But You Didn’t

Capture_Twit

Seorang wanita tak dikenal menemukan belahan jiwanya bertahun yang lalu. Ia kemudian menulis puisi yang menceritakan kebahagiaan kehidupan mereka berdua. Waktu berselang dan kemudian anak gadis wanita tadi menemukan puisi itu:

Ingatkah hari itu, ketika aku pinjam mobil barumu dan langsung membuatnya penyok?

Kukira kamu akan membunuhku.

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, saat aku memuntahkan pie strowberry di karpet barumu?

Kukira kamu akan membenciku.

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, ketika aku memaksamu ke pantai dan kemudian hujan turun sesuai prediksimu?

Kukira kamu akan berkata, “Nah, kan… apa kubilang?”

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, ketika aku menggoda banyak cowok untuk membuatmu cemburu?

Aha, kemudian kamu memang cemburu hebat.

Kukira kamu akan meninggalkanku.

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, saat kamu pakai jeans dan kaos karena aku lupa kasih tahu untuk pakai pakaian resmi di pesta dansa?

Kukira kamu akan acuhkan aku

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ya, banyak sekali yang tak kamu lakukan.

Tapi, kamu ada untukku, mencintaiku, melindungiku.

Kemudian, ada banyak hal yang ingin kulakukan untukmu saat kamu kembali dari Vietnam.

Tapi, kamu tak melakukannya.

===

Penulis dari puisi tersebut adalah wanita Amerika yang suaminya bergabung dengan tentara dan pergi ke medan perang di Vietnam ketika anak mereka berusia empat tahun.

Semenjak saat itu, wanita tadi hanya memiliki putrinya.

Di medan perang, suaminya meninggal. Wanita itu pun menjanda dan kemudian meninggal di usia lanjut.

Ketika putrinya merapikan barang-barang peninggalan wanita itu, ia menemukan puisi dari ibu untuk ayahnya itu yang berjudul ‘But You Didn’t’

Diterjemahkan dari sini:

http:/listarama.com/one-knew-love-poem-till-died-turned-something-will-never-forget/

Izin untuk Nak Joko

Jokowi_dan_JK

Hari ini, calon presiden Joko Widodo mendeklarasikan calon wakil presidennya, yaitu Jusuf Kalla. Pemberitaan mengenai hal itu pasti sudah banyak dan mungkin membuat bosan.

Namun, dalam rangkaian deklarasi Capres dan Cawapres Joko Widodo, ada satu adegan yang mengharukan.

Di televisi, banyak gambar yang disajikan, namun ada sekilas adegan yang terekam jelas di benak saya. Barangkali rangkaian gambar ini pun tak menarik perhatian banyak orang. Jadi, suatu kebetulan saja kalau saya sampai melihatnya.

Siang itu, selepas para pemimpin partai memberikan pernyataan, tibalah giliran Jokowi untuk meminta izin. Dia meminta izin untuk mendeklarasikan pencapresannya dan sekaligus pengumuman siapa yang akan terpilih sebagai wakilnya.

Setelah berpidato sebentar, Jokowi kemudian segera berjalan dengan cepat meninggalkan rumah Ketua Umum PDIP, Megawati.

Nah, saat itulah momen yang tak sengaja itu terekam. Mendadak, cameramen mengambil gambar deretan para ketua umum yang masih duduk di kursi.

Pandangan mereka jauh, melihat ke punggung Jokowi, seperti mengantar kepergian Jokowi.

Bagi saya, momen yang sejenak ini terasa istimewa. Saya kemudian teringat para orang tua yang sedang mengantar kepergian anaknya.

Seperti orang tua yang melepas anaknya untuk bersekolah pertama kali di pintu gerbang. Selayaknya orang tua yang mengantar anaknya ke terminal bis karena akan bekerja di kota lain.

Para orang tua itu saya duga lebih senang bila anak-anaknya tetap berada di rumah dalam pelukannya. Lebih senang bila tetap berada di bawah pengawasannya. Lebih senang bila berada dekat.

Namun, para orang tua itu kemudian harus ikhlas. Anaknya tak akan selamanya ada di dalam rumah. Dia perlu keluar untuk sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang berguna untuk masa depannya.

Anak adalah persembahan orang tua untuk dunia, untuk masa depan. Meski orang tua tak pernah tahu apakah anaknya akan berhasil atau tidak, akan kembali atau tidak. Orang tua tetap mendorong, merestui, dan mendukung dari belakang, sampai anak itu bisa, sampai anak itu berhasil.

Bagi saya, sekelumit adegan tersebut dan maknanya yang sewenang-wenang saya berikan, entah kenapa menimbulkan haru.

Sila baca juga puisi karya Kahlil Gibran ‘Anakmu bukan Anakmu’ di sini

Gambar dipinjam dari sini

Rahasia Belahan Jiwa

Broken_mirror

Orang seringkali berpikir, bahwa belahan jiwa adalah pasangannya yang sempurna. Namun, belahan jiwa sesungguhnya seperti cermin. Seseorang yang menunjukkan  dirimu, termasuk segala sesuatu di belakang dari masa lalu yang menahanmu. Dia ada untuk membawamu kepada sebuah perubahan yang jumbuh dengan keinginanmu.

Belahan jiwa sejati barangkali adalah orang terpenting yang pernah menemuimu. Dia merubuhkan tembok pertahanan dan menampar, membangunkanmu. Namun, mungkinkah hidup dengannya untuk selamanya?

 Ah, sangat menyakitkan.

Belahan jiwa, dia datang dalam hidupmu hanya untuk menunjukkan bagian lain dari dirimu. Bagian yang mungkin kamu sendiri tak tahu ada di sana. Kemudian, dia akan pergi.

Belahan jiwa datang untuk meninggikanmu, sedikit mematahkan egomu, menunjukkan halangan dan kecanduanmu, membuka ruang baru di hatimu sehingga cahaya baru bisa memasukinya, membuatmu sangat putus asa dan lepas kendali dan kemudian mengubah hidupmu, selanjutnya memperkenalkanmu pada guru spiritual….

Sumber tulisan dari sini

Sumber gambar dari sini