk ikatan antara semua makhluk Tuhan, coklat dan putih, dari kedudukan, jenis, kepercayaan apapun, semua kita adalah anak-anak dari satu Bapa, dari satu Tuhan.

Tak ada Tuhan lain terkecuali Allah! Kata kami orang-orang Islam, dan bersama kami juga semua orang beriman, kaum monoteis; Allah adalah Tuhan, Pencipta Sekalian Alam.

Anak-anak dari satu Bapa, saudara dan saudari jadinya, harus saling cinta-mencintai, artinya tunjang-menunjang bertolong-tolongan. Tolong-menolong dan tunjang-menunjang, cinta-mencintai, itulah nada dasar segala agama.

Duh, kalau saja pengertian ini dipahami dan dipenuhi, agama akan menguntungkan kemanusiaan, sebagaimana makna asal dan makna ilahiah daripadanya: karunia!

Itu yang justru membuat kami bersiaga terhadap agama, ialah bahwa para pemeluk agama yang satu menghinakan, membenci, kadang memburu-buru yang lain, malah…. (Surat, 21 Juli 1902, kepada Nyonya van Kol.)

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 262

Mitos Kartini

Kartini disebut-sebut di berbagai hari peringatan lebih banyak sebagai mitos, bukan manusia biasa, yang sudah tentu mengurangi kebesaran manusia Kartini itu sendiri,  serta menempatkannya ke dalam dunia dewa-dewa. Tambah kurang pengetahuan orang tentangnya, tambah kuat kedudukannya sebagai tokoh mitos. Gambaran orang tentangnya dengan sendirinya lantas menjadi palsu, karena kebesaran tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu mitos. Padahal Kartini sebenarnya jauh lebih agung daripada total jendral mitos-mitos tentangnya.1)

Kutipan di atas adalah Pengantar Penulis buku ‘Panggil Aku Kartini Saja’, dalam hal ini oleh beliau Pramoedya Ananta Toer. Sebenarnya bagaimana manusia Kartini itu sendiri? Dalam beberapa postingan ke depan, saya akan mengutip beberapa pokok pikiran Kartini dari buku yang sama. Barangkali dengan itu, peringatan Kartini bukan hanya menjadi pengukuhan bagi mitos Kartini.

‘Tugas manusia adalah menjadi manusia’.

Kutipan dari Multatuli itu adalah kredo favorit Kartini. Kalau tak keberatan, mari bersama menyimak Manusia Kartini. 😀

1) Panggil Aku Kartini Saja, Halaman 12.