Category Archives: loteng baca

Izin untuk Nak Joko

Share in top social networks, email, translate, and more!

Jokowi_dan_JK

Hari ini, calon presiden Joko Widodo mendeklarasikan calon wakil presidennya, yaitu Jusuf Kalla. Pemberitaan mengenai hal itu pasti sudah banyak dan mungkin membuat bosan.

Namun, dalam rangkaian deklarasi Capres dan Cawapres Joko Widodo, ada satu adegan yang mengharukan.

Di televisi, banyak gambar yang disajikan, namun ada sekilas adegan yang terekam jelas di benak saya. Barangkali rangkaian gambar ini pun tak menarik perhatian banyak orang. Jadi, suatu kebetulan saja kalau saya sampai melihatnya.

Siang itu, selepas para pemimpin partai memberikan pernyataan, tibalah giliran Jokowi untuk meminta izin. Dia meminta izin untuk mendeklarasikan pencapresannya dan sekaligus pengumuman siapa yang akan terpilih sebagai wakilnya.

Setelah berpidato sebentar, Jokowi kemudian segera berjalan dengan cepat meninggalkan rumah Ketua Umum PDIP, Megawati.

Nah, saat itulah momen yang tak sengaja itu terekam. Mendadak, cameramen mengambil gambar deretan para ketua umum yang masih duduk di kursi.

Pandangan mereka jauh, melihat ke punggung Jokowi, seperti mengantar kepergian Jokowi.

Bagi saya, momen yang sejenak ini terasa istimewa. Saya kemudian teringat para orang tua yang sedang mengantar kepergian anaknya.

Seperti orang tua yang melepas anaknya untuk bersekolah pertama kali di pintu gerbang. Selayaknya orang tua yang mengantar anaknya ke terminal bis karena akan bekerja di kota lain.

Para orang tua itu saya duga lebih senang bila anak-anaknya tetap berada di rumah dalam pelukannya. Lebih senang bila tetap berada di bawah pengawasannya. Lebih senang bila berada dekat.

Namun, para orang tua itu kemudian harus ikhlas. Anaknya tak akan selamanya ada di dalam rumah. Dia perlu keluar untuk sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang berguna untuk masa depannya.

Anak adalah persembahan orang tua untuk dunia, untuk masa depan. Meski orang tua tak pernah tahu apakah anaknya akan berhasil atau tidak, akan kembali atau tidak. Orang tua tetap mendorong, merestui, dan mendukung dari belakang, sampai anak itu bisa, sampai anak itu berhasil.

Bagi saya, sekelumit adegan tersebut dan maknanya yang sewenang-wenang saya berikan, entah kenapa menimbulkan haru.

Sila baca juga puisi karya Kahlil Gibran ‘Anakmu bukan Anakmu’ di sini

Gambar dipinjam dari sini