
“Derita menjadi tertanggungkan ketika ia menjelma sebuah cerita.” Hannah Arendt
Ara, aku tahu kamu sudah tidak asing dengan penderitaan. Lantas, kenapa aku masih juga memberikan sebuah bacaan mengenai penderitaan buatmu?
Ya, buku yang barangkali baru sempat kamu sentuh itu mengenai penderitaan Laila dan Mariam.
Tentang anak haram yang mendamba kasih sayang ayah yang tak pernah mengakuinya. Manakala kasih sayang itu didapat, harus ditebus dengan kematian ibunya. Tentang deritanya menjadi istri seorang lelaki yang tak pernah dicintai. Mengenai hujaman cambuk dan kepalan tangan yang senantiasa mendarat di tubuhnya. Yang semua derita itu dihadapinya dalam diam.
Mariam sedari mula sudah tahu, Nana—ibunya yang telah tiada—pernah berkata, “Camkan ini sekarang, dan ingatlah terus, anakku: Seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke utara, telunjuk laki-laki juga selalu teracung untuk menuduh perempuan. Selalu. Ingatlah ini, Mariam.”
Sepenggal kehidupan Mariam barangkali tak layak dikenang. Hanya menawarkan pahit dan getirnya menghadapi laki-laki; menerima setiap tuduhannya. Pada mulanya memang ibunya yang menerima tuduhan itu. Perbuatan dosanya bersama Jalil membuahkan Mariam. Nama baik dan kehormatan Jalil adalah alasan terpisahnya anak dengan bapak. Tinggal bersama menjadi sebuah kemustahilan.
Sampai pada satu ketika, saat keinginan berkumpul bersama bapaknya tak tertanggungkan. Disambangi rumah bapaknya, namun apa yang didapatnya? Hanyalah seraut muka yang mengintip di antara gorden jendela. Dia kemudian tidur di depan pintu gerbang dan diminta pulang lagi ke gubuk ibunya. Ibu yang membesarkannya, tak rela Mariam terluka, diancamnya bila dia ke rumah bapaknya, maka ibu itu akan bunuh diri. Dan benar kemudian tak ada sosok ibu yang ditemui Mariam di gubugnya di tepi sungai. Jasad ibunya yang tergantung di cabang pohonlah yang menanti. Duka lara dalam sendiri.
Kejadian itu, mau tidak mau telah memaksa Jalil untuk ‘sedikit’ bertanggung jawab atas nasib Mariam. Dibawanya anak malang itu ke rumahnya yang besar dengan tiga orang istri sahnya. Pandangan mencibir pun mesti Mariam terima. Sampai puncaknya sebuah pernikahan yang dipaksakan harus dijalaninya.
Adalah Rasheed, seorang duda yang ditinggal mati anak dan istrinya. Berselisih usia tiga puluh tahun dengan Mariam. Seorang yang selalu menguarkan bau rokok, kasar dan bukan penyayang. Meski, pernah pula masa indah dialami waktu Mariam mengandung anak Rasheed. Sayang, nasib sudah digariskan. Beberapa kali mengandung, beberapa kali pula keguguran dialami. Barangkali rahim Mariam terlampau lemah untuk persemaian janin benih dari Rasheed. Semenjak keguguran demi keguguran itu, maka peran Mariam tak lebih hanyalah seorang pembantu dan pemuas nafsu birahi pun amarah Rasheed. Tak jarang, sepulang Rasheed bekerja, diikuti dengan amarah yang meletup-letup hanya gara-gara makanan yang dimasak Mariam kurang asin. Bukan hal yang asing saat cambukan ikat pinggang Rasheed mendarat di tubuh Mariam.
Simaklah bagaimana Mariam menghadapi derita itu, seperti pada pasase berikut ini: Mariam berbaring di sofa, menjepit kedua tangannya di antara kedua lututnya, menyaksikan tarian salju di luar jendela. Dia teringat pada Nana, yang pernah mengatakan bahwa setiap kepingan salju adalah helaan napas seorang wanita terluka di suatu tempat di dunia ini. Setiap helaan napas itu terbang ke langit, berkumpul di awan, lalu dalam keheningan turun kembali dan menimpa orang-orang di bumi. Sebagai peringatan atas bagaimana wanita seperti kita menderita, kata Nana. Bagaimana kita menanggung semua beban dalam keheningan.
***
Laila di sisi yang lain adalah wanita yang memupuk berjuta harapan di dadanya. Dia dibesarkan di keluarga yang bahagia meski bayang-bayang kebesaran kakaknya tak lekang dari mata ibunya. Maka, bukan keluarga yang ideal memang, karena kematian kedua kakak laki-lakinya telah merenggut kewarasan ibunya. Meskipun demikian, kasih sayang ayahnya mampu membuka jalan Laila untuk belajar dan maju.
Harapan Laila akan kehidupan yang bahagia makin ditunjang oleh kedekatannya dengan Tariq, tetangga dan teman bermain yang kelak kemudian hari menjadi kekasihnya. Berciuman, sebuah hal yang sangat tabu di Afganistan pun pernah dua sejoli ini lakukan.
Laila besar dengan harapan. Dilengkapi dengan cita-cita besar ayahnya. Diiringi keinginan manis yang membayang penuh kebahagiaan bersama Tariq.
Sayang, negara tempatnya tumbuh bukanlah media yang bagus untuk menyemaikan harapan. Perang dan pergantian kepemimpinan yang terjadi berulang telah merenggut satu demi satu kebahagiaannya.
Tariq berpamitan padanya di sebuah siang yang lengas di tengah desingan peluru dan meriam. Dia berkata kedua orang tuanya tak mungkin lagi hidup dalam ketakutan dapat terbunuh dari hari ke hari. Sebuah perpisahan yang sudah bisa diduga itu pun tetap saja terasa menyakitkan. Maka, ketika dua insan yang dirundung kesedihan memadu kasih—walau dengan segudang perasaan takut yang bercampur dengan kebahagiaan dan kesedihan—bukanlah hal yang terlampau aneh. Tariq pergi dan Laila linglung sendiri.
Perang semakin hebat berkecamuk. Pun di rumah Laila manakala ibunya enggan meninggalkan rumah dan kenangannya akan kakak-kakak Laila. Sang ayah yang tak kenal putus asa sedikit demi sedikit berhasil pula membujuk ibu untuk mengungsi. Hari kepindahan pun ditentukan, sebuah hari yang nantinya juga berarti kepindahan kedua orang tua Laila dari alam dunia ke alam baka sebagai akibat hajaran meriam yang melanda rumah mereka.
Hal yang ajaib adalah Laila tetap hidup, meski luka melumuri sekujur tubuhnya. Datang rupanya sesosok malaikat penolong yang mengais tubuh Laila dari puing-puing reruntuhan. Dia adalah Rasheed.
Hutang budi, dan terutama janin—lagi-lagi haram, buah hubungannya dengan Tariq—yang mulai membuat perut Laila membesar memaksanya menerima pinangan Rasheed. Setengah alasan lain adalah agar ia tetap bisa hidup di tengah perang yang dimenangkan kaum yang sangat membatasi hak-hak perempuan.
***
Maaf, Ra, terlampau banyak kukira aku bercerita tentang buku yang sebaiknya kamu baca sendiri itu. Di sana, dalam setiap halamannya akan kamu temukan derita yang tak tertanggungkan berganti-ganti dengan kebahagiaan yang terpenggal-penggal.
Semua manusia kukira akan mengalaminya, bukan? Hanya, akankah manusia itu menempuh jalan sunyi Mariam atau melawan penderitaan itu seperti yang Laila lakukan?
Tak terlampau sukar menebak akhir buku itu. Yah, kematian memang merenggut Mariam saat dia membela satu-satunya sumber kebahagiaannya. Pembelaan yang terasa pantas untuk seseorang yang bersedia menerima Mariam tanpa syarat setelah semua penolakan di hampir sepanjang usianya.
Adapun Laila? Simaklah lagi kutipan berikut ini: Maka, Laila pun bertekad untuk terus maju. Demi dirinya sendiri, demi Tariq, demi anak-anaknya. Dan demi mimpi Mariam, yang masih mengunjungi Laila dalam mimpi, yang selalu bernapas di dalam kesadarannya. Laila terus maju. Karena, pada akhirnya, dia tahu bahwa hanya itulah yang bisa dia lakukan. Kemajuan dan harapan.
‘A Thousand Splendid Suns’ juga memberikan sebuah sajak dari Saib-e-Tabrizi berikut ini: “Siapa pun takkan bisa menghitung bulan-bulan yang berpendar di atas atap, ataupun seribu mentari surga yang bersembunyi di balik dinding.”
Aku kira, puisi itu mengamanatkan sebuah gerak; tindakan yang mesti diambil bila ingin merasakan kebahagiaan. Memang benar Mariam sepanjang usianya melewati penderitaan-penderitaan. Namun, bacalah bagaimana dia bahagia walaupun takut saat berhadapan dengan malaikat maut di hari di mana hukuman mati untuknya dijatuhkan. Jangan lupa pula saat Laila berjuang dengan bilur luka, dengan penyamaran yang tak selalu berhasil saat menyambangi anaknya yang terpisah darinya. Benar dia menderita, namun pertemuan-pertemuan singkat itu pun cukup untuk menyunggingkan senyum baginya, bukan?
Tentu kau pun masih ingat, Ara, manakala kita bersama membacai rumah putih tempat Mas Ia bercerita. Di mana kita temukan serangkum kata-kata begini bunyinya, “Jika hujan bisa lahir dari rahim kemarau, tawa pun pasti bisa terbit dari fajar airmata.” Bukankah menjadi benar sebuah lagu Peterpan yang berkata, “Tak ada yang abadi” itu?
Dan lagi-lagi sebuah sajak dari buku penuh cerita pengorbanan wanita itu barangkali layak pula dibaca dan direnungkan.
Yusuf ‘kan pulang ke Kanaan, jangan bersedih,
Gubuk ‘kan berganti taman mawar, jangan bersedih.
Jikalau banjir datang, semua yang hidup tenggelam,
Nuh ‘kan jadi pemandu dalam mata topan, jangan bersedih.
Selamat ulang tahun, Ara, jangan bersedih, ya. Meski air mata mungkin seperti fajar yang selalu datang esok hari, namun harapan akan terbitnya tawa masih boleh kita gantungkan, bukan? Oiya, sudahkah kamu mencoba saran Hannah Arendt seperti di awal tulisan ini? Jika belum, cobalah….