Simon Sinek: Tentang Kegagalan Samuel Pierpont Langley

Tahukah Anda, siapa itu Samuel Pierpont Langley?

Langley

Di awal abad ke 20, saat itu semua orang mencoba untuk terbang. Pak Langley, kala itu memiliki apa yang tampak seperti resep kesuksesan.

Saat itu, Langley menerima dana 50.000 dolar dari Departemen Pertahanan untuk menciptakan ‘mesin terbang’. Dia memiliki tempat kerja di Harvard dan juga bekerja di Smithsonian. Selain itu, dia juga terhubung dengan orang-orang terpintar di zaman itu. Dia merekrut orang terpintar yang dapat dibayarnya. Pada saat itu, kondisi pasar juga sangat bagus. Media seperti New York Times mengikuti kemana pun Langley pergi. Sementara itu, hampir semua orang ingin berhubungan dan terlibat dengan Langley.

Namun, kenapa kita tak pernah sekali pun mendengar mengenai Samuel Pierpont Langley?

Beberapa mil di Dayton, Ohio, dua bersaudara Wright, yakni Orvill dan Wilbur Wright memiliki apa yang tak pernah kita pikirkan tentang resep sebuah kesuksesan. Mereka tak memiliki uang, maka dengan uang hasil dari toko sepedanya, mereka membayar mimpi. Dalam tim yang dibentuk oleh Wright bersaudara, tak ada satupun yang mengenyam pendidikan di universitas, termasuk juga mereka berdua. Keduanya juga tak pernah diikuti oleh media, termasuk New York Times.

Perbedaan di antara Samuel dan Wright bersaudara adalah adanya alasan yang kuat, serta adanya tujuan dan kepercayaan pada Wright. Mereka percaya, kalau dapat menemukan ‘mesin terbang’ ini, maka akan menjadi awal bagi perubahan dunia.

Di sisi lain, Langley memiliki motif yang berbeda. Dia ingin kaya dan terkenal. Dia mengejar hasil berupa kekayaan dan kepopuleran.

Sementara itu, orang yang percaya dengan duo Wrights bekerja bersama dengan menyumbang darah, keringat, dan air mata. Akhirnya, pada 17 Des 1903, dua kakak beradik Wright terbang dan bahkan tak ada orang yang mengetahuinya. Kita baru mendengar capaian Wright tersebut setelah lewat beberapa hari.

Bukti lain bahwa motivasi Langley keliru adalah dia berhenti tepat pada hari Wright bersaudara terbang. Padahal sebenarnya dia bisa berkata, “Itu penemuan yang sangat hebat, kawan, dan aku akan meningkatkan teknologinya.” Sayangnya, dia tak melakukan itu. Dia tak menjadi yang pertama, tak juga berubah jadi kaya apalagi terkenal, maka dia berhenti.

“People don’t buy what you do; they buy why you do it.”

Jika apa yang dibicarakan adalah hal yang Anda percaya, maka mereka yang memiliki kepercayaan yang sama akan terpanggil.

Sumber gambar dari sini

Sumber tulisan dari sini:

Simon Sinek: Kekuatan ‘Kenapa’

Kenapa Apple sangat maju dalam berinovasi?

Kenapa Martin Luther King begitu berkarisma saat memimpin warga kulit hitam?

Kenapa dua bersaudara Wrights menemukan cara untuk terbang?

Ada satu pola yang diterapkan para pemimpin besar dunia, mereka berkomunikasi dengan media yang sama, namun sekaligus juga sangat berbeda. Simon Sinek membuat kodifikasi bagaimana para pemimpin dunia tersebut berkomunikasi. Model atau kodifikasi itu disebut sebagai Lingkaran Emas (golden circle).

Golden_Circle

Di dunia ini, banyak orang tahu ‘apa’ yang mesti dilakukan (what), sebagian di antara mereka tahu ‘bagaimana’ (how) mereka melakukan hal tersebut. Namun, sangat sedikit orang atau organisasi yang mengetahui ‘kenapa’ (why) mereka melakukan hal itu.

Dengan mengetahui ‘kenapa’, tak selalu berujung pada keuntungan. Namun, lebih dari itu, kita bisa memahami hasil/produk dari yang kita lakukan. Selain itu, kita juga dapat mengerti tujuan, penyebab, dan kepercayaan.

Satu contoh kecil yang berkaitan dengan ‘kenapa’ adalah: tahukah kenapa organisasi Anda berdiri?

Bila Anda melihat di golden circle, secara umum, orang kebanyakan akan berpikir dari luar ke dalam, dari ‘apa’ kemudian ‘kenapa’, dari yang jawabannya paling jelas ke yang paling rumit. Di lain pihak, seorang pemimpin besar berpikir dari dalam keluar, dari ‘kenapa’ ke ‘apa’, dari yang paling rumit ke paling mudah.

Kata Sinek, “Orang tidak membeli produk (apa) yang Anda hasilkan, mereka membeli karena ingin tahu, kenapa Anda menghasilkan produk tersebut.” Tujuan akhirnya adalah tidak untuk berbisnis dengan orang yang mengetahui apa yang Anda miliki. Tujuannya adalah untuk membangun bisnis dengan orang yang percaya dengan apa yang Anda percayai.

‘People don’t buy what you do, they buy why you do it?’ The goal is not doing business with anybody who knew what you have, the goal is to do business with people who believe what you believe.

Golden circle tersebut selaras dengan suatu teori dan praktik dalam pelajaran biologi. Obyek kajiannya adalah otak manusia. Jika Anda membelah otak dan melihatnya dari atas ke bawah, otak kita terdiri dari tiga komponen. Pertama adalah bagian terluar, yaitu Neocortex. Ini adalah bagian otak yang berhubungan dengan level ‘apa’. Neocortex bertanggung jawab mengenai semua hal yang bersifat rasional, analytical, dan bahasa.

Dua komponen lain di bagian tengah disebut sebagai bagian Limbic. Ini adalah bagian otak yang berhubungan dengan ‘bagaimana’. Bagian ini bertanggung jawab mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan perasaan, seperti kepercayaan dan kesetiaan. Selain itu, bagian ini juga berhubungan dengan perilaku manusia dan proses pengambilan keputusan. Namun sayangnya, bagian otak ini tidak mengetahui mengenai bahasa.

Kekurangan bagian Limbic menyangkut bahasa menjadi suatu hambatan saat kita ingin berbicara dari luar ke dalam. Kita memang mengetahui apa topik pembicaraan, namun tak pernah menjadi kebiasaan (habit). Sebaliknya, bila kita bicara dari dalam keluar, maka kita langsung bersinggungan dengan bagian otak yang berperan dalam perilaku dan kemudian merasionalisasinya di bagian terluar. Akhirnya, dari sinilah keberanian untuk mengambil keputusan akan muncul.

Barangkali Anda sering berada dalam kondisi saat kita sudah menyodorkan berbagai fakta dan angka, namun kita merasa ada sesuatu yang salah. Perhatikan pada kalimat ‘Ada sesuatu yang salah’. Kenapa kalimat itu harus muncul? Jawabannya adalah, karena bagian otak yang mengambil keputusan tidak bisa mengontrol bahasa atau tidak bisa menerjemahkannya ke dalam kata-kata. Akhirnya kita biasanya akan berkata, “Saya kurang tahu apa yang menyebabkannya, namun rasanya masih ada yang salah.”

Anda harus tahu kenapa sesuatu dilakukan, satu produk diciptakan, alasan di balik segala tindakan dan keputusan diambil. Jika Anda sampai tak tahu alasan di balik suatu tindakan, maka orang lain pun akan meresponnya dengan kebingungan. Pada kondisi tersebut, kecil kemungkinan bagi Anda untuk bisa mengajak orang lain untuk percaya, membeli, atau setia dengan Anda. Selanjutnya, sangat sulit mengajak orang lain menjadi bagian untuk turut serta dalam apa saja kegiatan yang sedang Anda lakukan.

Simon Sinek mengingatkan sekali lagi, bahwa tujuan Anda bukanlah untuk menjual kepada orang lain apa yang Anda miliki. Tujuannya adalah menjual kepada orang-orang yang tepat yang percaya kepada apa yang Anda percayai.

Tujuan itu lebih lanjut bukanlah hanya sekadar merekrut seseorang yang membutuhkan pekerjaan. Namun, mengajak mereka yang percaya dengan apa yang Anda percayai. Menurut Simon, jika Anda merekrut seseorang hanya karena dia bisa melakukan tugasnya, mereka akan bekerja hanya untuk uang Anda. Di sisi lain, bila Anda merekrut seseorang yang mempercayai apa yang Anda percaya, mereka akan bekerja untuk Anda sekuat tenaga, menyerahkan darah, keringat dan air matanya.

Secara lengkap, paparan Simon Sinek dapat disaksikan pada tautan berikut ini:

Adam Baker: Kemerdekaan Pribadi

Freedom

Apa arti kemerdekaan bagi Anda?

Adam Baker memiliki cerita dan tahap demi tahap untuk menggapai kemerdekaannya sendiri.

Malam itu, dia baru saja pulang dari rumah sakit paska kelahiran putri pertamanya. Sebagai seseorang yang masih muda dan serba kekurangan, maka kehadiran sebuah mulut lagi menjadi beban tersendiri.

Kesulitan tersebut Adam diskusikan dengan istrinya. Dari diskusi tersebut, barulah mereka menyadari arti penting untuk tahu terlebih dahulu apa yang benar-benar diinginkan. Selama ini, mereka tak pernah memikirkan hal tersebut. Mereka terutama tak paham mengenai bagaimana sejatinya kehidupan keuangan mereka.

Menurut Baker, hal itu terjadi karena sistem yang sudah terbentuk selama ini. Sistem itu mengajarkan, ketika sudah punya apartemen, maka saat ada tambahan anggota keluarga baru tentu akan perlu rumah yang lebih besar. Rumah baru tersebut tentu tak akan diisi dengan barang-barang lama dari rumah sebelumnya. Barang-barang baru segera dipesan untuk melengkapi apartemen yang baru.

Kembali kepada pertanyaan, ‘apa arti kemerdekaan bagi Anda’, sebisa mungkin haruslah dijawab sendiri. Bila Anda tak bisa menjawabnya, maka ada pihak lain yang akan membantu menjawab, yaitu toko, pengiklan, pemerintah dan lainnya. Pada ujungnya Anda kembali harus mengeluarkan uang untuk membayar semuanya itu.

Siklus yang terjadi pada seseorang kurang lebih adalah sebagai berikut: Anda bersekolah, kemudian memperoleh ijazah. Bermodalkan ijazah tersebut, kemudian Anda bekerja, berlanjut dengan membeli sebuah apartement. Tak lama, putra atau putri pertama Anda pun lahir, sehingga dirasa perlu untuk membeli aparteman lebih besar. Pada saat itu, Anda juga sudah sibuk berpikir barang apa yang diperlukan untuk mengisi apartemen baru. Begitulah siklus itu terus berputar.

Setelah diskusi selesai, Adam dan istri pun ingin lepas dari semua barang dan belenggu kenyamanan lain yang ada di aprtemennya. Mereka ingin bebas dari jebakan keinginan yang terus memerangkap. Keduanya kemudian memutuskan untuk menjadi backpacker ke Australia lengkap dengan bayinya yang baru lahir.

Sungguh tidak mudah untuk mengambil keputusan itu, ada ketakutan yang hinggap saat harus pergi dengan uang saku terbatas dan hanya dilengkapi dengan dua tas punggung. Akhirnya dengan setengah nekad mereka pun bisa sampai di Sydney.

Mereka memulai petualangannya mengunjungi tempat-tempat yang berbeda di Australia. Sambil terus berjalan, dia menyadari bahwa mereka harus hidup untuk memenuhi keinginan mereka sendiri.

Adam menyarankan agar kita memeriksa gudang dan mulai menjual menjual barang-barang yang tak lagi dipakai. Sebab, kebiasaan kita adalah menumpuk barang dan menjadikannya seperti sarang, terus menumpuk barang-barang yang sejatinya tidak kita perlukan.

Barang-barang itu bisa saja dititipkan di tempat penyimpanan dengan membayar sewa. Namun, setelah disimpan di tempat lain, kita pun akan mulai membeli barang lain untuk kembali mengisi rumah kita.

Adam bilang, semakin banyak barang bukan berarti semakin aman. Kita cenderung mengidentifikasi diri kita dengan barang-barang yang bersifat fisik. Padahal barang tersebut tidak selalu menjamin keamanan finansial kita meskipun barangkali menambah kenyamanan.

Bila Anda sudah bisa terbebas dari barang-barang tersebut, maka Anda mulai bisa terbebas dari kerakusan dan hobi membeli barang dan mengisi rumah.

Tak lupa, Adam mengingatkan, apa sebenarnya yang harus kita kumpulkan? Lebih banyak barang yang kemudian tidak kita pakai atau mengejar pengetahuan?

Dalam paparannya, dia juga menjelaskan mengenai lingkaran setan yang membelenggu kita. Lingkaran tersebut terdiri dari kerja, membeli barang, dan berhutang. Kita bekerja lebih keras untuk membayar hutang, sekaligus membeli barang, dan berhutang lagi.

Pada akhirnya selalu berujung pada bekerja lebih keras. Hal ini bukan menjadi masalah yang besar atau justru mengasyikkan bila kita menyukai bidang pekerjaan yang kita pilih. Sayangnya, tak jarang pekerjaan kita sekarang adalah profesi yang kita benci. Bila kita berada dalam kondisi seperti ini, maka tak jarang kita akan menderita stres.

Saat stres itu datang, maka kita mempunyai dua jalan keluar, yaitu: makan dan belanja. Kita membenarkan tindakan itu karena merasa kita sudah bekerja sangat keras dan layak untuk makan atau belanja. Namun, kadang kita tak punya uang sehingga harus kembali berhutang. Akhirnya menjadi bola salju yang mengulang dan memperhebat lingkaran setan.

Adam mengutip salah satu perkataan dari Nigel Marsh, “There are thousands and thousands of people out there living lives of quiet, screaming desperation who work long, hard hours, at jobst they hate, to enable them to buy things they don’t need to impress people they don’t like.” Sungguh benar pernyataan tersebut, karena memang banyak di antara kita yang bekerja sangat keras dengan jam kerja panjang pada bidang pekerjaan yang dibenci, hanya agar bisa membeli barang-barang yang tidak diperlukan agar memberi kesan pada orang yang tidak kita sukai.

Nah, jika Anda sudah memutuskan untuk mengumpulkan pengalaman dan bukannya barang-barang yang tidak kita perlukan, maka Anda bisa menggapai kemerdekaan yang Anda impikan. Berikut ini beberapa langkah yang Adam sarankan:
Menjual barang-barang yang tak terpakai
Bayar hutang Anda
Lakukan hal yang Anda sukai

Tiga langkah tersebut adalah jalan menuju keamanan finansial dan sekaligus kemerdekaan Anda. Setelah Anda bisa melakukan hal tersebut, mungkin Anda bisa menjawab pertanyaan, “Apa arti kemerdekaan bagi Anda?”

Guna melihat penampilan Adam Baker saat memberikan penjelasannya, Anda bisa mengakses video berikut ini:

 Sumber gambar dari sini

Tentang Fantasi: George RR Martin

Fantasi terbaik ditulis dalam bahasa mimpi. Fantasi tersebut hidup, selayaknya mimpi yang juga hidup, lebih nyata daripada kenyataan, setidaknya untuk waktu yang singkat, sebuah saat yang ajaib sebelum kita terbangun.

Fantasi adalah silver dan merah saga, nila dan biru langit, batu obsidian yang dilapisi emas dan permata lazuli. Kenyataan adalah kayu lapis dan plastik yang berwarna coklat dan menjemukan. Fantasi terasa seperti madu, kayu manis, cengkeh, daging merah yang langka dan khamar yang manis seperti musim panas. Kenyataan adalah kacang dan tahu, serta menjadi abu di akhirnya. Kenyataan adalah mall bergaris yang ada di Burbank, cerobong asap di Cleveland, serta tempat parkir di Newark. Fantasi adalah menara di Minas Tirith, batu-batu kuno di Gormenghast, aula di Camelot. Fantasi terbang di sayap Icarus, kenyataan di Soutwest Airlines. Kenapa mimpi kita menjadi begitu tak berarti ketika mereka menjelma menjadi kenyataan?

Saya kira, kita membaca fantasi untuk menemukan warna-warna, merasakan bumbu-bumbu yang kuat dan nyanyian sirine. Ada sesuatu yang antik dan nyata dalam fantasi, berbicara mengenai sesuatu yang dalam dan tersembunyi dalam diri kita. Serupa seorang anak kecil yang bermimpi bahwa suatu hari dia akan berburu di hutan pada suatu malam dan berpesta di bawah bayangan bukit serta menemukan cinta yang abadi di suatu tempat di selatan Oz atau utara Shangri-La.

Mereka dapat memeluk surganya. Ketika saya mati, segera saya akan pergi ke Middle Earth.

Sumber dari sini

Saat Anda tak suka dengan pekerjaan

Banyak orang yang tak menyukai pekerjaannya sekarang. Barangkali Anda termasuk satu di antaranya.

Banyak alasan kenapa seseorang tak betah dengan profesinya. Salah satu contohnya adalah karena lingkungan pekerjaan yang tidak nyaman. Bos Anda adalah seseorang yang menyebalkan, teman Anda pun tak menyenangkan, Anda benci dengan toilet di kantor, dll.

Permasalahannya, Anda tak bisa dengan gampang untuk berpindah pekerjaan. Hal ini disebabkan karena keahlian Anda sudah pas dengan posisi Anda sekarang. Selain itu, tak banyak lowongan pekerjaan yang sesuai untuk Anda.

Anda pun kemudian harus menyesuaikan diri dan menerima keadaan. Betapa tidak menyenangkannya pekerjaan Anda, namun karena berbagai sebab Anda tetap harus menjalaninya. Konsekuensi dari hal tersebut adalah sebisa mungkin Anda melakukan adaptasi. Pada saat yang sama, Anda juga berlatih menerima berbagai kondisi yang tak sesuai dengan keinginan Anda. Adaptasi dan menerima, kita rasanya sudah terbiasa dan ahli untuk melakukannya, bukan?

Tak jarang Anda merasa iri melihat profesi orang lain dan betapa mereka menikmatinya. Menjadi pramugari sepertinya menarik, menjadi penulis rasanya sungguh membanggakan, tukang rokok kok tampaknya damai dan bisa bersantai. Diam-diam Anda memimpikan pekerjaan tersebut, sudah timbul keinginan dalam diri Anda untuk beralih profesi.

Saya memiliki pengalaman menarik manakala menyaksikan seorang pramugari beraksi.

Seperti juga Anda, saya pun membayangkan sungguh menyenangkan menjadi seorang pramugari yang bisa terbang ke mana pun, melihat tempat-tempat baru, bertemu banyak orang, selalu rapi, bersih dan wangi. Saya dengar gajinya pun menggiurkan nilainya. Siapa yang tak tertarik dengan segala hal tersebut?

Saya baru tahu betapa beratnya pekerjaan pramugari dalam penerbangan antara Padang-Jakarta beberapa waktu lalu.

Saat itu pesawat sudah mengangkasa dan tiba masanya bagi para pramugari untuk menyajikan makanan kepada para penumpang. Kebetulan saat itu memasuki daerah yang cuacanya buruk. Terang saja pesawat pun bergejolak menyesuaikan dengan kondisi sekitar.

Di dalam pesawat, saya yang duduk dan sudah memasang sabuk pengaman kencang-kencang pun merasa khawatir dan takut. Bila tak malu, ingin rasanya saya berteriak atau membaca doa keras-keras.

Nah, pada kondisi tersebut, pramugari yang mendorong trolley makanan itu tetap melakukan aksinya. Mereka berdiri dengan tak tenang, sesekali harus memegang kursi. Terlihat begitu repot saat ingin menuangkan minuman atau mengambil makanan. Di tengah semua itu, mereka harus tetap tersenyum saat melayani para penumpang yang ketakutan.

Saya kira sungguh tak mudah dan susah dilakukan saat Anda takut, ingin berteriak, dan barangkali gemetar, namun harus tetap tersenyum dengan manis.

Saat pekerjaan kita terasa berat, barangkali tiba saatnya untuk melihat pekerjaan orang lain. Bukan hanya menyaksikan berbagai hal yang menyenangkan, namun intip juga berbagai tantangan yang harus mereka hadapi.

Saya kira, tak ada pekerjaan yang mudah.

Manfaat Bersepeda untuk Semua

Bersepeda secara masal dapat menghemat layanan biaya kesehatan 17 milyar poundsterling, mengurangi 500 kematian di jalan dan mengurangi polusi. Demikian hasil sebuah penelitian baru untuk ‘British Cycling’.

“Banyak orang tak ingin bersepeda serta ada juga yang tak bisa bersepeda, lalu apa gunanya ada jalur khusus sepeda?” Demikian sering ditanyakan oleh sebagian orang.

Jawaban pertanyaan tersebut tentu saja banyak dan berlimpah. Namun, sungguh mudah untuk menyanggah jawaban-jawaban itu. Syukurlah, seseorang bisa menjawab dengan mudah dan gampang diikuti. Dr. Rachel Aldred, seorang sosiologis dan ahli transportasi, terutama bersepeda dari Universitas Westminster adalah orang tersebut.

Dia diminta oleh ‘British Cycling’ lembaga sepeda di Inggris sana untuk mempelajari dengan teliti berbagai penelitian dari seluruh dunia dan merangkum apa saja keuntungan yang mungkin diperoleh bila Inggris menjadi negara dengan jumlah pesepeda yang banyak seperti halnya Belanda atau Denmark.

Dokumen setebal 24 halaman dengan dilengkapi oleh sebuah infografik diterbitkan bersamaan dengan debat di Parlemen Inggris tentang perkembangan implementasi dan rekomendasi laporan Britain Cycling tahun lalu.

Mari kita berandai-andai berdasarkan dokumen tersebut ketika di masa depan 20% perjalanan dilakukan dengan sepeda. Hidup akan jauh lebih mudah bagi pesepeda. Jika bersepeda di Inggris sama amannya dengan di Belanda, tulis Dr. Alfred, maka akan menyelamatkan hidup sekitar 80 pesepeda dalam setahun. Jumlah yang bunyak, namun sebenarnya itu baru awalnya saja.

Perubahan dari perjalanan menggunakan mobil ke sepeda meningkatkan keamanan untuk semua, bukan hanya pesepeda. Sebuah penelitian bahkan mengungkapkan, bahwa perubahan ke mode transportasi menggunakan sepeda dapat menyelamatkan 500 nyawa setahunnya.

Kemudian, dampak bersepeda pada sektor kesehatan masyarakat. Inggris seperti kebanyakan negara maju yang berpusat pada mobil, menghadapi epidemi penyakit yang berhubungan dengan kegemukan dan kemalasan bergerak serta dua tipe diabetes yang bisa menyebabkan negara bangkrut.

Berikut ini kesimpulan penelitian Dr. Alfred:

Jika jumlah warga Inggris dan Wales yang bersepeda dan berjalan sebanyak warga Copenhagen, Denmark, maka layanan biaya kesehatan bisa dihemat 17 milyar poundsterling dalam dua puluh tahun.

Masih ada keuntungan bagi kesehatan, yaitu dengan berkurangnya polusi. Alfred menyimpulkan:

Mengubah 10% perjalanan jarak pendek dari mobil ke sepeda, di Inggris dan Wales di luar London, dapat menyelamatkan lebih dari 100 kelahiran prematur per tahun.

Sedikit mobil berarti sedikitnya polusi suara. Sebuah penelitian di Canada yang dikutip dalam laporan tersebut mengatakan, orang yang hidup di area yang terdampak bunyi kendaraan menderita 22% risiko kematian akibat serangan jantung daripada mereka yang tinggal di daerah yang sepi.

Dr. Aldred tak lupa juga menyebutkan bahwa bersepeda secara masal dapat meningkatkan kesejahteraan. Ini adalah sektor di mana banyak pekerjaan harus dilakukan, namun sebuah penelitian mengemukakan, bahwa orang yang bekerja menggunakan sepeda memiliki tingkat stres yang lebih rendah daripada mereka yang menggunakan mobil. Lebih jauh lagi, penelitian lain mengatakan bahwa daerah perkotaan yang memiliki lebih sedikit kendaraan biasanya akan hubungan antar warga akan lebih dekat dan ramah.

Bersepeda juga memicu kemandirian pada anak-anak dan remaja. Sekitar setengah murid sekolah dasar di Belanda mengendarai sepeda dibandingkan hanya satu 1% di Inggris.

Sepeda juga membantu lansia dari isolasi dan menjaga kesehatan fisik dan mental beliau-beliau ini. Saat penulis bertemu dengan Dr. Adler baru-baru ini, dia menunjukkan bukti yang tidak dimasukkan ke dalam laporan, bahwa di Belanda, sekitar 20% orang yang berusia 80-84 tahun masih bersepeda secara rutin.

Bagaimana dampak dalam bidang ekonomi? Ada asumsi, bahwa tanpa mobil maka perekonomian akan wafat. Asumsi tersebut keliru, karena di New York, ketika diterapkan sistem jalur sepeda yang terpisah, dikhawatirkan perekonomian di sepanjang jalur sepeda tersebut akan terdampak. Namun, alih-alih berkurang, perekonomian justru meningkat 14%.

Berdasarkan penelitian tersebut, banyak sekali manfaat mengubah gaya hidup bermobil ke bersepeda. Di antara keuntungan tersebut adalah: sebuah negara atau kota yang penduduknya bersepeda lebih sehat, lebih bahagia dan bersosialisasi, tak ada isolasi, kurangnya polusi, lebih aman, dan lebih manusiawi pada mereka yang berusia lanjut atau anak-anak. Sekitar 1.500 pejalan kaki di bawah 16 tahun dan sekitar 300 pesepeda meninggal dunia atau terluka tiap tahun di Inggris. Sudah saatnya kita membangun berkilo-kilometer jalur sepeda yang terpisah dan aman.

Sumber tulisan diterjemahkan dan dirangkum dari sini

Bagaimana Foto yang Keren itu?

Menurut Anda, mana yang lebih keren dan menggemparkan: foto berlatar belakang Menara Eifel di Paris, Prancis, ataukah foto berlatar belakang Tugu Monas, di Jakarta, Indonesia?

Banyak sahabat yang berkesempatan mengunjungi kota-kota eksotis, indah, canggih, nan memukau di seluruh dunia. Beliau-beliau ini kemudian memamerken setiap detail perjalanannya melalui entah itu foto, keluhan, seruan atau apa pun itu di akun media sosialnya. Kawan beliau pun berkomentar, saling balas, ada yang iri, ada yang bercita-cita, ada yang bahkan sudah pesan tiket untuk perjalanan lain yang pastinya lebih keren dan memukau.

Sahabat lain ada pula yang berkesempatan berfoto di Ibu Kota Jakarta yang panas, macet, gedung tingginya makin bikin panas, bus super panjangnya makin bikin macet tapi tetap memukau bagi sahabat itu. Beliau ini pun berfoto dengan latar belakang, misalnya Tugu Monas, atau sebuah gedung yang hampir ambruk di Kawasan Kota Tua. Foto itu, kemudian akan dipasang di ruang tamu rumahnya. Bila ada kawan yang bertandang dan melihat foto itu, beliau akan dengan senang hati nyerocos bercerita, bahkan tanpa diminta.

Kedua foto dengan latar belakang yang berbeda itu keren. Dua gambar yang dipajang di sosial media dan dinding ruang tamu itu sangat berharga bagi pemiliknya. Baik yang dicetak, maupun yang diunggah, kedua foto tetaplah membuat iri dan rasa ingin tahu kawan-kawan mereka.

Foto itu hanya dianggap biasa dan memuakkan bagi beberapa orang berikut ini. Pertama, warga negara Paris yang sudah bosan melihat Menara Eifel dan sekaligus manusia yang berfoto dengan latar belakang menara itu. Kedua, warga Jakarta atau pendatang yang tinggal lama di Jakarta dan sudah muak dengan kotanya dan mendambakan berwisata ke Paris.

Sebuah foto sangatlah sukar untuk diukur tingkat keren dan tidaknya. Hal itu dipengaruhi oleh banyak faktor. Saya kira yang bisa kita lakukan adalah biasa-biasa saja, tak perlu memuji berlebihan pada kawan yang sudah pernah mengunjungi Pyramid, tak juga mencibir beliau yang bermain di Ancol.

Kalau kebutuhan pokok kita hanyalah udara, air, makanan, dan pakaian yang cukup, maka tak usah risau bila belum pernah naik pesawat.

Pentingnya Bermain untuk Kita

play_in_the_workplace

Hidup kita telah menjadi urusan yang sangat serius. Namun, penelitian terbaru menunjukkan, bahwa jalan keluar dari hidup yang terlampau serius adalah dengan lebih banyak bermain. Jadi, keluar dan bermainlah.

Barangkali di masa kecil Anda adalah orang yang senang bermain. Kemudian Anda bersekolah dan menemukan, bahwa pekerjaan rumah, tugas, serta ujian mulai menyita perhatian. Saat itu Anda masih mencoba untuk tetap bermain dengan misalnya mendengarkan atau bermain musik yang disukai, namun rupanya ini pun menjadi berubah menjadi satu hal yang serius. Waktu berjalan dan datanglah masa media sosial, kemudian Anda pun mulai asyik bermain dengan fasilitas baru ini, tapi lambat laun Anda pun menjadi terlampau serius dengannya.

Kendati begitu, Anda tak letih untuk terus mencoba mainan baru. Sebab, kita semua adalah petualang yang senang dan tertantang dengan hal baru. Anda terus mencoba dengan cara tersendiri, biarpun misalnya Twitter membuat Anda seperti seorang petualang yang mesti bersembunyi dari ganasnya piranha di suatu sungai. Namun, bukankah begitu menyenangkan saat menemukan syaraf-syaraf Anda menegang karena debar di dada saat Anda bermain-main itu?

Bermain dan membiasakan diri untuk terus melakukannya bukan hanya menyenangkan, namun kegiatan tersebut juga bahan dasar untuk menjaga agar mental tetap sehat.

Dalam Bahasa Inggris, ‘play’ atau bermain antonimnya adalah ‘work’ atau bekerja. Namun, kegiatan bermain itu sendiri sangatlah kompleks. Seorang Psikiatris, Dr. Stuart Brown menjelaskan, bahwa antonim bermain bukanlah bekerja, namun depresi! Dr. Brown sudah bertahun-tahun meneliti tentang sejarah bermain dari pasiennya, mereka adalah para pemuda pembunuh yang tidak memiliki sejarah bermain. Dr. Brown percaya, bahwa bermain apapun jenis permainan tersebut dari yang rumit sampai dengan sederhana sangatlah penting untuk perkembangan otak. “Tak ada yang bisa mencerahkan otak seperti bermain.” Kata Dr. Brown.

Kita tahu permainan secara alami berdasarkan insting sebagai seorang anak yang sedang tumbuh. Namun, studi menunjukkan bahwa orang dewasa pun perlu bermain dan menjadi pribadi yang suka bermain. Memprioritaskan bermain bagi orang dewasa terdengar sembrono, karena kita hidup di zaman yang penuh dengan masalah dan ketidakadilan. Akan tetapi, masalah memerlukan solusi yang kreatif. Apakah bermain dapat membantu kita menemukan solusi tersebut? Bagaimana bila bermain adalah salah satu jalan keluar dari berbagai masalah itu? Dr. Brown adalah salah satu peneliti yang menyarankan hal itu. Ahli lain seperti Einstein pun berkata, “Bermain adalah bentuk tertinggi dari penelitian.” Kemudian bila merunut ke belakang, Archimedes pun berseru “Eureka!” di kamar mandi, bukannya di laboratorium.

Kita meyakini, bahwa kita terlalu sibuk untuk melakukan suatu permainan. Budaya kita memberikan nilai lebih pada ‘kesibukan’, ini cara kita untuk mengukur kesuksesan. Pernah pada suatu masa ukuran kesuksesan adalah alasan religius, yang ‘berjasa’ dan ‘tidak berjasa’; kini politisi membagi produktivitas menjadi: ‘pencari kerja’, ‘pekerja miskin’, ‘pekerja untuk keluarga’. Kesibukan telah menggantikan alasan religius, namun hal baru tersebut tak juga menolong kita seperti hal lama.

Bermain bukan menunjukkan kemalasan, sebaliknya hal ini sangat berguna. Ini adalah bentuk rekreasi dengan penekanan dua suku kata terakhir: kreasi. Bermain sangat diperlukan oleh manusia dan baik untuk individu. Sebuah budaya yang mendorong kegiatan ini akan mendapatkan banyak manfaat. Denmark, sebagai negara paling bahagia di dunia adalah contohnya. Kemudahan dalam bekerja dan penitipan anak yang terjangkau berarti lebih banyak waktu luang. Ini juga menandakan adanya kesetaraan gender dan budaya ‘kerja untuk hidup’. Dengan dilakukannya hal ini, maka dapat memberikan harapan bahwa seseorang berhak memenuhi kepentingannya sendiri, termasuk bagi seorang ibu.

Di tempat kerja, sebuah percobaan dilakukan, pemberian tugas yang sesuai dengan struktur hari kerja dapat meningkatkan produktivitas dan keuntungan. Ekonom, peneliti, dan karyawan yang berpikiran maju mengetahui hal tersebut. Google dan Pixar sudah mempraktikan sistem kerja yang menyenangkan ini dan banyak orang ingin bergabung. Bos Virgin, Richard Branson juga mengumumkan waktu libur tak terbatas bagi pegawainya. Kerja pintar bukan kerja keras adalah cara baru dalam dunia kerja.

Kita semua membutuhkan bermain, terutama bagi mereka yang berpendapat kita terlampau sibuk. Lima menit sehari telah memberikan perbedaan. Bagaimana kalau kita mulai sekarang?

Sumber tulisan dari sini
Sumber gambar dari sini 

Tips Menulis dari Sapardi

Writing_pen

Sapardi Djoko Damono selalu memikat banyak orang dengan karya-karyanya. Ia melahirkan puisi-puisi dengan bahasa sederhana tetapi magis. Satu tahun lalu, dalam Pesta Literasi Jakarta 2013, sastrawan ini membagikan langkah-langkahnya dalam menulis.

Dalam menulis, Sapardi menyarankan untuk jangan terlalu banyak berpikir. Jeda waktu terlalu panjang untuk berpikir sama saja dengan menunda menulis. Hal lain yang perlu dihindari adalah perasaan takut atau minder. Perasaan takut akan membawa kita pada hilangnya keinginan untuk menulis.

Sapardi tidak pernah menentukan akhir cerita ketika mulai menulis. Hal tersebut ditemukan ketika proses menulis berlangsung. Cerita akan mengalir dengan sendirinya. Sapardi menekankan, ketika menulis yang berkuasa adalah tulisan itu sendiri. Bukan si penulis.

Sastrawan ini juga tak selalu langsung menyelesaikan tulisannya dalam satu periode waktu tertentu. Ia memiliki banyak tulisan yang belum dilanjutkan, tetapi yakin suatu saat pasti menyelesaikannya. Jika bosan mendera, ia akan beralih ke tulisan yang lain kemudian masuk lagi ke tulisan sebelumnya sewaktu-waktu. Kemahiran menulis bukan semata-mata bakat, melainkan hasil latihan tekun dan terus menerus.

Galeria, Klasika, Kompas, 26 Mei 2014

Sumber gambar

Merawat Mobil

Jadi, sudahkah Anda membeli sebuah mobil di gelaran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2012?

Selamat, ya, kalau sudah…. Makan-makan, dong, jangan lupa, hahaha.

Mumpung mobil masih baru, jangan lupa perawatannya, ya. Apalagi kalau yang membeli mobil seken, harus lebih teliti lagi itu.

Mobil baru sekarang ini banyak yang sudah menggunakan sistem komputerisasi, alhasil pengecekan manual oleh pemilik kendaraan bisa relatif lebih mudah. Sementara itu, untuk mobil seken hal-hal sepele tidak boleh diremehkan.

Sejatinya tak perlu repot, kok, cukup dengan Continue reading “Merawat Mobil”