Category Archives: loteng baca

3 Cara Beriklan yang Baik?

Capture_advertisement

Cobalah mengingat saat terakhir kali Anda membutuhkan sesuatu yang benar-bener diinginkan dan diperlukan. Sesuatu yang benar-benar membuat hidup Anda lebih mudah dan menyenangkan.

Apakah saat itu Anda didorong, dipaksa, atau diganggu? Saya menduga pasti tidak. Manfaat atau keuntungan yang didapat adalah sesuatu yang membuat pengalaman membeli menjadi begitu menyenangkan.

Bahkan, barangkali Anda tak sadar, bahwa saat itu ada proses beriklan. Seperti halnya ketika Anda bersekolah dan seorang murid teladan sibuk dengan urusannya sendiri. Anda tak akan sadar apa yang dilakukannya.

Kenapa Anda tak menyadari hal itu?

Jawabannya adalah, karena tak ada hal yang mencurigakan terjadi.

Hal tersebut persis sama dengan proses beriklan. Anda hanya akan sadar proses itu bila dilakukan dengan buruk dan menyangkut sebuah produk yang tidak Anda perlukan atau inginkan.

Coba perhatikan beberapa contoh kejadian berikut:

  • Satu ketika Anda sakit dan dokter keluarga memiliki kemampuan untuk memberikan satu pil yang segera menyembuhkan penyakit.
  • Satu ketika mobil Anda pecah ban dan tidak membawa ban cadangan pada tengah malam di bagian kota yang mengerikan. Mendadak sebuah ada sebuah mobil yang berhenti dan menolong.
  • Televisi Anda mendadak rusak padahal final Liga Champion akan ditayangkan sebentar lagi dan Anda menelepon teknisi untuk memperbaikinya di saat-saat terakhir.

Pada skenario-skenario tersebut di atas, apakah Anda akan marah bila orang-orang yang menolong tersebut minta imbalan yang pantas? Jawabannya tentu tidak, bukan?

Anda tak akan keberatan karena mereka membantu menyelesaikan persoalan. Mereka meluangkan waktu untuk memberikan layanan kepada Anda. Sebagai pembeli, manakala seseorang menyelesaikan masalah kita, biasanya dengan senang hati kita akan membayar atas jasa yang diberikan, bukan?

Sebagai manusia, dalam hidup Anda tentu pernah meminta atau mengajak seseorang untuk melakukan suatu hal. Jika Anda pernah meminta putra/putri Anda untuk duduk diam di kursi agar dokter bisa menusukkan jarumnya, membujuk mereka biarpun mereka histeris di hari pertama sekolah, atau meyakinkan mereka untuk tidur meskipun menangis karena masih ingin bermain. Anda melakukan hal itu terus menerus tanpa merasa bosan, sesungguhnya menunjukkan, bahwa Anda memiliki kemampuan mengajak/beriklan yang luar biasa.

Apakah Anda melakukan semua hal di atas kepada putra/putri sebagai suatu jebakan atau lelucon belaka? Tentu tidak, Anda melakukannya semata-mata karena peduli dan agar mereka belajar untuk membuat keputusan dengan bijak.

Klien atau pelanggan Anda pun begitu, terkadang mereka membutuhkan penyelesaian atas persoalan yang dihadapi, membutuhkan informasi mengenai keterampilan yang tak mereka miliki, perlu pertimbangan dalam pengambilan keputusan penting mereka. Semua orang itu memerlukan pertolongan. Namun, biarpun Anda adalah orang yang tepat untuk menolong mereka, tak akan berguna bila mereka tak percaya pada Anda.

Oleh karena itu, Anda perlu membujuk mereka. Namun, bagaimana kode etik untuk mengajak atau beriklan pada orang lain?

Pertama sekali, Anda harus mengajukan tiga pertanyaan dasar sebelum beriklan pada pembaca/pengikut dan menghindari sebuah iklan yang buruk.

Apakah Anda benar-benar mengetahui apa yang mereka inginkan, perlukan, dan harapkan?

Ajakan atau iklan Anda akan terasa buruk jika yang ditawarkan tidak relevan dengan situasi seseorang. Namun, di lain sisi sebuah ajakan yang sesuai dengan kebutuhan seseorang akan diterima dengan pikiran dan tangan terbuka.

Jadi, apakah Anda menawarkan sesuatu yang benar pada orang lain karena Anda tahu apa kebutuhan mereka seperti Anda mengetahui kebutuhan Anda sendiri?

Ataukah Anda menawarkan bantuan yang sesuai dengan kepentingan Anda sendiri tanpa mengetahui secara mendalam apa yang sebenarnya diperlukan dan diinginkan oleh pembaca Anda?

Apakah iklan atau bantuan Anda sudah berfokus pada manfaat daripada hanya tampilan semata?

Jika Anda memenuhi iklan dengan tampilan semata, maka orang akan merasa mereka sedang dijual juga. Sebuah tampilan menjawab pertanyaan “Apa ini/itu?”

Sebaliknya, manfaat menjawab pertanyaan “Apa yang akan terjadi denganku?”

Manfaat adalah suatu hal seperti, ini membantu Anda menulis lebih cepat, memberikan waktu lebih banyak untuk keluarga, atau membatu Anda lebih sehat.

Jika tawaran Anda dibingkai dalam manfaat yang diberikan, dan percaya bahwa Anda bisa menyampaikan manfaat tersebut, maka Anda telah beriklan dengan baik.

Apakah hal itu bagus untuk ibu Anda?

Barangkali terasa lucu, namun ini adalah pertanyaan paling penting dari semua hal. Jangan pernah berkata, melakukan, atau menjanjikan sesuatu yang tak ingin Anda katakan, lakukan, atau janjikan pada ibu Anda.

Jika Anda tak merasa malu, gugup, atau buruk saat menawarkan sesuatu pada ibu sendiri, maka Anda sungguh hebat. Silakan tidur nyenyak dan buatlah iklan dengan penuh percaya diri.

Sumber tulisan dari sini

Sumber gambar dari sini

Hati yang Patah

bluebird_alone_in_the_rain

Bagaimanakah hati yang patah, bisa kembali utuh saat ia telah hancur?
Tolong, ajarkan hati itu agar bisa berdetak lagi….

Wanita itu datang menjelang malam ketika hujan. Mukanya tampak lelah dan bajunya sudah lusuh. Sepertinya dia baru saja
menempuh perjalanan yang jauh.

Tak yakin, diedarkan pandangannya berkeliling. Agak lama dia menatap nomor rumahku. Dirogoh kantung depan celana jeans-nya yang mulai basah. Dikeluarkannya secarik kertas, dilihat sekilas, kemudian seulas senyum terkembang, begitu samar.

Langkah kakinya kemudian mengawali memasuki gerbang rumah. Kecipak air tercipta ketika ia menapak di taman berumput. Seperti tak sabar, ia mulai berlari dan menimbulkan debum saat mulai menaiki tangga ke beranda.

Seperti terganggu padahal sudah kuperhatikan dari tadi sosoknya aku pun membuka pintu. Tanpa menunggu dia mengetuk dulu.

Di sana dia sedang membungkuk, air menetes dari rambutnya yang panjang dan membasahi beranda. Mendengar derit pintu dibuka, dia terperanjat. Kami bersitatap, cukup lama. Kemudian matanya bergerak mencari sesuatu, bukan aku.

“Maaf, saya Alyss, apakah benar ini rumah Leandro?”
“Dulunya, sekarang bukan lagi.”
“Tapi… saya cuma punya alamat ini. Tahukah, Nona, di mana saya harus mencarinya?”
“Aku tak tahu. Kamu ini siapanya Leandro?”
“Ah, maaf, saya dulu kekasihnya.”

Pengakuan singkat itu membuatku terkesima. Seseorang dari masa lalu Leandro datang begitu tiba-tiba, membawaku pada kenanganku sendiri bersama lelaki itu. Rupanya, selama ini aku belum benar-benar mengenalnya.

“Nona… Nona….”

Panggilan Alyss membuyarkan kenanganku. Merenggutku kembali ke beranda bersama mantan kekasih Leandro.

“Ya?”
“Saya sudah begitu jauh ke sini, tak adalah sekadar info apa saja mengenai Leandro?”
“Terakhir kutemui dia adalah ketiga aku pindah ke sini. Mungkin kamu bisa googling namanya untuk tahu di mana dia sekarang.”

Dia melangkah pergi tanpa permisi. Sambil menunduk, tak sadar hujan yang terus turun membasahi.

==

Hari berganti, aku hampir lupa pada Alyss, sampai di suatu pagi yang berkabut, kutemukan ia sudah duduk di satu-satunya kursi yang ada di beranda. Itu kursiku, tempat biasa aku melewatkan pagi, menikmati secangkir teh hangat.

Dia tertidur, kuduga dia melewatkan malam panjang di perjalanan dan kemudian tidur di kursiku. Tak tega aku membangunkannya, kulihat wajahnya dan lelah itu masih ada di sana. Kulirik teh hangat yang sedianya kubuat untukku. Urung kuminum teh itu, kuletakkan di meja, kuikhlaskan untuknya.

Kemudian aku malah melepas sandalku dan bertelanjang kaki kususuri halaman berumput yang masih basah oleh embun sisa semalam. Dingin embun yang mengelusi kakiku menuntunku padamu, Leandro, yang sekarang sudah di pelukan Tuhan.

Aku bimbang, haruskah kuceritakan pada Alyss tentang kepergianmu yang takkan pernah kembali lagi? Aku tahu, di wajahnya yang lelah itu, tentu karena mencarimu dan tak kunjung bertemu.

“Nona….”

Sebuah suara lembut dan menenangkan memanggilku dari belakang. Tak jauh, Alyss sudah berdiri di sana menatapku, merasa bersalah.

“Saya mohon maaf karena sudah duduk di kursi itu dan datang begini pagi. Saya juga berterima kasih untuk secangkir teh hangat yang tersaji di meja.”

Aku diam saja, kuperhatikan rumput yang muncul di sesela jemari kakiku.

“Seperti yang Nona bilang tempo hari. Saya mencari Leandro di Google. Saya berhasil temukan dia. Ah… kenapa saya bodoh sekali, tak dari dulu melakukannya. Namun, di antara banyak temuan saya, salah satunya adalah ini.”

Ia mengangsurkan ponsel canggihnya ke arahku. Di sana, aku bisa melihat sebuah foto. Itu foto Leandro yang sedang merangkulku. Di foto itu, aku tersenyum, Leandro tersenyum, tapi saat kulihat Alyss, dia seperti ingin menangis.

“Kenapa Nona berbohong?”
“Sori, aku yang salah. Tapi sekarang sudah tak ada apa-apa lagi di antara kami. Kamu boleh memilikinya.”
“Tapi, di mana dia sekarang?”
“Aku tak tahu, itu bukan urusanku. Kamu boleh pergi.”
“Nona, izinkan saya menyampaikan sebuah pesan andai Nona bertemu dengannya. Katakan padanya, dia adalah hal terbaik yang pernah dianugerahkan untuk saya. Terima kasih.”

Seperti kemarin, kemudian ia langsung beranjak pergi tanpa permisi. Aku memakluminya sambil kuseka air mata. Sebenarnya aku pun bersyukur, ia tak melihat kita, Leandro, duduk berpangku-pangkuan di kursi beranda itu. Tentu akan patah hatinya. Aku harap, dalam pencariannya, ia bertemu seseorang yang akan mengajari hatinya agar bisa berdetak lagi dan kembali utuh setelah ia hancur.

==

Ini tanggal lima belas bulan ketiga. Hari di mana kamu, Leandro, pergi untuk selama-lamanya. Ini juga hari ketika hatiku patah. Hari ini, seperti juga tahun lalu, aku akan datang menziarahi makammu. Mengumpulkan remukan hati yang hancur, menyatukannya sambil berdoa untuk kebahagiaanmu di alam sana.

Sudah sore ketika kutiba di kompleks pemakamanmu. Kususuri jalan setapak yang teduh dan mencemaskan itu. Kematian, selalu membuatku jeri. Dan nisan, seperti kawan lama yang memanggil-manggil. Maka, kupercepat langkah, segera kutuju sudut di mana kamu dikebumikan.

Aku pangling dengan sudut yang tiap tahun kudatangi itu. Rupanya, sebuah makam baru ada di sana. Di atas tanah merah di makam baru itu, kembang-kembang belum lagi layu. Kulihat ada nisan di atas makam itu. Sebuah nama tertera di sana: Alyss.

==
Lagu Christina Perri – Bluebird yang menjadi inspirasi dari cerita ini.

How the hell does a broken heart
Get back together when it’s torn apart
Teach itself to start beating again

This little bluebird came looking for you
I said that I hadn’t seen you in quite some time
And this little bluebird she came looking again
I said we weren’t even friends
She could have you

Don’t you think it was hard
I didn’t even say that you died
But it wouldn’t have been such a lie
Cause then I started to cry

This little bluebird sure won’t give it a rest
She swears that you may be better than all the rest
I said no you’ve got it all wrong
If he was something special I wouldn’t have this song

And don’t you think it was hard
I didn’t even say that you died
But it wouldn’t have been such a lie
Cause then I started to cry

How the hell does a broken heart get back together when it’s torn apart
And teach itself to start beating again
What if when she she comes over I am in your arms
Taking all i want from you again

How the hell does a broken heart get back together when it’s torn apart
And teach itself to start beating again
How the hell does a broken heart get back together when it’s torn apart
Teach itself to start beating again
Beating again

This little bluebird won’t come round here anymore
So I went looking for her
And I found you

Sumber gambar dari sini

Resensi: Inferno

Inferno1. Data Buku

Judul Buku: Inferno
Penulis: Dan Brown
Nama Penerbit: PT Bentang Pustaka
Cetakan dan Tahun Terbit: Cetakan  II, Oktober 2013
Jumlah Halaman: 642 Halaman

2. Judul Resensi
Kelindan Neraka

3. Ikhtisar Isi Buku
Inferno karya Dan Brown seperti biasa, menawarkan plot cerita yang begitu cepat. Dalam buku ini, cerita diawali pada tengah malam dan berakhir di dini hari berikutnya. Dalam sehari itu, cerita bergulir dari Florence ke Venesia di Italia kemudian terbang ke Istambul di Turki. Awas, barangkali Anda akan terengah-engah membacanya. Continue reading