melintas batas
pintu jiwa
Kacang
Aug 11th
Ojo koyo kacang lali lanjarane
Pepatah jawa di atas, mempunyai padanan dalam Bahasa Indonesia, yaitu: kacang jangan lupa kulitnya. Mutiara kata dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia itu, seenaknya dinegasikan oleh John Dilinger dengan mudah. Ia tidak peduli lagi pada asal. Tujuanlah yang menjadi titik penting dalam hidupnya.
Maka, bukanlah hal yang aneh manakala ia tidak peduli statusnya sebagai musuh masyarakat. Tak juga ia hirau pada profesinya sebagai perampok bank.
Dengan penuh percaya diri, ia lamar Billie, seorang petugas penitipan jaket di club, di mana John biasa menghabiskan waktu senggangnya. Ia jujur pada Billie siapa dia sebenarnya, apa kesukaannya, bagaimana profesinya dan potensi apa yang dimilikinya.
Karena tujuan yang menjadi titik penting bagi John, maka ia pun berani menjanjikan kehidupan bahagia bersama Billie suatu saat nanti. Ia lupa fakta bahwa dirinya menjadi incaran polisi yang sewaktu-waktu bisa terbunuh.
Atau, apakah memang kematian sebenarnya tujuan John sejak semula? Barangkali yang lebih tepat adalah John sadar sepenuhnya, bahwa selain mimpi yang digantungkannya setinggi awan bersama Billie, ada pula pintu lain yang menganga menantinya, itulah pintu kematiannya.
Inilah mungkin yang bisa membantu kita mengerti saat John membisikkan sederetan kalimat, justru kepada pembunuhnya yang dengan telengas telah menembakkan pistol ke tengkuk John. Dia perlu meminta bantuan polisi pembunuh itu, karena kata-katanya untuk Billie sudah tidak mungkin diucapkannya sendiri. “Bubye Blackbird.” Sebuah kalimat pendek, namun menghujam begitu dalam di lubuk hati Billie.
Persis, hanya John dan Billie yang tahu apa makna kata-kata terakhir itu. Pudarnya mimpi, hancurnya harapan, merepihnya asa. Semua hanya bisa dikira-kira saja, yang jelas, air mata berlinang di pipi Billie, sementara mulutnya terkatup rapat tak ada jerit, desah pun isak. *
***
Suatu malam, ketika saya wara-wiri di facebook, tiba-tiba seorang teman menyapa.
“Ke mana tujuanmu?”
“He….”
“Ke mana tujuanmu?”
“Ke hari esok.”
“Ke mana, bukan kapan.”
“Err…besok mau ke kantor pagi-pagi.”
“Lantas, ke mana lagi?”
Saya bukan jengkel, tapi seperti asal menjawab, “Ke tanah di bawah pohon Kamboja.” Percakapan melalui layanan chating di facebook itu, tak hanya terhenti sampai di situ. Mengikuti kemudian di belakang serangkaian tanya jawab yang panjang.
Sungguh, tak pernah mengira saya akan mendapat pertanyaan semacam itu. Iseng-iseng, saya pun membalasnya dengan pertanyaan serupa, “Ke mana tujuanmu?”
Dia dengan enteng menjawab, “Aku tak tahu, maka aku tanyakan padamu.”
Sial betul ini orang, saya kira dia sedang menguji saya dan nantinya akan memberikan jawaban yang benar. Ternyata dia benar-benar bertanya. Dan jujur, saya tak puas dengan jawaban saya. Seperti ada yang salah tapi nampaknya benar dari jawaban itu. Bukanlah jawaban yang salah, namun juga tidak tepat sekali. Wagu, Nampaknya kata yang pas, meski saya tak temukan jawaban yang pas untuk tanya itu.
“Apakah Anda tahu, sobat, ke mana sebenarnya tujuan akhir langkah kaki kita ini?”
***
Agustus, identik dengan parade, akrab sama karnaval. Tapi, deretan tiga buah kematian besar dalam satu minggu bukanlah hal yang sering terjadi.
1/
Ia meluncur seperti komet, bintang berekor yang nampak sekilas kemudian hilang. Meskipun terangnya, memahat harapan mereka yang melihatnya. Dan sayup tawanya masih jelas bisa kau dengar, bukan?
2/
Ia adalah kehadiran. Presence. Tak perlu ia berkata-kata, namun aura dan kharismanya melingkupi segala sesuatu. Bahkan setelah kematiannya, ia nampak masih seperti mengepakkan sayapnya yang puspa warna, bagaikan burung Merak.**
3/
Entah ia siapa, identitasnya masih ragu-ragu dan menunggu. Kendati begitu, ia senang bermain-main dengan malaikat maut yang sabar menarik-ulur nyawanya, bahkan sampai tujuh belas jam. Tidaklah di tengah kemegahan hotel dan restoran mewah ia terbujur. Namun di kakus, di jamban ia tergeletak. Anyir darahnya bercampur dengan pesing dan bau tahi, yang menguar, mencemarkan harum tembakau dan semilir angin di pinggang bukit.
***
Saya masih tak tahu, tak juga paham ke mana akhir langkah kaki ini. Barangkali selama hayat masih dikandung badan, masih kuat melangkah meski setapak, rasa-rasanya akan terus maju.
Semoga tawa: Ha Ha Ha Ha akan sering dijumpai pertanda bahagia. Berharap agar jalan terjal dan manakala harus berjuang sebagai pelaksanaan kata-kata tak terlampau sukar ditempuh. Barangkali saat tiba masa istirahat, bisa menjadi saksi aroma tembakau yang harum, pipi gadis gunung yang ranum dan embun, yang tergelincir jatuh dari pucuk daun ke lanjaran-lanjaran kacang. ***
*) film public enemies
**) email dari pejalan jauh
***) asal kata dari ‘kacang lanjaran’ yang sama dengan ‘kacang panjang’
Nyanyian Warna
Jul 14th
Anak kecil yang berjalan itu tak perhatikan langkahnya. Dibiarkannya kaki melangah tak hirau walau kadang terantuk batu. Kepalanya menengadah memandang ke langit.
Tak pelak, serangkum kekaguman melanda dirinya. Sejauh mata memandang hanyalah biru yang bersih. Lain saat, ketika pandangannya kembali diarahkan ke langit, tak hanya biru yang nampak, melainkan juga putih warna awan-awan. Waktu berbeda, awan yang sama menawarkan warna lain. Kelabu beranjak hitam, mengabarkan mendung walau tak selalu berarti hujan.
Bertahun kemudian, dia membaca sebuah buku dan tahulah kenapa awan berwarna kelabu. Seperti tertera pada buku itu: Jalil pernah memberi tahu Mariam, bahwa awan kelabu mendapatkan warnanya karena begitu tebal sehingga bagian atasnya menyerap cahaya matahari dan meneruskan bayangannya ke bagian dasarnya. (A Thousand Splendid Sun)
Liburan datang, darmawisata diadakan. Laut dan pantai menjadi tujuannya kini. Manakala dia dududk di pantai kembali nyanyian warna yang dia lihat. Kebiruan laut yang membentang sampai ke batas antara laut dan langit. Kehitaman pasir yang menelusup di jemari kakinya; membuat geli. Warna-warni terpal pedagang di tepi pantaiyang tak jauh dari jalan pun tak luput dari perhatiannya.
Semenjak itu, waktu entah kapan dia tak lagi ingat, tercetak jelas dalam pikirannya. Tergambar begitu rupa tak hendak lepas dari benaknya. Ihwal warna.
Ini mengenai selera. Maka, ketika dia beranjak besar mulai diketahuinya makna-makna warna. Dan, warna biru yang melabur langit begitu bersih tak pernah membuatnya risau. Detik itulah saat dia memutuskan warna kesukaannya.
Pengetahuan sedikit demi sedikit didapatnya. Takjub tak juga mengenal kata mandek ketika dia mengetahui perihal warna dasar: merah, hijau, biru. Pula, saat didapatnya pengertian mengenai jingga, kuning, ungu, sebagai hasil padu-padan warna-warna primer. Bahkan, kemudian muncul pula kesadaran bahwa kemungkinan tak juga mengenal tanda titik saat berkenalan dengan pink, merah maroon, biru donker, hijau daun.
Saat dia berjalan, senandung warna itu pun mulai terdengar. Sesekali mengalun dengan sempurna saat gradasi warna mata tertangkap bola matanya. Namun lebih sering bunyi yang acak karena tak bisa diaturnya komposisi warna jagat raya.
Satu hal yang dia ketahui dan tak hendak berubah, bahwa warna-warni lebih lengkap dan indah ketimbang hanya ada sebuah warna saja. Ibarat sebuah lagu yang terdiri dari sebuah nada, apa menariknya?
Maafkan Dendam
Jul 4th
most people who seek blood they get it, but you always have a choice (wolverine the origin)
Dendam, mimpi dan cinta, ketiganya memiliki kekuatan yang sama untuk mendorong seseorang mencapai tujuan. Entah dari mana kekuatan tersebut berasal, namun meski tak selalu tujuan tercapai banyak yang rela melakukan berbagai hal atas nama ketiga kekuatan itu.
Seperti halnya Wolverine, mula-mula cinta membuatnya tidak terlampau liar. Hidup sederhana bersama belahan jiwanya di pucuk gunung yang tinggi dikelilingi pepohonan Pinus. Mimpinya adalah hidup bersama dengan kekasihnya itu, jauh dari hingar-bingar dunia yang kejam, mengingatkannya pada kawanannya dahulu yang tak segan menghilangkan satu dua nyawa. Cinta dan mimpi itu memang pada mulanya begitu indah, mereka hidup bersama, berdua.
Apa lacur, gerombolannya dahulu tak membiarkan Wolverine hidup dalam kedamaian. Dibuatlah huru-hara dengan cara membunuh kekasihnya. Dendam yang membara di dalam dada tak kunjung hilang bila belum berhasil menghabisi si pembunuh. Maka, ditempuhlah beragam cara untuk lebih kuat, lebih perkasa dari musuhnya.
Menjadi kelinci percobaan sebuah senjata baru pun bukan menjadi masalah yang terlampau rumit. Apa salahnya bila dengan itu dendam bisa dituntaskan, musuh dibunuh?
Di film itu pula kita lihat: peragaan cinta, buaian mimpi dan kekuatan dendam. Persis seperti apa yang dibilang oleh seorang tua pada sebuah adegan, “Mereka yang mencari darah akan mendapatkannya, namun selalu ada pilihan.” Pada akhirnya Wolverine memang menemukan musuh bebuyutannya dan berhasilkah ia membalas dendam? Ah, saya sudah lupa.
Saya teringat manakala seorang teman menulis, Memaafkan karenanya selalu jadi medan penuh ketegangan antara “kebutuhan melupakan”, “naluri mengenangkan” dan “hasrat membayangkan masa depan”. Di sini bila saya boleh menerjemahkannya secara ngawur, memaafkan bukanlah tindak yang diam. Jembatan-jembatan terhubung dengan masa lalu, masa depan pun detik ini ketika memaafkan hendak dilakukan. Bukanlah hal yang rumit sebenarnya, meski tak juga terlampau mudah. Memaafkan kemudian adalah pilihan persis seperti yang dibilang orang tua itu.
Pernah pula seorang teman lain berkata, “Aku memaafkanmu namun tak akan kulupakan.” Apakah boleh seperti itu? Ya, tentu saja boleh. Apa hak saya melarang-larang? Mungkin ketika maaf sudah diberikan namun ingatan tak juga lekang adalah saat sebuah kesalahan begitu besar dilakukan. Dan goresan luka, tertoreh begitu dalam. Tak hendak hilang tak mau pergi.
Urusan maaf-memaafkan ini memang tidak mudah. Kembali ke dendam, banyak cerita silat yang saya baca, film yang saya tonton bermula dari urusan dendam. Satu hal yang bisa saya garis bawahi, dendam tak pernah berhenti. Satu generasi akan diturunkan kepada generasi berikutnya, demikian seterusnya. Capai? Ya barangkali hanya keletihan yang menjadi muaranya. Namun tanyalah kepada mereka yang mendendam, apakah lelah, apakah letih akan menjadi penghalang?
Teringat kemudian sebuah email berantai yang pernah saya terima entah kapan. Berisi cerita seorang anak yang diminta oleh ayahnya memaku pagar di depan rumahnya. Paku-paku itu menancap begitu kuat di pagar. Setelah habis seluruh paku dalam genggaman, ayahnya meminta agar satu per satu paku itu dicabut kembali. Paku itu memang telah hilang dari pagar, namun bekas-bekas tusukannya masih ada di sana, terpampang jelas di tubuh pagar. Sang ayah kemudian menjelaskan, bahwa ketika sebuah luka tercipta di hati seseorang, tak mungkin bisa dihilangkan. Meski sejuta maaf, beribu sesal sudah diucapkan….
Aku Pulang
Jun 29th
“Aku kan pulang ke rumah segera, karena aku pun sangat mencintaimu.”
Hari berganti lagi, siang datang malam menjelang. Sendiri, itu kata yang pas. Tak hanya kata, namun sebenarnya terjadi. Hanyalah raga yang berjalan, karena telah kutinggalkan hati dan rasaku saat aku meninggalkanmu pagi itu.
Suatu malam di jalan ketika kukemudikan perlahan mobilku. Tak ada yang terpikir olehku selain kemacetan yang membuatku penat. Kuhitung jarak, masih setengah jalan ke rumah. Kulirik jam digital yang berpendar kehijauan di dashboard, 09.10 waktu yang ditunjukkannya.
Kurasakan getaran lembut di saku hem biru mudaku. Sebuah panggilan menyapa handphoneku. Tak tergesa kuambil hape dan melihat siapa yang menelepon. Di layar kecilnya kulihat ‘home’. Sambil bertanya-tanya, tak segera kutekan tombol di bawah tanda ‘answer’. Ada apa batinku, sehingga dia perlu menelepon? Padahal kupikir pastilah dia telah tertidur.
“Sayang, ini sudah malam. Apakah semua baik-baik saja?”
Tak ada jawaban yang terdengar, hanya diam yang melingkupi mobil. Memang saat itu tidak radio tak juga tape kunyalakan. Dengung lembut AC sedikit bisa kudengar, sampai sebuah suara, suaranya terdengar.
“Aku sayang kamu, entah kenapa aku sayang. Kapan kamu pulang?”
“Aku pun sayang kamu, aku tiba di rumah sebentar lagi.”
Kemudian diam lagi dan kembali kesendirian menyergapku. Namun, dia telah membebaskanku. Kupejamkan mata dan aku bermimpi tentangnya. Dia jauh, tanganku tak bisa memeluk dan mendekapnya. Kendati aku tahu benar seluruh tubuhnya, dirinya, memenuhi rongga-rongga di hatiku. Seulas senyumku saat kembali kuingat bisiknya dalam gelisah.
“Aku sayang kamu, entah kenapa aku sayang, kapan kamu pulang?”
Ah, macet ini memperlambatku. Tak sabar kuingin segera mendekapnya. Walaupun macet ini tak kuasa hentikan kagumku. Padanya gadis kecil empat tahun, anakku. Dia yang tahu benar apa yang perlu dikatakan untuk membuatku kembali hidup, bersemangat dan tak sendiri.
“Aku pun sayang kamu, aku tiba di rumah sebentar lagi.”
Dan, semoga belum terlambat untuk membacakanmu cerita, nyanyikan lagu pengantar tidur.
“Five For Fighting-I Just Love You”




