melintas batas
kamar hati
Suara, Kata Ara
Dec 9th
McDonalds Atrium Senen 10.50 WIB. Udara dikondisikan dengan menggunakan mesin pengatur. Lengas di luar pun tak kuasa menerobos dinding kaca. Minum es krim rasa coklat bercampur susu, pada kemasannya tertulis McFlurry.
Dua gelas plastik McFlurry di atas meja mulai mengembun. Butiran air menempel di luar gelas terasa dingin. Dan es krim, tidak lagi memadat. Perlahan mencair, terasa lebih lembut, meleleh di lidah.
Bila diam adalah batu, maka kata-kata mencairkan kebekuan itu. More >
Bulan, Terang Samar
Dec 3rd
Kemarin bulan tersenyum
Ada dua planet yang menjadi mata
Entah kenapa, bulan sabit pun membentuk senyum
Aku pun tertawa
Malam ini awan menutupnya
Meski
Sekilas aku masih bisa melihatnya
Walau More >
Di Balik Bayang
Nov 10th
Akheela menatap tembok di taman belakang rumahnya dengan penuh perhatian. Di sana, pada sebuah sudutnya terdapat bayangan tembok lain dari rumah tetangga. Sudut itu menjadi gelap; sedikit lembab dan mungkin berjamur yang bahkan mampu membuat cat di bagian itu terkelupas.
Bayangan itu sepertinya akrab dengan Ila, begitu biasa gadis kecil itu dipanggil. Memang, sebenarnya Ila adalah gadis di balik bayang-bayang. Dan ini kisahnya:
Hujan bukan lagi gerimis, lebat boleh dibilang begitu. Dua gadis kecil itu masih juga bermain dengan penuh tawa senang. Mereka tak sadar bahwa di balik pintu dapur yang terbuka seorang Ibu mengawasi dengan cemas.
“Ila, cepat ke mari, nak. Hujan, nanti kamu sakit.â€
“Bentar, ma, Ila masih ingin bermain bersama kakak.â€
Tak sabar, diambillah sebuah payung oleh Ibu itu. Dengan menarik daster biru mudanya sampai ke lutut, dihampirinya kedua gadis kecil itu.
“Ayo, Ila, nanti kamu terkena flu, sudah cepat atau nanti mama adukan ke papa.â€
“Tetapi, ma…. “
Tak kuasa Ila untuk sekedar menolak perintah itu. Sebelah tangannya digandeng oleh mamanya dan diseret ke kamar mandi, kemudian dimandikan dengan air hangat. Adapun kakaknya, masih juga belum beranjak dari tengah taman bermain lumpur; bermandikan air hujan, basah.
Ila telah hangat kini. Minyak kayu putih dioleskan ke sekujur tubuhnya; sweater tebal membungkus erat tubuh bagian atasnya. Adapun pada kakinya, sebuah selimut kembang-kembang melindungi dengan sempurna. Dia duduk di ranjangnya, sesekali bersin dan melalui jendela dia bisa melihat kakaknya masih juga bermain hujan. Iri, entah kenapa rasa iri itu menyeruak begitu perlahan.
Sesekali bersin terdengar dari mulut Ila; hidungnya pun mendadak mampet dan pusing tak lupa hinggap di kepalanya. Begitu berat. Masih ditambah dengan iri yang mengusik-usik hatinya. Tak salah kiranya bila menyebut Ila begitu tersiksa dengan semua keadaan itu.
“Kamu ngga papa, Ila?â€
Sebuah suara berat dan berwibawa: ayah Ila. Beliau masuk ke dalam kamar dengan langkah yang tegap, tenang. Semakin mendekati ranjang di mana Ila terduduk pucat. Sebelah tangannya terangsur ke pelipis Ila. Disibakkan poninya dengan jemari tangan yang kukuh itu; menggunakan punggung tangannya papa Ila mencoba mengukur, mengira-ira suhu tubuh Ila.
“Kamu demam, nak. Itulah akibatnya bila berhujan-hujanan. Papa kan sudah selalu bilang.â€
Ila masih terdiam seribu bahasa. Dilayangkan pandangannya kembali ke kakaknya yang masih bermain hujan. Tangan ayahnya sudah tidak berada di pelipisnya, tetapi rasanya masih ada di sana. Wibawanya begitu kuat dan tak mungkin bisa dilawan olehnya yang mungil.
Dunia bagi Ila, menyempit. Dia hidup di bawah ketiak ayah dan ibunya. Hari-harinya adalah menelusuri jejak kakaknya, di balik bayangannya. Meski tak pernah bisa, tak juga bisa dia meniru, mendapatkan apa yang kakaknya dapatkan.
Ila begitu murung bila mengingat semua itu. kebebasannya terpasung di bawah kendali ayah dan ibunya. Kebebasan yang dengan sangat bertolak belakang bisa didapatkan kakaknya dengan mudah.
“Papa, kenapa Ila tak boleh bermain hujan seperti kakak?â€
“Karena kamu mudah sakit, Ila, begitu mudah sakit.â€
“Tetapi, Pa….â€
“Sudahlah, Ila, jangan membantah terus, kasihan mama bila harus repot merawatmu.â€
Bila sudah begitu, Ila kemudian terdiam. Tak ada lagi kata yang terucap. Semua yang ingin keluar dari mulutnya tertelan kembali. Begitu banyak yang ingin diucapkannya, tetapi kemudian hanya helaan nafas yang tertahan untuk menyembunyikan sedu sedan.
Menurut Ila, apa yang dilakukan oleh ayah ibunya adalah tidak adil. Kakaknya bebas melakukan segala hal. Tetapi Ila? Selalu dan terus diawasi, dipantau di bawah lirikan tajam mata ayah dan ibunya. Bukan kondisi yang menyenangkan, tak juga bisa dikatakan membahagiakan. Meski di sudut hatinya pun dia tahu, orang tuanya melakukan itu semua demi dirinya jua. Tubuhnya yang rapuh, rentan terhadap penyakit.
Apakah kemudian Ila bersalah menjadi rapuh? Bila ternyata kedua orang tuanya tidak pernah memberikan sebuah ruang untuknya. Ruang di mana dia bisa belajar menjadi kuat, tidak rentan; kokoh tak mudah patah menajadi serpihan.
Tak bisa dikatakan salah pula kedua orang tuanya. Rasa kasih dan sayang telah mendorong beliau berdua untuk menjaga Ila lebih dari seharusnya. Siapa tahu, mereka ingin agar anaknya tak mudah terserang flu dan demam.
Jembatan pengertian di antara mereka mungkin tidak pernah sempurna dibuat. Ada sebuah jeda seperti elipsis yang masing-masing pihak mesti mengisinya dengan pengertiannya sendiri-sendiri. Sebuah dunia baru terbentuk di dalam diri Ila.
Dunianya sendiri, begitu Ila akan menyebut bagian dari dirinya yang tak akan dibagi kepada siapapun. Entah ada apa di sana hanya dia yang tahu. Dunia di mana dia akan menari, bernyanyi dan bercerita. Jangan mencoba mengganggunya, atau mencoba melihat dunianya yang satu ini. Karena dia menari, bernyanyi dan bercerita di balik bayang.
Hanya, barangkali satu saat matahari akan bergeser dan membuka wilayah gelap itu, seperti apa yang Ila saksikan kini di tembok belakang rumahnya. Aih, di sana ternyata banyak semut berbaris rapi, ada pula sepasang kupu-kupu yang hinggap di bunga. Dan bunga itu, begitu cantik, secantik Ila yang entah kenapa tersenyum.
Bilakah?
Hati, Buka Buku
Oct 30th
Sahabatku pernah berkata, “Kehidupan seperti membuka halaman demi halaman sebuah buku.†Kita tidak akan pernah mengerti sebuah halaman sampai selesai membacanya. Apa kisah yang ada di dalamnya; cerita seperti apa yang mungkin tersaji, dari halaman-halaman itulah semua bisa didapatkan, dimengerti.
Aku merangkai kisahku sejak lama. Dalam tiap halaman bisa kamu temukan semua kisah itu, tetapi mungkin juga tidak. Barangkali saat itu, ketika kamu menemui sebuah gambaran yang buram, samar atau kusembunyikan. Di bukumu, aku pun menemukan beragam kisah yang sudah kau rangkai sejak lama. Tidak semua halaman dapat kumengerti, maka akan kutanyakan kepadamu apa makna gambar yang buram, tulisan yang centang perenang dan berpusaran. Tak semua juga akan kumengerti. Mungkin halaman-halaman itu kau sembunyikan; sobek dari kesatuan buku.
Aku tidak akan bertanya tentang rahasiamu bila itu memang menjadi rahasiamu. Pun aku tidak akan bercerita tentang rahasiaku bila kamu bertanya. Rahasia akan melindungi kita, sayang. Biarlah lembaran yang gelap itu tetap menjadi gelap. Masa lalu mungkin akan kita tilik di tengah-tengah hening ketika kita merinduinya untuk satu saat yang penat. Tak apa, bukan kesalahan bila kamu dan aku membuka lembaran yang telah lewat. Sekedar untuk mengenangkannya.
Seperti kata Gibran, “Dari masa lalu, dua buah cawan kita dapatkan. Sebuah cawan tentang kesedihan yang kita minum saat gembira agar kita tidak terlalu bergembira dan sebuah cawan kegembiraan yang kita minum saat kita sedih agar tidak terlalu bersedih.†Pun dengan membacai ulang semua kisah yang lewat, kita mungkin bisa belajar dari sana. Tidak terperosok pada lubang yang sama.
Tetapi baiklah, kita tidak akan berbicara tentang masa lalu. Saat ini kita juga sedang menulis cerita. Masa depan belum lagi ditulis. Halaman itu masih kosong, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada halaman-halaman itu. Sebuah kejutan macam apa yang akan menunggu di sana? Baiknya kita tunggu sampai halaman itu habis kita baca.
Mungkin kau masih ingat saat bersama kita membaca ‘Bumi Manusia’ di dalamnya ada sebuah pesan Jean Marais kepada Minke, kira-kira begini, “Cinta itu, Minke, terlalu indah untuk bisa didapatkan dalam hidup kita yang singkat ini.â€
Aku tak mengerti berapa lama kita akan terus bernafas. Pada titik mana detak jantung ini akan istirahat tak jua ‘ku punya jawabnya. Karena itu, kuminta kau sudi menemaniku di sini sebentar, lebih singkat dari hidup yang sudah singkat itu. Maukah kamu?
“Untuk apa aku di situ menemanimu?â€
Merangkai kisah kita. Begitu aku akan menjawabnya. Benar memang aku sudah memiliki buku yang tak juga akan habis bila kutuliskan semua ceritaku. Pun kisahmu barangkali akan memenuhi bukumu yang tiap hari akan terus kau tulis. Pada titik ini sebenarnya aku bingung, untuk apa aku memintamu di sini menemaniku menuliskan kisah, toh aku sudah memiliki cerita juga kamu.
Tetapi, Ra, dalam lembaran-lembaran yang kutulis banyak tanya. Sebentuk harap: tentang hati yang merindu. Menanti jawaban*. Aku tak mengerti bagaimana rupa bukumu. Sudahkah lengkap semua tanda baca kau pakai; apakah kau juga punya tanda tanya? Sebentuk mimpi: tentang hari yang indah berpelangi.
Bila menjadi kisah kita, maka tidak bisa aku menuliskannya sendiri, Ara. Kubutuhkan kamu untuk melengkapinya, menjadi aku dan kamu, kita.
“Bi, bila aku sudah di situ membuat cerita denganmu dan menjadi kisah kita. Apakah kemudian kamu tidak akan bertanya-tanya lagi? Benarkah kamu akan menemui semua jawab? Apakah mungkin juga ‘kan kutemui hari berpelangi?â€
Tidak, Ra. Sebentuk tanya, berbentuk tanya bahkan masih akan menggodaku. Entahlah, tanda baca itu begitu memesonaku. Pun tak bisa kujanjikan hari berpelangi, semacam tak bisa kuramalkan esok hari hujan akan datang gerimis atau lebat.
Namun denganmu di sini; dekat-lekat. Aku tahu, Ra, bahwa harapan masih ada. Sebuah hati yang tidak lagi merindu. Meski mungkin aku kangen utamanya bila kau jauh.
Saat kau di sini; dekat-lekat. Hujan gerimis; tik-taknya di genting akan menjadi melodi. Sekali saat boleh juga kita bermain hujan; berpelukan saat riciknya membasahi tubuh kita; hati kita. Bila lebat, maka di balik jendela yang mengembun kamu dapat menggoresnya dengan jemarimu dan menggambarkan sebuah tanda hati. Saat itu, biarkan aku memelukmu dari belakang; membauimu, menghangatimu. Tak lupa, bila sekali tempo kita beruntung dan pelangi terlihat selepas hujan kita akan memandangnya.
Selayaknya hujan, Ara, barangkali ada kilat menyambar membiarkan terang meraja begitu singkat. Pula guruh yang menggelegar menyiutkan nyalimu. Aku pun takut bila saat itu tiba, seperti sebuah kenyataan yang dirampas tiba-tiba. Terkenang saat aku kecil sepulang sekolah berhujan-hujanan dan guruh datang. Aku berjongkok di bawah lindungan daun pisang yang tak kuasa menahan titik hujan. Aku takut, nyaliku pun menciut sama denganmu. Barangkali itulah detik di mana kebahagiaan kita terampas, bukankah dapat kita rebut kembali? Tentu… tentu bila kamu bersedia bersamaku memintanya.
Akhirnya, Ra, aku membutuhkanmu dalam hari yang cerah untuk mengisi jiwa yang sepi*. Tatkala berpelangi untuk menggoreskan warnanya sendiri di hati. Saat gerimis untuk menggetarkan nada nadi di dalam dada ini. Pasti juga ketika hujan lebat, di mana kilat dan guntur menyambar; menggemuruh, sekedar berpegangan tangan, menguatkan nyali.
Di sini memang kugunakan Ara. Tetapi bila satu ketika ada yang memanggilmu aunty atau bibi, maka menengoklah, Ra, mereka adalah sahabatku. Dan aku, akan memilih Chinta atau Chien. Entah kenapa.
*) sebuah lagu Padi
**) sebuah lagu Peterpan.
