<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>unclegoop.com &#187; pintu jiwa</title>
	<atom:link href="http://unclegoop.com/category/pintu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://unclegoop.com</link>
	<description>melintas batas</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 03:55:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>New Year Eve</title>
		<link>http://unclegoop.com/2010/01/22/new-year-eve/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2010/01/22/new-year-eve/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 00:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[pintu jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=889</guid>
		<description><![CDATA[Dua malam tahun baru dilewatkan di kereta api. Apa itu permenungan? Apa itu kembang api? Apa itu perayaan? Stasiun dengan hiruk pikuknya penumpang. Di sesela gegas gesa penumpang yang takut terlambat, saya sudah akan berdiri atau duduk di sana. Mendengar pengumuman yang selalu diawali bunyi penanda monoton yang anehnya terasa begitu melodius. Kereta, lokomotif, gerbong,]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://kampungrison.files.wordpress.com/2008/09/rel-12.jpg"><img alt="" src="http://kampungrison.files.wordpress.com/2008/09/rel-12.jpg" class="aligncenter" width="400" height="264" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dua malam tahun baru dilewatkan di kereta api. Apa itu permenungan? Apa itu kembang api? Apa itu perayaan? <span id="more-889"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Stasiun dengan hiruk pikuknya penumpang. <a title="sebenarnya, ini judul di blognya beliau sebelum berganti ke alamat sekarang" href="http://www.rumahputih.net" target="_blank"> Di sesela gegas gesa</a> penumpang yang takut terlambat, saya sudah akan berdiri atau duduk di sana. Mendengar pengumuman yang selalu diawali bunyi penanda monoton yang anehnya terasa begitu melodius. Kereta, lokomotif, gerbong, ganti-berganti melintas di atas jalur rel. </p>
<p style="text-align: justify;">Penumpang datang bersama kereta yang masuk lantas turun. Penumpang datang dari luar sana lalu masuk ke stasiun. Penumpang satu per satu masuk ke kereta. Kemudian kereta pergi. Ada jadwal yang harus dipenuhi, maka lekaslah karena kereta tak menunggu begitu pula hidup. </p>
<p style="text-align: justify;">Pukul tujuh malam, biasanya kereta saya tiba. Terkadang sedikit terlambat, namun lebih sering tepat waktu. Meliriki nomor gerbong di tiket saat berdiri di tempat menunggu di mana kira-kira gerbong yang tepat akan berhenti. Masuk berjubel bersama dengan penumpang lain. Walau nomor tempat duduk sudah ada, namun tetap saja berebutan. Terkadang, bila kalah cepat saya pun harus bersitegang dengan penumpang lain yang menduduki kursi saya. Sebagai catatan, saya suka kursi di pinggir yang dekat jendela. Entah kenapa, pada saat yang sama banyak orang lain juga demen dengan kursi itu, kendati tidak sesuai dengan nomor tempat duduk yang tertera di tiketnya. Menunggu saat yang tepat, berebutan kesempatan yang barangkali tak akan datang dua kali, seperti hidup, bukan? </p>
<p style="text-align: justify;">Kereta berjalan di atas rel. menyusuri sepanjang rel itu tak hendak pindah. Tujuan sudah jelas. Bebunyian mulai terdengar, beradunya roda rel, hantaman-hantaman besi itu monoton, menggerakkan, bersemangat. Percakapan di dalam kereta yang terdengar berdengung, tak jelas, sebuah pertemuan awal antara dua orang asing. Percakapan yang tak banyak, sekadarnya saja. Suara dari luar kereta pun tak banyak yang masuk. Seperti hening, gambaran yang berganti-ganti, namun diam. Pula hidup, bukan? Suara mana yang akan lebih sering didengar? </p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanannya, kadang kereta pun berhenti sejenak. Sampai di sebuah stasiun akan berhenti sebentar. Ada sedikit penumpang yang turun, ada pedagang yang naik. Rupanya memang tak semua harus dibawa, kadang ada yang perlu diletakkan. Ditinggalkan di belakang. Di sisi lain, ada yang harus dipungut, diingat, jangan dilupakan dan terus dibawa. Apa yang ditinggalkan dan dipungut dalam hidup kemudian? </p>
<p style="text-align: justify;">Alasan berhenti pun bisa juga karena berpapasan dengan kereta lain. Rel yang terbatas menyebabkan tak mungkin berjalan bersama-sama. Ada masa untuk mengalah, memberi jalan. Walau mungkin sedikit terlambat, kendati memperlama, namun selamat, bukan? Tak lupa kecepatan, ternyata tak tetap. Kadang lambat bahkan sampai-sampai berhenti. Lain saat begitu cepat, bahkan terasa seperti <a title="tulisan beliau tentang perjalanan menggunakan kereta api sangat bagus" href=" http://pejalanjauh.com/?p=282" target="_blank"> mengambang</a>. Rasa-rasanya ada irama di sana. Langgam yang tak tetap, berubah-ubah namun rancak. Dalam hidup, kapan harus mengalah? Kapan melambat? Kapan berhenti, mengambil <a title="Mas Yans, lebih paham bagaimana mengambil jeda" href=" http://jedahsejenak.blogspot.com" target="_blank"> jeda?</a> Kapan mesti bersicepat? Sudahkah irama dijaga? Bagaimana irama itu terasa? </p>
<p style="text-align: justify;">Duduk di kereta, leluasa melihat ke dalam kereta: polah penumpang, pedagang, awak kereta, kondektur, polisi, calo. Pemandangan di luar yang berganti-ganti: ada kembang api yang kepagian memencar di langit, petir yang sebentar membuat terang angkasa, kereta lain yang melintas bergemuruh. Ada pula yang melintas begitu saja, namun ada pula yang tercetak tak hendak dilupa. Dan <a title="Tuan Kawabata yang lebih dulu menyajikannya" href=" http://unclegoop.com/2009/10/31/snow-country-yasunari-kawabata/" target="_blank"> cermin jendela,</a> tak lupa pula dilihat. Ketika luar dan dalam menyatu dalam kesatuan pandang. Menjalani hidup, mana yang lebih diperhatikan? Yang terjadi di luar atau yang berlaku di dalam? </p>
<p style="text-align: justify;">Dan tentang tujuan, tak ke mana. Mendekat ke sana berarti gangguan pada tidur yang sudah tak nyenyak. Ada gairah, sedikit gelisah. Pula semangat walau terkencing-kencing. Padahal apa yang menunggu di tujuan itu tak kunjung jelas. Bisa serombongan tukang ojek yang menawarkan jasa atau pagi njekut yang masih berselimut kabut. Namun bila beruntung, sebundar purnama yang masih tersisa di dini hari pun bisa disaksikan. Dan hidup, apa tujuannya? Apakah ‘hanya’ gundukan tanah di bawah kamboja? </p>
<p style="text-align: justify;">Semalam di kereta itu menjadi demikian panjang. Tak hanya permenungan. Bukan sekadar percikan kembang api yang selintas terlihat di luar kemudian hilang dan ditinggalkan. Semalam itu juga perayaan menyambut datangnya pagi, sebuah hari yang baru lagi. Selamat. </p>
<p><map name='google_ad_map_889_70aa80bd661cebb1'>
<area shape='rect' href='http://imageads.googleadservices.com/pagead/imgclick/889?pos=0' coords='1,2,367,28' />
<area shape='rect' href='http://services.google.com/feedback/abg' coords='384,10,453,23'/></map>
<img usemap='#google_ad_map_889_70aa80bd661cebb1' border='0' src='http://imageads.googleadservices.com/pagead/ads?format=468x30_aff_img&amp;client=&amp;channel=&amp;output=png&amp;cuid=889&amp;url= http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2010%2F01%2F22%2Fnew-year-eve%2F' /></p><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2010%2F01%2F22%2Fnew-year-eve%2F&amp;linkname=New%20Year%20Eve">Share/Bookmark</a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2010/01/22/new-year-eve/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengemis di Sepanjang Tangga Halte</title>
		<link>http://unclegoop.com/2009/12/16/pengemis-di-sepanjang-tangga-halte/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2009/12/16/pengemis-di-sepanjang-tangga-halte/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 00:21:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[pintu jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=853</guid>
		<description><![CDATA[Entah siapa nama ibu itu. Beliau selalu duduk di tempat yang sama. Busananya saya tak ingat betul, namun kerudung selalu menutup kepalanya. Dua orang anak kecil akan berlarian di sepanjang tangga. Terkadang bahkan memanjat bagian-bagian yang berbahaya. Di dada ibu itu, ada pula bayi yang digendong dan lebih sering tertidur sepertinya. Ibu itu pengemis di]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-854" title="beggar" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2009/12/beggar.jpg" alt="beggar" width="367" height="254" /></p>
<p style="text-align: justify;">Entah siapa nama ibu itu. Beliau selalu duduk di tempat yang sama. Busananya saya tak ingat betul, namun kerudung selalu menutup kepalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua orang anak kecil akan berlarian di sepanjang tangga. Terkadang bahkan <span id="more-853"></span>memanjat bagian-bagian yang berbahaya. Di dada ibu itu, ada pula bayi yang digendong dan lebih sering tertidur sepertinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibu itu pengemis di tangga halte. Persis di sebuah tikungan pada jalur tangga itu. Mengganggu sebenarnya apabila ada penumpang dan calon penumpang di sana yang hendak berpapasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum lagi dua bocah lelaki yang menjadikan tangga itu sebagai arena bermainnya. Bajunya yang dekil, kakinya yang tak bersepatu, sukses membuat gadis cantik dengan rok dan kaki dibalut stoking hitam mengernyitkan dahinya. Seperti jijik, hendak menghindari.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sepanjang tangga itu, pada kelokan yang lain seorang kakek berdiri tak sempurna disangga tongkat. Sebelah tangannya memegang tongkat, sebelah yang lain terulur mengharap receh. Beliau pun mengganggu jalan penumpang dan calon penumpang yang berpapasan persis di tikungan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Setiap tikungan kehidupan adalah keajaiban.” <a href="http://ndorokakung.com" target="_blank">Ndoro Kakung</a>, dalam sabdanya. Tapi, benarkah keajaiban semacam ibu dan bayinya pun kakek dengan tongkat yang diharapkan?</p>
<p style="text-align: justify;">Maaf, saya lupa, barusan bukan sedang memperbincangkan kehidupan, namun hanya sejalur tangga menuju halte transjakarta. Dan berbagi ruang, walau mungkin <em>ngeselin</em>, tapi menjadi sebuah keniscayaan di kota ini, bukan?</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://leftistmoon.files.wordpress.com/2008/11/beggar.jpg" target="_blank">Asal gambar.</a></p>
<p><map name='google_ad_map_853_70aa80bd661cebb1'>
<area shape='rect' href='http://imageads.googleadservices.com/pagead/imgclick/853?pos=0' coords='1,2,367,28' />
<area shape='rect' href='http://services.google.com/feedback/abg' coords='384,10,453,23'/></map>
<img usemap='#google_ad_map_853_70aa80bd661cebb1' border='0' src='http://imageads.googleadservices.com/pagead/ads?format=468x30_aff_img&amp;client=&amp;channel=&amp;output=png&amp;cuid=853&amp;url= http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2009%2F12%2F16%2Fpengemis-di-sepanjang-tangga-halte%2F' /></p><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2009%2F12%2F16%2Fpengemis-di-sepanjang-tangga-halte%2F&amp;linkname=Pengemis%20di%20Sepanjang%20Tangga%20Halte">Share/Bookmark</a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2009/12/16/pengemis-di-sepanjang-tangga-halte/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tujuh Pound</title>
		<link>http://unclegoop.com/2009/09/01/tujuh-pound/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2009/09/01/tujuh-pound/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 04:18:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[pintu jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[jantung]]></category>
		<category><![CDATA[kekasih]]></category>
		<category><![CDATA[mata]]></category>
		<category><![CDATA[mobil]]></category>
		<category><![CDATA[piano]]></category>
		<category><![CDATA[seven pounds]]></category>
		<category><![CDATA[sungsum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=758</guid>
		<description><![CDATA[Bunuh diri untuk sesuatu yang bermanfaat sepertinya kian lazim akhir-akhir ini. Memang toleransi besar diberikan di negara yang sedang perang, semacam di Afganistan atau Palestina. Tapi di sini, di Indonesia, masih banyak yang mempertanyakan alasan di baliknya. Benarkah surga bisa digapai begitu mudah dengan meledakkan diri di kerumunan orang? Di lain pihak, lepas dari gegap]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://genasik.telkomsel.com/genasik/web/uploads/seven-pounds-2.jpg" alt="" width="300" height="199" /></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Bunuh diri untuk sesuatu yang bermanfaat sepertinya kian lazim akhir-akhir ini. Memang toleransi besar diberikan di negara yang sedang perang, semacam di Afganistan atau Palestina. Tapi di sini, di Indonesia, masih banyak yang mempertanyakan alasan di baliknya. Benarkah surga bisa digapai begitu mudah dengan meledakkan diri di kerumunan orang? Di lain pihak, lepas dari gegap gempita menghebohkan yang ditimbulkan oleh tindakan itu, seseorang juga melakukan bunuh diri dengan alasan yang sama sekali berbeda.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu malam, <span id="more-758"></span>dua sejoli berada di dalam mobil. Cewek yang duduk di samping pengemudi sibuk memerhatikan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. Dia mengagumi keindahan cincin itu. Dia tak pernah lupa momen lamaran yang baru saja dilakukan dan diakhiri dengan penyematan cincin di jarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Cowok yang mengemudi pun tersenyum gembira. Sebuah misi telah sukses dijalankan dengan hasil gilang-gemilang. Lamarannya diterima dan masa depan yang cerah menantinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai sebuah pesan mampir di Blackberry-nya. Entah pesan dari siapa, namun telah cukup membuatnya sibuk. Perhatiannya sebentar teralih dari jalanan ke denyar dari Blackberry-nya. Dia tersenyum sekilas, hanya sekejap, saat kemudian sebuah pancaran lampu mobil dari arah berlawanan yang muncul dari tikungan merebut perhatiannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua terjadi begitu cepat. Mobil itu datang tiba-tiba. Atau dia yang teledor keluar dari jalur yang semestinya? Entahlah. Hal berikut yang terjadi adalah: minibus itu menghantam bagian samping mobilnya karena pada saat yang genting dia masih sempat membanting setir. Minibus itu terbalik, sementara mobilnya melintir di atas jalan yang bersalju untuk kemudian terguling.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal yang tak diduga kemudian terjadi. Cowok itu tetap hidup, bahkan masih bisa berlari. Hanya untuk sadar dan melihat akibat yang ditimbulkan kecelakaan itu. penumpang minibus bergelimpangan di jalan, sebagian yang masih bernyawa merintih-rintih. Di sini dan sana banyak pula yang sudah tak bergerak-gerak. Termasuk di sudut sana agak jauh, masih dia kenali gaun kekasihnya. Cepat dia hampiri dan hanya tubuh yang sudah mendingin yang dia temukan. Kemudian lolongan panjang membelah malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelanjutan hidup baginya kemudian adalah sebuah kutukan. Tujuh nyawa yang melayang karena kecelakaan itu seperti menghantuinya. Sesuatu harus dilakukan untuk menebusnya. Dengan apa dia akan menebusnya?</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Lelaki itu mengalami masalah dan harus menerima donor sumsum tulang. Sosok yang lain, seorang wanita paruh baya sebuah ginjalnya tak lagi mau bekerja.</p>
<p style="text-align: justify;">Di belahan kota yang lain, seorang buta mahir sekali bermain piano. Dia bukan seorang pemarah, dia pun mengharapkan seorang kekasih yang baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sebuah permukiman sederhana, seorang wanita dengan dua orang anaknya senantiasa menerima perlakuan tidak baik dari pacarnya. Entah bagaimana caranya dia harus pergi, pindah dari rumah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lupa, tentang sosok seorang wanita muda berbakat hebat yang mengalami masalah dengan jantungnya. Karya-karyanya musnah seiring semakin lemah jantungnya bekerja, bahkan untuk menemani anjingnya jalan-jalan pun dia tak lagi kuasa.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Kini dia tinggal di sebuah motel setelah rumahnya dikasihkan begitu saja kepada perempuan beranak dua yang tidak beruntung. Dia harus tertatih-tatih berjalan pasca pengambilan sumsum tulang tanpa pembiusan yang pastinya sangat menyakitkan. Barangkali ada pula yang terpengaruh walaupun tak nampak akibat sebuah ginjalnya telah diambil.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, ini 911, ada yang bisa kami bantu?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Bisakah kalian mengirimkan ambulan ke Jalan Mawar Nomor 30? Ada orang yang mau bunuh diri.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Baik, siapakah orang itu? apa hubungan Anda dengannya?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Orang itu adalah aku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tak berapa lama, lantas dia berjalan ke kamar mandi. Dihampirinya bathtub yang sudah penuh dengan es batu. Perlahan-lahan, dia masuk dan langsung diserang dingin yang membekukan dari es-es yang sudah dituangkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ubur-ubur dengan sengatan mematikan dituangkan pula ke dalam bathtub. Sebentar dia berenang kian kemari. Tak lama, untuk kemudian menyengat tangannya. Dia mengejang, berteriak-teriak, menarik apa pun yang berada dalam jangkauannya, termasuk sebuah gorden yang menutupi bathtub. Gorden itu pun jatuh, luruh menutupi tubuhnya. Persis ketika nyawanya pergi meninggalkan badannya yang membeku untuk mengawetkan organ-organ penting di tubuhnya. Suara ambulan terdengar meraung-raung dari kejauhan dan semakin jelas, semakin dekat.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Pada sebuah pesta, seorang gadis baru saja bergabung. Pandangannya menyapu semua tamu yang hadir, seperti mencari seseorang. Dia hampir putus asa saat pandangannya tertuju ke panggung. Di sana, di belakang piano seseorang sedang memainkannya. Begitu lembut nada yang mengalun, menelusup ke relung-relung jiwa sampai tak terasa habis sudah sebuah lagu dimainkan. Lelaki itu, perlahan beranjak dari tempatnya duduk, diiringin tepukan menggemuruh dari hadirin.</p>
<p style="text-align: justify;">Gadis itu pun beranjak menghampiri. Dia sibakkan kerumunan tamu yang hadir. Dihampirinya lelaki yang tadi memainkan piano.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berhadapan, tak ada kata yang terucap. Keharuan menyeruak di antara keduanya. Manakala pandangan gadis itu membentur kedua bola mata lelaki itu, dia merasa begitu akrab, seperti sudah kenal lama. Mereka pun berpelukan, bahagia nampak di permukaan, walaupun kepedihan menusuk jantung. Dan debar jantung gadis itu, dirasakan begitu dekat oleh si lelaki. Adalah nada yang mengalun penuh kerinduan dan penyerahan.</p>
<p><map name='google_ad_map_758_70aa80bd661cebb1'>
<area shape='rect' href='http://imageads.googleadservices.com/pagead/imgclick/758?pos=0' coords='1,2,367,28' />
<area shape='rect' href='http://services.google.com/feedback/abg' coords='384,10,453,23'/></map>
<img usemap='#google_ad_map_758_70aa80bd661cebb1' border='0' src='http://imageads.googleadservices.com/pagead/ads?format=468x30_aff_img&amp;client=&amp;channel=&amp;output=png&amp;cuid=758&amp;url= http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2009%2F09%2F01%2Ftujuh-pound%2F' /></p><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2009%2F09%2F01%2Ftujuh-pound%2F&amp;linkname=Tujuh%20Pound">Share/Bookmark</a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2009/09/01/tujuh-pound/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Namaku Mince</title>
		<link>http://unclegoop.com/2009/08/27/namaku-mince/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2009/08/27/namaku-mince/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 14:17:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[pintu jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[mince]]></category>
		<category><![CDATA[perangkap]]></category>
		<category><![CDATA[serpihan]]></category>
		<category><![CDATA[terinjak]]></category>
		<category><![CDATA[tikus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=752</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Mince, aku cantik sekali. Buluku kelabu kehitaman, moncongko bagus, ekorku panjang. Di antara itu semua, sebagai tikus jantan aku paling suka kumisku yang membentang rapi dan terkesan jantan. Ibuku Minul, dia pun cantik dan primadona di antara tikus. Ayahku, ah…aku tak pernah tahu. Kami sekawanan tikus tinggal di rumah Pak Endro. Rumah yang besar]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://yanwarinside.blog.telkomspeedy.com/files/2008/12/tikus.jpg"><img class="aligncenter" title="tikus" src="http://yanwarinside.blog.telkomspeedy.com/files/2008/12/tikus.jpg" alt="" width="320" height="218" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Namaku Mince, aku cantik sekali. Buluku kelabu kehitaman, moncongko bagus, ekorku panjang. Di antara itu semua, sebagai tikus jantan aku paling suka kumisku yang membentang rapi dan terkesan jantan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibuku Minul, dia pun cantik dan primadona di antara tikus. Ayahku, ah…aku tak pernah tahu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami sekawanan tikus tinggal di rumah Pak Endro. Rumah yang besar dengan banyak ruang, meski <span id="more-752"></span>tentu saja kami tak menempati ruang-ruang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Di balik almari di perpustakaan keluarga yang besar, di atas plafon, di rongga-rongga dinding. Di sanalah kami tinggal.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku benci menjadi tikus, terkadang aku cemburu pada Pak Endro dan anak-anaknya. Anak-anak yang masih kecil itu, setiap hari hanya bermain saja kerjanya. Mereka tak perlu bekerja, ayahnya akan mencukupi kebutuhannya. Tak seperti kami anak-anak tikus. Sedari kecil pun kami sudah harus bekerja.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa pekerjaan kami sebenarnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Kami mencuri, apalagi? Pekerjaan purba kami, simbol para koruptor. Dan kebetulan sekali, di rumah ini banyak yang bisa kami curi. Namun, di antara itu semua yang paling nikmat adalah roti kesukaan Bejo—anak bungsu Pak Endro. Roti itu lembut serta di dalamnya terdapat keju yang kuning dan meleleh. Saat yang paling pas sebenarnya adalah saat roti itu basi. Meskipun hal ini jarang kami temui. Bejo sangat rakus, akan dimakannya roti cepat-cepat. Bila kami beruntung, maka serpihan besar saja yang dapat kami makan.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu hari, Monti, seekor tikus lain menemukan keju dalam potongan yang besar. Dia rakus, maka keju itu pun dimakannya sendiri. Dia tak tahu bahwa keju itu beracun, maka dia pun mati tak berapa lama setelah gigitan terakhir.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berduka dan belajar agar lebih berhati-hati saat ada makanan yang tersaji. Kami akan mencium aroma yang terpancar dari makanan itu. Bila baunya aneh, maka sebaiknya dihindari saja. Sayangnya, bau makanan kami aneh-aneh karena kebanyakan sudah basi. Tapi, entah bagaimana ada beberapa tikus yang pintar membedakan makanan yang beracun dan memberikan peringatan kepada tikus yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sebuah siang yang sepi, Pak Endro bekerja, sementara Bejo tidur siang dalam pelukan ibunya. Aku leluasa berjalan-jalan menjelajahi seantero rumah untuk mencari roti atau makanan lain yang mungkin tersisa. Alih-alih makanan yang kudapat, sebuah peraduan kutemukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana menggambarkannya, ya? Kutemukan sebuah ruang kecil. Berjaring-jaring terbuat dari besi. Terlihat kokoh sekali ruang itu. Di bagian bawahnya, ada selimut dari lap meja. Dan, heiii, tergantung di tengah-tengah, pas dalam jangkauanku sekerat keju yang masih segar bergoyang-goyang.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku lihat ke kiri dan ke kanan, tak ada tikus lain, “Mungkin ini memang rejekiku.” Aku berkata dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan kesempatan yang akan terulang mungkin, maka segera kususun rencana. Aku akan masuk, mengambil keju itu dan berbaring hangat di selimut. Ah, rencana yang sempurna, bukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan-lahan aku masuk, kucoba meraih keju yang tergantung itu. Percobaan pertama gagal. Pada percobaan kedua, aku berhasil menyentuhnya. Sekadar menyentuh dan keju itu bergoyang. Namun, di belakangku aku mendengar suara lain, “BLAMM!” Aku menengok dan kulihat jalan masukku tadi sudah tiada.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terperangkap di dalam ruangan itu. tak tahu bagaimana keluar dari sana. Aku berteriak meminta tolong. Tak lama, serombongan tikus datang merubung ruang yang berbentuk kotak itu. Ibuku pun ada di sana. Salah satu di antara tikus itu ada yang bergumam, “Dia terjebak, tak mungkin lagi keluar.” Kemudian, satu demi satu mereka pergi meninggalkanku. Ibuku yang terakhir beranjak menjauh, sembari berjalan kulihat ia menyempatkan diri menengok ke arahku. Ada air mata yang menggenang di matanya, namun senyumnya tersungging dan kuyakin selaksa doa bertebaran dari kalbunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini aku sendiri. Terjebak di ruangan kecil bersama keju yang sudah tak kuhiraukan lagi. Keju itu terayun-ayun di tempatnya menggantung seperti mengejekku.</p>
<p style="text-align: justify;">Di kehangatan selimut dari lap meja itu lambat laun aku terlelap, kemudian bermimpi. Sebuah mimpi yang mengerikan. Di mimpi itu, aku telah mati karena berhasil memakan sekerat kecil keju beracun yang tergantung. Di dini hari itu, aku melihat tubuhku tergeletak begitu saja di tengah jalan kampung yang sebentar lagi ramai. Aku masih bisa melihat angin mengelus bulu-bulu hitam keabuan di tubuhku. Aku melihat bulu di sekitar tengkukku bergeletar ditiup angin, sensasi geli yang biasa kurasa pun masih terasa saat aku terpisah dengan tubuhku itu. Aku terbangun dari mimpi laknat itu, aku merasa tubuhku begitu ringan; saat kotak, jalan, bumi perlahan-lahan menjauh di bawahku, saat kulihat sebuah truk melindasku menjadi serpihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 10-23 Agustus 2009</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="tikus" href="http://yanwarinside.blog.telkomspeedy.com/files/2008/12/tikus.jpg" target="_blank">asal gambar</a></p>
<p><map name='google_ad_map_752_70aa80bd661cebb1'>
<area shape='rect' href='http://imageads.googleadservices.com/pagead/imgclick/752?pos=0' coords='1,2,367,28' />
<area shape='rect' href='http://services.google.com/feedback/abg' coords='384,10,453,23'/></map>
<img usemap='#google_ad_map_752_70aa80bd661cebb1' border='0' src='http://imageads.googleadservices.com/pagead/ads?format=468x30_aff_img&amp;client=&amp;channel=&amp;output=png&amp;cuid=752&amp;url= http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2009%2F08%2F27%2Fnamaku-mince%2F' /></p><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2009%2F08%2F27%2Fnamaku-mince%2F&amp;linkname=Namaku%20Mince">Share/Bookmark</a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2009/08/27/namaku-mince/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kacang</title>
		<link>http://unclegoop.com/2009/08/11/kacang/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2009/08/11/kacang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 01:34:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[pintu jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[angin]]></category>
		<category><![CDATA[bukit]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[kamboja]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[merpati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=740</guid>
		<description><![CDATA[Ojo koyo kacang lali lanjarane Pepatah jawa di atas, mempunyai padanan dalam Bahasa Indonesia, yaitu: kacang jangan lupa kulitnya. Mutiara kata dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia itu, seenaknya dinegasikan oleh John Dilinger dengan mudah. Ia tidak peduli lagi pada asal. Tujuanlah yang menjadi titik penting dalam hidupnya. Maka, bukanlah hal yang aneh manakala ia]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.pigeonsinc.com/white_Dove_flying.jpg"><img class="aligncenter" src="http://www.pigeonsinc.com/white_Dove_flying.jpg" alt="" width="338" height="253" /></a></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify">Ojo koyo kacang lali lanjarane</p>
</blockquote>
<p>Pepatah jawa di atas, mempunyai padanan dalam Bahasa Indonesia, yaitu: kacang jangan lupa kulitnya. Mutiara kata dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia itu, seenaknya dinegasikan oleh John Dilinger dengan mudah. Ia tidak peduli lagi pada asal. Tujuanlah yang menjadi titik penting dalam hidupnya.</p>
<p>Maka, bukanlah hal yang aneh manakala ia tidak peduli statusnya sebagai musuh masyarakat. Tak juga ia hirau pada profesinya sebagai perampok bank.</p>
<p>Dengan penuh percaya diri, ia lamar Billie, seorang petugas penitipan jaket di club, di mana John biasa menghabiskan waktu senggangnya. Ia jujur pada Billie siapa dia sebenarnya, apa kesukaannya, bagaimana profesinya dan potensi apa yang dimilikinya.</p>
<p>Karena tujuan yang menjadi titik penting bagi John, maka ia pun berani menjanjikan kehidupan bahagia bersama Billie suatu saat nanti. Ia lupa fakta bahwa dirinya menjadi incaran polisi yang sewaktu-waktu bisa terbunuh.</p>
<p>Atau, apakah memang kematian sebenarnya tujuan John sejak semula? Barangkali yang lebih tepat adalah John sadar sepenuhnya, bahwa selain mimpi yang digantungkannya setinggi awan bersama Billie, ada pula pintu lain yang menganga menantinya, itulah pintu kematiannya.</p>
<p>Inilah mungkin yang bisa membantu kita mengerti saat John membisikkan sederetan kalimat, justru kepada pembunuhnya yang dengan telengas telah menembakkan pistol ke tengkuk John. Dia perlu meminta bantuan polisi pembunuh itu, karena kata-katanya untuk Billie sudah tidak mungkin diucapkannya sendiri. “Bubye Blackbird.” Sebuah kalimat pendek, namun menghujam begitu dalam di lubuk hati Billie.</p>
<p>Persis, hanya John dan Billie yang tahu apa makna kata-kata terakhir itu. Pudarnya mimpi, hancurnya harapan, merepihnya asa. Semua hanya bisa dikira-kira saja, yang jelas, air mata berlinang di pipi Billie, sementara mulutnya terkatup rapat tak ada jerit, desah pun isak. <span style="color: #0000ff;">*</span></p>
<p style="text-align: center">***</p>
<p>Suatu malam, ketika saya wara-wiri di <a href="http://www.facebook.com/unclegoop" target="_blank">facebook</a>, tiba-tiba seorang <a href="http://g173cs.wordpress.com/" target="_blank">teman</a> menyapa.</p>
<p>“Ke mana tujuanmu?”</p>
<p>“He….”</p>
<p>“Ke mana tujuanmu?”</p>
<p>“Ke hari esok.”</p>
<p>“Ke mana, bukan kapan.”</p>
<p>“Err…besok mau ke kantor pagi-pagi.”</p>
<p>“Lantas, ke mana lagi?”</p>
<p>Saya bukan jengkel, tapi seperti asal menjawab, “Ke tanah di bawah pohon Kamboja.” Percakapan melalui layanan <em>chating</em> di facebook itu, tak hanya terhenti sampai di situ. Mengikuti kemudian di belakang serangkaian tanya jawab yang panjang.</p>
<p>Sungguh, tak pernah mengira saya akan mendapat pertanyaan semacam itu. Iseng-iseng, saya pun membalasnya dengan pertanyaan serupa, “Ke mana tujuanmu?”</p>
<p>Dia dengan enteng menjawab, “Aku tak tahu, maka aku tanyakan padamu.”</p>
<p>Sial betul ini orang, saya kira dia sedang menguji saya dan nantinya akan memberikan jawaban yang benar. Ternyata dia benar-benar bertanya. Dan jujur, saya tak puas dengan jawaban saya. Seperti ada yang salah tapi nampaknya benar dari jawaban itu. Bukanlah jawaban yang salah, namun juga tidak tepat sekali. <em>Wagu</em>, Nampaknya kata yang pas, meski saya tak temukan jawaban yang pas untuk tanya itu.</p>
<p>“Apakah Anda tahu, sobat, ke mana sebenarnya tujuan akhir langkah kaki kita ini?”</p>
<p style="text-align: center">***</p>
<p>Agustus, identik dengan parade, akrab sama karnaval. Tapi, deretan tiga buah kematian besar dalam satu minggu bukanlah hal yang sering terjadi.</p>
<p>1/</p>
<p>Ia meluncur seperti komet, bintang berekor yang nampak sekilas kemudian hilang. Meskipun terangnya, memahat harapan mereka yang melihatnya. Dan sayup tawanya masih jelas bisa kau dengar, bukan?</p>
<p>2/</p>
<p>Ia adalah kehadiran. Presence. Tak perlu ia berkata-kata, namun aura dan kharismanya melingkupi segala sesuatu. Bahkan setelah kematiannya, ia nampak masih seperti mengepakkan sayapnya yang puspa warna, bagaikan burung Merak.<span style="color: #0000ff;">**</span></p>
<p>3/</p>
<p>Entah ia siapa, identitasnya masih ragu-ragu dan menunggu. Kendati begitu, ia senang bermain-main dengan malaikat maut yang sabar menarik-ulur nyawanya, bahkan sampai tujuh belas jam. Tidaklah di tengah kemegahan hotel dan restoran mewah ia terbujur. Namun di kakus, di jamban ia tergeletak. Anyir darahnya bercampur dengan pesing dan bau tahi, yang menguar, mencemarkan harum tembakau dan semilir angin di pinggang bukit.</p>
<p style="text-align: center">***</p>
<p>Saya masih tak tahu, tak juga paham ke mana akhir langkah kaki ini. Barangkali selama hayat masih dikandung badan, masih kuat melangkah meski setapak, rasa-rasanya akan terus maju.</p>
<p>Semoga tawa: Ha Ha Ha Ha akan sering dijumpai pertanda bahagia. Berharap agar jalan terjal dan manakala harus berjuang sebagai pelaksanaan kata-kata tak terlampau sukar ditempuh. Barangkali saat tiba masa istirahat, bisa menjadi saksi aroma tembakau yang harum, pipi gadis gunung yang ranum dan embun, yang tergelincir jatuh dari pucuk daun ke lanjaran-lanjaran kacang. <span style="color: #0000ff;">***</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">*</span>) film public enemies</p>
<p><span style="color: #0000ff;">**</span>) email dari <a href="http://pejalanjauh.com" target="_blank">pejalan jauh</a></p>
<p><span style="color: #0000ff;">***</span>) asal kata dari ‘kacang lanjaran’ yang sama dengan ‘kacang panjang’</p>
<p style="text-align: justify">
<p><map name='google_ad_map_740_70aa80bd661cebb1'>
<area shape='rect' href='http://imageads.googleadservices.com/pagead/imgclick/740?pos=0' coords='1,2,367,28' />
<area shape='rect' href='http://services.google.com/feedback/abg' coords='384,10,453,23'/></map>
<img usemap='#google_ad_map_740_70aa80bd661cebb1' border='0' src='http://imageads.googleadservices.com/pagead/ads?format=468x30_aff_img&amp;client=&amp;channel=&amp;output=png&amp;cuid=740&amp;url= http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2009%2F08%2F11%2Fkacang%2F' /></p><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2009%2F08%2F11%2Fkacang%2F&amp;linkname=Kacang">Share/Bookmark</a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2009/08/11/kacang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
