Dua orang itu sudah sama sepuh. Sejak 1960-an mereka sudah mengarungi lautan Jakarta. “Waktu itu belum seramai sekarang. Rumah saja masih beberapa, kebanyakan, mah, kebon.” Ujar Sang Bapak bernostalgia.
Bapak itu sehari-hari kalau pagi menjadi tukang ojek. Kalau siang entah apa lagi kesibukannya, saya pun kurang paham dan enggan bertanya.
Sekali waktu, pernah juga saya meminta bantuannya untuk menutup lubang angin di atas jendela. Lubang itu memang harus ditutup agar AC dapat bekerja dengan baik dan air hujan tak masuk ke dalam rumah.
Simbah, ya, istri Sang Bapak rasanya yang lebih berperan. Bila pagi ia menjual lontong sayur dan gorengan dibantu oleh putri bungsunya. Tak hanya itu, Simbah pun menyediakan galon air minum dan gas tiga kilogram.
Di tempat Simbah itulah, saya biasa membeli galon dan gas. Juga manakala Chinta tak masak, saya akan mencari lauk, nasi uduk atau lontong sayur ke sana.
Memang agak janggal kenapa Sang Suami dipanggil ‘Bapak’ sementara Si Istri dipanggil ‘Simbah’. Awal mulanya bagaimana saya pun tak tahu. Namun begitu, kalau menilik fisiknya, memang Simbah terlihat lebih tua.
Gigi sudah tanggal dari gusi, hanya menyisakan rongga mulut yang kosong, ompong. Hal lain yang terjadi, ia pun lebih suka menyebut dirinya sendiri dengan ‘Simbah’.
Pernah satu waktu, barangkali karena sudah malam, saat saya membeli galon ia keliru memberikan uang kembalian. Saya pun memberi tahu beliau, dan saat yang sama saya juga mengungkapkan kekhawatiran, mana tahu bila pagi dan banyak orang membeli sayur—sebuah hal yang sering terjadi—beliau juga salah memberikan kembalian kepada para pembeli itu.
Kawan, tahukah apa jawaban Simbah atas pertanyaan saya itu? Ia berkata, “Simbah memang sudah tua, sering salah, hehe. Tapi tak apa, kalau pagi itu, mereka yang beli baik, kok, selalu memberi tahu kalau Simbah salah kasih kembalian.”
Terkadang dalam doa ketika menghadiri perkawinan atau menulis ucapan di kado kita akan berkata, “Semoga bisa langgeng sampai kakek-kakek dan nenek-nenek.” Rupa-rupanya tak harus selalu begitu, kadang bisa juga seperti ‘Simbah dan Bapak’ yang selalu rukun dan bahu-membahu menjalani dan mengisi hari-hari tua mereka.

