<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>unclegoop[dot]com &#187; kamar hati</title>
	<atom:link href="http://unclegoop.com/category/kamar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://unclegoop.com</link>
	<description>melintas batas ruang dan waktu</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 11:02:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Saat Mereka Hadir di Rumah Kami</title>
		<link>http://unclegoop.com/2012/04/10/saat-mereka-hadir-di-rumah-kami/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2012/04/10/saat-mereka-hadir-di-rumah-kami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2012 00:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[kakung]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1966</guid>
		<description><![CDATA[Minggu kemarin, Mama, Kakung dan Tata datang ke rumah kami. Semua dari keluarga Chinta, istri saya. Mamanya, Kakungnya dan Tata, adik Chinta. Tentu saja kehadiran mereka memberikan warna yang berbeda di keheningan rumah kontrakan kami yang mungil itu. Keriuhan Tata tentu tak terbantahkan. Kakung yang lebih sering merenung, Mama yang membereskan semua pekerjaan rumah tangga. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Minggu kemarin, Mama, Kakung dan Tata datang ke rumah kami. Semua dari keluarga Chinta, istri saya. Mamanya, Kakungnya dan Tata, adik Chinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja kehadiran mereka memberikan warna yang berbeda di keheningan rumah kontrakan kami yang mungil itu. Keriuhan Tata tentu tak terbantahkan. Kakung yang lebih sering merenung, Mama yang membereskan semua pekerjaan rumah tangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehadiran mereka benar-benar membuat Chinta sumringah. Ia terlihat tak lelah menuruti kemauan Tata kemana pun ia mengajak pergi. Saat Chinta pulang kerja, celoteh Tata yang sudah menunggu di pintu menguarkan bahagia di diri Chinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehadiran Mama tentu sangat meringankan kami dalam menyelesaikan semua urusan rumah tangga. Karena beliau, rumah bersih, wangi, cucian pun tersetlika rapi.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana dengan Kakung? Memang beliau tak banyak bicara, tapi kehadirannya telah menyulap ruang tamu kami. Ruang itu menjadi tempatnya merenung-renung. Kadang ia berdiri di teras, lama sekali mengamati pesawat terbang yang akan mendarat dan tinggal landas dari Bandara Soeta di kejauhan. Beliau pun lebih suka duduk-duduk diam dan sesekali menyesap tehnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan saat mereka pergi, maka semua tak sama lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Singggg…. Keheningan pun begitu nyata melanda kami berdua. Memang Chinta yang pertama-tama merasakannya. Kehadiran adik, kakek dan mamanya sungguh berarti untuknya. Dan saat mereka semua pergi, ia pun menangis. Ada lubang kosong yang ditinggalkan seiring laju kereta yang membawa mereka pulang ke kampung sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mula-mula merasa biasa saja, tapi lama kelamaan sunyi itu pun menerpa. Saat melihat kursi yang biasa diduduki Kakung kini kosong, ketika di kasur tak ada lagi Tata yang melonjak-lonjak sambil berteriak. Ugh… mendadak atmosfer memberat. Ada sesak di dada.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang mereka pulang ke kampung dan harus begitu untuk menemani Papa yang ditinggal di sana. Satu saat pun kami akan pulang dan berjumpa lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, jejak-jejak mereka di rumah kami rupanya membekas begitu dalam. Meninggalkan rongga-rongga kosong yang minta diisi. Sementara di lain sisi, kami harus tetap di sini kembali menjalani hari-hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal yang sama sebenarnya pernah juga saya rasakan, yaitu ketika dua adik saya datang ke rumah kami dalam rangka liburan. Tak lama mereka di sini, bahkan tak sempat saya mengajaknya jalan-jalan memutari seantero kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Pasca saya mengantar mereka pulang, juga naik kereta, maka ketika saya tiba kembali di rumah kekosongan ruang tamu itu sungguh mengerikan. Di situlah mereka tidur berdesak-desakan. Di sana kami makan bersama dan bercengkerama. Saat itu, saat bertemu dengan ruang tamu dan hanya kosong yang menyambut, maka mendadak keharuan menyeruak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini hal baru bagi kami berdua. Saat rumah dikunjungi keluarga dan mereka harus kembali pulang, maka detik itu juga kami kehilangan. Kami membutuhkan waktu untuk kembali ke kondisi semula, saat hanya berdua bersepi ria. Kiranya perlu membiasakan diri dengan itu semua. Barangkali besok-besok kalau mereka datang dan harus mengantar pulang lagi, maka tak akan terasa seberat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendadak saya teringat, bagaimana ya rasanya menjadi orang tua waktu pertama kali ditinggalkan putra-putrinya ini. Dahulu untuk bersekolah, kemudian untuk berkeluarga dan tuntutan kerja. Rumah mereka yang besar itu pasti terasa begitu sepi saat tak ada lagi yang membuat repot. Barangkali mereka lebih menderita lagi ditelan sunyi. Kendati senyum selalu menghiasi wajah saat putra-putrinya ini pamit pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah, sudahkah kita siap menghadapi itu semua? <img src='http://unclegoop.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2012/04/10/saat-mereka-hadir-di-rumah-kami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Kita</title>
		<link>http://unclegoop.com/2012/02/06/jalan-kita/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2012/02/06/jalan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 08:27:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[jalan]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[menunggu]]></category>
		<category><![CDATA[patience]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1915</guid>
		<description><![CDATA[Angin mengembara di ruang ini, menyentuh rambutku, mengusap pipiku. Terasa dingin. Hei, benarkah itu angin? Tak tepat begitu ternyata. Ada air mata yang mengalir di pipiku. Itulah yang tersapu angin. Keduanya, air mata dan angin bersekutu, maka terasa dingin bagiku. Perlahan, aku mengusap air bening itu dari pipiku. Aku tak apa, aku masih bisa tersenyum, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Angin mengembara di ruang ini, menyentuh rambutku, mengusap pipiku. Terasa dingin. Hei, benarkah itu angin?</p>
<p style="text-align: justify;">Tak tepat begitu ternyata. Ada air mata yang mengalir di pipiku. Itulah yang tersapu angin. Keduanya, air mata dan angin bersekutu, maka terasa dingin bagiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan, aku mengusap air bening itu dari pipiku. Aku tak apa, aku masih bisa tersenyum, bahkan ketika aku begitu rindu padamu. A, sekarang aku memikirkanmu setiap hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada satu masa ketika aku tak yakin dengan semua ini. Terutama tak yakin denganmu, A. Sungguh aku tak tahu apa penyebabnya. Mungkinkah karena kerinduan ini sudah demikian menyakitiku?</p>
<p style="text-align: justify;">Ketakyakinanku itu mulai berpendar-pendar di hatiku, hampir-hampir memenuhinya sampai ketika kamu membuat semua menjadi begitu mudah. Kamu membantuku, menunjukkan jalan bagaimana aku harus melaluinya. Tak tahu dengan apa lagi aku harus berterima kasih padamu atas jalan yang telah kau tunjukkan itu. Kini, tak ada lagi keraguan di hatiku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Perlahan saja, maka semua akan menemukan jalannya sendiri. Semua akan baik-baik saja, sayang.” Begitu katamu menenangkan debar yang bergemuruh di hatiku. “Yang kita butuhkan hanyalah sedikit bersabar, kau tahu itu?” Ya, A, pada detik itu kamu mengingatkanku akan satu hal yang kadang, ah, atau seringkali kulupakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, biarlah rindu ini menyapaku dengan manis dan aku akan menyesapnya penuh kenikmatan. Apabila kau tak bisa kutemui sekarang, maka biarlah aku akan menunggu sampai waktu mempertemukan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, kau tahu, kan, kadang aku pun begitu marah dalam menunggumu. Ugh, kenapa pula kau tak kunjung tiba? Hanya, itu di luar kuasaku untuk mempercepat waktu, biarpun hanya sedetik lebih cepat. Sedetik yang lebih cepat agar kita bisa segera bertemu. Sebenarnya, kita berdua tahu, bahwa penantian itu adalah sebuah keniscayaan yang harus terjadi. Kita paham, masih ada satu hal yang harus kita pikirkan bersama, bukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Kamu bilang perlahan saja, maka semua akan baik-baik saja. Menurutmu kita berdua hanya perlu bersabar. Dan… aku setuju itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kamu juga bilang, “Manfaatkanlah waktumu, karena cahaya yang mereka lemparkan begitu terang.” Lebih jauh, kamu kembali mengingatkanku, kita memerlukan ini semua untuk menjadikannya nyata. Kita perlu itu sebagai sebuah jalan bagi kita berdua, jalan yang semoga tak akan memperdaya kita dan kita pun tak akan sekali-kali merusaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bersabarlah… sedikit lagi kesabaran.…” Demikian terus-menerus kamu berkata selayaknya merapal sebuah mantra.</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah kulalui jalan ini kemarin malam, dan kemarinnya, serta kemarinnya lagi. Aku menyusurinya berulang kali menjadi rutinitas. Kali ini aku kembali mencoba menyusurinya, menemukan jalanku sendiri, atau mungkin lebih tepat menemukan jalan kita, sebuah bagian yang benar dari keseluruhan jalan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">A, padahal kamu tahu, bukan? Ini sungguh bukan hal yang mudah menemukan ‘jalan’ kita manakala di sana begitu banyak orang. Sementara kalau aku harus berhenti untuk mencari jalan kita, maka aku harus berhenti di tengah keriuhan itu, padahal semua itu membuatku gila. Aku tak suka berada di keramaian, terutama kalau itu tanpamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu banyak jalan di sana kau tahu, A? setiap hari barangkali ada penambahan, kendati mungkin jalan kita masih ada, namun bisa saja ia sudah berganti nama. Jadi, bagaimana lagi aku harus menemukannya bila itu terjadi. Barangkali aku tak punya waktu lagi untuk permainan pencarian jalan itu. Mungkin aku sudah akan terlampau lelah mencari, sementara kamu tak ada di sisiku. Aku memerlukanmu, A, perlu kamu, sekarang juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah terjemahan bebas dari ‘Patience’ punya Gun ‘n Roses. Silakan dinikmati sembari mendengarkan lagunya <img src='http://unclegoop.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=ErvgV4P6Fzc&amp;ob=av2e">Patience-Gun &#8216;n Roses</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2012/02/06/jalan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Aku Menunggumu</title>
		<link>http://unclegoop.com/2011/12/25/saat-aku-menunggumu/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2011/12/25/saat-aku-menunggumu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 00:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[anniversary]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[mencuci]]></category>
		<category><![CDATA[menunggu]]></category>
		<category><![CDATA[menyetlika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1833</guid>
		<description><![CDATA[Ini kelanjutan dari kisahku saat sejenak menunggumu. Saat aku menunggumu, inilah yang biasa kulakukan untuk mengisi detik-detik yang berlalu sedikit membosankan itu. Mula-mula aku akan beristirahat dan mengeringkan keringat serta bau jalan yang menempel di tubuhku. Biasanya aku akan duduk sambil melihat berita sore di televisi. Manakala keringat sudah kering, kemudian aku pun pergi mandi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://vi.sualize.us/view/a58d63697cf7eac611522725ac2352bd/"><img class="size-medium wp-image-1834 aligncenter" title="love" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/12/love-300x199.jpg" alt="ada cinta :D" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Ini kelanjutan dari kisahku saat <a title="Sejenak menunggu" href="http://unclegoop.com/2011/12/19/sejenak-menunggumu/" target="_blank">sejenak menunggumu</a>.</p>
<p>Saat aku menunggumu, inilah yang biasa kulakukan untuk mengisi detik-detik yang berlalu sedikit membosankan itu.</p>
<p>Mula-mula aku akan beristirahat dan mengeringkan keringat serta bau jalan yang menempel di tubuhku. Biasanya aku akan duduk sambil melihat berita sore di televisi.</p>
<p>Manakala keringat sudah kering, kemudian aku pun pergi mandi.</p>
<p>Selepas itu, aku akan menghangatkan sayur atau apa pun yang kau masak pagi tadi. Jika sudah selesai, aku pun mulai menikmatinya sendiri.</p>
<p>Biarpun kunikmati sendiri, namun rasa dalam masakan itu sungguh kaya. Bagaimana tidak bila kuingat untuk setiap suapannya ada sumbangsih kita masing-masing. Sedikit uang belanja yang kuberikan setiap bulan, setiap langkah kakimu yang telaten menyusuri pasar. Di pasar, akan kau cari bahan masakan yang pas untuk kau masak hari ini, mungkin yang harganya sedikit lebih murah agar uang belanja itu bisa cukup untuk sebulan. Sampai di rumah, lalu kau berpeluh mengolah bahan-bahan itu menjadi masakan yang nikmat sekali.</p>
<p>Tugasku adalah menyuci dan menyetlika. Maka akan kupilih-pilih pakaian kotor kita, mengaturnya di dalam mesin cuci. Lalu menjaga agar mesin cuci itu bisa bekerja dengan baik. Menuangkan sabun, menjaga pasokan air agar ajeg dan tak timbul error dari mesin cuci yang menimbulkan bunyi berisik.</p>
<p>Saat memilih-pilih baju kotor itu, maka entah bagaimana kadang haru muncul. Iya, di antara bau baju yang sudah apak itu, ada tercium aroma kuat keringatku. Di sesela bau tak enak itu, terkadang tercium pula wangi parfum yang biasa kau kenakan.</p>
<p>Setiap baju kotor memberi arti tersendiri….</p>
<p>Saat tiba memilih dan sampai di baju seragam pabrikku, maka aku ingat pagi yang macet dan panas. Itulah biang keringat yang kadang kuproduksi berlebih dan menempel di baju sampai membuatnya basah.</p>
<p>Demikian juga ketika aku sampai untuk memilih bajumu, ada aroma parfum yang masih menempel di seragam. Kadang juga wangi minyak kayu putih saat malam tadi aku mengoleskannya karena perutmu kembung. Lain waktu, aku bisa tertawa atau merona malu sendiri, hahaha.</p>
<p>Apabila semua baju telah dicuci, maka besok malamnya kembali menjadi tugasku untuk menyetlika. Tak seperti menyuci yang bisa kutinggal-tinggal, untuk menyetlika aku harus duduk beberapa jam. Terkadang pegal pun hinggap di punggung. Sebagai temanku, aku biasa menyetel televisi sebagai hiburan agar tak terlampau penat.</p>
<p>Saat tiba menyetlika bajuku, tak ada yang istimewa karena sudah semenjak SMP hal ini biasa kulakukan. Seperti biasa aku mencoba memberikan setlikaan terbaik agar penampilanku pun prima, hehe.</p>
<p>Hal yang berbeda adalah ketika harus menyetlika bajumu. Ah, aku baru tahu kalau ternyata baju perempuan itu repot betul potongannya. Aku yang sudah terbiasa menyetlika baju, kaos atau jeans harus belajar ulang bagaimana menyiasati potongan baju perempuan. Masalah masih bertambah karena bukan hanya potongan yang ‘istimewa’. Bahan baju atau celana perempuan pun lebih beragam.</p>
<p>Khawatir muncul manakala aku menyetlika bajumu. Aku takut tak memberikan hasil setlikaan yang licin, ah, bagaimana nanti penampilanmu? Aku pun kadang ragu saat menemukan bahan tertentu, aku memerlukan bertanya padamu, namun kamu tak ada. Kekhawatiranku adalah apabila aku salah menyetlika, maka bajumu bisa rusak. Wah, kalau sampai itu terjadi, maka detik itulah malapetaka untukku dimulai. Bisa-bisa kamu meminta baju baru sebagai gantinya dan tak hanya satu, hahaha….</p>
<p>Dengan semua kesibukan itu, maka debar di hatiku bisa teredam. Aku tak terlampau khawatir memikirkanmu. Hanya, ketika lewat jam biasa kamu pulang, maka ada badai di dadaku.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Ps: terima kasih untuk Chinta yang setahun ini sudah demikian sabar menemani hari-hari saya. Happy Anniversary.</p>
<p>Gambar meminjam dari <a title="gudang gambar :D" href="http://vi.sualize.us/view/a58d63697cf7eac611522725ac2352bd/" target="_blank">sini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2011/12/25/saat-aku-menunggumu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejenak Menunggumu</title>
		<link>http://unclegoop.com/2011/12/19/sejenak-menunggumu/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2011/12/19/sejenak-menunggumu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 03:13:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[chinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kamu]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[menunggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1802</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang magrib biasanya aku akan tiba di rumah. Sampai di parkiran tak kutemukan motormu. Kamu telah pergi, seperti biasa, menyibukkan diri membantuku menjaga agar asap tetap mengepul dari dapur kita yang mungil. Sampai di pintu, aku tahu hanya kekosongan rumah yang menantiku. Tak ada sapamu yang selalu cerewet mengganggu sunyiku. Tak juga senyummu yang mengembang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/12/antyo-sedang-menunggu.jpg.scaled.1000.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1803" title="antyo-sedang-menunggu.jpg.scaled.1000" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/12/antyo-sedang-menunggu.jpg.scaled.1000-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Menjelang magrib biasanya aku akan tiba di rumah. Sampai di parkiran tak kutemukan motormu. Kamu telah pergi, seperti biasa, menyibukkan diri membantuku menjaga agar asap tetap mengepul dari dapur kita yang mungil.</p>
<p>Sampai di pintu, aku tahu hanya kekosongan rumah yang menantiku. Tak ada sapamu yang selalu cerewet mengganggu sunyiku. Tak juga senyummu yang mengembang lebar menyambutku.</p>
<p>Saat kubuka pintu, segala jejakmu langsung menyeruak. Pasti pagi tadi kau telah susah payah menyapu dan mengepel sampai harum obat pel mampu menyentuhi ujung-ujung indera penciumanku.</p>
<p>Masuk lebih dalam, peraduan kita pun telah rapi. Karena aku masih ingat, bagaimana hasil perbuatan kita telah membuat sprei dan bantal centang perenang tak beraturan. Pasti pagi tadi kau sibuk sekali merapikan sprei, menata bantal dan membersihkan semuanya.</p>
<p>Di dapur, entah kerupuk, sayur atau masakan lain sudah siap tersaji. Pasti pagi tadi kau telah dengan sabar menyusuri jalan ramai pasar dan mencari bahan-bahan untuk masakan itu.</p>
<p>Dengan begitu riuhnya rumah oleh jejakmu yang tertinggal di lantai, di pembaringan, di dapur, maka bagaimana mungkin aku tak merasa hangat? Jemari tanganmu pasti telah menyentuhi semua barang itu dengan penuh sayang, sehingga aku pun merasa harus bersyukur dan berterima kasih untukmu, istriku.</p>
<p>Maka di sinilah aku menunggumu dengan sabar sampai saat kamu pulang nanti.</p>
<p>Gambar meminjam punya <a title="Paman Tyo menunggu, saya juga, tapi kita tak saling tunggu :))" href="http://antyo.posterous.com/menunggu#">Paman Tyo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2011/12/19/sejenak-menunggumu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bayangan</title>
		<link>http://unclegoop.com/2011/10/28/bayangan/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2011/10/28/bayangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 04:41:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[bayangan]]></category>
		<category><![CDATA[langkah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1731</guid>
		<description><![CDATA[Kamu seperti bayang-bayangku, turut ke mana pun aku melangkah…. Adalah A, dan ini ceritaku tentangmu. Undangan merah jambu itu masih tergeletak di meja. Plastik pembungkusnya masih terbungkus rapi. Aku tak merasa perlu untuk sekadar membukanya. Inisial namamu, A, dan ahhh, bahkan tak kuperhatikan siapa pasanganmu. Hanya dari deretan alamat yang kuhapal di luar kepala, telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/10/beach-beautiful-beauty-dawn-of-a-new-day-girl-light-Favim.com-40526.jpg"><img class="size-medium wp-image-1736 aligncenter" title="beach-beautiful-beauty-dawn-of-a-new-day-girl-light-Favim.com-40526" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/10/beach-beautiful-beauty-dawn-of-a-new-day-girl-light-Favim.com-40526-300x184.jpg" alt="" width="300" height="184" /></a></p>
<p>Kamu seperti bayang-bayangku, turut ke mana pun aku melangkah….</p>
<p>Adalah A, dan ini ceritaku tentangmu.</p>
<p>Undangan merah jambu itu masih tergeletak di meja. Plastik pembungkusnya masih terbungkus rapi. Aku tak merasa perlu untuk sekadar membukanya.</p>
<p>Inisial namamu, A, dan ahhh, bahkan tak kuperhatikan siapa pasanganmu. Hanya dari deretan alamat yang kuhapal di luar kepala, telah membuatku mengerti, paham, bahwa kamu bukan untukku. Barangkali untuk selamanya.</p>
<p>Di sebuah kelas, sepuluh tahun yang lalu.</p>
<p>A, kamu duduk di belakangku. Apa yang biasa kamu lakukan kalau guru memberi pelajaran yang membosankan?</p>
<p>Terkadang aku suka mencuri pandang, dan heiii, apa yang kamu lakukan? Kamu memandangku. Hahaha, penawar kebosanan macam apa itu?</p>
<p>Dan bagaimana bila aku bosan? Ugh, jujur aku pun ingin balas memandangmu.</p>
<p>Lalu, kenapa pula kita harus saling pandang sembunyi-sembunyi?</p>
<p>Karena, A, kamu dan aku tahu, ada yang tak terucapkan di antara kita. Sebuah rasa yang menelusup begitu laten yang menghangatkan hati kita manakala kita bersama.</p>
<p>Rasa itu, A, tak pernah kau ucapkan, tapi aku tahu. Rasa ini, A, ada di dalam hatiku bersemayam di sana dan kamu pun tahu biarpun aku hanya diam.</p>
<p>Lalu, kita pun berpura-pura.</p>
<p>Kita bersandiwara seolah tak ada suatu apa yang terjadi antara kita. Kepopuleranmu perlahan membelenggumu, memborgolmu begitu erat dan mendudukkanmu di pucuk ketenaran. Kamu, A, adalah bisik-bisik di setiap bibir gadis yang merekah di sudut kantin.</p>
<p>Aku adalah bunga yang tumbuh di pinggir. Aku terlampau sibuk dengan rumput dan tak menyadari hadirmu yang begitu dekat. Aku silau oleh matahari. Maka aku menatapnya dan barangkali aku buta. Tapi, aku merasa, A, hanya, aku tak kuasa untuk berkata.</p>
<p>A, bukankah kamu jengah dengan semua bunga cantik yang mencoba-coba menarik hatimu itu? Kamu berjalan pongah, yang, ahhh… itu justru malah membuat mereka semakin terperangah.</p>
<p>Kenapa, A, kenapa kamu betah denganku, mencuri pandang kala bosan mendera? Bunga-bunga cantik itukah penyebabnya? Kukira iya, kamu bosan dengan tingkah polah mereka.</p>
<p>Lalu, kenapa aku, A? Aku yang bahkan acuh padamu. Berjalan diam dalam kesendirianku, tafakur dalam sunyiku. Kendati memang aku menutupinya dengan tertawa bersamamu, bercanda. Senyum itu, A, bukan untukmu, itu untuk hatiku sendiri yang takkan kubagi.</p>
<p>Dan mungkin kamu tahu itu, maka kamu cukup dengan memandangku dan bersamaku setiap waktu. Aku pun telah puas, manakala aku merasa kamu masih di belakangku dan memandangku.</p>
<p>Kita berdekatan tapi tak pernah bersentuhan. Kamu adalah bayangan, yang tak bisa kusentuh, semakin aku mendekat, berkas cahaya membuatmu mulur lalu memanjang dan semakin sulit kujangkau.</p>
<p>Sekarang aku sadar, bahkan waktu pun tak kuasa untuk memisahkan bayangan itu. A, kamu masih di belakangku, bahkan saat ini ketika aku menerima surat undangan darimu.</p>
<p>Selamat, A.</p>
<p>Ditulis atas pesanan dari seorang sahabat yang centil <img src='http://unclegoop.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2011/10/28/bayangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
