melintas batas
jendela dunia
Membincangkan Cantik
Jul 31st
Paman, dia cantik ya?
Siapa? Gita Gutawa? Iya…
Menurut Paman, apa yang bikin dia cantik?
Kalo menurut kamu, apa?
Semua, Paman… semuanya…
Emang kamu tahu bagaimana cantik itu?
Engga… mana saya tahu, Paman…
Lah! Ngga tahu kok bisa bilang cantik?
Uhmmm… tidak bisakah cantik gitu aja, terus titik?
Yaa bisa aja sih… tapi kan biasanya ditanyakan apa yang membuat dia “terlihat” cantik
Ah, bagi saya dia sempurna, itu saja
Huahahahaha…
_______________________________________________
Barangkali, cantik memang tidak untuk dideskripsikan, cukup dinikmati saja, bukan?
Membincangkan Kematian
Jul 25th
Yogyakarta, Sabtu 19 Juli 2008 pukul 07.30 WIB.
Pagi itu, bekas kosan saya yang lama, di Jogja sana disibukkan oleh meninggalnya Ibu kos. Ya, meninggal. Peristiwa sederhana lepasnya nyawa dari tubuh. Meninggalkan tubuh dalam ketakberdayaan, tak kuasa untuk sekedar memompa jantung, menghela nafas, mengedipkan mata. Entah, ke mana perginya nyawa. Apakah masuk di alam kubur? Mungkinkah di sisi Tuhan? Atau menyatu dengan semesta untuk kemudian menjadi pohon, menjadi serangga? Tak tahu saya jawabnya, silakan Anda kembali kepada kepercayaan Anda masing-masing.
Usianya masih bisa dibilang muda, baru 44 tahun. Tetapi maut, tidaklah pernah memandang usia. Maut bekerja tidak pandang bulu. Biarpun muda tak hirau tua, bila memang sudah tiba saatnya tak ada yang bisa menghindar atau menundanya barang sekedipan mata. Penyebab kematian sendiri, bisa beraneka ragam. Kasus Ibu kos saya itu, disinyalir karena terlalu capek bermain badminton dua malam berturut-turut. Tubuhnya yang tambun mungkin telah membuat lemah jantungya, membuatnya lelah dan berhenti berdegup.
Tak ada tangis dari saya, meskipun bisa dibilang saya sangat dekat dengan beliau, saat saya masih kos dulu. Tak jua ada air mata saat Kakek dan Nenek dahulu meninggal. Entahlah, apakah saya tak punya nurani? Ataukah saya menganggap kematian sebagai sebuah hal yang perlu agar kehidupan terus berjalan (Komik Budha)?
Tetapi, saat saya bertemu dengan putra dan putri beliau yang seumuran dengan adik-adik saya dan sudah menganggap mereka seperti adik. Saat menatap mereka satu demi satu, melihat ke matanya yang sembab. Ada perasaan sedih luar biasa, seperti sebuah kehilangan, sebentuk kekhawatiran. Pertanyaan, bagaimana mereka akan menjalani kehidupan mereka yang terus berjalan, tanpa Ibu di sisinya? Tak ada yang bisa saya lakukan, hanya berdiam diri di sana, menyalami satu demi satu dengan lidah yang kelu.
Kematian, selalu sebuah garis akhir untuk kehidupan seseorang. Di saat yang sama, kematian menandai sebuah awal untuk kehidupan-kehidupan yang lain.
Kehidupan adalah perjalanan pulang. Laksana pulangnya seruling ke rumpun bambu, seperti tertera dalam sajak-sajak Rumi. Kematian adalah pintu, sebelum kita memasuki rumah-rumah keabadian. Sudahkah oleh-oleh disiapkan? Sudahkah cerita dirangkai saat ini untuk dibagi kelak di sana?
Budha menyepi dan tenggelam dalam perenungan yang agung. Budha ingin lepas dari penderitaan manusia dari sakit, dari kematian. Sampai akhirnya Budha menemukan pencerahan di bawah Pohon Bodhi. Gede Prama menuliskan “Apa yang ditakuti manusia sebagai kematian, ia sesederhana daun jatuh dari rantingnya”.
Saya tidak tahu, bagaimana persisnya rasa kematian itu. Benarkah seperti daun jatuh dari ranting, melayang-layang kemudian jatuh di tanah. Menjadi humus, dihisap akar, menjadi rumput, dimakan kambing dan seterusnya, sehingga menjadi sebuah siklus?
Mati, mengingatnya menjadi perlu. Agar detik demi detik kehidupan dihargai. Mengingat mati menjadikan kita sadar ada orang tua yang akan kehilangan. Ada istri yang akan bersedih dan berduka cita. Ada anak yang kehilangan pegangan. Ada sahabat yang bersedih, handai taulan yang kerepotan?
Di film seri Smallville semalam, Lex Luthor begitu takut ditinggalkan. Memang nyatanya orang-orang yang dekat dengan Lex pergi meninggalkannya satu demi satu. Di tengah kesendiriannya dia menciptakan seorang adik –Julian- hanya bermodalkan DNA. Julian, malah berhasil mencuri hati ayah Lex, hal yang selama ini tidak bisa dilakukan Lex. Kecemburuan yang memuncak menjadikannya gelap mata, dibunuhnya Julian tepat di hadapan Luthor Sr. Entah bagaimana memaknai peristiwa ini. Satu hal yang jelas, Luthor Sr begitu kehilangan Julian, senangkah Lex, bila ternyata ia kembali ditinggalkan?
Dalam 7 habit-nya, Stephen Covey menyinggung tentang kematian. Cobalah bayangkan saat-saat kematian kita. Di sebuah gereja, saat requiem dilakukan dan orang-orang yang kita kenal memberikan kesaksian kehidupan kita. Sebuah kesaksian seperti apa persisnya yang kita harapkan saat kita dikenang pada detik itu?
Dalam perjalan pulang ini, kita merangkai kata menjadi sebuah cerita. Bahagia ataukah duka yang menanti di sana masih berupa sebentuk tanya. Banyak rambu ditemui selama perjalanan, tak jarang tersesat untuk kemudian putar balik di jalur yang benar. Sebentuk pelajaran, menjadi catatan agar generasi yang akan datang bisa memetik hikmah dan makna.
Sebuah tulisan dari blog lama “Pernahkah Anda mendengar tentang mestia? Upacara pengorbanan, istri-istri Raja di Bali yang membakar diri, moksa bersama kekasihnya? Pun, budaya pagan di Eropa yang menyambut kematian sebagai sebuah perayaan? Mereka menghadapi kematian dengan senyuman.” Saya ingin memberikan link sumber cerita mestia dan budaya di Eropa itu, sayang kini telah menjadi mantan-bloger “kapan nge-blog lagi, Mas?”
Beranikah Anda mendeklarasikan kematian seperti Einstein melakukannya? Beliau berkata “Aku akan pergi jika aku menghendakinya. Merupakan suatu hal yang tak bermakna sama sekali jika aku memperpanjang kehidupan secara artifisial. Aku telah mengerjakan bagianku, dan sudah saatnya untuk pergi. Aku akan melakukannya secara elegan.”
Yogyakarta, Sabtu 19 Juli 2008 pukul 15.30 WIB.
Jenazah sudah dimasukkan di liang lahat, berpakaian kain kafan, berbantalkan tanah yang dibentuk kotak-kotak. Beberapa batangan bambu diletakkan di atas jenazah, sebelum tanah diuruk nantinya. Selepas urukan tanah dibentuk menjadi gundukan-gundukan kuburan, satu per satu pelayat meninggalkan kompleks makam.
“Paman, saya takut…” gumam ponakan saya
Tak ada jawaban dari saya, tak ada yang bisa saya lakukan. Saya masih belum berani untuk mendeklarasikan keberanian menghadapi maut. Tak juga begitu takut karena berharap akan pertemuan denganNya, karena akan pulang. Saya bimbang dalam tanya, tetapi masih cukup mampu untuk mengulurkan tangan menggandeng ponakan saya.
…senandung Megatruh di kejauhan, dan bunga-bunga kamboja berguguran…
Membincangkan Tata
Jul 23rd
Jauh jalan yang harus kau tempuh
Mungkin samar bahkan mungkin gelap
Minggu sore itu, Bapak dan Ibu baru saja pulang dari penjahit di desa sebelah. Satu stel baju seragam SMA baru saja selesai dijahit. Di rumah Tata telah menunggu dengan antusias. Tanpa menunggu lama, segera dipakai baju seragam itu lengkap dengan dasi dan topi. Lucu sekali melihat di sore yang cerah itu ada anak yang begitu bersemangat memakai baju seragam. Sudah hari Minggu, sore pula. Sepatu baru yang dari kemarin hanya diletakkan di atas kardusnya, kini pindah ke kaki. Lengkap sudah seragam baru, topi baru, dasi baru, sabuk baru. Ah, gagah sekali adik saya itu.
Di antara kekanakannya yang menjengkelkan dan kebandelan remajanya yang mulai nampak. Saya teringat sepuluh tahun yang lalu. Saat itu, mungkin saya juga sama bersemangatnya dengan Tata. Tidak peduli bahwa saat itu hari Minggu, sore hari, atau alasan dan pembenaran yang lain. Di lain pihak saya juga teringat bahwa saat itu saya mulai berkenalan dengan kenakalan khas remaja. Mencoba merokok, ikut tawuran, sesekali membolos dan jatuh cinta.
Tajam kerikil setiap saat menunggu
Engkau lewat dengan kaki tak bersepatu
Saya merasa berbangga juga melihat Tata sudah berganti seragamnya dari kemarin putih biru menjadi putih abu-abu. Hari yang lalu dia terlihat culun dengan celana pendek dan sepatu kumal yang tak jarang berdebu, kini dia terlihat tampan dengan celana panjang dan sepatu baru. Ini bukan masalah penampilan tentu, tetapi rasa yang lain, ah apa ya? Mungkin tiada kata yang pas untuk menggambarkannya.
Saya jadi bertanya-tanya bagaimana “rasa” yang dirasakan oleh Bapak dan Ibu, lahirnya senyum-senyum, batinnya siapa tahu? Di antara bangga dan haru, mungkin terselip juga kekhawatiran. Bagaimana langkah adik saya itu? Akan benarkah dia melangkah, apakah sedikit tersesat seperti kakaknya yang pertama?
Saya jengkel saat tahu adik saya itu pada hari-hari pertama masih diantar ke sekolah. Mungkin saya teringat saat saya masuk SMA semua hal dilakukan sendiri. Harapan saya tentu dia juga melakukan sendiri semuanya. Tetapi kehendak dan perlakuan orang tua tentu tidak sama terhadap putra-putranya.
Duduk sini nak, dekat pada Bapak
Jangan kau ganggu ibumu
Saya selalu percaya, apa yang dikatakan dan dilakukan orang tua adalah baik. Pengalaman yang dilalui menjadi cermin dan pelajaran. Langkah yang beliau tempuh, tentu tidak sama dengan saya yang sukanya main tabrak. Barangkali beliau ini belajar dari tingkah polah saya dan adik yang satu lagi. Si bungsu ini, mungkin lebih mendapat pengawasan dan perhatian.
Sebenarnya agak kasihan juga karena bentuk pengawasan ini terkadang berupa bentakan dan hardikan. Sedikit cercaan dari kakak-kakaknya yang sok tahu pun sering dia terima. Selama ini, Tata telah berhasil melaluinya. Kini sebelah kakinya telah menginjak tempat yang berbeda, mencari jati dirinya. Entah perubahan macam apa yang akan terjadi. Saya harap semoga semuanya berjalan dengan baik dan arah yang benar.
Turunlah cepat dari pangkuannya
Engkau lelaki kelak sendiri
Sepuluh tahun yang lalu tentu berbeda tantangan yang dihadapi dengan saat ini. Langkah saya dahulu, tentu tidak bisa lagi diterapkan untuk masa kini. Biarlah Tata belajar melangkah, mungkin sesekali terperosok dan kami akan berdiri di belakangnya mengulurkan tangan menariknya. Keluarga layaknya sebuah tim yang bahu membahu, saling mengingatkan dan bergandengan tangan.
Bapak sibuk dengan urusannya sendiri. Ibu sibuk di dapur dan mencuci. Kakak-kakaknya sok sibuk dengan perkaranya masing-masing. Pada akhirnya dia akan sendiri, mencoba-coba, belajar menyelesaikan masalah. Barangkali dengan itu, pengalaman akan datang menghampiri, menjadi bekal melalui jalan terjal yang menghadang. Semoga…
Semua quote : Iwan Fals “Nak”

dan tak lupa “Selamat Hari Anakâ€




