New Year Eve
Dua malam tahun baru dilewatkan di kereta api. Apa itu permenungan? Apa itu kembang api? Apa itu perayaan? dan baca selengkapnya…
Dua malam tahun baru dilewatkan di kereta api. Apa itu permenungan? Apa itu kembang api? Apa itu perayaan? dan baca selengkapnya…

Entah siapa nama ibu itu. Beliau selalu duduk di tempat yang sama. Busananya saya tak ingat betul, namun kerudung selalu menutup kepalanya.
Dua orang anak kecil akan berlarian di sepanjang tangga. Terkadang bahkan dan baca selengkapnya…

Bunuh diri untuk sesuatu yang bermanfaat sepertinya kian lazim akhir-akhir ini. Memang toleransi besar diberikan di negara yang sedang perang, semacam di Afganistan atau Palestina. Tapi di sini, di Indonesia, masih banyak yang mempertanyakan alasan di baliknya. Benarkah surga bisa digapai begitu mudah dengan meledakkan diri di kerumunan orang? Di lain pihak, lepas dari gegap gempita menghebohkan yang ditimbulkan oleh tindakan itu, seseorang juga melakukan bunuh diri dengan alasan yang sama sekali berbeda.
Satu malam, dan baca selengkapnya…
Namaku Mince, aku cantik sekali. Buluku kelabu kehitaman, moncongko bagus, ekorku panjang. Di antara itu semua, sebagai tikus jantan aku paling suka kumisku yang membentang rapi dan terkesan jantan.
Ibuku Minul, dia pun cantik dan primadona di antara tikus. Ayahku, ah…aku tak pernah tahu.
Kami sekawanan tikus tinggal di rumah Pak Endro. Rumah yang besar dengan banyak ruang, meski dan baca selengkapnya…
Ojo koyo kacang lali lanjarane
Pepatah jawa di atas, mempunyai padanan dalam Bahasa Indonesia, yaitu: kacang jangan lupa kulitnya. Mutiara kata dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia itu, seenaknya dinegasikan oleh John Dilinger dengan mudah. Ia tidak peduli lagi pada asal. Tujuanlah yang menjadi titik penting dalam hidupnya.
Maka, bukanlah hal yang aneh manakala ia tidak peduli statusnya sebagai musuh masyarakat. Tak juga ia hirau pada profesinya sebagai perampok bank.
Dengan penuh percaya diri, ia lamar Billie, seorang petugas penitipan jaket di club, di mana John biasa menghabiskan waktu senggangnya. Ia jujur pada Billie siapa dia sebenarnya, apa kesukaannya, bagaimana profesinya dan potensi apa yang dimilikinya.
Karena tujuan yang menjadi titik penting bagi John, maka ia pun berani menjanjikan kehidupan bahagia bersama Billie suatu saat nanti. Ia lupa fakta bahwa dirinya menjadi incaran polisi yang sewaktu-waktu bisa terbunuh.
Atau, apakah memang kematian sebenarnya tujuan John sejak semula? Barangkali yang lebih tepat adalah John sadar sepenuhnya, bahwa selain mimpi yang digantungkannya setinggi awan bersama Billie, ada pula pintu lain yang menganga menantinya, itulah pintu kematiannya.
Inilah mungkin yang bisa membantu kita mengerti saat John membisikkan sederetan kalimat, justru kepada pembunuhnya yang dengan telengas telah menembakkan pistol ke tengkuk John. Dia perlu meminta bantuan polisi pembunuh itu, karena kata-katanya untuk Billie sudah tidak mungkin diucapkannya sendiri. “Bubye Blackbird.” Sebuah kalimat pendek, namun menghujam begitu dalam di lubuk hati Billie.
Persis, hanya John dan Billie yang tahu apa makna kata-kata terakhir itu. Pudarnya mimpi, hancurnya harapan, merepihnya asa. Semua hanya bisa dikira-kira saja, yang jelas, air mata berlinang di pipi Billie, sementara mulutnya terkatup rapat tak ada jerit, desah pun isak. *
***
Suatu malam, ketika saya wara-wiri di facebook, tiba-tiba seorang teman menyapa.
“Ke mana tujuanmu?”
“He….”
“Ke mana tujuanmu?”
“Ke hari esok.”
“Ke mana, bukan kapan.”
“Err…besok mau ke kantor pagi-pagi.”
“Lantas, ke mana lagi?”
Saya bukan jengkel, tapi seperti asal menjawab, “Ke tanah di bawah pohon Kamboja.” Percakapan melalui layanan chating di facebook itu, tak hanya terhenti sampai di situ. Mengikuti kemudian di belakang serangkaian tanya jawab yang panjang.
Sungguh, tak pernah mengira saya akan mendapat pertanyaan semacam itu. Iseng-iseng, saya pun membalasnya dengan pertanyaan serupa, “Ke mana tujuanmu?”
Dia dengan enteng menjawab, “Aku tak tahu, maka aku tanyakan padamu.”
Sial betul ini orang, saya kira dia sedang menguji saya dan nantinya akan memberikan jawaban yang benar. Ternyata dia benar-benar bertanya. Dan jujur, saya tak puas dengan jawaban saya. Seperti ada yang salah tapi nampaknya benar dari jawaban itu. Bukanlah jawaban yang salah, namun juga tidak tepat sekali. Wagu, Nampaknya kata yang pas, meski saya tak temukan jawaban yang pas untuk tanya itu.
“Apakah Anda tahu, sobat, ke mana sebenarnya tujuan akhir langkah kaki kita ini?”
***
Agustus, identik dengan parade, akrab sama karnaval. Tapi, deretan tiga buah kematian besar dalam satu minggu bukanlah hal yang sering terjadi.
1/
Ia meluncur seperti komet, bintang berekor yang nampak sekilas kemudian hilang. Meskipun terangnya, memahat harapan mereka yang melihatnya. Dan sayup tawanya masih jelas bisa kau dengar, bukan?
2/
Ia adalah kehadiran. Presence. Tak perlu ia berkata-kata, namun aura dan kharismanya melingkupi segala sesuatu. Bahkan setelah kematiannya, ia nampak masih seperti mengepakkan sayapnya yang puspa warna, bagaikan burung Merak.**
3/
Entah ia siapa, identitasnya masih ragu-ragu dan menunggu. Kendati begitu, ia senang bermain-main dengan malaikat maut yang sabar menarik-ulur nyawanya, bahkan sampai tujuh belas jam. Tidaklah di tengah kemegahan hotel dan restoran mewah ia terbujur. Namun di kakus, di jamban ia tergeletak. Anyir darahnya bercampur dengan pesing dan bau tahi, yang menguar, mencemarkan harum tembakau dan semilir angin di pinggang bukit.
***
Saya masih tak tahu, tak juga paham ke mana akhir langkah kaki ini. Barangkali selama hayat masih dikandung badan, masih kuat melangkah meski setapak, rasa-rasanya akan terus maju.
Semoga tawa: Ha Ha Ha Ha akan sering dijumpai pertanda bahagia. Berharap agar jalan terjal dan manakala harus berjuang sebagai pelaksanaan kata-kata tak terlampau sukar ditempuh. Barangkali saat tiba masa istirahat, bisa menjadi saksi aroma tembakau yang harum, pipi gadis gunung yang ranum dan embun, yang tergelincir jatuh dari pucuk daun ke lanjaran-lanjaran kacang. ***
*) film public enemies
**) email dari pejalan jauh
***) asal kata dari ‘kacang lanjaran’ yang sama dengan ‘kacang panjang’
Anak kecil yang berjalan itu tak perhatikan langkahnya. Dibiarkannya kaki melangah tak hirau walau kadang terantuk batu. Kepalanya menengadah memandang ke langit.
Tak pelak, serangkum kekaguman melanda dirinya. Sejauh mata memandang hanyalah biru yang bersih. Lain saat, ketika pandangannya kembali diarahkan ke langit, tak hanya biru yang nampak, melainkan juga putih warna awan-awan. Waktu berbeda, awan yang sama menawarkan warna lain. Kelabu beranjak hitam, mengabarkan mendung walau tak selalu berarti hujan.
Bertahun kemudian, dia membaca sebuah buku dan tahulah kenapa awan berwarna kelabu. Seperti tertera pada buku itu: Jalil pernah memberi tahu Mariam, bahwa awan kelabu mendapatkan warnanya karena begitu tebal sehingga bagian atasnya menyerap cahaya matahari dan meneruskan bayangannya ke bagian dasarnya. (A Thousand Splendid Sun)
Liburan datang, darmawisata diadakan. Laut dan pantai menjadi tujuannya kini. Manakala dia dududk di pantai kembali nyanyian warna yang dia lihat. Kebiruan laut yang membentang sampai ke batas antara laut dan langit. Kehitaman pasir yang menelusup di jemari kakinya; membuat geli. Warna-warni terpal pedagang di tepi pantaiyang tak jauh dari jalan pun tak luput dari perhatiannya.
Semenjak itu, waktu entah kapan dia tak lagi ingat, tercetak jelas dalam pikirannya. Tergambar begitu rupa tak hendak lepas dari benaknya. Ihwal warna.
Ini mengenai selera. Maka, ketika dia beranjak besar mulai diketahuinya makna-makna warna. Dan, warna biru yang melabur langit begitu bersih tak pernah membuatnya risau. Detik itulah saat dia memutuskan warna kesukaannya.
Pengetahuan sedikit demi sedikit didapatnya. Takjub tak juga mengenal kata mandek ketika dia mengetahui perihal warna dasar: merah, hijau, biru. Pula, saat didapatnya pengertian mengenai jingga, kuning, ungu, sebagai hasil padu-padan warna-warna primer. Bahkan, kemudian muncul pula kesadaran bahwa kemungkinan tak juga mengenal tanda titik saat berkenalan dengan pink, merah maroon, biru donker, hijau daun.
Saat dia berjalan, senandung warna itu pun mulai terdengar. Sesekali mengalun dengan sempurna saat gradasi warna mata tertangkap bola matanya. Namun lebih sering bunyi yang acak karena tak bisa diaturnya komposisi warna jagat raya.
Satu hal yang dia ketahui dan tak hendak berubah, bahwa warna-warni lebih lengkap dan indah ketimbang hanya ada sebuah warna saja. Ibarat sebuah lagu yang terdiri dari sebuah nada, apa menariknya?