Kacang

Ojo koyo kacang lali lanjarane

Pepatah jawa di atas, mempunyai padanan dalam Bahasa Indonesia, yaitu: kacang jangan lupa kulitnya. Mutiara kata dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia itu, seenaknya dinegasikan oleh John Dilinger dengan mudah. Ia tidak peduli lagi pada asal. Tujuanlah yang menjadi titik penting dalam hidupnya.

Maka, bukanlah hal yang aneh manakala ia tidak peduli statusnya sebagai musuh masyarakat. Tak juga ia hirau pada profesinya sebagai perampok bank.

Dengan penuh percaya diri, ia lamar Billie, seorang petugas penitipan jaket di club, di mana John biasa menghabiskan waktu senggangnya. Ia jujur pada Billie siapa dia sebenarnya, apa kesukaannya, bagaimana profesinya dan potensi apa yang dimilikinya.

Karena tujuan yang menjadi titik penting bagi John, maka ia pun berani menjanjikan kehidupan bahagia bersama Billie suatu saat nanti. Ia lupa fakta bahwa dirinya menjadi incaran polisi yang sewaktu-waktu bisa terbunuh.

Atau, apakah memang kematian sebenarnya tujuan John sejak semula? Barangkali yang lebih tepat adalah John sadar sepenuhnya, bahwa selain mimpi yang digantungkannya setinggi awan bersama Billie, ada pula pintu lain yang menganga menantinya, itulah pintu kematiannya.

Inilah mungkin yang bisa membantu kita mengerti saat John membisikkan sederetan kalimat, justru kepada pembunuhnya yang dengan telengas telah menembakkan pistol ke tengkuk John. Dia perlu meminta bantuan polisi pembunuh itu, karena kata-katanya untuk Billie sudah tidak mungkin diucapkannya sendiri. “Bubye Blackbird.” Sebuah kalimat pendek, namun menghujam begitu dalam di lubuk hati Billie.

Persis, hanya John dan Billie yang tahu apa makna kata-kata terakhir itu. Pudarnya mimpi, hancurnya harapan, merepihnya asa. Semua hanya bisa dikira-kira saja, yang jelas, air mata berlinang di pipi Billie, sementara mulutnya terkatup rapat tak ada jerit, desah pun isak. *

***

Suatu malam, ketika saya wara-wiri di facebook, tiba-tiba seorang teman menyapa.

“Ke mana tujuanmu?”

“He….”

“Ke mana tujuanmu?”

“Ke hari esok.”

“Ke mana, bukan kapan.”

“Err…besok mau ke kantor pagi-pagi.”

“Lantas, ke mana lagi?”

Saya bukan jengkel, tapi seperti asal menjawab, “Ke tanah di bawah pohon Kamboja.” Percakapan melalui layanan chating di facebook itu, tak hanya terhenti sampai di situ. Mengikuti kemudian di belakang serangkaian tanya jawab yang panjang.

Sungguh, tak pernah mengira saya akan mendapat pertanyaan semacam itu. Iseng-iseng, saya pun membalasnya dengan pertanyaan serupa, “Ke mana tujuanmu?”

Dia dengan enteng menjawab, “Aku tak tahu, maka aku tanyakan padamu.”

Sial betul ini orang, saya kira dia sedang menguji saya dan nantinya akan memberikan jawaban yang benar. Ternyata dia benar-benar bertanya. Dan jujur, saya tak puas dengan jawaban saya. Seperti ada yang salah tapi nampaknya benar dari jawaban itu. Bukanlah jawaban yang salah, namun juga tidak tepat sekali. Wagu, Nampaknya kata yang pas, meski saya tak temukan jawaban yang pas untuk tanya itu.

“Apakah Anda tahu, sobat, ke mana sebenarnya tujuan akhir langkah kaki kita ini?”

***

Agustus, identik dengan parade, akrab sama karnaval. Tapi, deretan tiga buah kematian besar dalam satu minggu bukanlah hal yang sering terjadi.

1/

Ia meluncur seperti komet, bintang berekor yang nampak sekilas kemudian hilang. Meskipun terangnya, memahat harapan mereka yang melihatnya. Dan sayup tawanya masih jelas bisa kau dengar, bukan?

2/

Ia adalah kehadiran. Presence. Tak perlu ia berkata-kata, namun aura dan kharismanya melingkupi segala sesuatu. Bahkan setelah kematiannya, ia nampak masih seperti mengepakkan sayapnya yang puspa warna, bagaikan burung Merak.**

3/

Entah ia siapa, identitasnya masih ragu-ragu dan menunggu. Kendati begitu, ia senang bermain-main dengan malaikat maut yang sabar menarik-ulur nyawanya, bahkan sampai tujuh belas jam. Tidaklah di tengah kemegahan hotel dan restoran mewah ia terbujur. Namun di kakus, di jamban ia tergeletak. Anyir darahnya bercampur dengan pesing dan bau tahi, yang menguar, mencemarkan harum tembakau dan semilir angin di pinggang bukit.

***

Saya masih tak tahu, tak juga paham ke mana akhir langkah kaki ini. Barangkali selama hayat masih dikandung badan, masih kuat melangkah meski setapak, rasa-rasanya akan terus maju.

Semoga tawa: Ha Ha Ha Ha akan sering dijumpai pertanda bahagia. Berharap agar jalan terjal dan manakala harus berjuang sebagai pelaksanaan kata-kata tak terlampau sukar ditempuh. Barangkali saat tiba masa istirahat, bisa menjadi saksi aroma tembakau yang harum, pipi gadis gunung yang ranum dan embun, yang tergelincir jatuh dari pucuk daun ke lanjaran-lanjaran kacang. ***

*) film public enemies

**) email dari pejalan jauh

***) asal kata dari ‘kacang lanjaran’ yang sama dengan ‘kacang panjang’

Nyanyian Warna

Anak kecil yang berjalan itu tak perhatikan langkahnya. Dibiarkannya kaki melangah tak hirau walau kadang terantuk batu. Kepalanya menengadah memandang ke langit.

Tak pelak, serangkum kekaguman melanda dirinya. Sejauh mata memandang hanyalah biru yang bersih. Lain saat, ketika pandangannya kembali diarahkan ke langit, tak hanya biru yang nampak, melainkan juga putih warna awan-awan. Waktu berbeda, awan yang sama menawarkan warna lain. Kelabu beranjak hitam, mengabarkan mendung walau tak selalu berarti hujan.

Bertahun kemudian, dia membaca sebuah buku dan tahulah kenapa awan berwarna kelabu. Seperti tertera pada buku itu: Jalil pernah memberi tahu Mariam, bahwa awan kelabu mendapatkan warnanya karena begitu tebal sehingga bagian atasnya menyerap cahaya matahari dan meneruskan bayangannya ke bagian dasarnya. (A Thousand Splendid Sun)

Liburan datang, darmawisata diadakan. Laut dan pantai menjadi tujuannya kini. Manakala dia dududk di pantai kembali nyanyian warna yang dia lihat. Kebiruan laut yang membentang sampai ke batas antara laut dan langit. Kehitaman pasir yang menelusup di jemari kakinya; membuat geli. Warna-warni terpal pedagang di tepi pantaiyang tak jauh dari jalan pun tak luput dari perhatiannya.

Semenjak itu, waktu entah kapan dia tak lagi ingat, tercetak jelas dalam pikirannya. Tergambar begitu rupa tak hendak lepas dari benaknya. Ihwal warna.

Ini mengenai selera. Maka, ketika dia beranjak besar mulai diketahuinya makna-makna warna. Dan, warna biru yang melabur langit begitu bersih tak pernah membuatnya risau. Detik itulah saat dia memutuskan warna kesukaannya.

Pengetahuan sedikit demi sedikit didapatnya. Takjub tak juga mengenal kata mandek ketika dia mengetahui perihal warna dasar: merah, hijau, biru. Pula, saat didapatnya pengertian mengenai jingga, kuning, ungu, sebagai hasil padu-padan warna-warna primer. Bahkan, kemudian muncul pula kesadaran bahwa kemungkinan tak juga mengenal tanda titik saat berkenalan dengan pink, merah maroon, biru donker, hijau daun.

Saat dia berjalan, senandung warna itu pun mulai terdengar. Sesekali mengalun dengan sempurna saat gradasi warna mata tertangkap bola matanya. Namun lebih sering bunyi yang acak karena tak bisa diaturnya komposisi warna jagat raya.

Satu hal yang dia ketahui dan tak hendak berubah, bahwa warna-warni lebih lengkap dan indah ketimbang hanya ada sebuah warna saja. Ibarat sebuah lagu yang terdiri dari sebuah nada, apa menariknya?

Maafkan Dendam

most people who seek blood they get it, but you always have a choice (wolverine the origin)

Dendam, mimpi dan cinta, ketiganya memiliki kekuatan yang sama untuk mendorong seseorang mencapai tujuan. Entah dari mana kekuatan tersebut berasal, namun meski tak selalu tujuan tercapai banyak yang rela melakukan berbagai hal atas nama ketiga kekuatan itu.

Seperti halnya Wolverine, mula-mula cinta membuatnya tidak terlampau liar. Hidup sederhana bersama belahan jiwanya di pucuk gunung yang tinggi dikelilingi pepohonan Pinus. Mimpinya adalah hidup bersama dengan kekasihnya itu, jauh dari hingar-bingar dunia yang kejam, mengingatkannya pada kawanannya dahulu yang tak segan menghilangkan satu dua nyawa. Cinta dan mimpi itu memang pada mulanya begitu indah, mereka hidup bersama, berdua.

Apa lacur, gerombolannya dahulu tak membiarkan Wolverine hidup dalam kedamaian. Dibuatlah huru-hara dengan cara membunuh kekasihnya. Dendam yang membara di dalam dada tak kunjung hilang bila belum berhasil menghabisi si pembunuh. Maka, ditempuhlah beragam cara untuk lebih kuat, lebih perkasa dari musuhnya.

Menjadi kelinci percobaan sebuah senjata baru pun bukan menjadi masalah yang terlampau rumit. Apa salahnya bila dengan itu dendam bisa dituntaskan, musuh dibunuh?

Di film itu pula kita lihat: peragaan cinta, buaian mimpi dan kekuatan dendam. Persis seperti apa yang dibilang oleh seorang tua pada sebuah adegan, “Mereka yang mencari darah akan mendapatkannya, namun selalu ada pilihan.” Pada akhirnya Wolverine memang menemukan musuh bebuyutannya dan berhasilkah ia membalas dendam? Ah, saya sudah lupa.

Saya teringat manakala seorang teman menulis, Memaafkan karenanya selalu jadi medan penuh ketegangan antara “kebutuhan melupakan”, “naluri mengenangkan” dan “hasrat membayangkan masa depan”. Di sini bila saya boleh menerjemahkannya secara ngawur, memaafkan bukanlah tindak yang diam. Jembatan-jembatan terhubung dengan masa lalu, masa depan pun detik ini ketika memaafkan hendak dilakukan. Bukanlah hal yang rumit sebenarnya, meski tak juga terlampau mudah. Memaafkan kemudian adalah pilihan persis seperti yang dibilang orang tua itu.

Pernah pula seorang teman lain berkata, “Aku memaafkanmu namun tak akan kulupakan.” Apakah boleh seperti itu? Ya, tentu saja boleh. Apa hak saya melarang-larang? Mungkin ketika maaf sudah diberikan namun ingatan tak juga lekang adalah saat sebuah kesalahan begitu besar dilakukan. Dan goresan luka, tertoreh begitu dalam. Tak hendak hilang tak mau pergi.

Urusan maaf-memaafkan ini memang tidak mudah. Kembali ke dendam, banyak cerita silat yang saya baca, film yang saya tonton bermula dari urusan dendam. Satu hal yang bisa saya garis bawahi, dendam tak pernah berhenti. Satu generasi akan diturunkan kepada generasi berikutnya, demikian seterusnya. Capai? Ya barangkali hanya keletihan yang menjadi muaranya. Namun tanyalah kepada mereka yang mendendam, apakah lelah, apakah letih akan menjadi penghalang?

Teringat kemudian sebuah email berantai yang pernah saya terima entah kapan. Berisi cerita seorang anak yang diminta oleh ayahnya memaku pagar di depan rumahnya. Paku-paku itu menancap begitu kuat di pagar. Setelah habis seluruh paku dalam genggaman, ayahnya meminta agar satu per satu paku itu dicabut kembali. Paku itu memang telah hilang dari pagar, namun bekas-bekas tusukannya masih ada di sana, terpampang jelas di tubuh pagar. Sang ayah kemudian menjelaskan, bahwa ketika sebuah luka tercipta di hati seseorang, tak mungkin bisa dihilangkan. Meski sejuta maaf, beribu sesal sudah diucapkan….

[adsenseyu1]

Aku Pulang

“Aku kan pulang ke rumah segera, karena aku pun sangat mencintaimu.”

Hari berganti lagi, siang datang malam menjelang. Sendiri, itu kata yang pas. Tak hanya kata, namun sebenarnya terjadi. Hanyalah raga yang berjalan, karena telah kutinggalkan hati dan rasaku saat aku meninggalkanmu pagi itu.

Suatu malam di jalan ketika kukemudikan perlahan mobilku. Tak ada yang terpikir olehku selain kemacetan yang membuatku penat. Kuhitung jarak, masih setengah jalan ke rumah. Kulirik jam digital yang berpendar kehijauan di dashboard, 09.10 waktu yang ditunjukkannya.

Kurasakan getaran lembut di saku hem biru mudaku. Sebuah panggilan menyapa handphoneku. Tak tergesa kuambil hape dan melihat siapa yang menelepon. Di layar kecilnya kulihat ‘home’. Sambil bertanya-tanya, tak segera kutekan tombol di bawah tanda ‘answer’. Ada apa batinku, sehingga dia perlu menelepon? Padahal kupikir pastilah dia telah tertidur.

“Sayang, ini sudah malam. Apakah semua baik-baik saja?”

Tak ada jawaban yang terdengar, hanya diam yang melingkupi mobil. Memang saat itu tidak radio tak juga tape kunyalakan. Dengung lembut AC sedikit bisa kudengar, sampai sebuah suara, suaranya terdengar.

“Aku sayang kamu, entah kenapa aku sayang. Kapan kamu pulang?”

“Aku pun sayang kamu, aku tiba di rumah sebentar lagi.”

Kemudian diam lagi dan kembali kesendirian menyergapku. Namun, dia telah membebaskanku. Kupejamkan mata dan aku bermimpi tentangnya. Dia jauh, tanganku tak bisa memeluk dan mendekapnya. Kendati aku tahu benar seluruh tubuhnya, dirinya, memenuhi rongga-rongga di hatiku. Seulas senyumku saat kembali kuingat bisiknya dalam gelisah.

“Aku sayang kamu, entah kenapa aku sayang, kapan kamu pulang?”

Ah, macet ini memperlambatku. Tak sabar kuingin segera mendekapnya. Walaupun macet ini tak kuasa hentikan kagumku. Padanya gadis kecil empat tahun, anakku. Dia yang tahu benar apa yang perlu dikatakan untuk membuatku kembali hidup, bersemangat dan tak sendiri.

“Aku pun sayang kamu, aku tiba di rumah sebentar lagi.”

Dan, semoga belum terlambat untuk membacakanmu cerita, nyanyikan lagu pengantar tidur.

“Five For Fighting-I Just Love You”

Terlambat Bangun

Mungkin inilah biang masalah di pagi hari. Entah kenapa bunyi alarm dari weker, hape atau teriakan Ibu tidak juga berpengaruh. Padahal, mata sudah terbuka, lho, ketika bebunyian itu terdengar.

Kemudian ritual yang umum berlaku adalah bunyi itu terdengar, telinga bereaksi diikuti dengan mata terbuka. Tak lama, tangan bergerak, meraba-raba sumber suara. Bila bunyi berasal dari hape, pencet saja sembarang tombol dan hape pun terdiam. Jika itu weker ya cari tombolnya atau bisa juga pakai cara sahabat saya ini, yaitu dengan membanting wekernya. Nah, bagaimana kalau Ibu? Ya jangan ditampar, itu kurang ajar namanya. Cukuplah pindahkan bantal yang semula di bawah kepala, alihkah ke atas menutupi kuping. Nah, sekarang beres, kan?

Lantas, bila semua sumber bunyi sudah diam, ngapain dong? Ya merem, ah, masa gitu aja nanya? Dan anehnya, kenapa pasca melakukan ritual mendiamkan semua pengganggu tidur itu justru bobok kian lelap? Saya kira hal ini akan menjadi misteri abad ini—halah!

Tidur yang lelap itu, bagaimanapun juga tidak akan berlangsung lama, kecuali Anda semacam teman saya itu yang susah nian bangun bila matahari belum lengser ke Barat. Parahnya, selepas bangun yang sebenarnya ini, mulailah rentetan kebingunan terjadi. Semenjak pertanyaan tak penting semacam, “Kenapa aku bangun jam segini?” sampai dengan melakukan sesuatu di pagi itu dengan tergesa-gesa. Dapat dibayangkan, bukan? Mmm, atau tak perlu dibayangkan bila itu terjadi pada Anda setiap pagi? Hahaha.

Di kamar mandi terburu-buru, masih ada yang belum tuntas. Bisa sisa kotoran dalam perut yang masih antri di usus besar dan belum mau keluar. Mungkin juga sisa sabun masih ada yang tertinggal di telinga lupa belum dicuci. Argghhhh….

Tak heran kemudian jika di kantor atau sekolah Anda kembali diusik dengan urusan perut yang belum beres. Jangan marah pula bila ada teman yang menertawakan dan berkata, “Itu, kupingmu masih ada.” Batin Anda, ya masihlah, kan tiada yang memotong telingaku. Padahal maksudnya masih ada sisa sabun di telinga Anda.

Lalu, masih ingatkah kapan pagi Anda berlangusng dengan damai dan tenang?

Sridewanto Edi/040609

Tafsir Kitaro 1

Fish Dive In The Lake

Ikan-ikan bergerak dalam rombongannya masing-masing. Air beriak karena gerakannya, menukik ke bawah hampir-hampir menyentuh dasar danau. Membumbung ke atas menjelang permukaan danau. Terus dan terus bergerak-gerak lincah, berkelok-kelok masih terus berombongan.

Perayaan kehidupan

Rombongan ikan besar dan kecil berpapasan. Seperti sebuah genderang ditabuh, ada aba-aba diteriakkan. Bagi rombongan besar itu adalah penanda untuk mengejar rombongan kecil. Bagi si kecil itu adalah perintah untuk menyelamatkan diri. Bercerai-berai keduanya dalam gerakan tak beraturan.

Naluri kehidupan

Banyak ikan kecil tertangkap, dimangsa, dijadikan rebutan. Berkecipak lagi air dan sebagian berubah warna menjadi merah, darah ikan-ikan kecil. Sisa tulang dan sisik melayang-layang makin tenggelam ke dasar danau yang tenang, yang diam, yang seperti kuburan, yang misterius.

Senandung kematian

Dan ikan yang hidup? Kembali berenang ke sana kemari. Masih berombongan, masih saling intai dan terkam. Maka kehidupan di danau itu kembali berjalan, kembali berputar.

Album : Kitaro-Impressions Of The West Lake

Sridewanto Edi/220509

Meniti Tangga

Tulisan ini adalah kebalikan dari lift yang tempo hari saya tulis. Jadi, bila Anda sudah bisa menerka-terka apa yang akan saya tulis ya silakan saja kalau akan melanjutkan blogwalking Anda. Eh, Anda bandel dan tetap mau membaca? Itu pun juga silakan, barangkali tidak benar-benar berkebalikan; saya pun belum tahu saat saya menulis kata ini. Ah, gaya benar saya ini, “Siapa juga yang mau baca, Goop?” Hahaha. Saya tahu, lho, ada yang berkata begitu di belakang sana.

Seperti kemarin yang tertulis, Continue reading “Meniti Tangga”

Anak Ke Lima

“Ohm, terima kasih, ya. Di antara ke lima anak Ibu, Ohm, yang paling mengerti Ibu.”

Begitulah pesan singkat yang diterima hape saya dari putri Ibu kos yang tinggal nun di Bali sana. Putra dan putri Ibu kos memang sebenarnya hanya empat orang saja. Namun, setelah saya tinggal di sana hampir dua tahun lamanya akhirnya pengakuan itu tiba juga.

Bukan kos-kosan, saya harus mengakui kos saya di Klaten itu begitu. Bagaimana tidak? Bila di sana saya tinggal sendiri tanpa memiliki teman kos. Sehari-hari saya hanya bergaul dengan Ibu dan Bapak yang pensiunan dan lebih sering di rumah dari pada bepergian. Tidak sepanjang hari memang saya berada di kosan. Hanya bila senja menjelang sampai dengan mentari beranjak naik saya akan berkeliaran dari kamar ke kamar mandi, kembali ke kamar.

Putra dan putri yang berjumlah empat orang itu, semuanya telah berkeluarga dan masing-masing menempati rumahnya sendiri. Sebagai anak kos tunggal di situ, saya benar-benar memanfaatkan semua fasilitas yang ada. Tidak banyak sebenarnya fasilitas yang tersedia karena memang keluarga Ibu dan Bapak sungguh bersahaja.

Meski begitu, segelas teh hangat di kala pagi dan bila malam menjelang leluasa bisa saya bikin. Air panas selalu tersedia di dalam termos. Tak perlu permisi saya mengambilnya. Hal yang sama juga saya lakukan bila ingin meminum air putih penawar haus. Semua tersaji dalam teko-teko plastik berukuran besar yang selalu siap di dapur.

Di masa-masa awal, tentu saja canggung itu ada. Selalu berhati-hati dalam bertindak dan sebisa mungkin tidak menimbulkan masalah. Tetapi, barangkali usia telah mendewasakan Bapak dan Ibu berdua. Beliau tidak pernah mengekang saya; tahu betul apa kemauan anak muda. Akhirnya segan muncul di dada dan sebisa mungkin menjaga kepercayaan yang diberikan.

Tidak banyak yang saya haturkan untuk beliau berdua kecuali beberapa bingkisan kecil dari rumah di kampung titipan Ibu. Terkadang, bila sehabis rapat masih ada hidangan dalam kotak tersisa, saya akan membawanya pulang, sekadar berbagi, tetapi akhirnya masuk pula ke perut saya.

Bila bulan puasa tiba, begitu sukar mencari makanan untuk sahur di kota kecil seperti Klaten. Akhirnya, Ibu pun harus saya bikin repot dengan menyiapkan segala hidangan alakadarnya. Tentu tidak mudah mengingat selera saya yang agak aneh dan terbiasa dengan warung makan. Berhati-hati Ibu akan menanyakan, “Mas, nanti malam menunya apa, ya?” Tanpa dosa saya akan berkata, “Terserah Ibu mawon, saya manut.”

Menjengkelkan, bukan? Tidak semua makanan bisa saya makan. Bukannya pilih-pilih atau tidak doyan, tetapi sungguh saya tidak suka. Sudah begitu, saat ditanya menu saya bingung bagaimana menjawabnya. Kurang ajarkah, saya? Ya, begitu barangkali jawaban yang pas.

Dua kali lebaran saya lewatkan di sana. Memang pada saat hari H dan beberapa hari setelahnya saya berada di rumah di kampung. Namun, bila hari kerja akan dimulai, saya akan kembali ke kosan diawali dengan sungkem kepada Bapak dan Ibu kos. Ah iya, sebelum pulang kampung menjelang hari raya, biasanya saya akan sibuk menyiapkan bingkisan untuk Bapak kos. Sebenarnya ingin juga memberikan sesuatu kepada Ibu, namun terus terang selalu kesulitan memilih apa yang pas. Bila baju, saya tidak tahu ukurannya. Mukena, sajadah sudah sangat banyak di almari dekat tempat sholat itu. Adapun bingkisan untuk Bapak, mudah sekali karena tubuh beliau hampir sama dengan saya, jadi tidak terlalu menyulitkan saat penentuan ukuran.

Lebaran kemarin saya pun mencoba untuk menghaturkan sekadar bingkisan kepada Ibu. Saya teringat adik yang selalu mendapat bingkisan dari sekolah tempatnya mengajar. Rupa-rupa bingkisan itu: minyak goreng, sirup, sabun mandi dan cuci, gula, teh dan beberapa barang kebutuhan lainnya. Ide itu, mentah-mentah saya tiru, belanjalah saya di supermarket dan membeli semua kebutuhan itu.

Sesampainya di kos, saya haturkan begitu saja tanpa membungkusnya dengan bungkusan parcel sekadar agar nampak lebih indah. Ibu pun mengucapkan terima kasih sekadarnya, tak berlebihan dan tak lupa tersenyum.

Hal yang saya tidak pernah tahu adalah: beliau menceritakan apa yang saya lakukan kepada mbak kos –putri satu-satunya Ibu—yang tinggal di Bali itu. Cerita Ibu tersebut, berbuah pesan singkat di awal tulisan ini. Aneh… saya tidak pernah menyangka akan menerima pesan seperti itu. Bagi saya, apa yang saya lakukan adalah hal yang biasa dan tidak pantas disebut, apalagi dibanggakan.

Saat membaca pesan tersebut ada perasaan haru yang menyeruak perlahan-lahan. Pada kata ‘di antara ke lima anak Ibu, Ohm yang paling mengerti Ibu’. Saat itu, saya merasa dianggap sebagai saudara. Ke lima, justru memberikan arti melengkapi yang empat.

Perasaan dianggap, diuwongke –dimanusiakan—ternyata memberi nilai yang penting. Di sana kemudian saya merasa bukan hanya sebagai anak kos. Meski pengakuan dari Mbak kos itu tidak diikuti oleh pengakuan secara langsung dari Mas-mas yang lain, pun Ibu dan Bapak namun itu saja sudah cukup. Menjadi bagian dari sebuah keluarga di sana begitu membanggakan sekaligus mengharukan untuk saya pribadi. Sebuah pengalaman yang tidak akan terlupa. Bahwa mengakui, menganggap penting, menghargai kehadiran masih dibutuhkan.

Selalu, di tempat yang asing; jauh dari orang-orang terdekat dan terkasih mudah sekali membuat; mengundang haru. Penerimaan dengan tangan dan hati terbuka, meski tentu saja melalui proses yang berliku akan membuahkan senyum. Akhirnya, jangan heran bila sebuah pesan singkat bisa mendatangkan cairan bening; tipis di mata, isak tertahan dan helaan nafas panjang. Saat itu, mungkin ketika sisi-sisi paling lembut di kedalaman dada sana terusik.

Selamat menikmati hari-hari di sana Bapak dan Ibu, mungkin sekarang lebih tenang karena tiada saya yang tiap malam pulang terlambat membuka rolling dorr. Selamat beribadah dengan tenang tanpa saya ganggu dengan suara-suara dari televisi atau winamp yang dimainkan. Berdua saja di hari tua, semoga saya juga bisa mencapai kebahagiaan di usia senja seperti apa yang sehari-hari saya saksikan dari Anda berdua. Terima kasih untuk semuanya, termasuk pesan-pesan yang semoga tak lekang dimakan waktu.

Mereka yang Memakan Sisa-Sisa

Langit sebagai atap rumahku Dan bumi sebagai lantainya Hidupku menyusuri jalan, sisa orang yang aku makan

Kesempatan tidaklah sama pada masing-masing kepala. Seseorang masih bisa melihat matahari hari ini, esok hari siapa yang tahu?

Pun dengan hal sederhana seperti makan, pakaian dan tempat tinggal. Saya meski tidak selalu tepat waktu namun syukur setiap hari masih bisa makan. Pakaian saya tidaklah bermerk terkenal, seringkali malah membeli batik dari pengrajinnya di pedalaman kabupaten sana, namun syukurlah setiap hari saya selalu berganti pakaian yang bersih habis dicuci.

Dahulu pernah mengidamkan gaya hidup yang menjadikan langit sebagai atap dan bumi sebagai lantai. Tidak; bukan karena lagu Kak Rhoma saya inginkan hal itu. Tetapi kebebasan yang ditawarkannya demikian menggoda di tengah kungkungan belenggu orang tua pada masa-masa awal remaja. Syukurlah keinginan yang ini hanya bertahan menjadi keinginan tak pernah menjadi kenyataan. Tak terbayangkan betapa mengerikannya diselimuti dingin, berteman kabut bila dini hari tiba di peraduan saya yang kemungkinan akan sangat luas itu. Belum dihitung bagaimana bahaya mengintip di balik setiap lirikan mata. Entah karena beberapa barang yang menempel di badan ataukah karena menaksir diri ini.

Mereka yang hari ini tidak makan seperti juga kemarin dan kemarinnya lagi barangkali masih mudah ditemukan. Sahabat yang bertelanjang, membugil kedinginan, meringkuk di pojok gang mungkin masih mencoba bertahan di sana. Sebagian mereka lari, menceburkan diri ke sungai menghindari operasi yang dilakukan oleh aparat penertiban.

Mereka yang lari untuk kemudian kembali. Perut mereka tak pernah berhenti berdendang. Gigil tubuh mereka tak bosan diterpa debu jalanan. Akrab kah mereka dengan embun dan kabut? Suara-suara itu.

Lampu bangjo di perempatan menjadi modal sebagian yang lain. Tutup botol di ujung kayu berbentuk mirip penggaris menjadi pelengkap modal. Sumber daya mereka adalah suara yang timbul tenggelam di tengah makian, bebunyian klakson.

Ada pula yang ber-tas-kan karung di punggungnya. Besi melengkung menjadi senjatanya menyusuri jalanan, pekarangan rumah, memunguti plastik, koran, perabotan bekas. Terkadang beberapa yang nakal tak peduli bila perabotan itu masih dipakai, baju di jemuran yang menunggu kering. Mereka gelap mata, kalap. Dilolosnya perlahan-lahan, diambilnya, dimasukkan ke dalam karung. Sebuah pencurian.

Perut berdendang nyaring. Melapar minta makan. Tubuh menggigil sering. Kedinginan minta pakaian. Hujan datang terik meradang. Sebuah hunian menjadi tuntutan.

Tidaklah heran bila kereta yang saya lewati menjelang stasiun itu seperti enggan beranjak. Di kanan kirinya mereka yang terpinggirkan bermukim. Besi-besi pembatas permukiman dan rel malah dijadikan bagian dari dinding rumah. Ada pula yang menyampirkan celana dalam, kutang berenda di batang-batang bergaris biru putih itu. Terpal biru dipasang pula pada besi-besi itu, dengan penyangga direntangkan sampai ke pinggir rel begitu dekat merangkul kereta-kereta yang datang.

Wajah kota ini pada sisi yang sebelah sini bopeng. Seng-seng silang sengkarut di bawah kabel-kabel listrik yang tak kalah semrawut. Ada bekas layangan di kabel dengan benang pendek yang menjuntai berkibaran. Angin membawa aroma selokan yang tak sedap, berpusaran mampir di dapur. Ganti aroma ikan asin sisa kemarin yang digoreng lagi.

Makan, kami ingin sekedar makan. Protein karbohidrat vitamin lemak nabati hewani apa itu? Hanya makan cukup sekedar makan. Susu kopi teh, ah, air putih yang bersih di gelas kotor kami pun cukup.

Penumpang kereta belum lagi bangun dari tidurnya ketika satu per satu dari mereka naik. Botol air mineral yang sudah kosong disambar. Koran bekas alas tidur yang lusuh dikumpulkan. Sebuah sapu menjadi senjata untuk membersihkan kolong kursi tanpa diminta. Akhirnya tanpa diminta pula tangannya menengadah di depan dada mengharapkan receh.

Tak lupa, malamnya ketika kantuk beranjak datang menghampiri mengajak ke alam mimpi suara-suara itu juga terdengar. “Lanting-lanting! Aqua-aqua! Kopi, susu, jahe anget! Popmi-popmi!” Bercampur-campur bersatu diaduk dalam kereta yang pengap itu.

Mereka menumpang dari stasiun ke stasiun. Menjajakan makanan ringan, air mineral bahkan barang kerajinan dari batok kelapa di atas gerbong kereta. Beberapa penjaja buku kumpulan doa juga tidak ketinggalan ikut berpartisipasi dalam hingar bingar malam beranjak pagi.

Istirahat tak pernah menjadi beban pikiran. Asal bisa berbaring di peron stasiun pada bangku-bangkunya. Di lantai beralaskan koran atau kardus bekas, berselimut sarung dekil. Mereka bau, stasiun bau, toilet bau. Bau mereka adalah perjuangan untuk makan, demi pakaian dan tempat berteduh dari hujan.

Mereka yang hidup dari sisa-sisa, beralaskan bumi dan beratapkan langit. Mereka kaya usaha namun miskin hasil. Mereka yang perutnya berdendang nyaring, melapar minta makan. Tubuhnya menggigil sering dan kedinginan minta pakaian. Bila hujan datang terik meradang, diidamkan sebuah hunian yang menjadi tuntutan. Mereka di sana tidak jauh, dekat dengan kita.

Kesempatan tidaklah sama pada masing-masing kepala. Seseorang masih bisa melihat matahari hari ini, esok hari siapa yang tahu? Kelak biarlah menjadi kelak, bahkan mungkin berani bermimpi akan lama dipikir dulu. Sebuah masa yang tidak panjang, seumur perut yang minta diisi itulah yang dipikirkan.

asal gambar

Sungkem

Selalu dalam Idul Fitri sungkem saya lakukan kepada kedua orang tua, sesepuh pinisepuh, tetangga dan kerabat di kampung. Rumah nenek dan cerita-cerita dari sana pun menyeruak perlahan.

Haru, kadar haru dari tahun ke tahun berganti, berubah. Satu waktu saya pernah berkaca-kaca setelah bersimpuh kepada Bapak dan terutama Ibu. Segala salah, harapan maaf menemu pelabuhannya, dilarung dalam hari itu, pada menit dan detik ketika saya bersimpuh.

Kemarin, cerita berganti lagi. Bersimpuh begitu biasa tak ada yang istimewa. Kekanakan di antara kami malah mengemuka. Berebutan kamar mandi, mandi bergiliran. Mematut diri berlama-lama di depan cermin, mencoba baju baru. Cermin yang satu itu pun harus menderita. Kami berdesakan, dorong-dorongan di depannya. Syukur tak sampai menyenggol, pabila pecah, kami jualah yang akan celaka.

Makan pagi setelah sebulan tidak melakukannya juga menyita waktu tersendiri. Suapan perlahan, kunyahan lambat-lambat dan menikmati setiap butiran yang melewati kerongkongan. Rasa, barangkali adalah ketika makanan masuk ke mulut, melewati lidah dan melampaui kerongkongan. Setelahnya, entahlah kecuali ketika kita bertemu lagi esok hari dalam bentuk lain saat kita jongkok.

Pendek kata, persiapan di pagi lebaran itu lebih menyita waktu dari tahun kemarin. Tamu, tetangga sudah berdatangan, sementara kami anak-anak belum lagi sungkem kepada kedua orang tua. Haru, dibentuk oleh satu di antaranya suasana. Saat saya sungkem, ruang tamu sudah ramai dengan tetamu; ada malu, sedikit tergesa dan haru pamit enggan tinggal. Jadilah saya sungkem sekedar sungkem, bersimpuh, mengatakan sepatah dua kata sekedar formalitas.

Berkeliling tetangga satu kampung menjadi ritual setelahnya. Orang-orang tua akan berdiam di rumah. Mereka yang muda datang, sungkem pun dilakukan di masing-masing rumah. Di jalan antara rumah-rumah itu yang muda saling bertemu, gelak tawa, candaan lama mengudara.

Teman satu angkatan dulu di kala SD, seteru abadi sepak bola di sawah pinggir desa bertemu lagi. Bersua dalam tawa; berjabat tangan erat dan lama. Sebuah kisah cinta masa kanak tak ketinggalan ikut menggoreskan cerita. Sekadar cinta kebantinan yang tidak terungkap dan sengaja dipendam bersemi lagi. Terasa hangat.

Sobat yang dulu ingusnya berleleran di hidungnya kini sibuk mengelap ingus di hidung anaknya yang balita. Gadis kecil manis yang dulu biasa mandi besama di kali sedang mengandung; menjadi gendut, namun entah kenapa malah terlihat cantik. Cerita berganti episode, pelaku memainkan lakon yang berbeda. Mereka orang yang “itu” juga meski mengabarkan kisah yang bukan lagi “itu”.

Dulu saya akan berbagi cerita tentang film kartun kemarin sore dengan mereka di tengah guru mengajar kata menggabung kalimat. Saat itu rautan pensil bercermin akan ditaruh; diselipkan di tali sepatu dan ditelusupkan di bawah rok merah SD teman sekelas yang sedang berjalan. Waktu itu, pulang mengaji di musholla saat senja beberapa teman akan menghilang berpasang-pasangan entah ke mana.

Kini teman saya disibukkan dengan bermacam hal. Sebagian masih suka begadang membanting kartu berteman berbatang rokok dan bergelas kopi. Ada yang mengutuki siang dan mendendam malam atau menikmati waktu berjalan dengan menganggur. Keluarga kecil baru saja terbentuk dan sepertinya bulan madu tak kunjung selesai membawa kemesraan ke mana saja. Dua atau tiga orang anak usia balita mewarnai hari sebagian di antara sahabat. Celoteh, tawa dan tangis anak-anak mereka membawa tawa juga sedih di wajah orang tua.

Rumah kakek minus nenek yang telah tiada adalah saksi kemanjaan. Sebuah liburan yang pasti menyenangkan hampir selalu dihabiskan di sana. Tak perlu belajar, tak ada pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan esok hari. Saat pamit diselipkan selalu lembaran-lembaran rupiah tak berapa banyak, namun cukup mengembangkan tawa dan cahaya binar di wajah. Bila rumah orang tua seperti penjara karena disiplin ketat yang coba diterapkan, maka rumah kakek adalah tempat melarikan diri sekedar pelesir sebentar.

Kini tidak lagi menyenangkan berbincang dengan kakek, paklik dan bulik. Rasanya kok tidak nyambung saat memperbincangkan apapun. Saya tidak mungkin berbicara tentang blog sementara kakek sibuk dengan urusan tanaman tembakau, bulik dengan urusan susu anaknya yang makin mahal dan baju barunya yang ternoda terkena tumpahan opor. Akhirnya, sibuk sendirilah saya mendengarkan semua suara mereka. Bebunyian itu, sibuk keluar masuk telinga.

Meski begitu, selalu ada kerinduan saat saya kembali ke sana. Selain kemanjaan dan kelonggaran yang berlimpah ruah didapat. Cerita mendiang nenek tentang burung pembawa kabar kematian masih jelas teringat di benak. Hikayat seorang pemuda yang digoda wanita jelmaan ular dan bisa menang dengan membaca ‘ayat kursi’ masih suka membikin takjub. Kakek lain lagi, dunia pesantren dengan puasa; laku dan kejadian-kejadian ajaib di sana juga mewarnai kisah. Pak Lik mengenalkan khasanah musik melalui raungan gitar personel ‘Metallica’, ‘Sepultura’, ‘Iron Maiden’ dan kawan-kawannya. Bu Lik membagi rahasia tentang cintanya yang disembunyikan dari kakek dan nenek.

Dalam sehari itu, berawal dari sungkem waktu kembali ke masa lalu. Saya setuju dengan Sapardi bahwa mudik tidak berhubungan dengan tempat namun asal muasal, puak dan berkumpulnya balung pisah. Tapi beberapa hal di masa lalu menyeruak karena berawal dari tempat seperti rumah kakek saya itu.

Dalam sehari itu, berawal dari sungkem kembali teringat kata Goenawan Muhammad, “… nostalgia tak pernah berasal dari kebencian. Ia menggerakkan kembali sesuatu yang hangat, sayu, berarti—seperti cinta lama….” Pun kata Aulia Muhammad, “seperti juga kenangan, adalah temali yang menjaraki harapan dan kenyataan, juga masa silam.“ Masa lalu memang tempat terjauh yang bisa dikunjungi seperti kata Ghazali tetapi bukan berarti tidak mungkin kita menyambanginya sesekali, meski mungkin hanya sekali.

asal gambar

[adsenseyu1]