melintas batas
jendela dunia
Kungfu Kid
Jun 20th
Sengaja judul di atas tidak sesuai dengan judul film yang baru saja saya tonton kemarin. Pasalnya, tak ada karate dalam film tersebut, yang ada adalah kungfu.
Hidup adalah pilihan, apakah akan bangkit atau terus terpuruk?
“Kungfu ada dalam setiap kehidupan, manakala kau memakai dan melepaskan jaket.” Hal ini dikatakan oleh Mr. Han saat ia menjelaskan apa itu kungfu.
Adalah Dre yang ngebet ingin bisa beladiri pasca penghinaan yang dilakukan teman-teman di sekolahnya. Agak surut ke belakang, kepindahannya dari Detroit di Amerika ke Beijing jelas sekali telah mengganggunya.
Ia berada di tempat yang salah, terlepas dari habitat aslinya. Bertemu dengan teman sebaya yang memusuhinya. Menganggap ia asing dan tak pantas bergaul dengan mereka.
Dre pun kemudian ingin pulang. Ia merasa di situ bukanlah rumahnya. Di sini, saya teringat pada para exile yang harus tercerabut dari akarnya. Mereka mesti hidup di tempat lain yang bukan rumahnya. Dan pulang, More >
Surrogates
Jun 4th
Manakala manusia sudah tak percaya pada dirinya sendiri….
Surrogates adalah sebuah robot pengganti. Ia dibuat semirip mungkin dengan pemiliknya, bahkan tak jarang melampaui. Robot pengganti ini menjadi pencitraan sempurna dari pemiliknya.
Citra sempurna itu berarti manakala si empunya sudah memutih rambutnya, ringkih tubuhnya dan tak lagi sempurna berjalan, si robot pengganti adalah kebalikan dari itu semua. Ia masih memiliki rambut yang hitam sempurna, tebal dan indah untuk perempuan atau gagah dan berjalan tegap untuk lelaki.
Namun, semua itu hanyalah tipuan belaka.
Robot pengganti itu menjadi topeng yang dipasang sempurna. Ia nampak sempurna, padahal pemiliknya sendiri hanya mampu tergolek pada pusat kendali di rumahnya. Kira-kira begini gambaran para pemilik Surrogates itu: berpiyama, muka kusut, kelelahan dan kurang gerak yang berarti juga kurang sehat.
Dengan robot itu pula mereka menjalani aktivitasnya sehari-hari. Yang semula seorang sherrif tetap menjadi sheriff, pun bila awalnya seorang penjahat. Bedanya, sheriff dan penjahat itu tidak bisa mati karena yang ditembak, yang tertabrak mobil, yang patah kaki selepas beraksi dan berkelahi adalah robot-robot pengganti.
Masalah muncul manakala kerusakan yang terjadi pada robot pengganti berimbas pada pengendali yang duduk aman di rumah. Kerusakan itu muncul karena adanya senjata percobaan yang semestinya sudah tiada ternyata masih tersisa sebuah yang belum dimusnahkan. Akibatnya, ketakutan melanda para pengendali.
Apa yang terjadi pada para pengendali itu? Tontonlah Surrogates, jadilah saksi manakala dendam harus dibayar dengan mahal. Bagaimana eksistensi manusia perlahan-lahan digantikan oleh buah karyanya sendiri.
Larasati
May 16th
Pramoedya Ananta Toer dalam roman revolusi ini tidak hanya merekam kisah-kisah heroik kepahlawanan, namun juga lengkap dengan segala kemunafikan kaum revolusioner, keloyoan, omong banyak tapi kosong dari para pemimpin, pengkhianatan dan dibumbui kisah percintaan.
Pramoedya ingin mengukuhkan suatu komitmen bahwa revolusi atau perjuangan apa saja bisa lahir dan mencapai keagungannya kalau setiap pribadi tampil berani; tidak hanya berani melawan semua bentuk kelaliman, tapi juga bisa melawan keangkuhan dirinya sendiri.
Rasa takut bisa hilang melalui kemenangan yang didapat. Tapi menyoal kemenangan yang sekilas itu, Pram bilang, “Perjuangan selamanya mengalami menang dan kalah silih berganti. Kalau kau menang, bersiaplah untuk kalah dan kalau kau kalah, terimalah kekalahan itu dengan hati besar dan rebutlah kemenangan.
==0==
Larasati, ia adalah seorang penyanyi dan bintang film. Sebagai aktris panggung, ia harus menghibur pembesar-pembesar negeri dan pengusaha-pengusaha sukses. Termasuk juga di dalamnya adalah pembesar-pembesar Belanda dan tak lupa pribumi yang menjadi pembesar Belanda. Akibat penampilannya di panggung dan pergaulannya yang intens tersebut, ia akrab dengan mereka. Ara menjadi begitu dikenal dan kehadirannya dinanti-nanti siapa saja.
Apa yang disebutkan di atas, sayangnya terjadi pada masa damai. Ketika pembesar-pembesar negeri dan Belanda akrab tak saling serang. Padahal seperti juga kau tahu, jalannya revolusi seperti ombak di lautan. Sekali waktu memang tenang, namun di lain saat begitu bergelora. Ombak itu menghempas pantai dan meninggalkan butir-butir pasir dan buih.
Dan Ara adalah pasir, mungkin buih itu. Ia tertinggal di pantai, terhempas kian kemari, ditinggalkan arus besar yang terus bergolak.
Ara tak punya tempat berlindung lagi, karena bila ia pasir, maka ia tergulir bersama angin. Bila ia buih, tak jarang ia harus meniti buih untuk kemudian sekali tempo terhempas lagi.
Jalan keluar yang tersisa baginya adalah: ia bergaul dengan sesama pasir, sesama buih. Mereka itu, prajurit-prajurit berpangkat rendah. Prajurit yang gelisah, namun bersemangat kendati resah. Bersama dengan kawanan barunya ini, ia pun mulai menapakkan langkah kakinya di medan revolusi. Ke mana perginya para pembesar yang dahulu dikenalnya itu?
Perjalanan Ara dimulai di sebuah kereta dalam perjalanannya dari Yogyakarta ke Jakarta. Alasan kepergiannya ini ialah, karena Yogya telah menjadi tempat yang demikian berbahaya. Sementara itu, ia teringat pula pada ibunya yang telah lama ditinggalkan di Jakarta. Di kereta itu, ia harus berpisah dengan Kapten Oding yang jelas-jelas menaruh hati pada Ara.
Perjalanan Ara kemudian adalah paparan bagaimana manusia republik memandang revolusi. Tentang anak-anak muda yang bersemangat hendak melahirkan sejarah. Sejarah yang banyak meminta tumbal nyawa dan Ara menjadi saksi kematian satu orang di antara pemuda itu. Sosok pemuda yang di mata Ara begitu dihormati dan pada saat yang sama ditangisi kepergiannya.
Ara memupuk optimisme terhadap peristiwa di sekitarnya bersama dengan nenek-nenek tetangganya. Nenek itu kendati sudah lanjut, namun tak kurang-kurang memberikan dukungan pada para remaja pejuang. Dan paling penting, bersama dengan ibu yang dulu ia khianati dan sekaligus begitu dicinta ia merenda semangat dan menyulam rasa takut justru menjadi kekuatan.
Di sisi lain, Ara juga mesti menjadi saksi para pengkhianat negeri. Kaum oportunis yang hanya tau petik untung injak liyan. Nama-nama seperti Kolonel Surjo Sentono, Mardjohan dan masih banyak yang lain telah begitu membuatnya jijik. Seakan-akan penderitaan sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, ia pun mesti bertemu dengan keluarga Alaydrus. Sebuah keluarga keturunan arab yang menjadi majikan ibunya. Pada gilirannya, Ara bahkan harus menjadi kawan hidup Jusman—seorang dari Alaydrus itu—lengkap dengan semua deritanya.
Pada akhirnya, Ara kemudian…. Ah, sebaiknya dibaca sendiri bagaimana menariknya salah sebuah karya Pram ini, selamat membaca.
