melintas batas
pintu jiwa
Mereka yang Memakan Sisa-Sisa
Oct 15th
Langit sebagai atap rumahku Dan bumi sebagai lantainya Hidupku menyusuri jalan, sisa orang yang aku makan
Kesempatan tidaklah sama pada masing-masing kepala. Seseorang masih bisa melihat matahari hari ini, esok hari siapa yang tahu?
Pun dengan hal sederhana seperti makan, pakaian dan tempat tinggal. Saya meski tidak selalu tepat waktu namun syukur setiap hari masih bisa makan. Pakaian saya tidaklah bermerk terkenal, seringkali malah membeli batik dari pengrajinnya di pedalaman kabupaten sana, namun syukurlah setiap hari saya selalu berganti pakaian yang bersih habis dicuci.
Dahulu pernah mengidamkan gaya hidup yang menjadikan langit sebagai atap dan bumi sebagai lantai. Tidak; bukan karena lagu Kak Rhoma saya inginkan hal itu. Tetapi kebebasan yang ditawarkannya demikian menggoda di tengah kungkungan belenggu orang tua pada masa-masa awal remaja. Syukurlah keinginan yang ini hanya bertahan menjadi keinginan tak pernah menjadi kenyataan. Tak terbayangkan betapa mengerikannya diselimuti dingin, berteman kabut bila dini hari tiba di peraduan saya yang kemungkinan akan sangat luas itu. Belum dihitung bagaimana bahaya mengintip di balik setiap lirikan mata. Entah karena beberapa barang yang menempel di badan ataukah karena menaksir diri ini.
Mereka yang hari ini tidak makan seperti juga kemarin dan kemarinnya lagi barangkali masih mudah ditemukan. Sahabat yang bertelanjang, membugil kedinginan, meringkuk di pojok gang mungkin masih mencoba bertahan di sana. Sebagian mereka lari, menceburkan diri ke sungai menghindari operasi yang dilakukan oleh aparat penertiban.
Mereka yang lari untuk kemudian kembali. Perut mereka tak pernah berhenti berdendang. Gigil tubuh mereka tak bosan diterpa debu jalanan. Akrab kah mereka dengan embun dan kabut? Suara-suara itu.
Lampu bangjo di perempatan menjadi modal sebagian yang lain. Tutup botol di ujung kayu berbentuk mirip penggaris menjadi pelengkap modal. Sumber daya mereka adalah suara yang timbul tenggelam di tengah makian, bebunyian klakson.
Ada pula yang ber-tas-kan karung di punggungnya. Besi melengkung menjadi senjatanya menyusuri jalanan, pekarangan rumah, memunguti plastik, koran, perabotan bekas. Terkadang beberapa yang nakal tak peduli bila perabotan itu masih dipakai, baju di jemuran yang menunggu kering. Mereka gelap mata, kalap. Dilolosnya perlahan-lahan, diambilnya, dimasukkan ke dalam karung. Sebuah pencurian.
Perut berdendang nyaring. Melapar minta makan. Tubuh menggigil sering. Kedinginan minta pakaian. Hujan datang terik meradang. Sebuah hunian menjadi tuntutan.
Tidaklah heran bila kereta yang saya lewati menjelang stasiun itu seperti enggan beranjak. Di kanan kirinya mereka yang terpinggirkan bermukim. Besi-besi pembatas permukiman dan rel malah dijadikan bagian dari dinding rumah. Ada pula yang menyampirkan celana dalam, kutang berenda di batang-batang bergaris biru putih itu. Terpal biru dipasang pula pada besi-besi itu, dengan penyangga direntangkan sampai ke pinggir rel begitu dekat merangkul kereta-kereta yang datang.
Wajah kota ini pada sisi yang sebelah sini bopeng. Seng-seng silang sengkarut di bawah kabel-kabel listrik yang tak kalah semrawut. Ada bekas layangan di kabel dengan benang pendek yang menjuntai berkibaran. Angin membawa aroma selokan yang tak sedap, berpusaran mampir di dapur. Ganti aroma ikan asin sisa kemarin yang digoreng lagi.
Makan, kami ingin sekedar makan. Protein karbohidrat vitamin lemak nabati hewani apa itu? Hanya makan cukup sekedar makan. Susu kopi teh, ah, air putih yang bersih di gelas kotor kami pun cukup.
Penumpang kereta belum lagi bangun dari tidurnya ketika satu per satu dari mereka naik. Botol air mineral yang sudah kosong disambar. Koran bekas alas tidur yang lusuh dikumpulkan. Sebuah sapu menjadi senjata untuk membersihkan kolong kursi tanpa diminta. Akhirnya tanpa diminta pula tangannya menengadah di depan dada mengharapkan receh.
Tak lupa, malamnya ketika kantuk beranjak datang menghampiri mengajak ke alam mimpi suara-suara itu juga terdengar. “Lanting-lanting! Aqua-aqua! Kopi, susu, jahe anget! Popmi-popmi!†Bercampur-campur bersatu diaduk dalam kereta yang pengap itu.
Mereka menumpang dari stasiun ke stasiun. Menjajakan makanan ringan, air mineral bahkan barang kerajinan dari batok kelapa di atas gerbong kereta. Beberapa penjaja buku kumpulan doa juga tidak ketinggalan ikut berpartisipasi dalam hingar bingar malam beranjak pagi.
Istirahat tak pernah menjadi beban pikiran. Asal bisa berbaring di peron stasiun pada bangku-bangkunya. Di lantai beralaskan koran atau kardus bekas, berselimut sarung dekil. Mereka bau, stasiun bau, toilet bau. Bau mereka adalah perjuangan untuk makan, demi pakaian dan tempat berteduh dari hujan.
Mereka yang hidup dari sisa-sisa, beralaskan bumi dan beratapkan langit. Mereka kaya usaha namun miskin hasil. Mereka yang perutnya berdendang nyaring, melapar minta makan. Tubuhnya menggigil sering dan kedinginan minta pakaian. Bila hujan datang terik meradang, diidamkan sebuah hunian yang menjadi tuntutan. Mereka di sana tidak jauh, dekat dengan kita.
Kesempatan tidaklah sama pada masing-masing kepala. Seseorang masih bisa melihat matahari hari ini, esok hari siapa yang tahu? Kelak biarlah menjadi kelak, bahkan mungkin berani bermimpi akan lama dipikir dulu. Sebuah masa yang tidak panjang, seumur perut yang minta diisi itulah yang dipikirkan.
Sungkem
Oct 8th
Selalu dalam Idul Fitri sungkem saya lakukan kepada kedua orang tua, sesepuh pinisepuh, tetangga dan kerabat di kampung. Rumah nenek dan cerita-cerita dari sana pun menyeruak perlahan.
Haru, kadar haru dari tahun ke tahun berganti, berubah. Satu waktu saya pernah berkaca-kaca setelah bersimpuh kepada Bapak dan terutama Ibu. Segala salah, harapan maaf menemu pelabuhannya, dilarung dalam hari itu, pada menit dan detik ketika saya bersimpuh.
Kemarin, cerita berganti lagi. Bersimpuh begitu biasa tak ada yang istimewa. Kekanakan di antara kami malah mengemuka. Berebutan kamar mandi, mandi bergiliran. Mematut diri berlama-lama di depan cermin, mencoba baju baru. Cermin yang satu itu pun harus menderita. Kami berdesakan, dorong-dorongan di depannya. Syukur tak sampai menyenggol, pabila pecah, kami jualah yang akan celaka.
Makan pagi setelah sebulan tidak melakukannya juga menyita waktu tersendiri. Suapan perlahan, kunyahan lambat-lambat dan menikmati setiap butiran yang melewati kerongkongan. Rasa, barangkali adalah ketika makanan masuk ke mulut, melewati lidah dan melampaui kerongkongan. Setelahnya, entahlah kecuali ketika kita bertemu lagi esok hari dalam bentuk lain saat kita jongkok.
Pendek kata, persiapan di pagi lebaran itu lebih menyita waktu dari tahun kemarin. Tamu, tetangga sudah berdatangan, sementara kami anak-anak belum lagi sungkem kepada kedua orang tua. Haru, dibentuk oleh satu di antaranya suasana. Saat saya sungkem, ruang tamu sudah ramai dengan tetamu; ada malu, sedikit tergesa dan haru pamit enggan tinggal. Jadilah saya sungkem sekedar sungkem, bersimpuh, mengatakan sepatah dua kata sekedar formalitas.
Berkeliling tetangga satu kampung menjadi ritual setelahnya. Orang-orang tua akan berdiam di rumah. Mereka yang muda datang, sungkem pun dilakukan di masing-masing rumah. Di jalan antara rumah-rumah itu yang muda saling bertemu, gelak tawa, candaan lama mengudara.
Teman satu angkatan dulu di kala SD, seteru abadi sepak bola di sawah pinggir desa bertemu lagi. Bersua dalam tawa; berjabat tangan erat dan lama. Sebuah kisah cinta masa kanak tak ketinggalan ikut menggoreskan cerita. Sekadar cinta kebantinan yang tidak terungkap dan sengaja dipendam bersemi lagi. Terasa hangat.
Sobat yang dulu ingusnya berleleran di hidungnya kini sibuk mengelap ingus di hidung anaknya yang balita. Gadis kecil manis yang dulu biasa mandi besama di kali sedang mengandung; menjadi gendut, namun entah kenapa malah terlihat cantik. Cerita berganti episode, pelaku memainkan lakon yang berbeda. Mereka orang yang “itu†juga meski mengabarkan kisah yang bukan lagi “ituâ€.
Dulu saya akan berbagi cerita tentang film kartun kemarin sore dengan mereka di tengah guru mengajar kata menggabung kalimat. Saat itu rautan pensil bercermin akan ditaruh; diselipkan di tali sepatu dan ditelusupkan di bawah rok merah SD teman sekelas yang sedang berjalan. Waktu itu, pulang mengaji di musholla saat senja beberapa teman akan menghilang berpasang-pasangan entah ke mana.
Kini teman saya disibukkan dengan bermacam hal. Sebagian masih suka begadang membanting kartu berteman berbatang rokok dan bergelas kopi. Ada yang mengutuki siang dan mendendam malam atau menikmati waktu berjalan dengan menganggur. Keluarga kecil baru saja terbentuk dan sepertinya bulan madu tak kunjung selesai membawa kemesraan ke mana saja. Dua atau tiga orang anak usia balita mewarnai hari sebagian di antara sahabat. Celoteh, tawa dan tangis anak-anak mereka membawa tawa juga sedih di wajah orang tua.
Rumah kakek minus nenek yang telah tiada adalah saksi kemanjaan. Sebuah liburan yang pasti menyenangkan hampir selalu dihabiskan di sana. Tak perlu belajar, tak ada pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan esok hari. Saat pamit diselipkan selalu lembaran-lembaran rupiah tak berapa banyak, namun cukup mengembangkan tawa dan cahaya binar di wajah. Bila rumah orang tua seperti penjara karena disiplin ketat yang coba diterapkan, maka rumah kakek adalah tempat melarikan diri sekedar pelesir sebentar.
Kini tidak lagi menyenangkan berbincang dengan kakek, paklik dan bulik. Rasanya kok tidak nyambung saat memperbincangkan apapun. Saya tidak mungkin berbicara tentang blog sementara kakek sibuk dengan urusan tanaman tembakau, bulik dengan urusan susu anaknya yang makin mahal dan baju barunya yang ternoda terkena tumpahan opor. Akhirnya, sibuk sendirilah saya mendengarkan semua suara mereka. Bebunyian itu, sibuk keluar masuk telinga.
Meski begitu, selalu ada kerinduan saat saya kembali ke sana. Selain kemanjaan dan kelonggaran yang berlimpah ruah didapat. Cerita mendiang nenek tentang burung pembawa kabar kematian masih jelas teringat di benak. Hikayat seorang pemuda yang digoda wanita jelmaan ular dan bisa menang dengan membaca ‘ayat kursi’ masih suka membikin takjub. Kakek lain lagi, dunia pesantren dengan puasa; laku dan kejadian-kejadian ajaib di sana juga mewarnai kisah. Pak Lik mengenalkan khasanah musik melalui raungan gitar personel ‘Metallica’, ‘Sepultura’, ‘Iron Maiden’ dan kawan-kawannya. Bu Lik membagi rahasia tentang cintanya yang disembunyikan dari kakek dan nenek.
Dalam sehari itu, berawal dari sungkem waktu kembali ke masa lalu. Saya setuju dengan Sapardi bahwa mudik tidak berhubungan dengan tempat namun asal muasal, puak dan berkumpulnya balung pisah. Tapi beberapa hal di masa lalu menyeruak karena berawal dari tempat seperti rumah kakek saya itu.
Dalam sehari itu, berawal dari sungkem kembali teringat kata Goenawan Muhammad, “… nostalgia tak pernah berasal dari kebencian. Ia menggerakkan kembali sesuatu yang hangat, sayu, berarti—seperti cinta lama….†Pun kata Aulia Muhammad, “seperti juga kenangan, adalah temali yang menjaraki harapan dan kenyataan, juga masa silam.“ Masa lalu memang tempat terjauh yang bisa dikunjungi seperti kata Ghazali tetapi bukan berarti tidak mungkin kita menyambanginya sesekali, meski mungkin hanya sekali.
Suci September
Sep 30th
Tak nyenyak tidur
Terbangun sahur
Banyak tafakkur
Mengucap syukur
Menahan nafsu
Perut ngilu
Lidah kelu
Nafas Bau
Bulan ini suci
Menahan diri
Sucikan hati
Dengarkan nurani
Sudahkah?
Benarkah?
Terjadikah?
Sudah?
Ada yang menang
Tabuh genderang
Bertakbir lantang
Semena mengekang
Berebut zakat
Menjadi mayat
Menahan syahwat
Menjadi penat
Bulan ini suci
Menahan diri
Sucikan hati
Dengarkan nurani
Sudahkah?
Benarkah?
Terjadikah?
Sudah?
__________
Selamat Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Toko, Obat dan Pil
Sep 19th
Wajah-wajah penuh harap di sebuah toko. Pegawai sibuk ke sana ke mari memenuhi pesanan; mengambilkan obat yang dikehendaki oleh pelanggan. Bos perempuan yang bertubuh gempal; berkoyo di dahinya sibuk menghitung harga obat, menerima uang, mengangsurkan kembalian dan memasukkannya baik-baik ke dalam laci.
Sebuah toko obat menjelang buka puasa. Setiap pelanggan ingin bersicepat dilayani. Menyebutkan nama obat-obatan yang aneh. Sebagian sambil meringis menahan sakit dan secepatnya butuh penawar. Sebagian yang lain diliputi khawatir mengingat si sakit di rumah yang mungkin sedang mengerang-erang.
“Obat diabetes yang mana, Pak?†Tanya pemilik toko; tersenyum.
Sambil mengernyit, seorang pelanggan, bapak-bapak setengah baya menyebutkan merk sebuah obat. Entah merasakan sakit atau memikirkan harga obat yang demikian mahal kernyitan itu harus diartikan. Lagi-lagi pemilik toko tersenyum.
Di rak-rak berbingkai kaca dan trasparan; terlindung di balik kaca berderet berbotol-botol obat dan minyak telon. Dalam kardus-kardus, tablet obat-obatan tersembunyi, satu per satu menunggu disentuh, dipilih-pilih untuk kemudian diambil.
Di sebelah bawah, deretan perlengkapan bayi mulai dari bedak sampai dengan minyak kayu putih. Semakin ke atas kian beragam jenis obat yang ada. Di rak paling atas, jauh dari jangkauan adalah beraneka ragam merk kondom. Kenapa ditaruh di atas?
Seluruh kebutuhan si sakit, sebisa mungkin dipenuhi oleh pemilik toko yang dibantu oleh pelayan-pelayan yang bergerak tangkas. Sakit gatal gara-gara jamur di antara jemari kaki, panu, kadas, kudis, kurap semua ada solusinya. Tetes mata beraneka macam, ada pula tetes hidung, tetes telinga. Pendek kata semua penyakit yang hinggap di tubuh ada penawarnya. Tak hirau di luar pada permukaan kulit atau di dalam tubuh seperti jantung, ginjal dan kadar gula darah. Tidak peduli tubuh itu seorang bayi, anak muda, orang dewasa bahkan lansia berusaha menemui penyembuh di toko ini.
Benarkah penyembuh? Bukankah sakit dan sehat sudah ada yang mengatur? Setidaknya begitu yang saya percayai. Obat hanyalah sekedar perantara, uluran tangan pembawa kasih Tuhan, penanda ikhtiar; usaha si sakit untuk memperoleh kesembuhan. Hasil akhir tak pernah bisa diketahui. Ada garis nasib yang tidak mungkin ditolak.
Akhirnya, sebuah obat murah bisa jadi membawa kesembuhan. Tak jarang bermacam obat dengan harga selangit bahkan tanda membaik pun tidak tercapai. Tetapi harapan, barangkali boleh digantungkan di antara pil-pil yang ada, tablet-tablet penyambung kehidupan, penawar gatal di kulit dan pedas di mata.
Beberapa membawa resep dari dokter. Tulisan cakar ayam yang sukar dibaca menerangkan obat apa yang harus ditebus. Selembar resep mungkin boleh diganti dengan berlembar rupiah. Tetapi penyakit tidak berhubungan dengan harga, bukan?
Penyakit menahun menyebabkan pembeli hapal obat apa saja yang harus dibeli, mereka mengandalkan kekuatan daya pikir, hapalan. Ibu saya lain lagi, beliau menggunakan pengalaman. Obat sakit kepalanya bermerk “Aâ€, tatkala batuk, biasa sembuh bila minum obat “Bâ€. Kemarin, saya membeli obat batuk yang disarankan oleh teman saya seorang dokter. Saat menyerahkan obat itu kepada Ibu beliau bilang, “Ah, kok sing iki, ra biasa aku.â€
Berat hati Ibu meminumnya, “Yowis, ra popo etung-etung obate anak lanang.†Saya dan adik-adik harus mengawasi, sedikit memaksa sampai Ibu mau meminumnya. Sekali waktu ingin peduli ternyata sedikit kurang tepat.
Obat seperti jodoh, konon begitu juga dengan dokter. Melalui cek dan ricek, memerlukan waktu sampai dengan ditemukan obat dan dokter yang sesuai yang pas di hati.
Di antara obat dan peminumnya saling memberi, bukan?
Obat berkorban tubuhnya untuk diminum, cairan pindah ke perut, pil-pil melewati tenggorokan, tablet-tablet menyangkut di pangkal lidah. Tetes demi tetes cairan bening membeningkan mata melegakan hidung menjernihkan telinga.
Peminumnya atau bisa juga keluarga peminum tidak hanya berpangku tangan. Ada lembaran-lembaran uang yang menjadi penebus; tiap tetes cairan tiap butiran pil tiap lempengan tablet. Banting tulang dan mandi keringat bukanlah halangan demi kesembuhan dari penyakit; sedikit waktu lebih lama untuk bertahannya nyawa.
Sekali waktu, ada yang bilang, “Sugesti kepada si sakit itu lebih penting, lho.†Senyatanya tidak sepenuhnya salah pernyataan ini. Beberapa teman dokter berkata, “Seorang yang sakit cukup diberikan vitamin dan diberikan sedikit sugesti.†Eh, lah kok besoknya si sakit ini sudah baikan. Apakah khasiat obat ataukah kekuatan sugesti?
Nah, kemudian apa manfaat dari rasa buah-buahan yang ada pada sebuah kondom? Ribet amat, yak? Hehehe.


