Mimpi yang Mengawali

Auto-2000

Jadi begini, dua tahun lalu saya ngekos di sekitar Stasiun Juanda. Itu lho, yang dekat Masjid Istiqlal dan Katedral. Kalau dari Istana Merdeka ngga jauh-jauh amat, paling seperempat jam jalan kaki. Kalau ke Monas malah lebih dekat lagi, ya kurang lebih juga seperempat jam kurang dikit.
Cukup soal kos saya.
Sekarang tempat kerja. Nah, tempat saya mengabdi kepada juragan itu letaknya di belakang istana. Ga jauh dari halte busway harmoni.

Continue reading

Di Ruang Tunggu

Perlahan aku melangkah, menyusuri tangga pesawat yang licin karena hujan. Di bawah sana, genangan tipis air di permukaan aspal. Aku harus berjingkat agar sepatuku tak basah, tasku pun aman dari air.

Cukup lama juga aku melangkah di bawah terpaan gerimis yang menerpa kepala. Ah, kenapa juga aku tak bawa topi kesukaanku itu?

Langkahku menyusuri aspal itu semakin mendekatkan kita, kendati sampai sekarang aku tak tahu apakah dirimu sudah berada di pintu kedatangan atau belum. Continue reading

Pesawat Parkir

Syukurlah, akhirnya pesawatku pun mendarat dengan sempurna kendati kondisi cuaca mengkhawatirkan. Kucoba bersabar tetap duduk di kursiku yang di pinggir dekat dengan jendela. Sabuk pengaman pun masih tetap kukenakan, seperti instruksi dari awak pesawat.

Kulihat penumpang lain sudah tak sabar. Biarpun pesawat belum berhenti, mereka sudah melepaskan sabuknya, bahkan sudah ada yang berdiri dan mengambil tas di kabin. Diam-diam aku menertawakan ketidakpatuhan mereka ini, antara lucu dan miris. Continue reading

Sempurna

Ini hujan pertama di tahun ini, kau pun tahu itu.

Seperti tahun-tahun yang telah lalu, hujan mendadak membuatku bisa mencurahkan isi hati dalam selembar kertas ini. Kau pun tahu itu.

Hujan ini, Ila, diam-diam menelusupkan rinduku padamu.

Seperti tahun-tahun yang telah lalu, rindu mendadak menyeruak di relung sana mengusik hati yang cuma selembar ini. Tentu kau pun tahu itu, bukan? Continue reading