Di Tengah Kepemimpinan dan Kemesraan Rasul

Kebetulan pengantar tidur siang saya pada Selasa, 15 Februari 2011 kemarin cukup bermutu. Yaitu diisi dengan mendengarkan pengajian dari Ustadz Zainuddin MZ.

Tema pengajian itu adalah mengenai bagaimana kita meneladani Rasulullah. Tema yang pas dalam rangka memeringati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Saya sudah sedikit terlambat dalam mengikuti acara tersebut. Namun syukurlah karena masih sempat mengikuti bagaimana peserta pengajian mengajukan berbagai pertanyaan kepada Ustadz.

Di antara pertanyaan tersebut adalah menyangkut kepemimpinan dan dalam hubungan suami istri. Sebagai seorang pemimpin, Rasul didukung oleh beberapa unsur, yaitu: Orang tua yang bijak dalam diri Abu Bakar As Shiddiq. Selanjutnya jenderal dan sosok yang berkuasa pada Umar bin Khattab. Selain itu, ada pula pengusaha yang dermawan pada diri Usman bin Affan. Dan terakhir, Continue reading “Di Tengah Kepemimpinan dan Kemesraan Rasul”

Di Perjalanan Hari

Kita tak pernah tahu akhir sebuah hari….

Manakala pagi hadir di hari baru, hal yang sering saya perhatikan adalah status teman-teman baik di mukabuku maupun twitter. Dari sekadar ucapan, “Selamat Pagi,” sampai dengan status yang berima semacam, “Kamis, menangis; Rabu, kelabu; Minggu, merindu.” Selain itu, tentu saja masih banyak yang lain.

Saya perhatikan, selain ucapan salam banyak juga yang menaruh harapan di pagi itu. Hal ini ditandai dengan kata-kata, “semoga” yang berada di awal status.

Hari yang baru, pagi baru, matahari baru, benarkah baru? Continue reading “Di Perjalanan Hari”

Di Tengah Upaya Mencuci

….mencuci bokong sendiri tentu mudah bersih, tapi bagaimana kalau kotoran itu menempel pula ke orang lain. susah payahlah kau membersihkannya…

Entah dari mana ide itu datang, tapi serangkai kalimat itu memberi inspirasi kepada saya untuk menjadi pembaharu status saya di jejaring Facebook. Sesuatu yang keluar dari tubuh kita, macam-macam bentuknya: ada yang padat, cair dan gas. Kalau kata-kata itu, apa bentuknya? gaskah? Atau padat? Yang pasti, kata-kata yang tidak baik dan memicu kemarahan liyan bolehlah disamakan dengan kotoran.

Seperti sudah tertulis, seandainya kotoran itu di bokong sendiri, tentu sudah piawai kita membersihkannya. Namun, bagaimana bila kotoran itu nyiprat ke orang lain dan orang tersebut marah pada kita? Apa iya kita akan mengelus tubuh orang itu dan membersihkannya?

Atau boleh juga kita melakukan sesuatu yang berbeda, yakni mengeluarkan kotoran lain yang tak bau dan njijiki tapi malah wangi. Sontak, seorang teman akan menukas saya, “Apa itu mungkin, Goop?”

Baiklah itu memang tidak mungkin, jadi upaya itu sia-sia saja. Begini, biarpun kotoran itu sudah hilang. Namun malu itu, marah dan tersinggung itu, seperti lubang-lubang bekas paku di kayu. Lubang yang tersisa selepas paku-paku itu dicabut. Lubang itu tak hendak hilang, ia di sana termangu dalam kemarahannya. Mungkin, marah itu bisa meledak dan meretakkan kayu, siapa yang tahu?

Saya pun selalu ingin diingatkan dengan upaya memasang deretan kata dari Rumi berikut ini di sidebar, “Kata-kata mengalir dari lidah manusia sesuai dengan batas ukuran dan kemampuan yang dimiliki manusia. Kata-kata kita, bagaikan air dialirkan oleh penjaga pengairan. Air akan mengalir sesuai keinginan sang penjaga. Air tidak mengetahui ke ladang mana atau tempat mana ia akan dialirkan.” Pada saat air itu sudah mengalir, maka tak dapat ditarik lagi. Bayangkan bila air itu adalah air bah yang kotor dan membawa petaka. Tentu air itu akan dikutuk oleh korban atau ia yang dirugikan.