<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>unclegoop[dot]com &#187; kamar hati</title>
	<atom:link href="http://unclegoop.com/category/kamar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://unclegoop.com</link>
	<description>melintas batas ruang dan waktu</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2012 02:37:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Saat Aku Menunggumu</title>
		<link>http://unclegoop.com/2011/12/25/saat-aku-menunggumu/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2011/12/25/saat-aku-menunggumu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 00:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[anniversary]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[mencuci]]></category>
		<category><![CDATA[menunggu]]></category>
		<category><![CDATA[menyetlika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1833</guid>
		<description><![CDATA[Ini kelanjutan dari kisahku saat sejenak menunggumu. Saat aku menunggumu, inilah yang biasa kulakukan untuk mengisi detik-detik yang berlalu sedikit membosankan itu. Mula-mula aku akan beristirahat dan mengeringkan keringat serta bau jalan yang menempel di tubuhku. Biasanya aku akan duduk sambil melihat berita sore di televisi. Manakala keringat sudah kering, kemudian aku pun pergi mandi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://vi.sualize.us/view/a58d63697cf7eac611522725ac2352bd/"><img class="size-medium wp-image-1834 aligncenter" title="love" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/12/love-300x199.jpg" alt="ada cinta :D" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Ini kelanjutan dari kisahku saat <a title="Sejenak menunggu" href="http://unclegoop.com/2011/12/19/sejenak-menunggumu/" target="_blank">sejenak menunggumu</a>.</p>
<p>Saat aku menunggumu, inilah yang biasa kulakukan untuk mengisi detik-detik yang berlalu sedikit membosankan itu.</p>
<p>Mula-mula aku akan beristirahat dan mengeringkan keringat serta bau jalan yang menempel di tubuhku. Biasanya aku akan duduk sambil melihat berita sore di televisi.</p>
<p>Manakala keringat sudah kering, kemudian aku pun pergi mandi.</p>
<p>Selepas itu, aku akan menghangatkan sayur atau apa pun yang kau masak pagi tadi. Jika sudah selesai, aku pun mulai menikmatinya sendiri.</p>
<p>Biarpun kunikmati sendiri, namun rasa dalam masakan itu sungguh kaya. Bagaimana tidak bila kuingat untuk setiap suapannya ada sumbangsih kita masing-masing. Sedikit uang belanja yang kuberikan setiap bulan, setiap langkah kakimu yang telaten menyusuri pasar. Di pasar, akan kau cari bahan masakan yang pas untuk kau masak hari ini, mungkin yang harganya sedikit lebih murah agar uang belanja itu bisa cukup untuk sebulan. Sampai di rumah, lalu kau berpeluh mengolah bahan-bahan itu menjadi masakan yang nikmat sekali.</p>
<p>Tugasku adalah menyuci dan menyetlika. Maka akan kupilih-pilih pakaian kotor kita, mengaturnya di dalam mesin cuci. Lalu menjaga agar mesin cuci itu bisa bekerja dengan baik. Menuangkan sabun, menjaga pasokan air agar ajeg dan tak timbul error dari mesin cuci yang menimbulkan bunyi berisik.</p>
<p>Saat memilih-pilih baju kotor itu, maka entah bagaimana kadang haru muncul. Iya, di antara bau baju yang sudah apak itu, ada tercium aroma kuat keringatku. Di sesela bau tak enak itu, terkadang tercium pula wangi parfum yang biasa kau kenakan.</p>
<p>Setiap baju kotor memberi arti tersendiri….</p>
<p>Saat tiba memilih dan sampai di baju seragam pabrikku, maka aku ingat pagi yang macet dan panas. Itulah biang keringat yang kadang kuproduksi berlebih dan menempel di baju sampai membuatnya basah.</p>
<p>Demikian juga ketika aku sampai untuk memilih bajumu, ada aroma parfum yang masih menempel di seragam. Kadang juga wangi minyak kayu putih saat malam tadi aku mengoleskannya karena perutmu kembung. Lain waktu, aku bisa tertawa atau merona malu sendiri, hahaha.</p>
<p>Apabila semua baju telah dicuci, maka besok malamnya kembali menjadi tugasku untuk menyetlika. Tak seperti menyuci yang bisa kutinggal-tinggal, untuk menyetlika aku harus duduk beberapa jam. Terkadang pegal pun hinggap di punggung. Sebagai temanku, aku biasa menyetel televisi sebagai hiburan agar tak terlampau penat.</p>
<p>Saat tiba menyetlika bajuku, tak ada yang istimewa karena sudah semenjak SMP hal ini biasa kulakukan. Seperti biasa aku mencoba memberikan setlikaan terbaik agar penampilanku pun prima, hehe.</p>
<p>Hal yang berbeda adalah ketika harus menyetlika bajumu. Ah, aku baru tahu kalau ternyata baju perempuan itu repot betul potongannya. Aku yang sudah terbiasa menyetlika baju, kaos atau jeans harus belajar ulang bagaimana menyiasati potongan baju perempuan. Masalah masih bertambah karena bukan hanya potongan yang ‘istimewa’. Bahan baju atau celana perempuan pun lebih beragam.</p>
<p>Khawatir muncul manakala aku menyetlika bajumu. Aku takut tak memberikan hasil setlikaan yang licin, ah, bagaimana nanti penampilanmu? Aku pun kadang ragu saat menemukan bahan tertentu, aku memerlukan bertanya padamu, namun kamu tak ada. Kekhawatiranku adalah apabila aku salah menyetlika, maka bajumu bisa rusak. Wah, kalau sampai itu terjadi, maka detik itulah malapetaka untukku dimulai. Bisa-bisa kamu meminta baju baru sebagai gantinya dan tak hanya satu, hahaha….</p>
<p>Dengan semua kesibukan itu, maka debar di hatiku bisa teredam. Aku tak terlampau khawatir memikirkanmu. Hanya, ketika lewat jam biasa kamu pulang, maka ada badai di dadaku.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Ps: terima kasih untuk Chinta yang setahun ini sudah demikian sabar menemani hari-hari saya. Happy Anniversary.</p>
<p>Gambar meminjam dari <a title="gudang gambar :D" href="http://vi.sualize.us/view/a58d63697cf7eac611522725ac2352bd/" target="_blank">sini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2011/12/25/saat-aku-menunggumu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejenak Menunggumu</title>
		<link>http://unclegoop.com/2011/12/19/sejenak-menunggumu/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2011/12/19/sejenak-menunggumu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 03:13:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[chinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kamu]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[menunggu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1802</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang magrib biasanya aku akan tiba di rumah. Sampai di parkiran tak kutemukan motormu. Kamu telah pergi, seperti biasa, menyibukkan diri membantuku menjaga agar asap tetap mengepul dari dapur kita yang mungil. Sampai di pintu, aku tahu hanya kekosongan rumah yang menantiku. Tak ada sapamu yang selalu cerewet mengganggu sunyiku. Tak juga senyummu yang mengembang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/12/antyo-sedang-menunggu.jpg.scaled.1000.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1803" title="antyo-sedang-menunggu.jpg.scaled.1000" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/12/antyo-sedang-menunggu.jpg.scaled.1000-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Menjelang magrib biasanya aku akan tiba di rumah. Sampai di parkiran tak kutemukan motormu. Kamu telah pergi, seperti biasa, menyibukkan diri membantuku menjaga agar asap tetap mengepul dari dapur kita yang mungil.</p>
<p>Sampai di pintu, aku tahu hanya kekosongan rumah yang menantiku. Tak ada sapamu yang selalu cerewet mengganggu sunyiku. Tak juga senyummu yang mengembang lebar menyambutku.</p>
<p>Saat kubuka pintu, segala jejakmu langsung menyeruak. Pasti pagi tadi kau telah susah payah menyapu dan mengepel sampai harum obat pel mampu menyentuhi ujung-ujung indera penciumanku.</p>
<p>Masuk lebih dalam, peraduan kita pun telah rapi. Karena aku masih ingat, bagaimana hasil perbuatan kita telah membuat sprei dan bantal centang perenang tak beraturan. Pasti pagi tadi kau sibuk sekali merapikan sprei, menata bantal dan membersihkan semuanya.</p>
<p>Di dapur, entah kerupuk, sayur atau masakan lain sudah siap tersaji. Pasti pagi tadi kau telah dengan sabar menyusuri jalan ramai pasar dan mencari bahan-bahan untuk masakan itu.</p>
<p>Dengan begitu riuhnya rumah oleh jejakmu yang tertinggal di lantai, di pembaringan, di dapur, maka bagaimana mungkin aku tak merasa hangat? Jemari tanganmu pasti telah menyentuhi semua barang itu dengan penuh sayang, sehingga aku pun merasa harus bersyukur dan berterima kasih untukmu, istriku.</p>
<p>Maka di sinilah aku menunggumu dengan sabar sampai saat kamu pulang nanti.</p>
<p>Gambar meminjam punya <a title="Paman Tyo menunggu, saya juga, tapi kita tak saling tunggu :))" href="http://antyo.posterous.com/menunggu#">Paman Tyo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2011/12/19/sejenak-menunggumu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bayangan</title>
		<link>http://unclegoop.com/2011/10/28/bayangan/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2011/10/28/bayangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 04:41:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[bayangan]]></category>
		<category><![CDATA[langkah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1731</guid>
		<description><![CDATA[Kamu seperti bayang-bayangku, turut ke mana pun aku melangkah…. Adalah A, dan ini ceritaku tentangmu. Undangan merah jambu itu masih tergeletak di meja. Plastik pembungkusnya masih terbungkus rapi. Aku tak merasa perlu untuk sekadar membukanya. Inisial namamu, A, dan ahhh, bahkan tak kuperhatikan siapa pasanganmu. Hanya dari deretan alamat yang kuhapal di luar kepala, telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/10/beach-beautiful-beauty-dawn-of-a-new-day-girl-light-Favim.com-40526.jpg"><img class="size-medium wp-image-1736 aligncenter" title="beach-beautiful-beauty-dawn-of-a-new-day-girl-light-Favim.com-40526" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/10/beach-beautiful-beauty-dawn-of-a-new-day-girl-light-Favim.com-40526-300x184.jpg" alt="" width="300" height="184" /></a></p>
<p>Kamu seperti bayang-bayangku, turut ke mana pun aku melangkah….</p>
<p>Adalah A, dan ini ceritaku tentangmu.</p>
<p>Undangan merah jambu itu masih tergeletak di meja. Plastik pembungkusnya masih terbungkus rapi. Aku tak merasa perlu untuk sekadar membukanya.</p>
<p>Inisial namamu, A, dan ahhh, bahkan tak kuperhatikan siapa pasanganmu. Hanya dari deretan alamat yang kuhapal di luar kepala, telah membuatku mengerti, paham, bahwa kamu bukan untukku. Barangkali untuk selamanya.</p>
<p>Di sebuah kelas, sepuluh tahun yang lalu.</p>
<p>A, kamu duduk di belakangku. Apa yang biasa kamu lakukan kalau guru memberi pelajaran yang membosankan?</p>
<p>Terkadang aku suka mencuri pandang, dan heiii, apa yang kamu lakukan? Kamu memandangku. Hahaha, penawar kebosanan macam apa itu?</p>
<p>Dan bagaimana bila aku bosan? Ugh, jujur aku pun ingin balas memandangmu.</p>
<p>Lalu, kenapa pula kita harus saling pandang sembunyi-sembunyi?</p>
<p>Karena, A, kamu dan aku tahu, ada yang tak terucapkan di antara kita. Sebuah rasa yang menelusup begitu laten yang menghangatkan hati kita manakala kita bersama.</p>
<p>Rasa itu, A, tak pernah kau ucapkan, tapi aku tahu. Rasa ini, A, ada di dalam hatiku bersemayam di sana dan kamu pun tahu biarpun aku hanya diam.</p>
<p>Lalu, kita pun berpura-pura.</p>
<p>Kita bersandiwara seolah tak ada suatu apa yang terjadi antara kita. Kepopuleranmu perlahan membelenggumu, memborgolmu begitu erat dan mendudukkanmu di pucuk ketenaran. Kamu, A, adalah bisik-bisik di setiap bibir gadis yang merekah di sudut kantin.</p>
<p>Aku adalah bunga yang tumbuh di pinggir. Aku terlampau sibuk dengan rumput dan tak menyadari hadirmu yang begitu dekat. Aku silau oleh matahari. Maka aku menatapnya dan barangkali aku buta. Tapi, aku merasa, A, hanya, aku tak kuasa untuk berkata.</p>
<p>A, bukankah kamu jengah dengan semua bunga cantik yang mencoba-coba menarik hatimu itu? Kamu berjalan pongah, yang, ahhh… itu justru malah membuat mereka semakin terperangah.</p>
<p>Kenapa, A, kenapa kamu betah denganku, mencuri pandang kala bosan mendera? Bunga-bunga cantik itukah penyebabnya? Kukira iya, kamu bosan dengan tingkah polah mereka.</p>
<p>Lalu, kenapa aku, A? Aku yang bahkan acuh padamu. Berjalan diam dalam kesendirianku, tafakur dalam sunyiku. Kendati memang aku menutupinya dengan tertawa bersamamu, bercanda. Senyum itu, A, bukan untukmu, itu untuk hatiku sendiri yang takkan kubagi.</p>
<p>Dan mungkin kamu tahu itu, maka kamu cukup dengan memandangku dan bersamaku setiap waktu. Aku pun telah puas, manakala aku merasa kamu masih di belakangku dan memandangku.</p>
<p>Kita berdekatan tapi tak pernah bersentuhan. Kamu adalah bayangan, yang tak bisa kusentuh, semakin aku mendekat, berkas cahaya membuatmu mulur lalu memanjang dan semakin sulit kujangkau.</p>
<p>Sekarang aku sadar, bahkan waktu pun tak kuasa untuk memisahkan bayangan itu. A, kamu masih di belakangku, bahkan saat ini ketika aku menerima surat undangan darimu.</p>
<p>Selamat, A.</p>
<p>Ditulis atas pesanan dari seorang sahabat yang centil <img src='http://unclegoop.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2011/10/28/bayangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memiliki Kehilangan</title>
		<link>http://unclegoop.com/2011/06/09/memiliki-kehilangan/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2011/06/09/memiliki-kehilangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 04:41:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[bau]]></category>
		<category><![CDATA[beranda]]></category>
		<category><![CDATA[harum]]></category>
		<category><![CDATA[jeruk purut]]></category>
		<category><![CDATA[melati]]></category>
		<category><![CDATA[sempit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1555</guid>
		<description><![CDATA[&#160; gambar dipinjam dari itik kecil &#8220;Karena setiap orang pasti pernah merasa kehilangan.&#8221; Rindu-syefriana khairl Sebenarnya apa yang hilang dari diri saya? Ah, bukan besar-besar amat, kok, hanyalah tiga kuntum bunga melati yang baru saja mekar. Awal mulanya adalah minggu pagi, manakala saya temukan penjual tanaman di pasar. Memang, sudah sejak lama kami-saya dan istri-berniat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<div id="attachment_1556" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/06/melati_mati.jpg"><img class="size-medium wp-image-1556" title="melati_mati" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/06/melati_mati-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">daun bunga jatuh, luruh, tersisa tangkai bunga</p></div>
<p style="text-align: justify;">gambar dipinjam dari<a href="http://itikkecil.wordpress.com/2011/05/13/122-itikkecil-and-weekly-photo-challenge-wildlife/" target="_blank"> itik kecil</a></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Karena setiap orang pasti pernah merasa kehilangan.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.goodreads.com/quotes/show/364158" target="_blank">Rindu-syefriana khairl</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya apa yang hilang dari diri saya? Ah, bukan besar-besar amat, kok, <span id="more-1555"></span>hanyalah tiga kuntum bunga melati yang baru saja mekar.</p>
<p style="text-align: justify;">Awal mulanya adalah minggu pagi, manakala saya temukan penjual tanaman di pasar. Memang, sudah sejak lama kami-saya dan istri-berniat untuk membeli tanaman guna menghiasi beranda kontrakan kami yang sempit.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak mudah rupanya memilih tanaman. Saya, sih, tak terlampau risau soal itu. Asal ada hijau-hijau di teras pun sudah cukup.</p>
<p style="text-align: justify;">Chinta, istri saya, lain lagi ceritanya. Ia ingin tanaman itu memberikan keharuman, sekaligus bermanfaat dan bisa digunakan untuk bumbu dapur. Mana ada tanaman seperti itu, ya nggak? <img src='http://unclegoop.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, mau tak mau kami harus membeli dua tanaman: melati dan jeruk purut. Melati diharapkan akan memberikan keharuman dari bunga-bunganya, sementara jeruk purut diambil daunnya untuk memberikan keharuman di masakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita, jadilah di teras kami itu sekarang ada dua pot tanaman yang kami beli di pasar.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari-hari selanjutnya adalah kekhawatiran menyangkut nasib tanaman tersebut. Kami tak berpengalaman dalam memelihara tanaman. Sepemahaman kami, tanaman disiram tiap hari pun cukup. Maka itulah yang kami lakukan setiap hari: menyiram kedua tanaman pada pagi dan petang hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurang lebih pada hari ke tiga setelah pembelian, di melati kami mulai muncul tanda-tanda kuncup baru penanda awal bunga. Aih, tak sia-sia rupanya jerih payah kami menyiram tanaman tersebut tiap pagi dan sore hari. Debar di dada pun menyeruak menantikan saat-saat bunga itu mekar.</p>
<p style="text-align: justify;">Di suatu malam, sepulang dari kantor, saya segera menyiram melati dan jeruk purut. Saya lirik sembari berharap kuncup bunga itu akan mekar. Memanglah pada saat itu, kuncup yang ada sudah lumayan besar, kendati saya tak paham, inikah tanda-tanda hendak mekar itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai menyiram, saya pun bersih-bersih diri dan melakukan hal lain di dalam kontrakan. Guna menjemur handuk, maka saya harus kembali ke teras. Dan haiiii! Di sana, di dalam pot melati itu telah tampak tiga kuntum bunga yang mekar dengan sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;">Melati itu putih, ukurannya kira-kira berdiameter 5 cm. Ia bersinar-sinar di sana, memaksa diri ini untuk jongkok, mengangsurkan hidung dan membaui bunga itu. Aduhai, baunya wangi sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat itu, barangkali karena jerih payah saya yang rajin menyiram selama empat hari terakhir, bunga melati itu menjadi bunga yang paling indah di dunia. Ya harumnya, ya putihnya, ya bentuknya, seakan ada kerlip bintang tersemat di tiap daun bunganya. Ah, semua itu begitu sempurna dan berhasil membuat saya tersenyum-senyum hingga tertidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Esok pagi, saya pun tak lupa untuk kembali membaui bunga itu sebelum berangkat ke pabrik. Ahai, masih saja keharumannya memabukkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam pun tiba dan bersemangat saya pulang ke kontrakan. Saya sudah berencana akan segera menyiram tanaman-tanaman kesayangan itu. Begitu kaki melangkah mendekatinya, belum lagi sampai, namun saya telah merasa ada yang kurang dari tanaman itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Di mana kerlip putih di antara hijau daun? Seketika itu juga dada saya sesak. Saya dapati bunga itu sudah tak ada di tangkainya. Sebaliknya, saya temukan tiga kuntum bunga melati itu di dalam pot telah tanggal, tak lunglai, namun seperti terkapar. Dunia pun berputar seperti menyempit, mendadak saya membutuhkan udara, begitu banyak udara untuk mengisi paru-paru yang seperti dihimpit. Berulang kali saya menghela napas panjang, mengingatkan diri sendiri untuk ikhlas, merelakan bunga itu jatuh, luruh.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kehilangan sesuatu berarti memberikan kesempatan pada sesuatu yang lebih baik untuk dapat dimiliki oleh kita.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://charleschristian.wordpress.com/2009/02/20/my-quote-kehilangan/" target="_blank">Charles</a></p>
<p style="text-align: justify;">Saya berharap kutipan di atas benar adanya, agar saya tetap bersemangat untuk menyiram kedua tanaman yang malang itu. Barangkali saya akan bercerita lagi, manakala besok tanaman melati saya di teras berbunga lagi. Maukah menemani saya menunggui bunga-bunga melati itu mekar?</p>
<p style="text-align: justify;">Judul meminjam dari sebuah lagu Letto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2011/06/09/memiliki-kehilangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memasak Bersama</title>
		<link>http://unclegoop.com/2011/05/17/memasak-bersama/</link>
		<comments>http://unclegoop.com/2011/05/17/memasak-bersama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 May 2011 00:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unclegoop</dc:creator>
				<category><![CDATA[kamar hati]]></category>
		<category><![CDATA[dapur]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[masak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.com/?p=1548</guid>
		<description><![CDATA[Barangkali semua yang terjadi diawali dari dapur&#8230;. Semenjak hidup bersama dengan Chinta, uang saku yang biasanya untuk makan bisa digunakan untuk keperluan lain. Saya bersyukur untuk itu. Semua berawal dari sebuah kompor. Warnanya hitam, merknya Quantum dan nyala apinya bagus. Semenjak benda itu dibeli, maka memasak menjadi bagian dari hari-hari kami. Apakah semua berjalan lancar? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/05/saladstockbyte.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1550" style="margin-top: 1px; margin-bottom: 1px; margin-left: 2px; margin-right: 2px; border: 1px solid #000000;" title="stk78724cor" src="http://unclegoop.com/wp-content/uploads/2011/05/saladstockbyte.jpg" alt="" width="280" height="280" /></a>Barangkali semua yang terjadi diawali dari dapur&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Semenjak hidup bersama dengan Chinta, uang saku yang biasanya untuk makan bisa digunakan untuk keperluan lain. Saya bersyukur untuk itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua berawal dari sebuah kompor. Warnanya hitam, merknya Quantum dan nyala apinya bagus. Semenjak benda itu dibeli, maka memasak menjadi bagian dari hari-hari kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah semua berjalan lancar?<span id="more-1548"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Namanya memasak tentu melibatkan banyak hal. Dari mulai peralatannya, memang sudah kami beli jauh-jauh hari. Namun, rupanya peralatan yang sedikit itu tak cukup untuk semua jenis masakan. Sudah ada penggorengan dan solet, namun lupa tak ada penirisnya. Sudah dibeli panci, namun kebingungan apabila hendak menjerang air untuk mandi karena kurang besar, hahaha. Ada saja yang kurang.</p>
<p style="text-align: justify;">Beranjak ke bahan-bahan untuk masakan. Huah, ternyata banyak sekali yang harus dibeli bila hendak memakan masakan yang beragam. Mulai dari bahan dasar, bumbu-bumbu sampai dengan bahan pendukung harus tersedia. Mula-mula supermarket menjadi tempat kami belanja. Sayang, tak semua barang keperluan memasak tersedia di sana. Akhirnya, pasar tradisional justru menawarkan lebih banyak hal yang tidak ditemukan di supermarket. Chinta menjadi hapal dengan penjual sayur dan bahan-bahan apa yang perlu dibeli. Pun saya, mau tak mau di minggu pagi harus turut sibuk mengantarkannya berbelanja ke pasar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam proses memasaknya sendiri, kami berkutat dengan kekhawatiran. Semua karena persoalan ini adalah hal baru bagi kami berdua. Tak akan saya lupa bagaimana rasa masakannya yang pertama: aneh betul, hahahaha. Selain rasa, juga tidak jelas apa yang dimasak istri saya itu. <img src='http://unclegoop.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Ada yang bilang berbohong untuk kebaikan itu bagus dilakukan. Namun dalam hal ini, ujar-ujar itu tak berlaku untuk saya. Memang tak terucap dari mulut saya, namun dari gerakan tubuh dan mimik jelas terlihat kalau mulut diikuti badan saya susah menerima masakan itu. Dari situ saja, sudah tak mungkin bagi saya untuk berbohong dan berkata, “Enak, kok, Mah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kejujuran itu juga nantinya berguna untuk saya. Saya ingin masakan dia itu enak, maka saya harus jujur menyangkut rasanya. Apabila terlalu asin akan saya bilang terlalu asin, pun kalau terlampau pedas. Semua rasa itu akan saya bilang apa adanya. Dan sekarang, syukurlah dengan kejujuran sederhana itu rasa masakannya luar biasa. Rasanya perut saya bisa menampung semua yang ia masak. <img src='http://unclegoop.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Tapi tunggu dulu, untuk mencapai rasa enak itu, untuk jujur demikian, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Begitu jelas kekhawatiran di wajahnya menyoal rasa masakannya. Mungkin ia khawatir masakan itu akan meracuni saya. Dari pihak saya pun, sungguh tak nyaman rasanya saat harus berkata jujur melihat wajah yang masih dititiki oleh keringat itu, segala susah payah, segala proses harus dihakimi dengan berkata, “Tidak enak.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dapur kami saat mengepul tak pernah sepi. Terkadang kerjasama terjalin dengan manis, yang satu mencuci yang lain mengupas bawang. Ditingkahi cerita satu sama lain apa yang terjadi di hari yang baru saja dilewati. Namun kondisi tak selalu berjalan seperti itu. Seringkali, pertengkaran juga dilakukan apabila kesalahan terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya akui, saya asisten yang kurang bagus, apalagi dalam memasak. Tak jarang saya melakukan kekeliruan dalam usaha saya membantunya. Ia pun akan marah dan menghardik saya, saya pun akan membalas berteriak karena merasa bahwa niat baik saya membantu itu pun sudah bagus. Maka dapur yang sudah ramai itu pun kian riuh dengan segala teriakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang tak saya lupa adalah manakala masakan jadi dan kami makan bersama. Pada kondisi ini, saat menikmati masakan yang salah satu bumbunya adalah kasih sayang-hayah-semua risau itu pun menguap bersama setiap suapan dan tatapan penasarannya. Kami nikmati masakan itu dengan sepenuh hati, sebagai buah keringat, hasil kerja bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dad, besok masak apa?” Begitu tanyanya setiap kali selimut sudah tergelar menjelang tidur. Saya terdiam, bahkan untuk persoalan sederhana itu, saya sukar memutuskan. Jawaban mudahnya: saya peluk saja ia dan esok pagi sarapan hangat yang masih mengepulkan asap berbau harum sudah tersedia untuk saya&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih istriku. <img src='http://unclegoop.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">* Bahasa Indonesia solet apa, ya? <img src='http://unclegoop.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">* <a href="http://0.tqn.com/d/skincare/1/0/7/G/-/-/saladstockbyte.jpg">picture</a></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.com/2011/05/17/memasak-bersama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
