melintas batas
loteng baca
Bekisar Merah – Sebuah Review
Jul 16th
Sedari mula Lasi sudah tercerabut dari akarnya di Karangsoga. Di desa tempat para penyadap kelapa hidup dan tinggal itu, Lasi menjadi orang asing. Ia yang memiliki kulit lebih putih dari yang lain, mata kaput sangat indah dan kecantikan lainnya telah membatasi dirinya sendiri dengan lingkungannya di Karangsoga.
Pak Ahmad Tohari memulai ‘Bekisar Merah’ dengan sosok Darsa yang sedang memandangi kebunnya. Cara bercerita beliau yang bisa menggambarkan keindahan sebuah tempat begitu detil telah membuat lupa. Terlena padahal ada sebuah masalah yang dialami Darsa dan penduduk Karangsoga lainnya. Masalah itu adalah harga gula kelapa yang sekilonya kadang tak cukup untuk membeli setengah kilo beras.
Karangsoga hidup dalam kemiskinan para penyadapnya. Meski kicauan burung, harum embun pagi dan lumut basah senantiasa tercium dari tebing-tebing di tepi kali. More >
Negeri Lintasan Petir-Sebuah Review
Jul 9th
Aku tak tahu bagaimana kayu-kayu itu terdampar dekat kebunku. Ada kemungkinan kayu-kayu itu dibuang oleh perusahaan perkayuan, dibuang oleh para peladang atau disambar petir, lalu dipindahkan ke sungai oleh erosi.
Gerson Poyk menyajikan kutipan paragraf di atas pada bagian awal bukunya. Mula-mula ia menceritakan rumah yang ditempati sosok ‘Aku’ dalam hal ini kemudian diketahui bernama ‘Indra’. Rumah yang terdiri dari kebun-kebun, beberapa rumah kecil di sekitar rumah utama, tempat Indra yang pematung, pelukis dan pemusik menghasilkan karya-karyanya. Indra sendiri ialah seorang transmigran yang sukses dengan kebunnya dan hasil kreasinya sebagai seorang seniman.
Kritik Gerson tak cukup sampai di situ. More >
