<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>unclegoop.com &#187; kamar hati</title>
	<atom:link href="http://unclegoop.com/category/kamar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://unclegoop.com</link>
	<description>melintas batas</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 03:55:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Ainun 1</title>
		<link>http://unclegoop.com/2010/06/09/ainun-1/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2010/06/09/ainun-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 01:08:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[ainun]]></category>
		<category><![CDATA[gerumbul awan]]></category>
		<category><![CDATA[pepohonan]]></category>
		<category><![CDATA[senja]]></category>
		<category><![CDATA[tembok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1078</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, menjelang Tahun 1962…. Semburat senja merona kemerahan di langit barat. Angin bertiup lembut menerbangkan dedaunan yang telah jatuh dan terserak di jalan. Berkas sinar matahari yang berhasil menerobos gerumbul awan jatuh di tembok rumah sakit itu. Tembok yang warnanya putih pun kemudian bagaikan tersapu kuas berubah warna menjadi kekuningan. Tidak semua bagian tembok terkena]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jakarta, menjelang Tahun 1962….</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.solopos.com/dokumen/2010/04/20Ainun-Habibie.jpg"><img class="alignleft" style="margin-top: 2px; margin-bottom: 2px; margin-left: 5px; margin-right: 5px; border: 2px solid black;" src="http://www.solopos.com/dokumen/2010/04/20Ainun-Habibie.jpg" alt="" width="240" height="157" /></a>Semburat senja merona kemerahan di langit barat. Angin bertiup lembut menerbangkan dedaunan yang telah jatuh dan terserak di jalan. Berkas sinar matahari yang berhasil menerobos gerumbul awan jatuh di tembok rumah sakit itu. Tembok yang warnanya putih pun kemudian bagaikan tersapu kuas berubah warna menjadi kekuningan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak semua bagian tembok terkena sinar matahari. Memang, meskipun sudah berhasil menerobos awan, namun ada pula di antaranya yang tertahan pepohonan. Hasilnya ialah bayang-bayang yang tercetak di tembok, yang bergerak, seirama dengan gerakan pohon yang dihembus angin.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahai, rupanya bukan hanya bayangan pohon saja yang jatuh di tembok itu. Di sana, di tembok itu, ada pula bayangan kaki jenjang, sesosok tubuh dan kibaran rambut. Empunya tubuh sendiri memang saat itu sedang tenang-tenang berdiri menunggu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ainun nama perempuan itu, ia seorang dokter anak. Sosoknya tak begitu tinggi, senyumnya ramah kepada siapa saja, lagaknya anggun dan terkendali. Dan sore itu, ia sedang menunggu kedatangan Rudy kekasihnya datang menjemput. Sudah beberapa lama ia berdiri seperti itu, setia menunggu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari ujung jalan, nampaklah becak yang mendatangi Ainun perlahan-lahan. Ainun hapal betul siapa penumpang di becak itu, ialah Rudy yang duduk tak tenang. Di benak Ainun terbayang bagaimana Rudy akan meminta kepada tukang becak, “Ayo, Pak, kayuhlah lebih cepat. Kasihan bila Ainun mesti menunggu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tak berapa lama kemudian, masih dengan kecepatannya semula, perlahan-lahan becak itu pun mulai mendekat. Sementara penumpang di dalamnya sudah hendak meloncat tak sabar lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Senja pun kemudian menjadi saksi, bagaimana dua pasang kekasih yang saling peduli itu bertemu. Sesosok pria dengan bola mata bundar yang berkerjap-kerjap bahagia dan wanita dengan matanya yang seteduh telaga. Dua pasang mata itu pun baku pandang, waktu terhenti.</p>
<p style="text-align: justify;">Ainun pun dituntun Rudy memasuki becak yang setia menunggu dengan tukangnya yang menyusut peluh karena bingung hendak melakukan apa saat menatap dua sejoli yang dilanda asmara begitu. Plastik penutup becak pun ditutup kendati hari tak hujan, barangkali khawatir angin nakal mengusik ketenangan mereka berdua. Sementara keduanya berasyik masyuk memadu kasih, becak itu pun berjalan perlahan-lahan.</p>
<p><map name='google_ad_map_1078_70aa80bd661cebb1'>
<area shape='rect' href='http://imageads.googleadservices.com/pagead/imgclick/1078?pos=0' coords='1,2,367,28' />
<area shape='rect' href='http://services.google.com/feedback/abg' coords='384,10,453,23'/></map>
<img usemap='#google_ad_map_1078_70aa80bd661cebb1' border='0' src='http://imageads.googleadservices.com/pagead/ads?format=468x30_aff_img&amp;client=&amp;channel=&amp;output=png&amp;cuid=1078&amp;url= http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2010%2F06%2F09%2Fainun-1%2F' /></p><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2010%2F06%2F09%2Fainun-1%2F&amp;linkname=Ainun%201">Share/Bookmark</a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2010/06/09/ainun-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Air Mata</title>
		<link>http://unclegoop.com/2010/02/18/air-mata/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2010/02/18/air-mata/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 14:50:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[jendela dunia]]></category>
		<category><![CDATA[kamar hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=929</guid>
		<description><![CDATA[Di luar gerimis baru saja turun untuk kemudian menderas. Butiran air menjadi selarik tirai yang hanya sekilas saja kita lihat; menghalangi berkas-berkas cahaya sampai di tempat kita. Ditambah lajunya mobil Innova hitam ini, semakin susah cahaya menerangi tempat kita duduk bersama di bangku paling belakang ini. Pada suatu detik yang begitu istimewa, aku menjadi saksi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Di luar gerimis baru saja turun untuk kemudian menderas. Butiran air menjadi selarik tirai yang hanya sekilas saja kita lihat; menghalangi berkas-berkas cahaya sampai di tempat kita. Ditambah lajunya mobil Innova hitam ini, semakin susah cahaya menerangi tempat kita duduk bersama di bangku paling belakang ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Pada suatu detik yang begitu istimewa, aku menjadi saksi. <span id="more-929"></span>Ketika air matamu turun, jatuh dari matamu. Begitu bening seperti embun yang bergoyang seirama dengan daun. Daun <span>tempat<span lang="IN"> embun bertengger <span>di ujungnya <span lang="IN">untuk kemudian jatuh, luruh ke bumi. Adapun air matamu setelah menggumpal di sudut matamu yang terpejam, kemudian karena beratnya jatuh ke pangkuanmu.</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Seiring dengan jatuhnya butiran bening itu, bukan prisma pembias cahaya yang kuingat. Tidak indah, berwarna-warni seperti ketika sinar matahari menembusi embun dan terbiaskan menjadi warna-warni pelangi. Manakala matamu kian terpejam dan mengikhlaskan sebuah butiran bening pergi darinya tanpa ucapan selamat tinggal. Ketika itu pula sebagian diriku terampas. Ada kesedihan yang memaksa masuk, menjadi pengganggu kebersamaan; kebahagiaan kita.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Kata Eistein, “Seandainya <span>saja <span lang="IN">aku bisa membagi kebahagiaanku denganmu, agar kamu tidak termenung dan bersedih.” Namun, Eistein lupa, pengandaian justru lebih menyakitkan. Seperti mimpi yang musykil tergapai.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Akhirnya, sebuah kemestian bila kita harus menikmati betapa pun sedihnya saat itu. Kamu menangis dalam diam, duduk sedikit jauh di sampingku, air matamu berderai, sedikit pun tanpa isak yang terdengar. Lebih menyakitkan melihat air matamu jatuh satu demi satu seperti itu. Tidak&#8230; bukan seperti gerimis yang entah kenapa menurutku berisik saat jatuh di badan mobil ditingkahi bunyi <em>wiper.</em> Padahal, di lain saat yang berbeda, kita begitu menikmati bebunyian gerimis itu, entah ketika menabrak genteng, berbenturan dengan kaca jendela atau ketika bertumbukan dengan kerikil di halaman. Bunyi yang sama, tik-tak gerimis ternyata memberi efek yang berbeda bergantung pada suasana hati. Salahkah gerimis?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Dan aku, apa yang kulakukan selain duduk di sampingmu menyaksikan butir demi butir gerimis jatuh di luar pun butir demi butir air matamu jatuh di sampingku. Seperti patung polisi di perempatan yang tidak berdaya apa pun. Begitulah aku, tiada yang dapat kulakukan sekadar untuk menghiburmu. Mungkin ketika itu, kamu memasuki duniamu yang tak terpermanai, bahkan olehku. Sebenarnya, memang aku tak selalu memahami dan mengerti kamu. Ah, maafkan aku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Sebuah hikayat pernah kubaca, tentang seorang gadis kecil. Dia memiliki teman khayalan. Seringkali dia akan berbicara sendiri; bermain-main sendiri<span>. <span>B<span lang="IN">egitulah yang terlihat oleh mata khalayak, namun tidak oleh gadis itu. Menurutnya dia sedang bercakap-cakap dengan ‘teman’-nya itu. Sangkanya, ia sedang bermain penuh keceriaan dengan teman khayalannya. Orang tua, saudara-saudaranya, mengira gadis itu bermasalah, tetapi ternyata tidak, seiring waktu, kemudian gadis itu tumbuh dengan wajar dan teman khayalnya pun ditinggalkan hanya menjadi kisah usang masa lalu. Namun, sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Suatu ketika di saat yang begitu istimewa ‘teman’ yang juga istimewa itu akan muncul kembali, menemani.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Barangkali saat kamu terpejam itu, ketika butiran-butiran bening itu jatuh, manakala bibirmu terkatup rapat tak membiarkan sekadar isak. Saat itu kamu sedang kembali bercanda dengan teman khayalmu yang mungkin adalah bagian lain dari dirimu sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Prasangkaku itu, mungkin sekali salah, meski juga tidak menutup kemungkinan bahwa itu benar. Tetapi tidak, aku tak berani berjudi denganmu ketika kamu seperti itu. Salah-salah malah merusak segalanya. Seperti membangun tiruan gedung dari korek api. Banyak jeda yang harus diambil saat napas dihela agar ketegangan dan hembusannya tidak merusak susunan pondasi dari bangunan awal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Detik-detik yang berjalan mengiringi mutiara air matamu yang berkelap-kelip saat cahaya menyapa. Hening yang ngelangut ketika diammnu seperti batu gunung yang teguh tak tergoyahkan. Mungkin adalah penanda ketika rapuhmu hancur menjadi serpihan yang terserak. Rapuh yang sama dengan sekumpulan air terjun yang jatuh menimpa batu cadaas, menjadi percikan untuk nantinya bersatu lagi, namun kapan?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Masa untuk terpejam, kemudian air bening menggumpal di sudut mata, lantas jatuh dan terpercik di celanamu pada akhirnya juga akan selesai. Ketika kamu sadar bahwa sudah tak ada lagi kepingan yang tersisa yang masih mungkin merepih, retak dan terserak. Saat tak ada lagi yang tersisa, kembali kesadaran merampasmu dari pengembaraanmu di negeri antah berantah dan hanya kamu yang tahu rute menuju ke sana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Di titik berangkat dan kembali, di sanalah aku kan menunggu. Penanda kedua titik itu adalah kesadaranmu yang kembali menguasaimu. Ketika kamu sadar pada usapan-usapan lembut telapak tanganku di punggungmu, menatapku sekilas kemudian rebah di bahuku dan tanganku terhenti untuk kemudian merangkulmu. Saat itu aku tahu kamu kembali di sini bersamaku tidak lagi mengelana entah ke mana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Kau telah pulang, begitu batinku. Tetapi itu tak berarti berhenti menangis dan terdiam. Butiran bening itu masih juga terus keluar dari sesela matamu yang kembali terpejam. Ketika kemudian menggumpal di sudut-sudut kelopak matamu, maka tak canggung kuseka dengan ujung jemariku. Begitu keluar lagi, kuseka lagi demikian seterusnya. Sesekali kamu melihatku, ada takut di sana, ada khawatir membayang di matamu yang memerah. Kemudian kamu peluk aku begitu erat. Melalui pelukan itu kamu seperti mengisyaratkan, “Temani aku, jangan kau tinggalkan aku.” Tak kalah hangat dan rapat kudekap pula kamu, semoga pun kamu tahu, bisikku dalam diam, “Tak akan kupergi, aku kan menunggumu di sini, menanti meski hanya sekadar menemanimu, sekadar itu.” Dan&#8230; kita berpelukan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Pelukan yang tak lama karena kamu capek, lelah dengan semua yang terjadi. Perlahan-lahan kamu beringsut, kemudian rebahkan kepalamu di pangkuanku dan terpejam. Tidak&#8230; bukan tertidur karena butiran-butiran bening itu masih juga keluar, menggumpal lagi dan kuseka. Inilah masa ketika kamu mengumpulkan kembali serpihan-serpihan yang terserak, kiraku. Sedikit demi sedikit dikumpulkan dan dibentuk lagi menjadi kamu yang kukenal, meski entah kapan akan merepih lagi dan terserak, kita berdua tahu benar itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Biarlah derai air mata itu tetap jatuh, jangan kau tahan. Puaskanlah tangismu, bila dengan itu kamu merepih menjadi serpihan untuk kemudian terkumpul lagi. Seperti percikan air terjun yang kemudian berkumpul menjadi anak sungai menuju samudera. Mungkin dunia tak akan pernah mengerti, bahkan tak juga aku akan apa yang kau rasakan. Abaikan saja mereka yang kembali bercakap-cakap dan tak juga hirau pada apa yang kau rasakan. Sedangkan aku, ijinkan aku menemanimu, sekadar menyeka air mata yang menodai pauh pipimu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Gerimis masih juga turun di luar, tak hirau pada kita. Pada kamu yang membuat gerimis sendiri dengan air matamu. Pada aku yang tak berdaya kecuali hanya menyeka dan menemanimu. Pada kita yang sebentar lalu karena air mata terpisah dan tak lama karena sebab yang sama saling berpelukan. Apakah kemudian kita berpagutan atau sekadar kukecup lembut keningmu? Jangankan gerimis, dunia pun sebaiknya tak perlu tahu.</p>
<p><map name='google_ad_map_929_70aa80bd661cebb1'>
<area shape='rect' href='http://imageads.googleadservices.com/pagead/imgclick/929?pos=0' coords='1,2,367,28' />
<area shape='rect' href='http://services.google.com/feedback/abg' coords='384,10,453,23'/></map>
<img usemap='#google_ad_map_929_70aa80bd661cebb1' border='0' src='http://imageads.googleadservices.com/pagead/ads?format=468x30_aff_img&amp;client=&amp;channel=&amp;output=png&amp;cuid=929&amp;url= http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2010%2F02%2F18%2Fair-mata%2F' /></p><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2010%2F02%2F18%2Fair-mata%2F&amp;linkname=Air%20Mata">Share/Bookmark</a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2010/02/18/air-mata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menunggu</title>
		<link>http://unclegoop.com/2010/01/06/menunggu/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2010/01/06/menunggu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 00:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=874</guid>
		<description><![CDATA[Sudah kali ke sekian Ara melirik hapenya. Dari layar LCD kecil yang dibingkai bodi hitam itu sudah lama tidak ada pendar cahaya. Dengan lain perkataan, tak ada pula getaran pun bunyi. Lebih jauh, itu juga berarti tak ada pesan masuk apa lagi panggilan. Ara di antara sebal dan geram menunggu datangnya pesan singkat. Dia dalam]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.docubank.com/userfiles/image/man%20in%20hospital%20waiting%20alone%20small.jpg"><img alt="" src="http://www.docubank.com/userfiles/image/man%20in%20hospital%20waiting%20alone%20small.jpg" class="aligncenter" width="406" height="274" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Sudah kali ke sekian Ara melirik hapenya. Dari layar LCD kecil yang dibingkai bodi hitam itu sudah lama tidak ada pendar cahaya. Dengan lain perkataan, tak ada pula getaran pun bunyi. Lebih jauh, itu juga berarti tak ada pesan masuk apa lagi panggilan. </p>
<p style="text-align: justify;">Ara di antara sebal dan geram menunggu datangnya pesan singkat. Dia dalam posisi yang sulit. Semua itu,<span id="more-874"></span> karena keputusannya untuk tak membuka sebuah rahasia. Ia memang bermaksud untuk menyembunyikan satu hal dari Abi. Bukan hal yang besar, hanya tak mau berbagi saja. Di sisi lain, Abi bukanlah sosok yang bisa menenggang hal semacam itu. Sedari mula, ia tidak pernah suka dengan rahasia, setidak penting apa pun itu. Abi kemudian akan merajuk, malas, enggan menyapa. </p>
<p style="text-align: justify;"> “Kamu masih marah? Ya udah, ntar bilang, ya, kalau sudah tak amarah, aku akan sms lagi.” Demikian Ara dalam sebuah pesannya. Memang, Ara pun tahu betul tabiat Abi yang satu itu. Bila Abi sudah mulai malas, ia pun akan enggan mengirimkan pesan. Hanya jawaban ketus, pula singkat yang akan Abi kirimkan. Dan itu, akan membuat Ara malas pula. </p>
<p style="text-align: center;">*** </p>
<p style="text-align: justify;">Sudah berulang kali Abi melirik hapenya. Dari layar LCD kecil yang dibingkai bodi perak itu, sudah lama tidak ada pendar cahaya. Ini tanda tak adanya getaran pun bunyi sebagai tengara adanya pesan atau panggilan masuk. Hape flip perak itu hanya dibuka tutup berulang kali tanpa maksud yang jelas sekadar melihat kalau-kalau ada pesan—dari Ara terutama—yang masuk. </p>
<p style="text-align: justify;">Abi di antara sebal dan geram menunggu datangnya pesan Ara. Ia tak mengerti kenapa Ara selalu menyembunyikan hal itu? Bukan hal yang besar bagi Abi, namun entah untuk Ara. Rahasia, selalu mengganggu Abi sekecil apa pun itu. Maka, sebagai bentuk protes, ia hanya akan menjawab seperlunya dan cenderung ketus. </p>
<p style="text-align: justify;"> “Kamu masih tak mau bercerita? Ya udah, ntar bilang ya kalau sudah mau cerita, aku akan sms lagi.” Demikian pesan Abi yang terakhir sebelum kemudian harus melewati masa menunggu yang ngelangut itu. </p>
<p style="text-align: center;">*** </p>
<p style="text-align: justify;">Ara tak hendak mengirimkan sms bila Abi masih marah. Sebaliknya, Abi akan diam saja bila Ara masih tak mau bercerita. Dua-duanya kukuh. Tak luluh. Kemudian hanya saling menunggu entah sampai kapan, mungkin sampai jenuh, padahal rindu begitu penuh. </p>
<p style="text-align: justify;">Waktu kemudian seperti mulur bagi keduanya. Detik demi detik berjalan terasa begitu lambat. Hanya melirik-lirik hape yang Ara bisa. Berulang kali membuka-tutup hape yang Abi lakukan tanpa hasil, sungguh tak penting. </p>
<p style="text-align: justify;">Melalui lontaran pesan-pesan singkat itu memang selama ini hubungan Abi dan Ara lebih banyak terjalin. Menjadi jembatan keduanya untuk saling mengerti dan berbagi. Saat aliran pesan terhenti, runtuh pula jembatan itu. Betapa rapuhnya? </p>
<p style="text-align: justify;">Abi kemudian akan berjalan tanpa harap. Tak lagi menatap dengan berani ke depan seperti biasanya. Bahkan, ia hanya akan memerhatikan langkahnya, menghitungnya, merasakan aliran darah dari dan di antara kaki-kakinya. Buat apa? </p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ngelangut itu, ia akan menunggu penjual bubur ayam selesai membuat pesanannya. Terasa demikian lama, tapi ia sabar. Sesabar ia tunggu pesan dari Ara. Pada kesempatan seperti itu, detil setiap peristiwa akan ia nikmati. Bagaimana lalu lalang mobil saling berpapasan, sepeda motor yang terselip-selip lincah dan resah di antara mobil. Pedagang keliling yang peluhnya sebiji jagung mengalir di lehernya. Semua lewat, terlintas begitu saja tanpa makna, tanpa kesan. </p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang dilakukan Ara? Abi tak tahu, itulah yang justru mengganggu Abi. Namun di lain sisi, ia tak mau menjilat ludahnya sendiri. Selama apa pun itu, akan ia tunggu pesan dari Ara. </p>
<p style="text-align: justify;">Waktu berjalan sama saja sebenarnya. Tapi, kenapa terasa begitu lama? Abi masih juga tak mengerti kenapa semua terasa demikian lambat? </p>
<p style="text-align: justify;">Barangkali ada yang telah usil mengutak-atik setelan waktu dan jalannya persitiwa, begitu pikir Abi. Peristiwa dan waktu yang memelan, melambat. Dan semangat, perlahan-lahan juga lenyap, seperti kapur barus yang musnah di dalam almari, menyublim. </p>
<p style="text-align: justify;">Ah, Ara menjadi demikian jauh rasanya. Jarak dan bukan hanya waktu saja yang mulur. Jembatan jarak dan waktu itu merentang, memanjang. Abi secara tak sadar sampai pada keraguan, mampukah ia menyeberanginya? </p>
<p style="text-align: justify;">Diraih hape perak bututnya. Dibuka dan terlihat pendar cahaya LCD. Kemudia ia gerakkan jempol tangan kanannya berpindah-pindah di antara tombol angka. Dijalinnya huruf-huruf menjadi kata, dirangkai menjadi sebuah pesan, “Selamat Tahun Baru 2010.” Sampaikah pesan itu pada Ara? </p>
<p><map name='google_ad_map_874_70aa80bd661cebb1'>
<area shape='rect' href='http://imageads.googleadservices.com/pagead/imgclick/874?pos=0' coords='1,2,367,28' />
<area shape='rect' href='http://services.google.com/feedback/abg' coords='384,10,453,23'/></map>
<img usemap='#google_ad_map_874_70aa80bd661cebb1' border='0' src='http://imageads.googleadservices.com/pagead/ads?format=468x30_aff_img&amp;client=&amp;channel=&amp;output=png&amp;cuid=874&amp;url= http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2010%2F01%2F06%2Fmenunggu%2F' /></p><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2010%2F01%2F06%2Fmenunggu%2F&amp;linkname=Menunggu">Share/Bookmark</a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2010/01/06/menunggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku Kita</title>
		<link>http://unclegoop.com/2009/11/12/buku-kita/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2009/11/12/buku-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 02:29:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=826</guid>
		<description><![CDATA[Ini hujan pertama, Ara. Masihkah kau ingat, kira-kira setahun yang lalu. Saat itu, entah hujan ke berapa. Kau dan aku duduk di beranda. Apa yang kita bicarakan waktu itu, ya? Ah, iya. Kita berbicara tentang buku, kisahku dan kisahmu, kisah kita masing-masing. Mula-mula memang aku hanya membaca sampulnya dari bukumu itu. Ada judul, penulis dan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/_MNFALpdiB_Q/RsNEp6yTpzI/AAAAAAAADZA/C0kOEdlJuC0/s400/open%2Bbook.jpg"><img class="alignnone" src="http://4.bp.blogspot.com/_MNFALpdiB_Q/RsNEp6yTpzI/AAAAAAAADZA/C0kOEdlJuC0/s400/open%2Bbook.jpg" alt="" width="400" height="286" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Ini hujan pertama, Ara. Masihkah kau ingat, kira-kira setahun yang lalu. Saat itu, entah hujan ke berapa. Kau dan aku duduk di beranda. Apa yang kita bicarakan waktu itu, ya? Ah, iya. Kita berbicara tentang buku, kisahku dan kisahmu, kisah kita masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Mula-mula <span id="more-826"></span>memang aku hanya membaca sampulnya dari bukumu itu. Ada judul, penulis dan semacam kisah singkat. Apa yang kudapat dari sekadar sampul itu? Tentu saja tak banyak, bahkan mungkin tak kudapat apa-apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Pun halnya denganmu, kau hanya membacai sampul bukuku saja. Barangkali kata pengantar, halaman persembahan, bahkan tak sampai daftar isi. Apa yang kau dapat dari bacaanmu yang singkat itu? Tentu saja tak banyak, bahkan mungkin tak kau dapat apa-apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Lantas, tiba-tiba saja kita punya buku kita. Di situ, kita mulai menulis kisah kita tak lagi di bukuku dan bukumu. Sembari sibuk menulis, tak lupa aku bacai bukumu. Demikian halnya denganmu, kau pun terkadang asyik membukai lembaran demi lembaran bukuku.</p>
<p style="text-align: justify;">Haha, terkadang aku temukan kisah yang lucu di sana. Tapi, seringkali kutemukan juga cerita sedih yang ingin kau lupakan. Sementara kau, kulihat lebih tenang membaca, sesekali tertawa atau sekadar tersenyum. Memang sebenarnya tak ada yang benar-benar istimewa di bukuku kecuali prestasi-prestasiku yang membanggakan, hahahaha *ditendang*.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku kita itu, kita tulis bukan dengan lancar. Terkadang, ada pula masa di mana bisa ditemukan coretan-coretan yang mengotori halaman-halamannya. Pun bisa juga dilihat, beberapa tanda baca sampai merusakkan kertas atau deretan tanda seru yang berapi-api dibubuhkan. Itulah nampaknya masa ketika kemarahan melanda dan negosiasi hampir menemui jalan buntu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi tak boleh lupa, beberapa lembar kemudian dapat juga disaksikan hal berikut ini: hurufmu dan hurufku saling berdekatan, nyaris menempel, saling belit seperti sedang berpelukan. Betapa mesranya? Pada beberapa lembar yang lain, akan didapati hurufmu yang mendadak dicoret dan berganti hurufku. Pula barisan kata dariku yang terselip-selip deretan kata darimu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau ingatanku tidak berkhianat, itu masa di mana kita saling mengoreksi. Waktu itu, ketika kau berikan ruang untuk usulanku. Saat demikian itu, adalah ketika kuterima saran-saran darimu. Bisa juga, itu adalah lembaran di mana kita bahu-membahu mengisinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setahun kurang lebih tulisan kita sudah menghiasi buku itu. Banyak cerita yang bisa dibaca. Beberapa kisah tak hendak diulang lagi. Namun, lembaran kosong masih begitu banyak yang menanti diisi. Bisa saja kita bersama-sama kembali mengisinya dengan aneka rupa kisah. Tapi, tak menutup kemungkinan tinta kita habis, cerita kita usai atau titik yang demikian besar membayang. Kita tak pernah tahu, kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, pada kesempatan ini aku ingin berterima kasih atas lembaran-lembaran yang bersama-sama telah kita tulisi. Penghargaan dan hormat pada berbagai kisah yang terjadi di sana entah suka atau tidak. Segala koreksi, pembetulan ketikan atau revisi ejaan dalam bentuk usulan darimu dan dariku. Rasa syukur layak kiranya dipanjatkan atas segala halaman yang telah lewat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan pintaku,  maukah tetap bersamaku mengisi cerita satu lembar lagi? Kemudian setelah selesai lembaran itu, kita tambah satu lembar lagi, dan lagi, dan lagi….</p>
<p><map name='google_ad_map_826_70aa80bd661cebb1'>
<area shape='rect' href='http://imageads.googleadservices.com/pagead/imgclick/826?pos=0' coords='1,2,367,28' />
<area shape='rect' href='http://services.google.com/feedback/abg' coords='384,10,453,23'/></map>
<img usemap='#google_ad_map_826_70aa80bd661cebb1' border='0' src='http://imageads.googleadservices.com/pagead/ads?format=468x30_aff_img&amp;client=&amp;channel=&amp;output=png&amp;cuid=826&amp;url= http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2009%2F11%2F12%2Fbuku-kita%2F' /></p><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2009%2F11%2F12%2Fbuku-kita%2F&amp;linkname=Buku%20Kita">Share/Bookmark</a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2009/11/12/buku-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kau dan Aku</title>
		<link>http://unclegoop.com/2009/10/08/kau-dan-aku/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2009/10/08/kau-dan-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 05:05:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=778</guid>
		<description><![CDATA[Sedari mula kita diciptakan sudah berbeda. Kita dikemas baik-baik, dilengkapi penanda khusus agar kita mudah dibedakan. Kemudian, kita akan dipajang, nampang, memamerkan diri. Memang tak selalu, namun kadangkala kita berjodoh. Lain saat, bisa pula aku dengan yang lain, pun kau dengan yang terpilih. Ini sesuatu yang di luar kuasa kita, kau tahu, kan? Apabila memang]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.cyclegear.com/images/tires/Pilot%20Road%202%20Front_310x310.jpg"><img class="aligncenter" src="http://www.cyclegear.com/images/tires/Pilot%20Road%202%20Front_310x310.jpg" alt="" width="225" height="225" /></a></p>
<p>Sedari mula kita diciptakan sudah berbeda. Kita dikemas baik-baik, dilengkapi penanda khusus agar kita mudah dibedakan.</p>
<p>Kemudian, <span id="more-778"></span>kita akan dipajang, nampang, memamerkan diri.</p>
<p>Memang tak selalu, namun kadangkala kita berjodoh.</p>
<p>Lain saat, bisa pula aku dengan yang lain, pun kau dengan yang terpilih. Ini sesuatu yang di luar kuasa kita, kau tahu, kan?</p>
<p>Apabila memang sudah jodoh, maka dengan siapa pun kamu mulanya, satu saat akan bertemu pula denganku. Begitu pun aku, sama saja.</p>
<p>Setelah satu di antara kita selesaikan tugas, bertemu pula kita dengan pasangan lain. Namun, tak jarang pula dikubur begitu saja, dilupakan.</p>
<p>Selain penanda khusus di kemasan yang membedakan kita, kau dan aku juga didesain berbeda. Semua itu, demi tugas kita nantinya.</p>
<p>Kau tercipta lebih stabil dan mantap, tugasmu mendorongku agar aku maju.</p>
<p>Sementara aku, desainku lebih ramping. Tujuannya agar mudah bagiku menunjukimu jalan mana yang mesti dilalui.</p>
<p>Jarang kita berselisih paham, sejarang kita bersentuhan walau bisa saling pandang.</p>
<p>Aku melihatmu, kau pun sering memandangku.</p>
<p>Apalah aku tanpamu? Berartikah kamu tanpaku?</p>
<p>Bila kita terpisah, maka aku hanyalah ban depan sepeda motor dan kau ban belakang.</p>
<p>Bila kita terpisah, apalah artinya?</p>
<p>Selain onggokan karet yang bisa dibakar para pendemo, yang nongkrong di rak sebuah bengkel, yang diam manis dalam kemasan sebuah pabrik ban.</p>
<p><map name='google_ad_map_778_70aa80bd661cebb1'>
<area shape='rect' href='http://imageads.googleadservices.com/pagead/imgclick/778?pos=0' coords='1,2,367,28' />
<area shape='rect' href='http://services.google.com/feedback/abg' coords='384,10,453,23'/></map>
<img usemap='#google_ad_map_778_70aa80bd661cebb1' border='0' src='http://imageads.googleadservices.com/pagead/ads?format=468x30_aff_img&amp;client=&amp;channel=&amp;output=png&amp;cuid=778&amp;url= http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2009%2F10%2F08%2Fkau-dan-aku%2F' /></p><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Funclegoop.com%2F2009%2F10%2F08%2Fkau-dan-aku%2F&amp;linkname=Kau%20dan%20Aku">Share/Bookmark</a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2009/10/08/kau-dan-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
