Wrap Up Discussion 2: Tugas Ulama

Sebenarnya apa tugas ulama?

Perdebatan antara ulama satu dengan yang lain dalam beberapa hari belakangan ini telah mengundang berbagai reaksi di kalangan netizen Indonesia. Sebagian pihak mendukung jagoannya, di pihak lain pun tak mau kalah dengan memilih untuk berdiri di belakang tokoh idolanya. Apa yang terjadi kemudian cukup membuat sedih. Manakala di antara ulama justru sibuk berdebat dan tak lama umat pun terseret dalam pusaran perdebatan itu.

Serangkaian pertanyaan pun kemudian mengemuka, ‘Apa sejatinya peran dan tugas ulama? Apakah perdebatan menjadi kewajiban beliau juga?’ Continue reading “Wrap Up Discussion 2: Tugas Ulama”

Wrap Up Discussion 1: West Papua

Background

The dispute between Nara Rakhmatia, a diplomat from Indonesia and her colleagues from the Solomon regarding West Papua issues in the UN assembly has attracted the various attention of the Indonesian netizens.

Rakhmatia Speech:

Solomon Representative Speech:

The first group of citizens consider that Continue reading “Wrap Up Discussion 1: West Papua”

Apa penyebab kematian Kurt Cobain?

ss-140404-Kurt-Cobain-tease.blocks_desktop_medium

Sarah Cooper di Medium mengatakan penyebab kematian Kurt disebabkan karena cinta.

Kita sering mendengar, membaca, atau melihat cerita tentang wanita yang dibutakan oleh cinta sehingga mereka melakukan hal-hal gila untuk mendapatkannya. Mereka bahkan melakukan hal yang lebih gila lagi bila cinta tak didapatkan. Rupanya semua hal itu terjadi juga pada pria, dan barangkali itulah yang menimpa Kurt.

Dia hanya punya seorang pacar sebelum menikahi Courtney. Sosok yang dicinta sekaligus suportif, namun mungkin kurang menarik untuk Kurt dan untuk kehidupan yang akan menantinya.

Setelah itu, barulah dia bertemu dengan Courtney, sosok yang disebut oleh Kurt, ‘penuh dengan ambisi’. Kemudian, memang terbukti begitu adanya. Dia menemui Kurt, kemudian Kurt pun jatuh cinta, namun…. sebenarnya itu bukan cinta.

Satu waktu, ketika Kurt meninggalkan pusat rehabilitasi, dia tidak ke tempat Courtney yang hanya berjarak 10 menit. Dia justru pergi ke Seattle sendirian dan empat hari kemudian bunuh diri.

Menurut Sarah Cooper, “Saya kira, Kurt patah hati.”

Kurt menyadari sepenuhnya, dia memiliki segalanya, namun tak ada satu pun yang diinginkannya. Dia tak ingin menjadi bintang yang selama ini dikejar-kejar, dia tak ingin bercerai, dia tak ingin jadi ayah yang buruk, mungkin dia tak ingin kecanduan heroin.

Dan… dia terlalu muda untuk tahu, bahwa kadang-kadang semua itu bisa terjadi. Musik dan sebagai artis akan berjalan baik, anak gadisnya akan baik-baik saja, dan dia akan kembali menemukan cinta. Sayang, dia tak punya satu orang pun yang bisa diajak bicara, karena semua orang di sekitarnya tak peduli.

Namun, memang sangat sulit untuk menyalahkan seseorang atas kematiannya. Kombinasi dari usia muda, obat-obatan dan terkenal membuat dirinya buta dan juga orang-orang di sekitarnya.

“Hidup mengajarkan kepada kita bagaimana menjalaninya, hanya jika usia kita cukup panjang untuk mengetahuinya.” Tony Bennet.

Bagaimana kelanjutan kisah tikus gemuk?

Apakah Anda masih ingat dengan sawah milik petani dan tikus-tikus gemuk yang tinggal di sana?

Mari kita lanjutkan cerita tersebut.

Seperti sudah diceritakan, petani itu bersama dengan teman-temannya mencoba untuk membuhuh tikus-tikus di sawah. Usaha itu memang tampak berhasil pada mulanya, namun kemudian tikus-tikus itu dengan cepat segera datang lagi.

Petani itu lupa, bila tikus di sawah berkurang karena dibunuh, maka yang tersisa memiliki lebih banyak ruang untuk beranak pinak, sehingga sia-sia saja usaha para petani.

Sebenarnya ini berhubungan dengan kapasitas satu lahan untuk menyokong kehidupan.

Katakanlah sepetak sawah mampu untuk menyokong hidup 100 ekor tikus, maka bila Anda mengurangi tikus itu menjadi 50 mereka masih tetap punya ruang untuk 50 yang lain.

Nah, sebab tikus itu kerjanya barangkali hanya mencari makan dan melakukan perkawinan, maka anak-anak mereka pun ?emakin banyak yang hidup di sawah.

Pada kondisi demikian, ada dua cara yang bisa ditempuh petani: pertama dengan membiarkan tikus-tikus terus beranak pinak hingga lebih dari seratus. Bila jumlah ini telah tercapai, maka tikus yang ke seratus satu dan seterusnya sudah di luar kemampuan daya dukung lahan.Tikus-tikus pun mulai saling berkelahi satu dengan yang lainnya dan lahan pun akan terus rusak karena semua sumber daya yang ada digunakan oleh tikus.

Hasil akhirnya adalah tikus yang kurus-kurus karena kurang makan. Bisa jadi juga tikus yang mati sendiri karena saling berkelahi satu dengan yang lain. Mereka memperebutkan makanan yang kini hanya sedikit namun dimakan oleh lebih banyak tikus.

Adapun pilihan kedua bagi petani adalah dengan membunuh semua tikus yang ada di sawah. Tetapi, sepertinya ini pun mustahil dilakukan karena sarang tikus itu tersebar bukan hanya berada di sawah milik si petani tersebut?

Bagaimana dengan tikus yang tinggal di sawah milik orang lain, siapa yang harus bertanggung jawab untuk membunuh itkus ini? Terus, bagaimana bila ada tikus yang tinggal dipinggir sungai atau tepi jalan yang tak bertuan.

Ahh…. harus ada sesuatu yang dilakukan oleh petani tersebut. Tapi apa?

======

world

Pada satu waktu, kemampuan bumi untuk mendukung manusia pun akan terlampaui. Bahkan saat ini, sebenarnya jumlah manusia yang bisa ditampung dan disokong kehidupannya oleh bumi terlampaui.

Manusia semestinya sudah membutuhkan satu setengah bumi untuk menyokong semua kegiatannya. Bagaimana bila populasi dunia terus tumbuh dan kerusakan lingkungan terus terjadi?

Credit Picture: https://exploringresearchbio.wordpress.com

Bagaimana kita memahami sekitar?

thinking_in_the_right_frame_of_mind_by_scramblesthedarklord-d5ra85v

Manusia memiliki kemampuan untuk mengenali sekitarnya melalui indera yang ada pada dirinya.

Apakah alam sekitar atau fakta yang kita dengar dan baca itu benar-benar perwakilan dari kenyataan sesungguhnya di alam nyata?

Sebenarnya manusia membuat dunia lain yang baru di dalam kepalanya, sebuah dunia khayalan dan terpisah dari lingkungan sekitarnya. Sebuah dunia yang tidak lengkap dan hanya sepotong-sepotong.

Manusia menggunakan bingkai untuk melihat lingkungan. Bingkai itu digunakan untuk memilih berbagai kenyataan dari alam nyata yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut, kepercayaan, atau memori. Semua hal ini berasal dari pengalaman manusia tersebut selama hidupnya. Keseluruhan proses ini dinamakan mental models.

Dalam bidang apa saja, maka bingkai ini menjadi penting saat Anda berbicara dengan orang lain. Sebab, berdasarkan bingkai ini, maka Anda bisa mengajak atau memengaruhi orang lain.

Seseorang dapat saja melakukan hal yang buruk dan tanpa menyadari keburukan yang dilakukannya itu. Hal ini terjadi karena hal yang sejatinya buruk tersebut dibingkai dengan kemasan yang bagus. Misalnya saja, Anda telah berperan penting bagi sekolah bila berhasil memenangkan sebuah perlombaan bagaimana pun caranya. Tujuan untuk nama baik sekolah ini bila tidak berhati-hati bisa berujung pada menghalalkan segala cara termasuk yang ilegal sekalipun untuk memenangkan satu perlombaan.

Kejadian di atas hanyalah contoh kecil dari berbagai hal besar yang terjadi di dunia dan disebabkan oleh pembentukan bingkai dan dunia khayalan di kepala manusia yang sejatinya tak lengkap.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana agar kita memahami dunia dan seisinya ini dengan utuh? Bagaimana agar kita tidak terjebak kepada satu bingkai yang ujungnya justru merugikan diri kita, orang lain, dan lingkungan sekitar?

Credit picture from here: http://scramblesthedarklord.deviantart.com/art/Thinking-in-the-right-frame-of-mind-348157651

Apa kehebatan atau kelemahan imajinasi?

Selain akal, satu hal yang istimewa dimiliki oleh manusia adalah imajinasi. Dengannya, manusia bisa mengambil berbagai manfaat dari lingkungan di sekitarnya, namun pada saat yang lain, manusia juga bisa jadi merugikan lingkungannya.

Binatang memahami realitas sekitar secara obyektif. Manusia di sisi lain memahami lingkungannya dengan pemahaman obyektif dan fiksi sekaligus. Kemampuan tersebut membuat manusia bisa bekerja sama, mengenali bahaya, merencanakan tindakan, dan lain-lain.

Banyak hal yang dikenal manusia saat ini adalah hasil dari imajinasi, termasuk blog yang sedang Anda baca ini. Saat binatang hanya melihat dunia sebagai satu kenyataan dan kemudian cerita berakhir, manusia juga melihat dunia sebagai satu hal yang nyata dan kemudian membuat cerita baru darinya.

Di antara beberapa hal berikut ini, manakah yang nyata dan mana yang hanya ada dalam imajinasi manusia saja?

  • Batas Negara
  • Politik
  • Perusahaan
  • Hak asasi
  • Agama, Tuhan, Surga, dan Neraka

Apakah Anda bisa menemukan garis batas negara, provinsi, dan kabupaten? Seperti apa wujud politik itu sebenarnya? Kenapa kita harus percaya pada perusahaan apakah dia benar-benar nyata atau kesepakatan kita semata?

Seperti apa agama itu? Bagaimana wujud Tuhan, Surga, dan Neraka?

Oh, satu lagi? Apakah uang itu nyata atau sekadar selembar kertas dengan gambar, warna, dang angka belaka?

Kenapa bila semua itu hanya ada dalam imajinasi kita, namun dampaknya begitu terasa?

Imajinasi manusia begitu memengaruhi tindakan seseorang, baik itu positif atau negatif, namun semuanya buah dari imajinasi. Imajinasi juga mewujud dalam bentuk koordinasi atau kerja sama antar manusia yang tidak bisa disaingi oleh makhluk apa pun di dunia. Hati-hati dalam berimajinasi karena seperti semua hal yang dilakukan manusia, dia bisa bermanfaat atau bisa juga merugikan.

Simak selengkapnya bagaimana imajinasi berperan dalam evolusi manusia dalam video berikut ini:

Di antara dua pilihan sulit, mana yang harus dipilih?

6812149-stunning-train-track-wallpaper

Dalam hidup seringkali seseorang, institusi pemerintah, perusahaan, atau siapa saja dihadapkan pada dua pilihan yang begitu buruk dan hampir-hampir tak bisa memilih.

Sebuah kereta melaju dengan kecepatan tinggi dan hampir mendekati stasiun. Mendadak Masinis panik karena rupanya rem tidak berfungsi. Ada dua pilihan yang dimiliki: terus melanjutkan kereta tersebut sampai ke stasiun atau mengubah arah?

Di stasiun itu tentu saja banyak penumpang yang sedang menunggu kereta dan berisiko tertabrak kereta yang melaju tanpa rem itu. Pilihan lainnya adalah mengubah arah ke jalur darurat yang memang disediakan untuk kereta yang mengalami rem blong. Namun, pada jalur itu kebetulan di saat yang sama ada dua orang yang sedang memperbaiki rel.

Tentu pilihan ini bukan ada di Masinis sebab menetukan satu jalur adalah di tangan petugas yang bisa mengatur rel dan sekaligus kereta apakah ia berjalan lurus ke stasiun atau ke jalur penyelamatan darurat.

Bila Anda adalah petugas tersebut, apa yang akan Anda lakukan?

Manakah yang akan Anda selamatkan, ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang berada di stasiun atau dua orang yang sedang bekerja di jalur penyelamat?

Bila Anda memilih orang-orang di stasiun, kenapa Anda memilih mereka?

Bila Anda memilih dua orang tak bersalah yang sedang bekerja, kenapa Anda memilih mereka?

Apakah dua orang di jalur penyelamat itu mewakili minoritas dan banyak orang di stasiun itu mewakili mayoritas?

Kalau Anda memilih orang di stasiun berarti bukan persoalan untuk menyingkirkan mereka yang sedikit. Kalau Anda memilih dua orang di jalur penyelamat berarti Anda tak memerhatikan mereka yang sedikit.

Selamat malam dan selamat beraktivitas

Salam

Sumber gambar dari sini

Lisa Kristine: Wujud Perbudakan Modern

“Kita baru benar-benar merdeka manakala mereka yang berada dalam perbudakan telah bebas.” Archbishop Desmond Tutu

Saya berada 150 kaki di bawah lubang penggalian ilegal di Ghana. Udara terasa berat dengan panas dan debu, hingga sangat sukar untuk bernafas. Saya dapat merasakan tubuh yang kasar dan berkeringat berlalu lalang di kegelapan, namun tak banyak yang dapat saya lihat.

Saya mendengar suara, orang yang berbicara, namun kebanyakan adalah hiruk pikuk di dalam terowongan dan pria-pria yang terbatuk. Bunyi lain dalam terowongan itu adalah batu yang pecah dihantam peralatan tradisional.

Seperti yang lain, saya mengenakan senter murah yang berkelip, terikat di kepala menggunakan karet elastis yang sudah koyak. Saya hampir tak dapat menggerakkan anggota badan karena licin, terhimpit di dinding pada lubang seluas tiga kaki persegi, dan perlahan turun beratus-ratus kaki ke dalam bumi.

Flashlight_band

Ketika tangan saya terpeleset, seketika dalam benak saya terbayang seorang penambang yang bertemu beberapa hari yang lalu. Saat itu pegangannya terlepas dan jatuh entah berapa kaki ke dalam terowongan itu.

Saat saya bicara dengan Anda hari ini, para pria itu masih berada di kedalaman lubang, mempertaruhkan nyawa mereka tanpa gaji dan kompensasi, seringkali mereka sekarat.

Saya harus memanjat naik dari lubang itu dan pulang. Namun mereka, sepertinya tak akan pernah bisa pulang karena telah terjebak dalam perbudakan.

Climb_out_the_shaft

Selama 28 tahun terakhir saya telah mendokumentasikan kebudayaan warga pribumi di lebih dari 70 negara di enam benua. Pada tahun 2009 saya mendapat kehormatan dalam pameran pada Konferensi Perdamaian di Vancouver.

Di antara banyak orang luar biasa yang saya temui di sana, saya bertemu dengan sebuah NGO, Free the Slaves. Sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mendedikasikan dirinya untuk penghapusan perbudakan di zaman modern ini.

Kami mulai berbicara mengenai perbudakan dan sungguh saat itu saya mulai belajar tentang perbudakan. Sebab, saya tahu hal ini pernah ada di dunia di masa lampau, namun tak sebesar saat ini.

Setelah kami selesai bicara, saya merasa sangat sedih dan juga malu karena kurangnya pengetahuan pada kekejaman yang terjadi sepanjang hidup saya. Kemudian saya berpikir, jika saya tak tahu, berapa banyak orang lagi yang tak paham bahwa perbudakan ini terjadi.

Apa yang terjadi kemudian adalah semagat yang tumbuh dalam diri saya, sehingga dalam beberapa minggu kemudian, saya terbang ke Los Angeles untuk bertemu dengan direktur Free the Slaves dan mencari tahu apa yang bisa saya bantu. Itulah yang mengawali perjalanan saya dalam perbudakan di zaman modern ini.

Anehnya, saya pernah ke berbagai tempat ini sebelumnya, bahkan beberapa telah menjadi seperti rumah kedua. Namun kali ini, saya ingin melihat apa yang selama ini tersembunyi jauh di belakang.

Sebuah perkiraan kasar menunjukkan ada lebih dari 27 juta orang diperbudak di dunia saat ini. Angka tersebut adalah dua kali lipat jumlah orang Afrika yang dibawa sepanjang masa perdagangan budak trans-Atlantik. Seratus lima puluh tahun yang lalu, perbudakaan di bidang agrikultur menelan biaya tiga kali lipat gaji tahunan seorang pekerja Amerika. Jumlah itu saat ini setara dengan 50 ribu dollar.

Namun hari ini, seluruh keluarga dari berbagai generasi dapat diperbudak hanya karena hutang sebesar 18 dollar. Sementara itu, perbudakan sendiri menghasilkan keuntungan sebesar 13 milyar dollar dari seluruh dunia setiap tahunnya.

Banyak di antara mereka yang dijebak karena janji-janji surga, seperti pendidikan yang baik, kesempatan bekerja yang lebih baik. Sayangnya , mereka ternyata hanya diminta bekerja tanpa menghasilkan gaji, di bawah ancaman kekerasan, dan mereka tak bisa berlari.

Saat ini, perbudakan menjadi pasar, suatu keadaan untuk mendukung proses jual beli. Jadi, berbagai barang yang dihasilkan oleh para budak memiliki nilai yang tinggi. Sementara itu, mereka yang memproduksi justru sangat mungkin untuk ditendang.

Perbudakan ada di manapun, hampir di seluruh dunia, dan memang benar, hal itu adalah ilegal di seluruh dunia.

Di India dan Nepal, saya diajak ke tempat pembakaran batu bata. Pemandangan di sana sungguh aneh sekaligus mencengangkan. Seperti berjalan ke Mesir Kuno atau nerakanya Dante.

brick_carrier_women

Di tengah suhu yang mencapai 130 derajat, pria, wanita, anak-anak, seluruh keluarga terselimuti debu yang tebal. Mereka mengangkat batu bata di kepala, sekitar 18 buah sekali angkat. Kemudian bata tersebut dibawa dari tempat pembakaran ke truk yang menunggu cukup jauh.

Dicekam oleh pekerjaan yang monoton dan kelelahan, mereka bekerja dalam diam. Dikerjakan tugas yang sama itu berulang-ulang, selama 16-17 jam per hari. Mereka tak mendapatkan istirahat untuk makan dan minum, sehingga kebanyakan mengalami dehidrasi.

Di tengah panas dan debu itu, kamera saya menjadi terlalu panas untuk dipegang dan harus sering diistirahatkan. Setiap dua puluh menit saya harus berlari ke kendaraan, membersihkan peralatan dan menempatkannya di bawah pendingin ruangan agar dapat bekerja kembali. Saat itu, kamera saya rasanya mendapatkan perhatian yang lebih baik daripada para pekerja di sana.

brick_carrier

Kembali ke lokasi pembakaran, saya ingin menangis, namun pendamping saya mengatakan, “Lisa, jangan menangis di sini, jangan sekali-kali.” Kemudian dia menjelaskan dengan gamblang bahwa menunjukkan perasaan emosional kita sangatlah berbahaya di tempat semacam ini. Bukan hanya untuk saya, namun terlebih lagi untuk mereka. Saya tak bisa memberikan bantuan langsung atau pun uang, saya tak bisa membantu apa pun. Saya bukan warga negara itu, sehingga saya bisa membawa mereka ke situasi yang lebih buruk.

Di Himalaya, saya menemukan anak yang mengangkut batu menuruni gunung ke truk yang menunggu di bawah. Batu yang dibawa itu lebih berat dari pengangkutnya. Anak-anak itu membawa dengan cara menaruh bebatuan itu menggunakan kayu dan tali yang disangkutkan ke kepalanya.

kids_stone_himalaya

Sangat sulit melihat sesuatu yang begitu menyedihkan, bagaimana kita sangat terpengaruh oleh hal yang disembunyikan, namun juga begitu terlihat. Beberapa di antara mereka tak paham sedang berada dalam sistem perbudakan. Orang-orang yang bekerja 16-17 jam per hari tanpa dibayar, sebab ini adalah hidup mereka. Mereka tak tahu seperti apa kehidupan yang lain itu.

Ketika orang-orang itu mengklaim kemerdekaannya, maka para majikan akan membakar habis rumah mereka. Para budak tersebut sangat ketakutan dan ingin menyerah.

Perdagangan sex seringkali kita asumsikan ketika mendengar perbudakan dan karena kesadaran global tersebut, justru menjadi sangat berbahaya bagi saya jika ingin masuk untuk menginvestigasi lebih dalam industri ini.

Di Kathmandu, saya ditemani seorang wanita yang dulunya adalah budak sex. Mereka membimbing saya untuk turun melalui tangga ke satu tempat yang kotor dan remang-remang di basement.

stairs_sex_kathmandu

Sejatinya ini bukanlah rumah bordil, namun lebih mirip sebuah restauran. Restauran yang terdiri dari kamar-kamar, menjadi tempat untuk prostitusi yang terpaksa dilakukan.
Ruang-ruang kecil itu digunakan secara pribadi. Di sana para budak, para wanita atau lelaki kecil, beberapa masih berusia tujuh tahun dipaksa untuk menghibur para klien, mendorong mereka untuk membeli lebih banyak makanan dan alkohol.

Tiap ruang dalam kondisi gelap dan kotor. Masing-masing dikenali dari nomor yang ada di tembok, kemudian dipisahkan menggunakan plywood dan tirai. Para pekerja di sini sering mengalami kekerasan seksual dari pelanggannya yang berakhir tragis.

Berdiri di sana membuat saya bisa merasakan ketergesaan, ketakutan yang dalam, dan seketika saya membayangkan bagaimana rasanya terperangkap di neraka tersebut. Hanya ada satu jalan masuk dan keluar, yaitu melalui tangga di mana saya tadi melangkah, tak ada pintu belakang, tak ada jendela yang besar dan cukup untuk kabur. Mereka sama sekali tak punya peluang untuk melarikan diri.

Sangat penting untuk dicatat, bahwa saat kita membicarakan perbudakan, termasuk perdangangan sex, sungguh-sungguh terjadi di halaman belakang kita.

Sepuluh per seratus orang diperbudak dalam bidang pertanian, restauran, rumah tangga, dan daftar itu masih terus bertambah. Laporan baru-baru ini dari New York Times mengatakan, bahwa antara 100-300 ribu anak di Amerika dijual menjadi budak sex setiap tahunnya.

Itu terjadi di sekitar kita, hanya saja kita tak melihatnya.

Industri tekstil adalah tempat lain terjadinya perbudakan. Saya mengunjungi sebuah desa di India di mana satu keluarga menjadi budak dalam perdagangan sutera.

silk_slavery

Ini adalah gambar dari keluarga tersebut. Tangan yang menghitam adalah ayah, sementara yang memerah, dan membiru anak-anaknya. Mereka mencampurkan pewarna dalam sebuah drum, kemudian mencelupkan sutera ke dalamnya menggunakan tangan sampai ke siku. Pewarna itu sendiri adalah racun.

Penerjemah saya menceritakan kisah mereka. “Kami tak punya kemerdekaan,” mereka berkata, “Kami berharap bisa meninggalkan rumah ini suatu hari nanti dan pergi ke tempat lain di mana kami mendapatkan bayaran untuk mewarnai.”

Diperkirakan lebih dari empat ribu anak di Danau Volta–danau buatan terbesar–di Ghana. Saat pertama kali datang, saya melihat sekilas, tampak seperti satu keluarga berada di perahu menjala ikan. Mereka adalah dua orang remaja yang lebih tua dan adik-adiknya, tampak seperti sebuah keluarga, bukan?

fish_slavery

Sayang, ternyata mereka tidak memiliki hubungan keluarga. Mereka semua telah diperbudak. Anak-anak diambil dari keluarganya, diperjualbelikan, dan kemudian hilang. Di sana mereka dipaksa untuk bekerja tanpa henti di atas perahu kendati tak tahu cara berenang.

Anak ini berusia delapan tahun. Dia gemetar saat perahu kami mendekat, ketakutan perahunya akan terbalik. Dia ketakutan kalau sampai tercebur ke air.

child_fish_slavery

Batang dan dahan pohon yang terendam di dalam Danau Volta sering menyangkut jala. Kemudian anak yang kelelahan dan ketakutan diceburkan ke air untuk melepaskan jala itu. Banyak di antara mereka tenggelam.

Seorang pekerja mengingat, bahwa dia dipaksa bekerja di danau. Ketakutan kepada tuannya, menyebabkan dia tak akan melarikan diri. Menerima perlakuan buruk nan kejam sepanjang hidupnya menyebabkan dia melakukan hal yang sama kepada orang yang lebih muda. Mereka yang berada di bawah komandonya.

Saya bertemua anak-anak itu pada pukul lima pagi ketika mereka mengangkut jala yang terakhir. Namun, rupanya mereka telah bekerja sejak pukul satu dini hari berteman angin dan dingin malam. Perlu juga dicatat, bahwa saat jala itu penuh ikan beratnya lebih dari seribu pound.

Kofi_fish_slavery

Saya ingin mengenalkan Anda kepada Kofi. Dia diselamatkan dari desa nelayan. Saya bertemu dengannya di tenda di mana Free the Slaves merehabilitasi korban perbudakan. Di sini, dia mandi di dekat sumur, mengguyurkan seember air ke kepalanya. Berita menggembirakan darinya adalah, saat kita duduk sekarang ini, dia sudah berkumpul dengan keluarganya. Selain itu, keluarganya juga mendapatkan berbagai peralatan untuk mencari nafkah dan memastikan anak-anaknya aman.

Menyusuri jalanan di Ghana, sekelompok orang di atas sepedanya mendekat dan mengetuk jendela kami. Mereka bilang agar kami mengikuti dan kemudian masuk ke dalam hutan. Di ujung jalan, mereka memaksa kami turun dari mobil dan menyuruh sopir untuk segera pergi. Dia memimpin kami mengikuti satu jalan setapak, menyingkirkan berbagai halangan di depan.

Kami sampai di bagian jalan yang tersapu oleh banjir. Saat itu hujan, sehingga saya harus membawa berbagai peralatan fotografi di atas kepala. Saat kami turun, air bergerak naik hingga ke dada. Setelah dua jam berjalan di tengah angin dan hujan, kami sampai di lahan terbuka. Di depan kami, menganga lubang-lubang penggalian yang sangat besar seukuran lapangan bola.

Di dalam lubang itu penuh dengan orang yang diperbudak untuk bekerja. Banyak wanita menggendong anaknya di belakang, sembari mereka mencari emas, terendam di air yang beracun karena mercury. Zat yang digunakan dalam proses ekstraksi emas.

gold_slavery

Mereka ini adalah para budak di lahan tambang yang berada di Ghana. Saat keluar dari terowongan, mereka kuyup oleh keringatnya sendiri. Saya teringat bagaimana mata mereka menyiratkan kelelahan karena banyak yang telah berada di bawah tanah selama 72 jam.

Terowongan itu dalamnya 300 kaki dan mereka harus menaikkan batu-batu yang berat sebelum kemudian diangkut ke tempat lain di mana batu tersebut akan ditumbuk dan diekstrak emasnya.

Melihat sekilas, tempat penumbukan batu tampak penuh dengan para pria yang sangat kuat. Namun, begitu kita memerhatikan, banyak yang tidak beruntung bekerja di pinggir juga anak-anak. Mereka ini adalah korban yang terluka, sakit, atau mengalami kekerasan. Pria-pria kuat itu kemungkinan besar akan berakhir sama, yaitu menderita karena TBC dan juga keracunan mercury hanya dalam waktu singkat.

Manuru_gold_slavery

Adalah Manuru, saat ayahnya meninggal, Sang Paman mengajaknya bekerja di tambang. Kemudian saat pamannya meninggal, Manuru mewarisi hutang-hutang ayahnya. Hutang yang kemudian memaksanya lebih jauh untuk menjadi budak di pertambangan.

Saat saya bertemu dengan Manuru, dia telah bekerja di tambang selama 14 tahun. Betisnya yang cedera terjadi karena kecelakaan di tambang, seorang dokter bilang kalau kakinya harus diamputasi, selain itu dia juga memiliki TBC. Namun, dia tetap bekerja tiap hari keluar masuk terowongan ke tambang. Dia juga punya mimpi suatu hari nanti akan bebas dan dididik oleh aktivis lokal seperti Free the Slaves.

Saya ingin menyinari perbudakan. Manakala bekerja di lapangan, saya juga membawa banyak lilin. Kemudian dengan bantuan para penerjemah, saya berkata kepada orang-orang yang saya foto, bahwa saya ingin membuat cerita mereka bersinar. Maka ketika dirasa aman untuk mereka dan juga saya, saya membuat gambar-gambar mereka memegang lilin. Mereka tahu, gambar itu akan dilihat Anda dan tersebar ke dunia.

Candle_slaves

Saya ingin mereka tahu, bahwa kita menjadi saksi kehadiran mereka dan akan melakukan apa pun yang kita bisa untuk menolong. Bersama kita bisa membuat hidup mereka berbeda. Saya percaya, jika kita bisa melihat satu sama lain sebagai sesama manusia, maka akan sangat sulit menerima tindakan semacam perbudakan.

Gambar-gambar ini bukanlah masalahnya, mereka para pemegang lilin itu adalah sosok yang nyata seperti saya dan Anda. Semua memiliki hak, martabat, dan kehormatan yang sama. Saya berharap berbagai gambar ini membangunkan kesadaran dan kekuatan dalam diri mereka yang melihatnya termasuk Anda. Saya berharap kekuatan itu akan menyalakan api yang akan menyinari perbudakan karena tanpa cahaya tindakan brutal perbudakan akan terus berlangsung di balik bayang-bayang.

Sumber tulisan dari sini:

Mere Desh Ki Dharti (Tanahku Negeriku)

Oleh Vandana Shiva

Tanah Sumber Kehidupan

Solusi bagi perubahan iklim berada pada tanah, namun tanah itu juga yang kita lupakan dan pendam di bawah paham ‘sementifikasi adalah kemajuan’.

Pada masa-masa rentan bagi evolusi manusia seperti saat ini, Hari Bumi, pada 22 April 2015, memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan refleksi bagaimana kondisi bumi dan juga manusia. Hari itu juga menjadi kesempatan untuk memperbarui janji kita sebagai bagian dari keluarga bumi-Vasudhaiv Kutumbukan.

Vasudhaiv Kutumbukan adalah satu pandangan hidup yang mencakup berbagai aliran paham, kebijakan, visi, dan nilai-nilai.

Ilmu pengetahuan telah membenarkan satu pandangan, bahwa hidup adalah jejaring yang saling terhubung. Dari tanah ke tanaman, dari serangga ke binatang, semua menunjukkan hidup adalah jejaring makanan. Taittiriya Upanishad–salah satu bagian Weda–mengenal hal ini sejak bertahun-tahun lampau dengan ujarannya, “Semua adalah makanan; makanan bagi yang lain.”

Upanishad tersebut juga mengatakan bahwa menumbuhkan dan memberikan makanan yang melimpah adalah dharma yang paling tinggi. Sementara itu, menumbuhkan dan memberikan makanan yang buruk adalah bentuk tertinggi dari adharma. Oleh karena itu, maka menumbuhkan dan memakan tanaman organik tanpa merusak tanah adalah tugas suci kita. Di sisi lain, menanam dan menikmati makanan yang terkontaminasi bahan kimia, pestisida, modifikasi genetis organisme atau makanan cepat saji merusak tata ekologi, kebudayaan, dan hukum kesehatan dan nutrisi.

Para petani kita sedang berada dalam tekanan. Petani yang bunuh diri adalah suatu tanda terjadinya sistem pertanian yang mengeksploitasi dengan memeras kesuburan tanah dan kemakmuran mereka. Globalisasi dan ekonomi neo liberal yang menempatkan hak perusahaan lebih tinggi daripada alam serta hak-hak manusia adalah akar dari berbagai persoalan yang terjadi pada petani.

Sejak tahun 1995, hampir 300.000 petani membunuh dirinya sendiri. Vidarbha adalah lokasi di mana keserakahan Monsanto, sebuah perusahaan bioteknologi pertanian telah menaikkan biaya benih lebih dari 700.000 persen sehingga banyak petani kapas yang bunuh diri. Di Bengal Bagian Barat, ada Pepsi. Petani kentang hanya menerima 0.20 rupee per kilogram kentang sementara para konsumen membayar 200 rupee dalam bentuk makanan ringan Lays. Para konsumen juga mesti membayar dengan kesehatan mereka karena penyakit yang disebabkan oleh makanan cepat saji.

Kekacauan iklim yang terjadi tahun ini juga telah menambah tekanan bagi petani dengan curah hujan yang tinggi serta badai di masa panen yang membabat habis tanaman mereka, mata pencaharian mereka. Bulan lalu, lebih dari 100 petani bunuh diri di Uttar Pradesh karena kerusakan tanaman.

Konsep yang mendalam bagi masyarakaat India adalah ‘rta’-jalan dharma–sebuah jalan yang mengupayakan urutan yang benar berdasarkan mata pencaharian yang benar pula. Dari ‘rta’ menjadi ‘ritu’ sebuah pola yang stabil pada cuaca dan iklim. Manakala kita mengadopsi kebijakan dan gaya hidup yang menentang dengan hukum bumi berdasarkan anrita (ketidakteraturan penciptaan), maka akan membuahkan in ritu asantulan (ketidakteraturan iklim).

Dalam buku saya, Soil not Oil (2007), saya menilai bahwa lebih dari 40 persen gas rumah kaca penyebab perubahan iklim adalah hasil dari kontribusi bidang industri dan pertanian global. Sistem monokultur kimiawi yang dipakai juga lebih rentan gagal apabila harus menghadapi kekeringan yang panjang, banjir, atau hujan yang tak menentu.

Di sisi lain, pertanian organik mengurangi emisi dan juga membuat sistem pertanian yang lebih tahan menghadapi perubahan iklim. Penelitian Navdanya menunjukkan bahwa pertanian organik meningkatkan penyerapan karbon hingga 55 persen. Kajian internasional juga menunjukkan bahwa dengan dua ton per hektar tanah organik, kita dapat mengurangi 10 gigaton karbondioksida dari atmosfer, yang berarti juga mengurangi polusi atmosfer hingga 350 bagian per sejuta.

Kenaikan satu persen pada tanah organik dapat meningkatkan kapasitas menahan air hingga 100.000 liter per hektar, sementara bila lima persen, maka bisa meningkatkan kapasitas tahanan air hingga 800.000 liter. Ini adalah jaminan kita dalam melawan perubahan iklim, baik itu pada saat kekeringan dan sedikit hujan, serta manakala terjadi banjir dan hujan berlebih. Sementara itu, di sisi lain, untuk semen dan beton akan meningkatkan aliran permukaan, memperhebat terjadinya banjir dan juga kekeringan. Kami menyaksikan terjadinya hal ini saat banjir pada tahun 2013 di Uttarakhand dan di Kashmir pada tahun 2014.

Pada tanah yang sehat tersedia solusi bagi perubahan iklim, yaitu melalui mitigasi dan adaptasi. Namun, tanah itu juga yang kita lupakan dan pendam di bawah paham ‘sementifikasi adalah kemajuan’.

Ibu Bumi telah berkorban untuk pertumbuhan jangka pendek demi keserakahan segelintir manusia.

Sekitar 4.000 tahun yang lalu, dalam Weda telah mengajarkan kepada kita, “Dalam segenggam tanah ini kelanjutan hidup kita bergantung. Jagalah, maka dia akan menumbuhkan pangan, bahan bakar, tempat tinggal, dan melingkupi kita dengan keindahan. Rusaklah, maka tanah akan rusak dan mati, membawa serta kehidupan manusia bersamanya.”

Peraturan Pemilikan Tanah telah merendahkan tanah menjadi komoditas, merusak tatanan kebudayaan bahwa tanah adalah suci dan telah menyokong kita selama bertahun-tahun. Adalah kebutaan bila tak mampu melihat peran tanah yang sehat pada fungsi ekologis dan juga pelayanan pada kehidupan. Sayang, dalam skala global, kerusakan yang terjadi setara dengan sekitar 20 dollar triliun per tahun.

Dalam Isha Upanishad dikatakan dengan jelas bahwa semesta ini adalah suci dan untuk keuntungan semua makhluk. Oleh karena itu, setiap mereka yang mengambil lebih dari yang seharusnya adalah pencuri. Mahatma Gandhi, mengambil kebijaksanaan ini dalam ujarannya yang terkenal, “Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua, namun tak pernah dapat mencukupi keserakahan seseorang.”

Mereka yang mendukung peraturan kepemilikan tanah mengharapkan para petani kecil itu hilang dan memberi jalan bagi perusahaan pertanian yang berbasis kimia serta modifikasi genetika.

Studi dari PBB dan hasil pekerjaan dari Navdanya menunjukkan, pertanian kecil memproduksi lebih banyak pangan daripada industri pertanian besar. Nutrisi per hektar berlibat ganda serta pendapatan masyarakat pedesaan meningkat hingga 10 kali lipat melalui pertanian organik.

Solusi bagi kemiskinan, krisis agraria, kesehatan dan kurang gizi adalah sama, merawat tanah dan juga petani yang peduli pada tanah dan kesehatan kita.

Sistem ekonomi yang mengganggu hak-hak Bumi juga mengancam hak-hak manusia karena kita tak terpisahkan dari bumi. Kita semua adalah anggota dari Vasudhaiv Kutumbukan. Kita memerlukan perjanjian baru dengan bumi sebagai bagian keluarga, janji untuk menciptakan perekonomian baru yang tidak merusak dan Demokrasi Bumi di mana kontribusi dan hak dari spesies terakhir juga manusia terakhir pada bumi juga diperhitungkan.

Vandana Shiva adalah seorang filosof, aktivis lingkungan, dan eko-feminis. Shiva saat ini berbasis di Delhi, telah menulis lebih dari 20 buku dan 500 artikel pada jurnal keilmuan dan teknis terkemuka. Latar belakang pendidikan beliau adalah fisika dan menerima gelar doktoralnya dalam bidang fisika dari University of Western Ontario, Canada. Beliau menerima anugerah ‘Right Livelihood Award’ pada tahun 1993. Beliau juga pendiri Navdanya di http://www.navdanya.org.

Tulisan asli bisa dibaca di sini: http://www.countercurrents.org/shiva230415.htm

Memahami BBM yang Diam-diam Harganya Naik

Selalu banyak pro dan kontra saat bahan bakar minyak (BBM) mengalami kenaikan harga. Mulai dari sisi dampaknya pada masyarakat hingga mekanisme kenaikan harganya, apakah menggunakan pengumuman atau diam-diam.

Saya mendukung kenaikan harga BBM secara diam-diam. Hal ini disebabkan banyaknya akibat negatif manakala kenaikan harga itu diumumkan jauh-jauh hari. Sering kita lihat protes yang berwujud demonstrasi manakala terjadi kenaikan harga. Tak jarang, demonstrasi itu merugikan banyak pihak.

Selain itu, dengan dinaikkannya harga tanpa didahului pengumuman, maka tak ada kesempatan bagi para pihak yang ingin memanfaatkan kesempatan untuk beraksi. Sering kita dengar pembelian BBM secara besar-besaran untuk ditimbun. Kerapkali juga terjadi antrian yang sangat panjang di berbagai SPBU di malam sebelum kenaikan harga.

Kenaikan harga BBM tanpa pengumuman adalah ajang latihan bagi masyarakat agar menjadi warga yang tidak kagetan. Meskipun barangkali mereka sudah sangat terlatih di zaman serba tak tentu seperti sekarang ini. Saya yakin, masyarakat hanya perlu waktu seminggu paling lama untuk penyesuaiannya dan semua akan kembali normal.

Bukankah kenaikan harga BBM akan memicu melonjaknya barang-barang kebutuhan masyarakat, Goop?

Tak bisa dimungkiri, naiknya BBM tentu akan menjadi penyebab melonjaknya berbagai harga kebutuhan. Namun, apakah penurunan harga BBM akan menurunkan harga-harga kebutuhan juga?

Pengalaman beberapa waktu lalu, saat harga BBM naik kemudian diturunkan, tak ada penurunan harga kebutuhan maupun penurunan tarif angkot yang sudah terlanjur naik. Saya kira, BBM adalah salah satu komponen penentu harga, namun di luar itu masih banyak faktor lain. Misalnya saja sistem distribusi atau pun ketersediaan bagi bahan-bahan pangan yang musiman. Alhasil, naik dan turunnya harga tak semata-mata karena BBM saja.

Apakah ada manfaat dari kenaikan harga BBM, Goop?

Saya kira dengan harga minyak yang semakin naik bisa menjadi peluang bagi penurunan pemanasan global yang menjadi penyebab perubahan iklim. Apabila BBM murah, maka pemilik kendaraan pribadi tentu enggan beralih ke moda transportasi massal. Akibatnya polusi akan terus terjadi, bumi kian panas, dan bencana makin sering terjadi.

Saya banyak berharap, naiknya harga BBM bisa memaksa orang untuk lebih banyak berjalan atau bersepeda untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. BBM murah ditambah harga kendaraan yang juga murah telah menyebabkan orang malas untuk bergerak. Kadang, untuk menempuh jarak 100 meter saja, misalnya ke warung, kita menggunakan sepeda motor. Semakin banyak orang yang berjalan, berlari, atau bersepeda dan menggunakan moda transportasi massal, harapannya semakin sedikit kemacetan, angka kecelakaan, dan tingkat polusi.

Saya pernah membaca, untuk mencegah pemanasan global, yang kita perlukan bukan bahan bakar fosil yang murah, namun bahan bakar alternatif yang biarpun mahal tapi tidak menyebabkan polusi makin parah.

Barangkali dengan naiknya harga BBM bisa menjadi jalan bagi berkembangnya penggunaan energi alternatif. Baik itu tenaga surya, angin, air, gelombang laut, yang keberadaanya melimpah namun masih belum banyak dimanfaatkan.

Demikianlah pendapat saya, bagaimana kalau menurut Anda?

Ah ya, jika Anda akan mengambil tes academic IELTS, pada sesi writing bisa jadi jenis soalnya adalah pro dan kontra. Ada satu permasalahan dan kebijakan kemudian Anda diminta menjelaskan posisi apakah mendukung atau menentang kebijakan tersebut lengkap dengan argumentasinya. Posisi Anda harus jelas di pihak yang pro atau kontra dan alasan-alasannya pun harus kuat.