<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>unclegoop[dot]com &#187; loteng baca</title>
	<atom:link href="http://unclegoop.com/category/loteng-baca/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://unclegoop.com</link>
	<description>melintas batas ruang dan waktu</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 02:43:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kutipan 1</title>
		<link>http://unclegoop.com/2012/02/09/kutipan-1/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2012/02/09/kutipan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 02:43:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[loteng baca]]></category>
		<category><![CDATA[kaca mata]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[unik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1921</guid>
		<description><![CDATA[Saya sekarang percaya, bahwa di dunia ini tak ada foto baru dan hanya ada beberapa cerita baru. Kebanyakan merupakan kombinasi ulang hal-hal yang pernah diceritakan sebelumnya—kombinasi luar biasa. Tapi yang baru, dan segar, dan asli adalah kacamata yang digunakan sang penulis untuk melihat berbagai situasi ini. Anugerah kita dan dengan demikian tanggung jawab kita sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya sekarang percaya, bahwa di dunia ini tak ada foto baru dan hanya ada beberapa cerita baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebanyakan merupakan kombinasi ulang hal-hal yang pernah diceritakan sebelumnya—kombinasi luar biasa. Tapi yang baru, dan segar, dan asli adalah kacamata yang digunakan sang penulis untuk melihat berbagai situasi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Anugerah kita dan dengan demikian tanggung jawab kita sebagai penulis adalah untuk memandang berbagai situasi kehidupan dengan cara kita yang unik dan melaporkan kebenaran makna dan nilainya kepada publik pembaca supaya mereka bisa mempunyai wawasan yang segar mengenai kondisi manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Masing-masing dari kita unik di alam raya ini, sehingga demikian juga kisah-kisah yang kita tuturkan.</p>
<p style="text-align: justify;">-Elizabeth Engstrom-</p>
<p style="text-align: justify;">Kutipan dari ‘Chicken Soup for the Writer’s Soul’</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, sudahkah kita menggunakan kacamatan yang unik? Hehe</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2012/02/09/kutipan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hujan November</title>
		<link>http://unclegoop.com/2011/11/21/hujan-november/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2011/11/21/hujan-november/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 00:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[loteng baca]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>
		<category><![CDATA[langkah]]></category>
		<category><![CDATA[november]]></category>
		<category><![CDATA[pergi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1765</guid>
		<description><![CDATA[Apakah kamu membutuhkan waktu untuk sendiri? Ini November dan hujan di mana-mana. Angin membawa air yang siap diturunkan kapan pun ia ingin. Menyentuhi genting, jatuh di kerikil, sebagian menyapu beranda kita. Daun bergoyang tak karuan karena hembusan angin, ia tak tegak justru luruh karena menahan beban air. Aku melihat pundakmu pun tak teguh, seperti menahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://cdnimg.visualizeus.com/thumbs/53/65/rain,kdrama,kiss,korea,korean,drama,kpop-5365bbe8d484b7e6315dfa0905aeecb5_h.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1766" title="rain,kdrama,kiss,korea,korean,drama,kpop-5365bbe8d484b7e6315dfa0905aeecb5_h" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/11/rainkdramakisskoreakoreandramakpop-5365bbe8d484b7e6315dfa0905aeecb5_h-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Apakah kamu membutuhkan waktu untuk sendiri?</p>
<p style="text-align: justify;">Ini November dan hujan di mana-mana. Angin membawa air yang siap diturunkan kapan pun ia ingin. Menyentuhi genting, jatuh di kerikil, sebagian menyapu beranda kita. Daun bergoyang tak karuan karena hembusan angin, ia tak tegak justru luruh karena menahan beban air.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melihat pundakmu pun tak teguh, seperti menahan beban. Ada yang kamu tahan-tahan tak hendak dilepaskan. Aku baru tahu manakala aku melihat matamu, di sana ada getir. Cermin hatimu itu menggambarkan puspas yang menderu-deru di kedalaman.  Ada air yang menggenang di sana, seperti ragu akan sesuatu yang dulu bergejolak di kedalaman hatimu. Dulu… dulu sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita berdua tahu, tak ada yang abadi. Kita sama tahu, bahwa hati pun satu waktu bisa berubah. Dan tahukah kamu? Aku pun merasakan hal yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku ragu padamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Air yang jatuh di kerikil pecah menjadi serpihan, kali ini memercik ke pot bunga. Bersama dengan itu, air di matamu pun mengalir turun, melintasi pauh pipimu. Membentuk lintasan, meninggalkan bekas, semacam jejak.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahukah kamu, saat itu ada badai di hatiku. Saat aku melihat air matamu, maka detik itu pula aku merapuh. Kala cinta menjadi bara, sekadar tangan pun tak kuasa menahannya. Derita kita, mulai tak tertanggungkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam diam masih kamu perhatikan jalannya air yang tadi memercik di kerikil. Ia bersatu dengan yang lain, mulai mengalir masuk ke dalam selokan. Helaan nafasmu pun terdengar, seperti ada yang hilang bersama dengan lajunya air.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah lama kita menjalaninya, rasa yang dahulu pernah bergelora ini. Sedari itu, kita bersama melangkah, sudah cukup lama memang. Sampai… sampai kemudian kita sadar, langkah kita, jejak yang kita buat, lintasan yang kita bikin adalah sebuah cara. Semacam  perangkat untuk menyembuhkan luka di hati kita masing-masing. Ia menjadi semacam obat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi bagaimana bila obat itu sudah tak mujarab lagi?</p>
<p style="text-align: justify;">Barangkali kemudian kita akan melangkah. Kita berdua tahu, bahwa cinta akan selalu datang dan pergi. Meski, kita tak pernah tahu siapa yang akan pergi hari ini. Melangkah menjauh….</p>
<p style="text-align: justify;">Hei, ada lagi sebutir air yang hinggap di genting. Lalu sebutir lagi, kemudian lagi dan lagi. Kapan hujan ini akan berakhir? Barangkali ia akan terus turun sampai tak bersisa lagi di atas sana, hingga puas langit menangis. Biarlah, asal semua ada di jalurnya. Berjalan di jalur genting dan tak menyapa masuk ke dalam rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti halnya kita. Manakala kita membiarkan waktu menuntun kita di jalan yang sudah ditentukan, mungkin aku akan semakin paham. Mengerti bahwa kamu milikku dan tentu saja aku milikmu. Apakah kamu membutuhkan waktu untuk sendiri? Atau tetaplah menjadi milikku. Namun jangan ragu, jangan pernah ragu atau aku yang akan melangkah pergi meninggalkanmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Hujan mulai reda, meninggalkan daun yang masih bergoyang ditiup angin. Perlahan namun pasti, air di daun itu pun mulai hilang. Dan lihatlah, daun itu kini mulai tegak. Harap jangan pula dilupakan, bagaimana tanah basah yang ditinggalkan mulai mengeluarkan aroma memabukkan. Ini aroma purba yang kembali menyeruak, menembusi syaraf-syaraf di hidung kita. Menggerakkan syaraf di otak dan memerintahkan hati untuk kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tahu bukanlah hal yang mudah untuk tetap membuka hatimu. Apakah kamu membutuhkan waktu untuk sendiri? Atau mau bersama teman-temanmu? Namun, apakah kamu yakin dengan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka yang justru seperti harimau lapar dan akan memakanmu. Menertawakan semua sedihmu, merusakmu, merusakmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali ini saja, cobalah kembali bersekutu dengan waktu dan biarkan ia menyembuhkan sakit di hatimu. Barangkali saja ia bisa menjadi jamu penawar luka, menimbulkan tawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Hei, kau lihatkah pelangi? Itu, di sana. Agak jauh di ufuk. Cobalah bergeser sedikit dan nikmatilah permainan warnanya. Sudahkah kau lihat?</p>
<p style="text-align: justify;">Maka ketika kamu merasa takut dan bayangan melingkupimu. Percayalah, bahwa itu pertanda kalau ada cahaya di dekatmu. Lupakan saja semua gelap itu, carilah seberkas sinar yang akan menuntunmu. Menunjukkan padamu sebuah jalan keluar, karena tak ada yang abadi apalagi sekadar hujan di bulan November.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah terjemahan bebas dari ‘November Rain’ punya Gun ‘n Roses. Silakan dinikmati sembari mendengarkan lagunya <img src='http://unclegoop.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Gambar dari <a href="http://cdnimg.visualizeus.com/thumbs/53/65/rain,kdrama,kiss,korea,korean,drama,kpop-5365bbe8d484b7e6315dfa0905aeecb5_h.jpg">sini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2011/11/21/hujan-november/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bekisar Merah &#8211; Sebuah Review</title>
		<link>http://unclegoop.com/2010/07/16/bekisar-merah-sebuah-review/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2010/07/16/bekisar-merah-sebuah-review/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 00:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[loteng baca]]></category>
		<category><![CDATA[ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[bekisar]]></category>
		<category><![CDATA[darsa]]></category>
		<category><![CDATA[jepang]]></category>
		<category><![CDATA[lasi]]></category>
		<category><![CDATA[merah]]></category>
		<category><![CDATA[tohari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1145</guid>
		<description><![CDATA[Sedari mula Lasi sudah tercerabut dari akarnya di Karangsoga. Di desa tempat para penyadap kelapa hidup dan tinggal itu, Lasi menjadi orang asing. Ia yang memiliki kulit lebih putih dari yang lain, mata kaput sangat indah dan kecantikan lainnya telah membatasi dirinya sendiri dengan lingkungannya di Karangsoga. Pak Ahmad Tohari memulai ‘Bekisar Merah’ dengan sosok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://book.store.co.id/modules/store/images/Bekisar_Merah.jpg"><img class="alignleft" style="margin-top: 2px; margin-bottom: 2px; margin-left: 3px; margin-right: 3px; border: 1px solid #000000;" src="http://book.store.co.id/modules/store/images/Bekisar_Merah.jpg" alt="" width="146" height="247" /></a>Sedari mula Lasi sudah tercerabut dari akarnya di Karangsoga. Di desa tempat para penyadap kelapa hidup dan tinggal itu, Lasi menjadi orang asing. Ia yang memiliki kulit lebih putih dari yang lain, mata kaput sangat indah dan kecantikan lainnya telah membatasi dirinya sendiri dengan lingkungannya di Karangsoga.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Ahmad Tohari memulai ‘Bekisar Merah’ dengan sosok Darsa yang sedang memandangi kebunnya. Cara bercerita beliau yang bisa menggambarkan keindahan sebuah tempat begitu detil telah membuat lupa. Terlena padahal ada sebuah masalah yang dialami Darsa dan penduduk Karangsoga lainnya. Masalah itu adalah harga gula kelapa yang sekilonya kadang tak cukup untuk membeli setengah kilo beras.</p>
<p style="text-align: justify;">Karangsoga hidup dalam kemiskinan para penyadapnya. Meski kicauan burung, harum embun pagi dan lumut basah senantiasa tercium dari tebing-tebing di tepi kali.<span id="more-1145"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pak Handarbeni adalah sosok lain dalam cerita itu yang kaya raya dan tinggal di hiruk pikuknya Jakarta. Dengan kekayaannya Pak Han sudah membeli apa saja. Termasuk di dalamnya sebuah kebanggaan khas lelaki kaya di zaman itu. Yaitu wanita untuk statusnya, sebagai pajangannya, guna mengisi rumahnya yang ke sekian.</p>
<p style="text-align: justify;">Adalah Pak Wiryaji yang mengenalkan Darsa dengan Lasi. Ia adalah ayah tiri bagi Lasi dan paman Darsa. Kesengsaraan hidup yang mesti dialami Lasi sebagai istri penyadap dijalaninya dengan sabar. Darsa, kendati tak tampan amat, namun memiliki tubuh yang liat dengan otot-otot kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu hari, Darsa terjatuh dari pohon kelapa yang sedang disadapnya. Bagi orang Karangsoga, adalah terlarang menyebut seseorang jatuh. Itu untuk menolak bala, agar kejadian itu tak menghantui, sebuah kejadian biasa dan tak menyurutkan niat para penyadap lain. Karena itu, orang Karangsoga akan menyebutnya, “Ada katak lompat.”</p>
<p style="text-align: justify;">Jatuhnya Darsa ini kelak akan menjadi awal perceraiannya dengan Lasi. Ia bermain serong dengan Sipah, anak tukang pijat. Suatu tindakan kurang ajar mengingat Lasi, istrinya begitu cantik sementara Sipah adalah perawan tua dan pincang pula. Lasi jadi bahan pembicaraan di Karangsoga. Lasi yang sedari kecil sudah tak nyaman di Karangsoga karena isu yang beredar bahwa ia adalah anak haram serdadu Jepang yang memerkosa simboknya membuatnya makin tak betah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia pun pergi menumpang truk Pardi yang membawa gula ke Jakarta. Gula-gula itu, awalnya dari para penyadap lalu disetor ke Pak Tir, seorang juragan gula. Dari Pak Tir inilah kemudian gula-gula itu dibawa ke Jakarta, disetor ke cukong-cukong.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta menyambut Lasi dengan ramah. Kecantikan blasterannya yang unik dan begitu menonjol telah membuat Bu Koneng jatuh hati. Bu Koneng adalah pemilik rumah makan sekaligus induk semang untuk Si Anting Besar dan Si Betis Kering. Dua nama yang disebut terakhir ini adalah pacar atau istri-istri sopir di perjalanan. Sopir itu, termasuk di dalamnya Pardi. Apakah Lasi akan menjadi seperti istri-istri jalanan itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya Bu Koneng cukup pintar untuk tetap memelihara Lasi dengan baik. Ia tak mengincar sopir-sopir. Lasi singkatnya ditawarkan pada Bu Lanting, sosok yang memiliki jaringan dan perkenalan luas dengan para pejabat dan orang kaya Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Bekisar, adalah unggas elok hasil kawin silang antara ayam hutan dan ayam biasa. Jenis unggas ini sering menjadi hiasan rumah orang-orang kaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lasi setelah tinggal dengan Bu Lanting kerapkali dipamerkan di pergaulan tingkat atas Jakarta. Ia diajak makan dan jalan-jalan. Parasnya yang mirip Jepang pun tak luput mendapat perhatian. Pada puncaknya, ia dipotret mengenakan kimono warna merah, sehingga begitu mirip dengan seorang artis: Haruko Wanibuchi.</p>
<p style="text-align: justify;">Agaknya, kebiasaan yang berlaku di zaman itu, apa yang dilakukan petinggi akan diikuti pula oleh anak buahnya. Maka, setelah seseorang di pucuk atas mengambil seorang Jepang menjadi istri yang ke sekian. Anak buahnya pun tak hendak mengalah. Biarlah bila bukan Jepang tulen, maka Jepang peranakan yang banyak terdapat di pedalaman daerah jajahan pun tak mengapa.</p>
<p style="text-align: justify;">Lasi adalah bekisar merah untuk rumah Overstee Handarbeni. Di rumah barunya yang masih kosong, Lasi akan mengisi setiap sudutnya. Nantinya, sudut-sudut rumah yang sepi itu akan berpindah pada kesepian di hati Lasi. Biarpun segala kebutuhannya tercukupi, sandangnya selalu bagus, perutnya tak pernah kosong, namun ada yang tak terpenuhi di diri lasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang tak didapat Lasi dengan sempurna adalah nafkah batin mengingat kegagalan Pak Han di malam-malam Lasi begitu butuh sentuhan. Menyikapi ini, Pak Han esoknya akan memberikan aneka rupa pemberian pada Lasi. Pula, ia akan berkata, “Kamu boleh mencari lelaki mana pun yang kamu suka asal kamu tetap jadi istriku dan tidak keluar dari rumah ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ah, hati Lasi teraduk-aduk mendengar saran semacam itu dari suaminya. Tapi apa dayanya, manakala kemudaannya memanggil-panggil. Di lain sisi, bukan kehidupan rumah tangga macam itu yang diharapkannya. Di sini ia begitu kecewa pada Pak Han.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah kemegahan rumahnya di Slipi, Lasi yang kesepian seringkali malah teringat pada desanya, Karangsoga. Ia bayangkan ilalang yang ditiup angin, bangkong yang melompat di kali dan kepiting yang saling belit dengan capitnya. Ada pula anak lelaki teman sebayanya yang sering mengganggu, tapi yang lebih diingat ialah sosok Kanjat. Ia lebih muda, berpipi gemuk maklum anak Pak Tir, orang paling kaya di Karangsoga.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu kali selama di Jakarta, pernah Kanjat datang mengunjunginya. Saat itu, Kanjat sudah menjadi seorang lelaki yang gagah dan tampan. Ia ingat, Kanjatlah satu-satunya teman yang tak pernah mengganggu. Kanjat selalu seperti hendak melindungi, namun Lasi pun suka geli bila mengingat Kanjat yang selalu menempelkan tubuhnya pada Lasi saat bermain petak umpet di bawah terang purnama.</p>
<p style="text-align: justify;">Adakah lelaki yang dirindui Lasi itu Kanjat? Bagaimana dengan kekayaan dan pemberian Pak Han? Apakah benci Lasi pada Darsa akan hilang setelah sekian lama dan dilihatnya kesengsaraan Darsa tak juga beranjak pergi?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2010/07/16/bekisar-merah-sebuah-review/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Negeri Lintasan Petir-Sebuah Review</title>
		<link>http://unclegoop.com/2010/07/09/negeri-lintasan-petir-sebuah-review/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2010/07/09/negeri-lintasan-petir-sebuah-review/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 17:08:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[loteng baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1133</guid>
		<description><![CDATA[Aku tak tahu bagaimana kayu-kayu itu terdampar dekat kebunku. Ada kemungkinan kayu-kayu itu dibuang oleh perusahaan perkayuan, dibuang oleh para peladang atau disambar petir, lalu dipindahkan ke sungai oleh erosi. Gerson Poyk menyajikan kutipan paragraf di atas pada bagian awal bukunya. Mula-mula ia menceritakan rumah yang ditempati sosok ‘Aku’ dalam hal ini kemudian diketahui bernama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>Aku tak tahu bagaimana kayu-kayu itu terdampar dekat kebunku. Ada kemungkinan kayu-kayu itu dibuang oleh perusahaan perkayuan, dibuang oleh para peladang atau disambar petir, lalu dipindahkan ke sungai oleh erosi. </em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2010/07/negeri-lintasan-petir.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1134" title="negeri lintasan petir" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2010/07/negeri-lintasan-petir.jpg" alt="" width="61" height="100" /></a>Gerson Poyk menyajikan kutipan paragraf di atas pada bagian awal bukunya. Mula-mula ia menceritakan rumah yang ditempati sosok ‘Aku’ dalam hal ini kemudian diketahui bernama ‘Indra’. Rumah yang terdiri dari kebun-kebun, beberapa rumah kecil di sekitar rumah utama, tempat Indra yang pematung, pelukis dan pemusik menghasilkan karya-karyanya. Indra sendiri ialah seorang transmigran yang sukses dengan kebunnya dan hasil kreasinya sebagai seorang seniman.</p>
<p style="text-align: justify;">Kritik Gerson tak cukup sampai di situ. <span id="more-1133"></span>Ia pun tak lupa mencela bagaiman perkembangan kota besar dan akibat-akibatnya. Barangkali, ini pula alasan seorang Indra lantas harus bertransmigrasi.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>Perkembangan kota besar dengan industrinya dalam benak para pengambil keputusan tidak sepi dari kesadaran ekologis, namun hal demikian itu—kesadaran ekologis itu hanyalah terdapat dalam benak, dalam ide, sementara dalam kenyataannya, sebuah kota besar telah bergelimang dalam dosa polusi. Setiap hari orang beroa dan berkhotbah tentang kebersihan lingkungan, setiap hari para profesor di sebuah kota besar menggurui para mahasiswanya tentang etika perlindungan lingkungan sehat melalui iptek dan seni membangun manusia yang terlepas dari keterasingannya dari alam atau lingkungan sehat, setiap hari murid-murid dan mahasiswa mempelajari ekologi dan humaniora, namun setiap hari berjuta-juta manusia tercemplung ke dalam neraka polusi lingkungan. </em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Di antara aneka rupa kritiknya, Gerson pun menyelipkan kebiasaan zaman dahulu yang entah barangkali juga masih berlaku di zaman sekarang, yakni kebiasaan mengajukan senjata rahasia berupa wanita-wanita cantik untuk melancarkan sebuah bisnis, memeroleh proyek atau tender. Dan rasanya kritik terhadap pencuri entah besar atau kecil tak akan pernah lekang dari dulu hingga sekarang, seperti yang tersaji pada kutipan berikut:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>Walaupun jarang, Indonesia terkenal dengan massa yang sering main hakim sendiri kepada pencopet dan pencuri kecil, sedang pencuri raksasa, perampok besar, penipu tingkat tinggi justru diangkat-angkat sampai ke ujung pohon cemara lalu jatuh sendiri ditiup angin. </em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Indra yang hidup di daerah transmigran, terpengaruh oleh semangat Pak Bagio. Ia adalah tukang pos yang mengendarai kuda. Ya, kuda, karena daerah transmigran itu terpisah-pisah antara permukiman satu dengan yang lain dan infrastruktur jalan pun belum memadai untuk dilalui dengan kendaraan. Pak Bagio adalah seorang sarjana hukum yang bertransmigrasi dan harus menyambung hidupnya sebagai tukang pos. Ia menjalani profesinya itu sebagai sebuah amanah, menyampaikan kabar dari dan ke orang-orang di wilayah transmigrasi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Bagio, kendati seorang sarjana hukum tak pernah menuntut lebih. Ia jalani profesinya itu dengan sepenuh hati, terkadang bahkan sampai berhari-hari di jalan untuk mengantar surat. Di lain sisi, apa yang dilakukan Pak Bagio itu menarik perhatian seorang dokter muda di lokasi terpencil itu. Ia adalah Dokter Martina, seorang dokter muda yang mesti bertugas di lokasi transmigran itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tuntutan karier bu dokter dan pak pos yang mesti mengobati pasien dan mengantar surat membuat keduanya sering harus bekerja bersama. Bermalam di hutan-hutan menempuh jarak ratusan kilo dengan kuda masing-masing. Tak heran, jalinan cinta di antara keduanya pun terajut. Sampai kemudian keduanya menikah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayang, lokasi transmigran itu pun menjadi daerah yang sering dilanda petir. Petir sendiri, untuk Indra justru menjadi obyek lukisan yang begitu indah. Alurnya seperti akar yang membelah gelap langit malam. Namun petir pula yang telah merenggut nyawa Drs. Bagio. Ia meninggal karena tersambar petir saat mengantar surat.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sini cerita dimulai, bagaimana Indra ingin membuat sebuah patung untuk Pak Pos. Namun, dalam perjalanannya ia malah jatuh hati pada Dokter Martina. Indra yang sudah tak muda, namun masih menarik itu pun berpacaran dengan dokter muda itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Jalinan kisah berpindah-pindah dari lokasi transmigran yang elok dalam kesunyiannya ke hingar bingar Jakarta. Pun demikian halnya dengan alur cerita, maju  mundur menyusuri kisah hidup Indra yang pelik. Seorang seniman yang dulunya mesti hidup susah mengangkut arang di dekat Stasiun Senen Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak hanya itu, kisah cinta Indra pun sepelik jalan hidup yang harus dilaluinya. Ia berkenalan dengan senjata rahasia menantunya yang cantik untuk menggaet pejabat-pejabat yang gila wanita. Marianne namanya, sosok yang kemudian membuat Indra mesti berpisah dengan Dokter Martina. Ada pula Maryam, ia adalah pramugari yang bisa menyenangkan hati Indra kala terpuruk. Di tengah cerita, muncul pula dosen Indra saat ia masih kuliah bernama Pak Ibrahim. Sosok yang mesti memusuhi kata pulang, karena sesungguhnyalah ia tak punya tempat buat pulang.</p>
<p style="text-align: justify;">Konflik dibangun begitu halus, terkadang membingungkan karena selalu ada sosok baru yang muncul. Namun, ‘Negeri Lintasan Petir’ sanggup mengemas kelindan kisah itu dengan elok. Gerson Poyk piawai menggabungkan keindahan alam, sungai-sungai, suara air dan gemerisik hujan dengan hiruk-pikuk Jakarta lengkap dengan macetnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kendati cerita ini indah, namun terasa betul latar peristiwanya di zaman orde baru. Beberapa hal sudah jarang ditemui dewasa ini, bukan berarti tak ada, namun ujaran seperti transmigrasi mandiri akan susah betul ditemukan. Bagaimana etos dan elan kerja seoarang transmigrasi barangkali menjadi kurang menarik karena mungkn sudah usang dengan konteks kekinian. Lepas dari itu, barangkali buku ini bisa merekam sebuah episode yang telah dilalui negeri ini dengan program-program pemerintahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat membaca.</p>
<p style="text-align: justify;">PS: saya temukan kata-kata ini di ‘Negeri Lintasan Petir’ adakah yang mengerti artinya?</p>
<p style="text-align: justify;">Promiskus, Promiskuiti, maesenas, atavisitik, kraim,</p>
<p style="text-align: justify;">Khusus mengenai peran wanita-wanita di novel ini, bisa dibaca <a href="http://ngerumpi.com/baca/2010/07/09/wanita-wanita-di-negeri-lintasan-petir" target="_blank">di sini.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2010/07/09/negeri-lintasan-petir-sebuah-review/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
