melintas batas
kamar hati
Pantai Kerang dan Karang
Sep 5th
“Ke pantai lagi?”
“Iya, yukk.”
Kamu mengerjapkan matamu; manja. Apa sih menariknya, pantai? Dalam hati aku bertanya-tanya. Kali ini, pagi belum lagi terang. Kamu sudah merengek-rengek mirip anak kecil menginginkan mainan. Aku tidak sedungu kerbau, tapi bila kamu sudah memintaku apa yang tidak untukmu?
Kemarin dulu kamu minta diantar ke pantai. Terkadang atau sering kali aku tak memahamimu. Di pantai kamu hanya diam melihat cakrawala menelan mentari yang lelah menyepuh laut dengan warna jelaga. Hebatkah semua itu?
“Bi, kita cari yang banyak nelayan pulang melaut, ya.”
“Oke.”
“Abi kenapa, marahkah?”
“Marah, kenapa harus marah?”
“Oh, ya sudah.”
Kira-kira apa yang paling pas untuk memberimu pelajaran? Sebuah jitakan, tonjokan di lengan atau pelukan. Eh, pelukan? Enak saja, kamu pasti akan kegirangan. Tidak saat ini, mungkin. Sudahlah, kudiamkan saja barangkali.
Brrr dingin sekali pagi ini. Kamu tidak mengeluh, padahal biasanya bila dingin seperti ini kamu akan begitu cerewet: “Peluk aku, Bi.”
Bergetar seluruh tubuhmu menahan dingin. Berulang kali kamu betulkan jaketmu; melipat lenganmu di depan dada. Sampai di sebuah gundukan pasir kamu berhenti. Kamu duduk begitu saja, memeluk lutut. Sesekali melirik ke arahku; takut-takut dan khawatir.
Apa pula yang kulakukan ini? Berdiri mematung seolah tak hirau akan hadirmu di sana. Melawan angin laut yang dingin dan basah; diam dan berlagak tak butuh. Padahal, seandainya kamu bergumam: “Ke sini, Bi, mendekatlah padaku.” Tentu aku akan salah menerjemahkannya sebagai: “Ke sini, Bi, peluk aku.”
Hahaha, jumawa meraja di dadaku. Kemarahan dungu yang pintar kumainkan membuatmu percaya. Membuta kamu berpikir aku benar-benar marah; terpaksa mengantarmu di dingin pagi ini. Ya ya ya, aku menyerah. Mengendapkan egoku dan duduk di sampingmu.
Tapi, hey! Belum lagi aku duduk. Sebuah tiang layar timbul tenggelam di batas kaki langit. Mula-mula ujung tertinggi tiang yang kelihatan. Perlahan-lahan, badan perahu pun nampak, tak begitu besar, masih terombang-ambing. Bersamaan dengan jilatan ombak yang membuih di pantai, nelayan itu satu per satu turun dan menarik perahu ke bibir pantai.
“Ra, mereka sudah sampai, tidakkah kamu ingin melihatnya?”
“Tidak, duduklah di sini, Bi.”
Kamu menepuk-nepuk pasir di samping tempatmu duduk. Bersungut-sungut aku pun mengikuti perintahmu. Apa lagi ini? Bukankah kamu tadi memintaku ke pantai yang banyak nelayan pulang melaut? Aku menduga karena kamu ingin melihat kesibukan mereka.
“Lihatlah mereka, Bi, bukankah mereka selalu pulang?”
Aku masih diam; dalam hati aku membatin: “Ya, iyalah ini kan rumah mereka.”
“Tak inginkah kamu memiliki sebuah pelabuhan, Bi, pelabuhan di mana kamu akan berlabuh, di mana kamu akan pulang?”
“Buat apa? Aku sudah punya rumah, yah, meski itu rumah Bapak dan Ibu.”
“Hihihi, bukan itu, Bi.”
“Lantas?”
“Sebuah hati, Bi, hati tempatmu akan pulang, melabuhkan semua rasamu itu.”
“Nggg.”
Rasaku, rasaku yang mana? Aku benci bila kamu sudah berteka-teki seperti ini. Aku tidak benar-benar mengerti apa yang kamu bicarakan. Tetapi, tentu saja aku tidak akan mengakuinya, aku justru berlagak mengerti. Tidak membantah tidak menjawab, hanya diam. Terima kasih ya, Ra, karena kamu tidak pernah memaksaku menjawab semua pertanyaanmu. Kamu malah menyandarkan kepalamu di bahuku, membuatku tenang; gamang.
“Kamu pasti belum pernah mendengar hikayat kerang*, ya kan, Bi? Ahh, padahal Sukab sudah menceritakannya dengan indah.”
“Apa hubungannya?”
“Entahlah”
“Logh?!”
“Nelayan itu, Bi, selalu pulang. Memanfaatkan rasi bintang menunjukkan jalan pulang. Terkadang hujan badai menghadang. Tetapi, sebisa mungkin mereka pulang.”
“Hmmm”
“Anak istri mereka ada di rumah; harap-harap cemas menunggu mereka datang. Sebuah pertemuan yang menggembirakan. Hulu semua kebahagiaan, menjalin renda-renda kehidupan. Apalah letih, yang ditukar senyuman? Apalah buih, yang diganti kecupan? “
“Yah, aku sedikit mengerti,Ra.”
“Tak inginkah kamu sebuah tempat pulang, Bi? Menjadi seperti kerang yang berubah karang. Pula kerang yang digoreng menjadi sari-sari kehidupan. Bila kamu pulang, mungkin kamu bisa menjadi karang pelindung bisa menjadi sari-sari kehidupan.”
“Tetapi ke mana, Ra? Bagaimana hatimu? Bolehkah aku pulang ke sana?”
“Hihihi”
Aku benci lagi bila kamu tertawa menggoda. Tetapi aku senang bila kamu meninggalkan kecupan lembut di pipiku sebelum kemudian berlari.
___
*) Bacalah sekelumit hikayat kerang di sini
Tertinggal di Angkringan Tugu
Aug 26th
“Ara.â€
Itu awal pertemuan kita, kamu begitu hemat kata-kata.
Tiga puluh menit yang lalu, aku capek menunggu keretamu di keriuhan stasiun. Di sesela dan gegas calon penumpang, kuli-kuli; aku duduk tepekur. Menelusuri koran lama yang kubawa dari rumah, tak ada berita baru, hanyalah informasi basi di sana. Menunggu, selalu membuatku tak tenang. Sebenarnya, aku tak suka menunggu. Bagaimanapun suasana hatiku, setelah menunggu umumnya akan menuju ke arah yang sama. Kemarahan.
Nah, suara itu. Pengumuman kedatangan kereta, bunyi-bunyi aneh, besi rel yang digilas roda kereta. Duhh, banyak sekali penumpang yang turun, bagaimana aku mencarimu? Akhirnya, kutuliskan besar-besar namamu di koran yang kubawa.
Kamu menghampiriku, masai selepas bangun tidur. Ada garis merah di pipimu, entah kau sandarkan di mana kepalamu sampai garis saling-silang itu tercetak di sana. Beberapa tas yang nampak berat, menggelayut di tubuhmu, merepotkan.
Aku iba; kasihan padamu. Sebentar, kucari kemarahanku pada kereta yang lambat. Umpatan dan kritik yang sudah siap kualamatkan kepada perusahaan jawatan kereta. Di mana semua itu?
“Aku lapar.â€
“Maaf…â€
“Aku lapar, seharusnya aku makan di kereta, namun tadi ketiduran.â€
“Ibu sudah menyiapkan banyak makanan, tapi kita butuh waktu ke sana.â€
“Perutku perih, adakah yang lebih dekat?â€
Kupesan segelas Kopi Joss, sebungkus nasi sambal dan tempe goreng. Atas saranku, kamu pesan teh gula batu, dua bungkus nasi dan setusuk sate telur. Begitu diam kau nikmati setiap suapan, aku melirikmu ingin sekedar bertanya, “Bagaimana perjalananmu tadi?â€
Beruntunglah aku masih ingat segaris merah di pipimu. “Tidur!†Kubayangkan ini jawaban yang akan keluar dari bibirmu. Aku bersyukur, pertanyaan konyol dan tidak penting itu hanya di hati saja.
“Hmm, enak ya di sini. Apa nama tempat ini?â€
“Angkringan Tugu.â€
“Kamu sering, Bi, ke sini?â€
“Sering, hampir tiap malam.â€
“Kenapa?â€
“Aku senang mendengarkan suara-suara itu.â€
“Suara… Suara yang mana? Ada banyak suara di sini.â€
Kujelaskan panjang lebar tentang suara-suara yang datang dari stasiun. Bunyi yang akan mengawali setiap pengumuman kedatangan dan kepergian kereta. Bunyi gemuruh rel yang dilindas roda-roda kereta saat kedatangan dan keberangkatan. Suara memekakkan saat palang kereta di jalan depan stasiun ditutup.
“Kamu aneh, Bi, apa hebatnya semua suara itu?â€
“Entahlah, aku hanya suka mendengarnya.â€
Pembicaraan malam itu, mengawali hari-hari yang akan kita lewati bersama. Bukan masa yang panjang, seminggu di sini kamu membereskan urusan ayahmu dalam tiga hari. Aku mengantarmu, ke mana pun kamu ingin pergi. Aku menjadi tukang ojek yang bersemangat, membawamu menyentuh sudut-sudut kota ini.
Sekali waktu kita menembus hujan menuju pantai. Pada sebuah senja yang berangin; dingin. Bibirmu gemetar, tubuhmu menggigil. Aku hanya berdiri di sampingmu terpesona pada saujana. Saat kurasakan getaran dari tubuhmu yang sudah menempelku.
Kamu sandarkan kepalamu di dadaku. Kemudian, tanpa ragu memelukku. Begitu erat, seperti takut pada hujan. Tak lama, bukan hanya gigil, kamu menangis, sekuat tenaga menahan isak. Rahasia akan melindungiku. Aku memilih diam, menahan debar yang menggemuruh di tengah badai pantai.
Pulangnya, kamu memeluk erat pinggangku. Memintaku agar jangan terlalu laju mengendarai motorku. Kamu jujur berkata, “Aku ingin lebih lama bersamamu.†Ya, sore itu memang hari terakhir sebelum esok kamu pulang ke kotamu.
Angkringan Tugu, kembali kita ke sana. Sekali ini, entah kenapa kamu memilih kopi joss, sama dengan pesananku. Biasanya kamu lebih senang memesan teh panas gula batu, meminum cepat segelas pertama, kemudian mengisi lagi dengan teh yang sudah disediakan dalam gelas kaleng besar.
***
Kini, aku tahu kenapa begitu suka mendengar suara-suara itu. Setiap bunyi adalah penanda. Tengara bahwa harapan masih boleh digantungkan. Barangkali, di antara suara itu ada satu titimangsa di mana aku ‘kan bertemu denganmu, memenuhi janjiku saat mengantarmu dulu.
“Aku menunggu di sini.â€
Salamku Untukmu
Aug 24th
Janggal sekali kurasakan, bukan padanan yang pas. Di samping itu, kau pasti akan memerintahku, “Carikan di kamus nak, apa arti dear!â€
Aku tak beranjak kemudian, biasanya begitu. Diam, masih asyik dengan kesibukan semula. Kau ‘kan mengulang perintah sekali lagi, beberapa kali lagi, hingga nadamu meninggi.
Salahku juga, kenapa harus menggunakan kata itu. Kau tidak mengerti artinya, itu alasan pertama. Kau perlu kamus, sementara tulisan yang kecil akan menyiksamu. Selanjutnya, kau akan membuatku repot, padahal kau pun tahu aku tak suka repot.
Lupa mungkin nama tengahku, atau tak tahu diri? Betapa dulu bila aku berbunyi, “Ooooeeekkkk!!!†seperti sebuah alarm bagimu. Kau akan tergopoh; melihat apakah aku ngompol, berak atau haus. Tak perlu ketiganya datang sekaligus, cukup salah satu saja, maka kerepotanmu kemudian.
Andaikan kau menganut para pebisnis dan menghitung semua kerepotanmu sebagai hutang. Tak terbayangkan kemudian, berapa hutangku?
Hallo Ibu,
Apa iya aku harus menggunakan yang ini? Seperti sapaanku kepada teman-temanku, padahal tentu kau lebih dari seorang teman.
Tetapi, seringkali kau pun menjadi teman terbaik untukku. Aku tak akan ragu berbagi rahasia yang paling rahasia padamu. Kau diam kemudian; mengangguk-angguk, berbinar, mencandaiku, tapi sering juga menghardikku.
Semua itu, bisa juga berlaku sebaliknya. “Tetangga kita si anu …†itu awalan bila kau akan bercerita tentang tetangga yang mengganggu pikiranmu. Bila adik meminta uang saku, lagi dan lagi, “Ahh, adikmu itu!â€. Bapak yang nakal, “mBok Bapakmu, itu dikasih tahu!â€
Hahaha, banyak memang keluhanmu. Tetapi, kok rasa-rasanya masih banyak keluhanku. Kita saling mengeluh, kita terbahak kemudian.
Aku tak selalu ada di sampingmu. Adik-adik mungkin bisa membantumu. Kau tak selalu di sampingku. Teman-temanku akan ada di sana saat itu. Tidak ada yang istimewa sebenarnya, kecuali rasa amanku. Karena aku tahu, saat tak ada seorangpun yang mendengarku, kau bahkan akan mendengar bisik paling halusku.
Ibu sayang,
Tak pernah kukatakan padamu, bahkan sekali. Tak mungkin aku menggunakan ini.
“Aku sayang padamu†beribu kali bisa kukatakan pada gadis-gadis manis itu. Tak jarang lengkap dengan pemanis lainnya. Sedikit gombal barangkali, salah sendiri gadis-gadis itu suka digombali, bahkan berbinar, hihihi.
Hal yang tak pernah berlaku untukmu. Ingin mengucapkannya, tapi lidahku kelu. Padamu, aku tak perlu semua ungkapan gombal itu. Aku tak perlu menjaga hubungan, tak khawatir kau tinggalkan dan berpaling ke orang lain.
Bahasa kita, adalah bahasa rasa. Tak perlu kita bermanis bibir. Aku tak perlu bohong padamu, karena kau tahu kebohonganku yang paling jujur sekalipun.
Bu’e,
Tak pernah kutahu dari mana asal muasal panggilan jelek ini. Pengubahan Ibuke menjadi Bu’e mungkin untuk mempermudah lidah kecilku dahulu. Sebagai anak pertama, kenapa aku dulu tak memilih “mamaâ€, “bundaâ€, “mami†yang kelihatannya lebih keren?
Tetapi, panggilan itu tak mengubah artimu sebagai ibu. Kau tak memerlukan panggilan yang keren untuk menghidangkan deretan teh hangat di atas meja pada rembang petang. Tempe goreng dan sambal akan tetap tersedia di piring-piring pada setiap pagi, dengan dan tanpa aku mengubah panggilan itu. Semua otomatis, begitu saja, kau memang tahu apa yang kami mau.
***
Apa sih maksudku ini? Sebenarnya, aku ingin membuat sebuah surat untukmu Bu’. Namun, bahkan untuk sebuah salam pembuka aku kebingungan.
Tunggulah…
Pelukan Terakhir
Aug 12th
“Di mana kita?â€
Aku menganggap aneh pertanyamu setelah apa yang terjadi semalam di antara kita. Setiap desahmu, meliar tubuhmu yang kutindih. Bahkan, aku masih ingat dengan jelas bulir-bulir keringat di koordinat pucuk hidungmu.
Ku biarkan kau dengan diam dan senyum nakalku.
“Aih! Apa yang telah terjadi?â€
Pekik manjamu itu, keluar saat kau sadar kita berpelukan tanpa busana. Apa yang terjadi kau tanyakan, benarkah itu, atau sekedar berpura-pura?
Ingin aku menghukummu sekarang juga dengan pagutan yang lama. ‘Kan kuhela seperti kuda Troya yang binal saat ini. Seperti semalam, lagi dan lagi.
Lupakah kau? Siapa yang telah begitu sabar membuka kancing kemejaku satu demi satu? Kemudian, tak kau biarkan aku beraksi. Justru kau menelanjangi dirimu dan menari.
Ah tarian itu… ‘Kan kukenang malam demi malam…
Masih saja aku terdiam. Malah, kutiupi bulu-bulu halus di keningmu. Mempermainkanmu? Bukan; bukan itu tujuanku. Kemanjaanmu, itulah yang kunanti. Benar, kan? Kau menggeliat membelakangiku, setelah tak lupa mencubit perutku. Ahh, kau memang nakal.
Di antara banyak hal yang membuatmu takut, kesendirian adalah musuh besarmu. Ingin kuuji kau, berapa lama kau mampu bertahan membelakangiku. Kuberingsut, pasti kau kira akan mendekatimu. Padahal aku hanya menengadah, kemudian membelakangimu.
Saat membelakangimu itu, kukenangkan semua yang terjadi semalam. Belum lama, sebuah tangan sudah melingkar erat di pinggangku. Bingo!
Kau memang sangat usil, kau hembuskan nafas hangatmu di tengkukku. Membuatku kegelian, mengganggu kenanganku. Barangkali kau mengharapkan aku bereaksi atas aksi yang kau lakukan. Tetapi, aku memilih tetap diam.
Akhirnya kau pun menyerah, justru memelukku kian erat, hangat, rapat. Diam menyelimuti, saat kurasakan cairan hangat mengalir di punggungku. Aku kira kau menangis. Ahh, apa pula ini.
“Sudah bulatkah tekadmu itu?â€
Bisikmu nyaris tak terdengar ditingkahi isakan yang tertahan. Aku tahu, pada akhirnya kau akan menanyakan ini. Sekedar memastikan niatku untuk terakhir kali, mungkin.
Kupikir, sebuah sentuhan terakhir yang tak terlupakan pantas untukmu. Aku bangun, menarik tanganmu dengan lembut. Pasti kau mengira akan kubawa kau ke balkon seperti biasa kita lakukan. Berpelukan, telanjang dan mandi matahari.
Sayang kau salah kali ini. Kamar mandi dengan bath tub untuk berdua menjadi tujuan kita.
Shower kunyalakan, hanya pintu yang lupa belum tertutup…
*Cklik!*
Dan kemudian pintu tertutup…
_____________________________________________
Saya mendengar lho suara-suara protes itu!
Dari pada penasaran, kenapa tidak membuat cerita sendiri saja di sini misalnya, hahaha



