melintas batas
jendela dunia
Menumpang Mandi
May 13th
Di tengah asyik masyuk mencuci nan bersemangat, kecipak air berpadu dengan kucuran yang deras. Tak jarang, percik-percik air itu mampir di celana dan kaos yang justru tidak sedang dicuci tapi dipakai. Kembali ke awal paragraf, di tengah asyik masyuk mencuci pagi itu, tiba-tiba air yang mengucur dari keran mulai mengecil dan berhenti pada akhirnya. Gangguan ini, tentu saja tak menyebabkan timbulnya kecipak air, percik-percik air dan nuansa puitis lainnya, kan?
Kerepotan selanjutnya ialah, kebingungan kecil yang menyeruak tiba-tiba. Bagaimana tidak? Bila saat itu di tengah-tengah proses membilas, masih ada dua potong baju dan sepotong celana dalam mungil yang masih tersisa, sementara air mati. Dogh!
Rupa-rupanya, tiga potong pakaian yang tersisa itu hanyalah awal mula kerepotan selanjutnya. Pada gilirannya, ia akan muncul berturut-turut: bagaimana nanti bila ingin buang air besar, bagaimana bila mendadak ingin pipis dan yang paling penting bagaimana aku mandi nanti?
Di tengah isu mengenai PAM yang terkendala dan krisis air melanda ibu kota beberapa waktu yang lalu, maka ketakutan akan tiadanya air pun terasa. Itu pun masih ditambah keanehan lain, di mana pompa di belakang sana terdengar nyaring, namun tiada satu tetes pun air yang tersedot.
Menumpang mandi kemudian menjadi solusinya. Syukurlah tetangga terdekat ada yang bersedia mengikhlaskan kamar mandinya sebentar dipinjam-pakai.
Bila tidak pernah menumpang mandi, percayalah bahwa hal ini bukanlah kegiatan yang mengasyikkan, sungguh. Pertama-tama, karena harus berjalan melalui rute baru yang barangkali jarang kau gunakan. Jalan masuk ke kamar mandi tetangga, jarang sekali dilewati, bukan?
Bila biasanya bisa dengan bebas dengan sekadar melilitkan handuk di pinggang kemudian melenggang. Menumpang mandi tak bisa segampang itu, karena mesti ada tetangga pemilik kamar mandi yang ditenggang. Ada mata-mata lain sepanjang jalan yang jelalatan mungkin penasaran. Dan bukankah mereka itu tahu betul bahwa kau hendak mandi? Peralatan perangmu itu sungguh nyata terlihat, gayung berisi sabun, odol, sikat gigi, shampoo dan handuk. Bayangkan saja, bagaimana mereka yang melihatmu itu begitu penasaran di mana lokasi kau mau memakai sabun. Hahahaha.
‘Bisa karena biasa’ itu kadang mengemuka begitu saja tanpa diundang diminta datang. Maksudnya, bisa dengan mudah lepas hajat di kamar mandi sendiri. Lepas begitu saja tanpa khawatir, semacam keikhlasan tak hendak ditengok-tengok lagi. Tapi bagaimana bila mesti menumpang di tetangga?
Ritual yang biasanya satu paket dengan mandi itu pun menjadi kegiatan yang menyiksa. Simaklah; manakala sudah jongkok begitu lama, mungkin sudah membuka buku halaman ke sekian, barangkali sudah membuat update status FB dan twitter sampai kehabisan kata-kata, atau sudah ingin rokok batang selanjutnya tapi apa yang dinanti-nanti tak juga kunjung tiba. Itu saja, belum bila masih harus ditambah si empunya rumah mengantri ingin juga memakai kamar mandi. Grrrrr, masihkah kuat jongkok lebih lama lagi padahal kedatangan yang demikian ditunggu-tunggu itu belum juga nampak sekadar tandanya saja?
Jangan heran kemudian bila sebentar saja lantas harus berdiri dengan perasaan wagu dan sebentuk kehampaan yang aneh manakala menatap lubang di closet masih saja kosong. Sekadar untuk melepaskan lega, diguyur itu lubang. Dan apakah lega? Tidak juga sedikit pun tidak.
Nah, bagaimana kerepotan manakala mesti menguras kamar mandi? Cobalah dibaca di sini
Bob Sadino
May 11th
Celana pendek yang biasa ia pakai membuatnya mudah dikenali, beliau adalah Bob Sadino. Pernah ditolak masuk di gedung DPR karena kebiasaannya bercelana pendek tersebut. Namun, pernah pula mendampingi tiga orang presiden; Soeharto, Megawati dan SBY dengan busana yang sama. Memang sebenarnya ia selalu menekankan karunia yang dimiliki setiap orang ialah kemerdekaan, sehingga ia tak risau dengan penolakan, jabatan dll.
Om Bob mengaku bahwa beliau tak pernah memiliki rencana. Ia cukup dengan melihat dan melaksanakan apa yang ingin dilakukannya. Sebagai contoh, sewaktu melihat telur dari Eropa ia lantas terpikir untuk menjual telur tersebut dibantu oleh istrinya di daerah Menteng. Beliau bercerita bukan sekali dua ditolak, namun warga asing di daerah Menteng pada medio 70-an banyak yang tertarik.
Akhirnya setelah mengantarkan dari rumah ke rumah selama beberapa hari, mereka menjadi pelanggan dan justru datang ke rumah Om Bob. Dari telur, para pelanggan ini kemudian memesan merica, garam dan kawan-kawannya. Mula-mula jadilah toko, lalu pabrik dan terus berlanjut sampai kemudian dikenal sebagai pengusaha agrobisnis terkemuka di negeri ini.
Satu hal barangkali yang boleh disebutkan adalah kreatifitas dan inovasi Om Bob dalam berdagang. Beliau tahu betul di Eropa dan Amerika, anggrek menjadi sesuatu yang sangat mahal. Biasanya anggrek ini diberikan kepada kekasih pujaan hati sebagai persembahan. Menggunakan anggrek pula Om Bob menarik pelanggan. Seorang pelanggan, selain mendapatkan telur juga memeroleh anggrek khusus dari Om Bob.
Mengenai peran konsultan, Om Bob pun menyentil melalui ciri khas beliau dengan pernyataannya yang kontroversial. Beliau berkata, “Konsultan adalah seseorang yang tidak bisa melakukan apa yang diucapkannya.” Lebih lanjut, beliau juga menyayangkan banyaknya pelatihan-pelatihan yang hanya mengajarkan perencanaan dan perencanaan. Bila sebuah rencana gagal, maka akan ada rencana cadangan (plan B) kemudian dilanjutkan dengan contingency plan tanpa diikuti dengan praktik.
Gambar Kuadran Om Bob
Dari gambar kuadran di atas, Om Bob, ingin menunjukkan bahwa sekadar tahu yang diperoleh dari sekolah saja tidaklah cukup. Seseorang harus melengkapinya dengan belajar di masyarakat. Harapannya, selain tahu orang tersebut juga menjadi terampil, bertanggung jawab dan tanggap.
Practise make perfect benar-benar menjadi pedoman bagi Om Bob kendati beliau mengajarkannya dengan bercanda. Menurut beliau, selain pendidikan formal dari bangku sekolah, perlu juga diikuti dengan praktik. Hal ini, bisa ditempuh dengan menempuh pendidikan selama setahun dan melakukan praktik setahun pula.
Ilmu jalanan yang dilakukan dengan pintar adalah kunci lain dari majunya usaha Om Bob. Menurut beliau, tanpa melalui perencanaan yang matang, sebuah usaha bisa dikerjakan dan perbaikan di sana-sini bisa dilakukan sambil berjalan.
Kredo lain dari beliau adalah, semakin goblok seseorang, semakin banyak ilmu yang dimiliki. Tak lupa dengan setengah menyayangkan, beliau menyinggung orang pintar yang terlalu banyak berpikir tanpa beraksi. Dan pada akhirnya, walaupun tak begitu setuju dengan sistem pendidikan yang ada sekarang, salah seorang muridnya yaitu Sony Tulung berkata, bahwa perlu sinergi antara pendidikan di sekolah dan ilmu yang didapat dari bermasyarakat.
Ditulis selepas melihat program ‘Satu Jam Lebih Dekat’ di TvOne
Sejarah
Apr 16th
Dalam sejarah ada saat-saat yang bersengketa, tapi kemudian akan ada rekonsiliasi.
Di Jakarta semua terasa dekat. Lintasan sejarah itu seperti terpampang di depan mata. Ini yang membuat takut terkadang.
Sejarah artinya kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Kemarin juga masa lampau, sepuluh tahun yang lalu, dua puluh tahun yang lalu. Semua masa lampau. Tetapi di Jakarta; yang lampau, kemarin dan bertahun lalu seperti mendekat.
Saya masih ingat betul, ketika pertama kali melintas di depan gedung RRI, terbayang bagaimana sebuah pagi yang sibuk di akhir September dan awal Oktober 1965. Bagaimana gedung radio itu menjadi bagian dari sejarah pada masa itu. Seperti otomatis, terlintas di benak adegan film ‘Pengkhianatan G30S’ itu. Saat rakyat mendengarkan radio mengikuti berita, ketika pasukan yang berbeda tujuannya saling menguasai sarana komunikasi paling penting pada masanya itu.
Di Bandar Udara Halim Perdana Kusuma, More >



