<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>unclegoop[dot]com &#187; loteng baca</title>
	<atom:link href="http://unclegoop.com/category/loteng-baca/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://unclegoop.com</link>
	<description>melintas batas ruang dan waktu</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 11:02:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Kartini dan  Gamelan</title>
		<link>http://unclegoop.com/2012/05/04/6-kartini-dan-gamelan/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2012/05/04/6-kartini-dan-gamelan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 00:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[loteng baca]]></category>
		<category><![CDATA[Gamelan]]></category>
		<category><![CDATA[Gerak]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1982</guid>
		<description><![CDATA[Tentang Gamelan ia mengatakan sesuatu dalam rangkaian pikiran yang sempurna dan mengharukan, suara dari jiwa Rakyatnya sendiri pada masa itu: Gamelan tidak pernah bersorak-sorai; sekalipun di dalam pesta yang paling gila pun, dia terdengar sayu dalam nyanyiannya, mungkin begitulah seharusnya. Kesayuan itulah hidup, bukan nyanyi bersorak-sorai! Malam waktu itu; jendela dan pintu-pintu terbuka; bunga cempaka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tentang Gamelan ia mengatakan sesuatu dalam rangkaian pikiran yang sempurna dan mengharukan, suara dari jiwa Rakyatnya sendiri pada masa itu:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Gamelan tidak pernah bersorak-sorai; sekalipun di dalam pesta yang paling gila pun, dia terdengar sayu dalam nyanyiannya, mungkin begitulah seharusnya. Kesayuan itulah hidup, bukan nyanyi bersorak-sorai!</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Malam waktu itu; jendela dan pintu-pintu terbuka; bunga cempaka berkembang di taman kamar kami dan bersama dengan puputan angin segar, berdesah dengan dedaunannya serta mengirimkan kepada kami ucapan salamnya dalam bentuk bau harumnya—aku duduk di lantai, sebagaimana halnya sekarang ini, pada sebuah meja rendah, di kiriku Dik Rukmini, juga sedang menulis, di kananku Annie Glaser, juga di lantai sedang menjahit, dan di hadapanku seorang wanita yang menyanyikan kami sebuah cerita dari buku. Betapa indahnya! Suatu impian yang mengalun dalam suara-suara yang indah, kudus, jernih, dan bening yang mengangkat roh kami yang menggeletar ke atas ke dalam kerajaan makhluk-makhluk berbahagia. (Surat Kartini, 15 Agustus 1902 kepada E.C. Abendanon)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Panggil Aku Kartini Saja, Halaman 102</p>
<p style="text-align: justify;">Khusus tentang musik barat Kartini pernah menulis, demikian:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Aku terkenang pada suatu malam belum lama berselang. Seorang kenalan membawa kami berdua mengunjungi sebuah konserta di gedung kesenian di Semarang. Itulah buat pertama kali dalam seluruh hidup kami, bahwa kami berdua, tanpa membawa si adik, tanpa Ayah, tanpa Ibu, berada di tengah-tengah lautan manusia. Kami berasa sendiri, sangat sendirian di antara orang-orang yang sama sekali tak kami kenal. Dan tiba-tiba kami berpikir: Beginilah bakalnya hidup kita di kemudian hari! Kita hidup seorang diri di tengah-tengah lautan kehidupan yang besar. </em>(Surat, 29 Agustus 1902, kepada Nyonya Nelly van Kol)</p>
<p style="text-align: justify;">Di sini, Kartini memiliki pandangan, bahwa dengan gamelan ia hidup di zaman kegemilangan nenek moyangnya, sedang dengan musik barat ia hidup di zaman keyatimpiatuan modern di masa-masa mendatang.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi Kartini, gamelan itu:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> Menuangkan arus api ke dalam nadi kami. </em>(Surat, 29 Agustus 1902, kepada Nyonya Nelly van Kol)</p>
<p style="text-align: justify;">Hal itu terjadi karena gamelan menyebabkan tubuhnya tertarik untuk bergerak dan hanya dengan kekerasan saja ia dapat tolak kekuasaaanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Panggil Aku Kartini Saja, Halaman 201</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2012/05/04/6-kartini-dan-gamelan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartini dan Bahasa</title>
		<link>http://unclegoop.com/2012/05/03/kartini-dan-bahasa/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2012/05/03/kartini-dan-bahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 00:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[loteng baca]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[kartini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1997</guid>
		<description><![CDATA[Kartini mempunyai keahlian menggunakan bahasa. Tentang keahliannya yang satu ini, ia tak pernah punya keraguan. Sejak kecil, bahasa ini menjadi mata pelajaran kesukaannya dan sudah sejak kecil pula, “Banyak yang menyatakan, bahwa bahasa Belandanya baik.” Tanpa melupakan pertimbangan, bahasa yang baik belum dapat menjadikan seseorang pengarang yang baik. Itu pun disadari Kartini. Sekali waktu ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kartini mempunyai keahlian menggunakan bahasa. Tentang keahliannya yang satu ini, ia tak pernah punya keraguan. Sejak kecil, bahasa ini menjadi mata pelajaran kesukaannya dan sudah sejak kecil pula, “Banyak yang menyatakan, bahwa bahasa Belandanya baik.” Tanpa melupakan pertimbangan, bahasa yang baik belum dapat menjadikan seseorang pengarang yang baik. Itu pun disadari Kartini. Sekali waktu ia menulis:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Perasaan bahasa belum dapat dikatan pengetahuan bahasa. </em>(Surat, 10 Juni 1902, kepada Nyonya Abendanon).</p>
<p style="text-align: justify;">Panggil Aku Kartini Saja, halaman 206</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2012/05/03/kartini-dan-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartini dan Puisi</title>
		<link>http://unclegoop.com/2012/05/02/kartini-dan-puisi/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2012/05/02/kartini-dan-puisi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 08:49:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[loteng baca]]></category>
		<category><![CDATA[kartini]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1994</guid>
		<description><![CDATA[Orang dengan perasaan halus, dengan perabaan tajam dan daya cipta besar tidak boleh tidak pastilah seniman/seniwati, tak peduli di bidang apapun. Dan tiada ayal lagi, Kartini adalah seniwati—dan di berbagai bidang pula. Katanya: Pikiran adalah puisi, pelaksanaannya seni! Tapi mana bisa ada seni tanpa puisi? Segala yang baik, yang luhur, yang keramat, pendeknya segala yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Orang dengan perasaan halus, dengan perabaan tajam dan daya cipta besar tidak boleh tidak pastilah seniman/seniwati, tak peduli di bidang apapun. Dan tiada ayal lagi, Kartini adalah seniwati—dan di berbagai bidang pula. Katanya:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pikiran adalah puisi, pelaksanaannya seni! Tapi mana bisa ada seni tanpa puisi? Segala yang baik, yang luhur, yang keramat, pendeknya segala yang indah di dalam hidup ini, adalah puisi! </em>(Surat, 2 April 19…)</p>
<p style="text-align: justify;">Panggil Aku Kartni Saja, halaman 179</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2012/05/02/kartini-dan-puisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartini dan Agama</title>
		<link>http://unclegoop.com/2012/04/30/kartini-dan-agama/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2012/04/30/kartini-dan-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 13:26:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[loteng baca]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1992</guid>
		<description><![CDATA[Dari sejarah Barat, Kartini melihat bagaimana kemajuan berjalan setindak demi setindak seperti orang membuat gedung yang memasang batu demi batu, dari renaissance sampai timbulnya pemikiran-pemikiran baru di lapangan keagamaan Nasrani, yang mengakibatkan terjadinya peperangan-peperangan agama yang terjadi beberapa generasi di Eropa. Kartini pun pernah menyatakan pendapatnya—sebagai suatu hal yang membuktikan ia memperhatikan sajarah Eropa dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari sejarah Barat, Kartini melihat bagaimana kemajuan berjalan setindak demi setindak seperti orang membuat gedung yang memasang batu demi batu, dari <em>renaissance </em>sampai timbulnya pemikiran-pemikiran baru di lapangan keagamaan Nasrani, yang mengakibatkan terjadinya peperangan-peperangan agama yang terjadi beberapa generasi di Eropa. Kartini pun pernah menyatakan pendapatnya—sebagai suatu hal yang membuktikan ia memperhatikan sajarah Eropa dan perkembangannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Agama dimaksudkan sebagai karunia bagi umat manusia, untuk mengadakan ikatan antara makhluk-makhluk Tuhan. Kita semua adalah saudara, bukan karena kita mempunyai satu leluhur, yaitu leluhur manusia, tapi karena kita semua anak-anak dari satu Bapa, dari Dia, yang bertahta di langit sana. Duh, Tuhan, kadang aku ingin, hendaknya tiada satu agama pun di atas dunia ini. Karena agama-agama ini, yang justru harus persatukan semua orang, sepanjang abad-abad yang telah lewat menjadi biang keladi peperangan dan perpecahan, dari drama-drama pembunuhan yang paling kejam. Orang-orang dari orangtua yang sama berdiri berhadap-hadapan, karena cara mereka beribadah kepada Tuhan yang sama berbeda. Orang-orang dengan hati mereka yang terikat oleh kasih sayang yang mesra, berpalingan satu daripada yang lain membawa kecewa. Perbedaan gereja, di mana Tuhan yang sama itu juga dipanggil, telah menjadi tembok pemisah bagi kedua belah pihak, tembok pemisah yang mendebarkan jantung mereka.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Benarkah agama menjadi karunia bagi umat manusia? Sering pertanyaan itu timbul dalam hatiku yang ragu. Agama yang harusnya melindungi diri kita dari dosa ini, berapa saja kejahatan yang orang telah lakukan atas namaMu.</em> (Surat, 6 Nopember 1899, Kepada Estelle Zeehandelaar)</p>
<p style="text-align: justify;">Panggil Aku Kartini Saja, halaman 146</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah buku berjudul ‘Quo Vadis?’ telah memberikan pengaruh besar pada Kartini di bidang kesetiaan serta keuletan dalam memperjuangkan cita-cita pendeknya di bidang moral. Quo Vadis? sendiri adalah sebuah roman sejarah yang terjadi di masa Romawi purba, yang menceritakan tentang pengembangan agama Nasrani dan pengorbanannya, keuletan serta ketabahannya dalam menghadapi siksaan serta ancaman dari kekuasaan pasukan-pasukan Romawi. Akhirnya kemanusiaan juga yang menang atas kebiadaban. Dalam hubungan ini Kartini menulis:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Nyonya van Kol menceritai kami banyak tentang Jesus, Nyonya, tentang Rasul-rasul Petrus dan Paulus.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Tak pentinglah agama atau ras apa orang itu, jiwa besar tetaplah jiwa besar, watak yang mulia tetap watak mulia. Anak-anak Allah orang dapatkan dalam setiap agama, pada setiap ras.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Aku telah bawa Quo Vadis? Dan aku kagumi serta cintai pahlawan-pahlawan kepercayaan itu, yang dalam penderitaan yang paling pahit pun masih dapat bersyukur dan beriman pada Yang Mahatinggi., masih mengajarkan kebesaranNya dalam nyanyian yang indah. Aku ikut menderita bersama mereka, serta ikut bersorak dengan kemenangan mereka. </em>(Surat, 5 Juni 1903 kepada Dr. N. Adriani)</p>
<p style="text-align: justify;">Panggil Aku Kartini Saja, Halaman 172-173</p>
<p style="text-align: justify;">Kartini pernah mengusulkan kepada Belanda, jika mereka hendak mengajarkan kesalehan mutlak pada orang Jawa, haruslah diajarkan kepada mereka itu cara mengenal Tuhan Yang Maha Esa, Bapa Cinta. Bapa seluruh makhlukNya, tak peduli orang Nasrani, Islam, Buddha, atau pun Yahudi. Kemudian Kartini menyatakan pula, bahwa:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>…. Agama yang sesungguhnya ialah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani maupun sebagai Islam dan lain-lain. </em>(Surat, 31 Januari 1903, kepada E.C. Abendanon).</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali di sini orang berhadapan dengan sinkretisme dalam jiwa Kartini, yang selalu mencoba meninggalkan syarat, untuk tidak terpeleset dari asas ajaran. Tapi lebih jelas ialah sebagaimana ia rumuskan sendiri:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Selalu menurut paham dan pengertian kami, ini segala agama adalah Kebajikan, yang membuat setiap agama menjadi baik dan indah. Tapi, duh! Orang-orang ini apakah yang telah kalian perbuat atasnya!</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Agama adalah dimaksudkan sebagai karunia, untuk membentuk ikatan antara semua makhluk Tuhan, coklat dan putih, dari kedudukan, jenis, kepercayaan apapun, semua kita adalah anak-anak dari satu Bapa, dari satu Tuhan.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Tak ada Tuhan lain terkecuali Allah! Kata kami orang-orang Islam, dan bersama kami juga semua orang beriman, kaum monoteis; Allah adalah Tuhan, Pencipta Sekalian Alam.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Anak-anak dari satu Bapa, saudara dan saudari jadinya, harus saling cinta-mencintai, artinya tunjang-menunjang bertolong-tolongan. Tolong-menolong dan tunjang-menunjang, cinta-mencintai, itulah nada dasar segala agama.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Duh, kalau saja pengertian ini dipahami dan dipenuhi, agama akan menguntungkan kemanusiaan, sebagaimana makna asal dan makna ilahiah daripadanya: karunia!</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Itu yang justru membuat kami bersiaga terhadap agama, ialah bahwa para pemeluk agama yang satu menghinakan, membenci, kadang memburu-buru yang lain, malah…. (Surat, 21 Juli 1902, kepada Nyonya van Kol.)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Panggil Aku Kartini Saja, halaman 262</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2012/04/30/kartini-dan-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartini dan Persilangan Budaya</title>
		<link>http://unclegoop.com/2012/04/25/kartini-dan-persilangan-budaya/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2012/04/25/kartini-dan-persilangan-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2012 20:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[loteng baca]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kartini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1989</guid>
		<description><![CDATA[Kami hendak berikan kepada rakyat kami apa-apa yang indah dari peradaban Eropa, bukan untuk mendesak keindahannya sendiri dan menggantinya, tetapi untuk mempermulia yang sudah ada itu. Dengan jalan mengawinkan tumbuh-tumbuhan atau hewan dari berbagai jenis orang bisa mendapatkan jenis yang dipermulia. Bukankah begitu juga di lapangan adat-kebiasaan rakyat-rakyat? Kalau yang baik pada rakyat yang satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kami hendak berikan kepada rakyat kami apa-apa yang indah dari peradaban Eropa, bukan untuk mendesak keindahannya sendiri dan menggantinya, tetapi untuk mempermulia yang sudah ada itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan jalan mengawinkan tumbuh-tumbuhan atau hewan dari berbagai jenis orang bisa mendapatkan jenis yang dipermulia. Bukankah begitu juga di lapangan adat-kebiasaan rakyat-rakyat? Kalau yang baik pada rakyat yang satu dicampurkan dengan yang baik pada rakyat lain, bukankah akan timbul adat-kebiasaan yang lebih baik? (Surat, 27 Oktober 1902, kepada Nyonya Abendanon)</p>
<p style="text-align: justify;">Panggil Aku Kartini Saja, halaman 157</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2012/04/25/kartini-dan-persilangan-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
