melintas batas
jendela dunia
Manggis
Jul 6th
Mari kita membicarakan manggis, semua tahu manggis, kan? Ah, manggis yang itu, tahu, kan? Masa tidak tahu manggis. Halah, yang itu lho…manggis, manggis….
Sebelum saya ditendang karena mengulang-ulang kata dan bertanya hal yang sama, maka baiklah begini ceritanya—halah!
Bapak saya gemar menanam berbagai macam pepohonan. Salah satu jenis pohon favorit yang beliau tanam adalah buah-buahan. Dahulu, banyak buah yang tumbuh di halaman dan sekitar rumah. Beberapa di antaranya adalah rambutan, duku, jambu, mangga, kelengkeng, nanas dan entah apa lagi saya lupa. Paling banyak rambutan, kira-kira ada 5 pohon waktu itu sekitar dua tahun yang lalu. Adapun sekarang, sudah banyak yang ditebang dengan berbagai alasan dan hanya menyisakan dua buah saja. Sementara jenis buah yang lain sepertinya tak lebih dari dua, kebanyakan satu pohon untuk setiap jenis buah.
Di antara semua jenis buah-buahan yang ada, manggis terasa istimewa. Pertama kali saya melihatnya berbuah cukup membuat terkagum-kagum. Oiya, posisi pohon manggis di dekat pagar terbuat dari tanaman yang membatasi kebun dengan pekarangan tetangga. Ia tidak terlalu tinggi, ia tumbuh di bawah pohon durian dan sengon serta pete. Agak jauh sedikit, sebuah pohon kelengkeng yang rimbun turut pula menaunginya. Pendek kata, ia dikepung, tak bisa tinggi. Kendati demikian, di sanalah ia tumbuh dan hebatnya berbuah. Ah, hebat, bukan?
Dan buahnya, tahukah kau, kawan? Tahukah buah manggis, pasti tahu, kan? Masa tidak tahu? Hahaha, khawatir ditendang lagi saya.
Begitu halus kulit luarnya, kemerahan. Oya, yang belum matang putih kehijauan, kemudian beranjak memerah dan terus menua warna merahnya. Di sisi lain dari bagian tangkai ada semacam sisa dari kelopak bunga barangkali bila saya tidak salah. Bagian ini, dipercaya mencerminkan jumlah anak-anak buah manggis yang ada di bagian dalam kulit luar. Dan anak-anak buah di dalamnya, begitu putih, lembut dan manis, bukan?
Manggis, biasa digunakan sebagai perlambang selain buah durian dan kedondong. Kulit luar dan buah di dalamnya yang digunakan sebagai perhitungan. Manggis memiliki kulit dan buah yang sama halus dengan isinya. Durian, tak perlu dijelaskan bagian luarnya menyeramkan sementara isinya menawarkan kenikmatan tiada tara. Dan kedondong, entah kenapa bagian luarnya halus namun di dalamnya pada bijinya berserabut tidak karuan.
Konon, begitu juga halnya manusia. Ada yang kulit dan isinya sama halusnya, ada yang hanya kulitnya yang halus, pun ada pula jenis isinya saja yang halus.
Jelas di sini manggis menikmati tempat yang istimewa. Laksana gadis, ia cantik luar dalam. Hebat, ya?
Kembali ke manggis di pekarangan itu, yukkk….
Nah, senang sekali mengamati bagaimana perubahan buah manggis dari mula dia kehijauan kemudian beranjak merah dan matang. Sayang, hal ini tidak setiap saat bisa dilakukan. Pada musim-musim awal, kami sekeluarga begitu memerhatikan pohon dan buah manggis kami.
Setelah dia semakin sering berbuah dari musim ke musim, maka perhatian pun memudar, acuh dan abai pada pohon dan buahnya. Maka, jangan salahkan ketika anak tetangga mulai ikut menikmatinya, tentu saja tanpa ijin mereka melakukannya.
Hal yang biasa terjadi kemudian adalah, pada saat belum matang saya bisa mengamatinya dengan takjub dan penuh kesabaran. Menjelang buahnya matang beberapa sudah hilang entah ke mana. Saatnya matang, tak pernah kami tahu di perut siapa dia berada. Meskipun ada pula beberapa buah tersembunyi yang jatuh, luruh ke tanah dan busuk. Buah pun mesti melalui seleksi alam untuk bisa saya saksikan bagaimana siklusnya. Eh, seleksi alam atau seleksi mata-mata jahil anak tetangga, ya? Hehehe.
Bila beruntung sekali menikmati yang matang, maka dengan adik-adik akan membuat tebakan. Menghitung jumlah kelopak di bagian yang berlawanan dengan tangkai dan mencocokkannya dengan jumlah daging buah di bagian dalam, apakah cocok atau tidak. Terkadang, bila jumlah buah manggisnya banyak, kami berebutan buah dan kemudian berlomba cepat menghitung kelopak mencari yang paling banyak. Tanpa sadar kami telah melakukan seleksi pada buah-buah itu.
Di sekumpulan buah itu, kami memilih secara langsung, bebas dan tidak rahasia. Tak ada KPU, tak ada kampanye, tak ada debat, namun kami bisa mendapatkan pilihan kami dan senang karenanya.
Dalam hitungan hari, Anda pun akan menentukan pilihan untuk masa depan bangsa ini. Saya bilang Anda karena memang saya tidak ikut memilih, saya golput karena berbagai kendala yang menghadang sehingga saya tak pulang dan turut memasuki kotak suara kemudian mencontreng.
Besar harapan saya, walaupun saya tidak turut memilih secara langsung, namun kepada Anda yang beruntung terdaftar dan bisa memilih agar bisa cermat dalam mencontreng. Seperti halnya manggis, barangkali di antara yang Anda pilih ada yang masih setengah matang. Lalu seperti halnya kami sekeluarga yang tak pernah menikmati manggis yang matang, saya kurang tahu apakah di antara yang akan Anda pilih ada yang matang atau tidak. Pula, semoga yang Anda contrng tidak sama dengan apa yang kami temukan saban pagi, yakni manggis busuk yang telah luruh, jatuh ke tanah.
Setelah itu jangan lupa pula untuk menghitung dan menimbang persis ketika kami, saya dan adik-adik menghitung jumlah kelopak untuk mengetahui manggis mana yang terbaik di antara sekumpulan manggis. Pada akhirnya, semoga yang Anda dapatkan mirip pula dengan yang biasa pemenang dapat di antara kami: sebutir manggis yang mendekati matang, sudah melewati setengah matang dan belum menjadi busuk, jumlah daging buahnya banyak dan saat dimakan rasanya pun nikmat sekali.
Namun kemenangan tak selalu dimiliki setiap orang karena hanya ada satu pemenang. Maka pihak yang kalah pun harus memakan manggis yang ada di wadah, walaupun barangkali jidat mengernyit, lidah berkata, “ogah.” Semoga tidak ada pula yang mendapat atau menjadi manggis busuk, karena nasibnya hanya dibuang dan mampir di tempat sampah. Amien.
Hati Mesin
Jun 23rd
San Fransisco, 2018
Kota dikuasai mesin, dijaga ketat di semua sudut benteng. Mesin-mesin dengan ukuran yang besar dilengkapi senapan dan sensor yang tak pernah berhenti bergerak, berputar-putar di sumbunya mengawasi wilayah operasinya masing-masing.
T-600 nama mesin lain yang berjalan, bisa berkeliling dan sangat kejam mengawasi tawanan. Adapun tawanan itu adalah manusia yang nasibnya sudah seperti kambing saja, diangkut, digiring dan dimasukkan ke dalam kandang-kandang yang bernama sel. Saya kira tak ada padanan yang lebih pas selain seperti tempat penjagalan manusia. Mereka ditangkapi, dibawa dengan kendaraan khusus, diturunkan di tempat yang telah ditentukan, dikumpulkan untuk kemudian dipisah-pisahkan lagi masing-masing masuk ke dalam sel.
Kemudian apa muara dari itu semua? Kematian bagi umat manusia.
Ras manusia melawan ras mesin. Bersatupadu memberontak. Bagaimanapun seseorang yang tertindas akan menggeliat, melawan sebagai akibat kehendak bebas. Pada titimangsa ini, manusia tak lagi memedulikan perbedaaan di antara mereka. Tak lagi warna kulit, tak lagi agama, tak juga politik. Begitu indah ternyata bila persatuan dan persaudaraan bisa terjalin demikian kuat, menjadi timbul pertanyaan, apakah seluruh umat manusia baru bisa bersatu bila menghadapi musuh bersama?
Kendati demikian, masih ada juga yang berbeda. Motif kepentingan yang menjadi alasannya. Kepentingan untuk berkuasa, untuk berjasa dan dianggap sebagai pahlawan. Maka kemudian, muncullah pertentangan di antara manusia yang nampaknya menjadi hal yang lazim dan lumrah.
Pertentangan itu memuncak saat sebuah perintah penyerangan ke pusat kota mesin datang dari komandan yang berada di kapal selam. Padahal di kota itu, kota penjagalan manusia itu, ada ribuan manusia lain yang mesti diselamatkan.
Syukurlah karena masih ada manusia lain yang memiliki hati. Tidak gelap mata asal serang yang justru akan membinasakan manusia lainnya. Barangkali di sinilah perbedaan antara manusia dan mesin. Seperti juga ditegaskan di bagian akhir cerita. Adanya hati, perasaan yang dimiliki manusia. Sesuatu yang tak pernah bisa dimiliki oleh mesin bagaimanapun hebatnya. Program, sistem, chip, apapun yang bisa mewakili hati dan perasaan tak pernah bisa diciptakan untuk kemudian ditanamkan ke mesin-mesin itu.
Namun, kekhawatiran lambat laun mengemuka juga. Bagaimana bila manusia sudah tidak menajamkan rasanya? Pekerjaan, rutinitas, rasa-rasanya perlahan namun pasti telah mengubah sedikit demi sedikit menusia menjadi semacam robot. Kekuatan modal telah cukup untuk mengubah menusia menjadi sekadar alat-alat produksi tak ubahnya mesin, tak ubahnya robot. Saat jeda kian sulit ditemukan kapan saatnya. Ketika menghela nafas pun barangkali ada undang-undangnya. Manakala mengeluh saja harus menaati peraturan—padahal untuk mengeluhkan peraturan, misalnya. Maka bersiaplah, tak lama lagi nampaknya sebuah kota akan dikuasai oleh mesin.
Oiya, jangan lupa, sobat, sebelum itu terjadi nanti, maka bersiap-siaplah dengan sebuah nama berbau mesin untuk Anda sendiri. Sudah ketemu nama itu?
Perihal Lantai
Jun 12th
Aneka macam jenis penutup lantai, mulai dari plastik untuk menutupi kayu-kayu seperti di kos saya sekarang, sampai dengan jenis keramik yang sangat mahal harganya. Di kos saya ini, lantainya terbuat dari kayu. Lokasinya yang di lantai dua sepertinya hanya tambahan saja dari rumah utama. Artinya: sedari mula bagian rumah ini tak direncanakan. Barangkali seiring berjalannya waktu ditambahkanlah lantai dua ini diperuntukkan sebagai kos-kosan.
Guna menutupi kayu-kayu tersebut, digunakanlah semacam plastik yang mirip dengan plastik penutup meja saat Anda memasuki warteg atau pecel lele, hanya berbeda pada motifnya saja. Pada mulanya saya menginjakkan kaki di sini, saya sudah tahu bila itu bukanlah keramik melainkan plastik. Penandanya adalah lantai yang berderak-derak saat diinjak. Bahkan, karena khawatir runtuh saya mencoba menginjaknya kuat-kuat sampai Ibu kos berkata, “Tidak apa-apa, itu kuat, kok.”
Saya yang lumayan sering berpindah-pindah kos dari kota ke kota cukup hapal dengan penutup lantai. Mengerti bahwa jenis penutup lantai tertentu akan memengaruhi harga sewa. Lebih jauh, penutup lantai akan melengkapi beberapa persyaratan lain seperti: luas kamar dan ketersediaan kamar mandi dalam.
Saat diperhatikan lagi, penutup lantai dari satu rumah ke rumah yang lain akan berbeda-beda. Mungkin selain tergantung selera, kemampuan finansial juga memengaruhi pemilihan jenis lantai ini. Kesejahteraan sebuah keluarga bisa ditentukan dari jenis lantai. Hal ini, terbukti dari adanya survey BPS—bila saya tidak salah ingat—dan kuesioner yang harus saya isi mengenai jenis lantai di rumah, sewaktu saya kuliah dulu.
Di kampung saya, masih ada rumah-rumah berlantai tanah. Terkadang begitu berdebu sehingga jangan heran bila tuan rumah membuang sisa teh dari gelas atau air putih dalam teko ke lantai. Bukan jorok, namun tujuannya agar lantai basah dan mengurangi sedikit debu. Pada jenis lantai ini harap berhati-hati sedikit saaat melangkah, karena seringkali permukaannya tidak rata. Pada beberapa bagian ada yang menggelembung membentuk tonjolan pun sebaliknya ada yang membentuk cekungan. Bukan suatu masalah untuk tuan rumah yang sudah hapal betul di mana yang menonjol dan di mana yang cekung. Tapi, tentu tak sama bagi para tamu yang datang karena bisa-bisa kaki terantuk tonjolan atau keseleo saat menginjak bagian yang cekung.
Hal yang umum sekarang ini dalah lantai keramik. Terkesan rapi, bersih dan makmur sebuah rumah bila penutup lantainya menggunakan jenis ini. Namun, bukan berarti masalah selesai dengan tiadanya tonjolan dan cekungan di lantai keramik. Karena, kebersihan lantai harus terus-menerus dijaga atau banyak debu yang akan memberikan lapisan tipis di atasnya dan justru terlihat sangat kotor. Aneka rupa jenis cairan pembersih pun banyak tersaji di pasaran, bahkan ada yang tidak hanya membersihkan namun juga menghilangkan kuman.
Terkadang keramik—atau apalah namanya saya kurang tahu—tidak hanya menutupi lantai. Benda yang sama akan merambah dinding-dinding. Ini bisa dilihat di rumah-rumah juga sekolah dan kantor. Dinding yang biasanya cukup dilapisi cat aneka warna kini tertutup keramik. Maka, mudah ditemukan rumah yang bersih, berkilat-kilat, cling!
Khusus di sekolah, seseorang pernah berkata bahwa keramik di dinding bertujuan untuk menjaga kebersihan sekolah. Anak-anak kecil atau yang sudah lebih besar ternyata masih saja ada yang jorok. Sehabis memakan gorengan atau jajan, bukannya tissue atau lap yang digunakan untuk membersihkan minyak yang menempel malah tembok yang kena sasaran. Penggunaan keramik dapat menghindari tembok dari noda-noda minyak itu atau kotoran lain yang sukar dibersihkan bila dinding hanya dilapisi cat.
Produsen keramik juga tak kurang akal. Dibuatlah kerami dengan motif tertentu seperti gambar ka’bah, bunga atau hewan. Kini dinding rumah pun menjadi kian indah karena adanya sekumpulan keramik yang menampilkan gabar tertentu. Lain halnya di kantor, selain lantai yang tentu saja ditutup dengan keramik, ada bahkan yang sekujur tubuh gedung dilapisi keramik. Wuah, gagah sekali nampaknya, walaupun untuk membersihkannya sangat sukar nampaknya dan mahal pastinya. Bagaimana tidak bila—saya pernah melihat—para tukang bersih-bersih keramik itu harus bergelantungan lengkap dengan tali-temali dan peralatan yang tak kalah lengkapnya dengan pemanjat tebing.
Lantas, bagaimana dengan penutup lantai di rumah Anda, apakah sekarang ini telah bisa digunakan untuk bercermin?
–Keterbatasan pengetahuan membuat saya hanya tahu keramik, padahal barangkali banyak jenis yang lain, maka mohon tambahan informasinya, ya.–
Sridewanto Edi/060609




