Berapa Nilaimu?

Bagi pelajar seperti saya, urusan nilai sungguh menjadi beban.

Harapannya tentu mendapatkan nilai yang bagus untuk setiap tugas yang kita buat. Ini adalah harapan yang wajar mengingat berbagai jerih payah yang sudah dilakukan untuk menyelesaikan tugas dimaksud. Selain itu, dengan nilai bagus kita akan terpacu untuk mengerjakan tugas-tugas lain dengan lebih baik lagi.

Sayangnya, harapan seringkali berbeda dengan kenyataan.

Kenyataannya adalah nilai jelek yang didapat dari tugas-tugas kita. Ternyata ada saja yang kurang, misalnya kurang analisis, kurang tepat menjawab sehingga salah, dan kurang-kurang lainnya. Semua kekurangan ini kemudian bermuara pada nilai kita yang tidak bagus.

Kecewa tentu saja dirasakan, misalnya dengan mempertanyakan kenapa kemarin tidak menambahkan hal ini di tugas, atau kenapa kemarin tidak menjawab A. Tetapi sekadar kecewa tidak akan menyelesaikan masalah.

Penyelesaian persoalan dan beban nilai buruk adalah dengan menerima nilai tersebut. Sebab, tidak ada hal yang benar-benar bisa kita lakukan. Guru saya jarang sekali salah menilai. Bahkan, ada mekanisme untuk meminta penilaian ulang apabila kita tidak puas dengan nilai yang diterima. Namun, apabila pada proses penilaian ulang tersebut justru kita mendapat nilai yang lebih jelek, maka kita pun harus menerima. Oleh sebab itu, penilaian ulang ini jarang diminta oleh siswa kecuali pada kondisi yang benar-benar tidak menguntungkan dan disertai keyakinan akan terjadinya perbaikan nilai.

Nilai yang buruk juga mesti diterima dengan lapang dada sebab apa yang terjadi kemarin sudah tidak bisa kita ubah lagi. Kemarin adalah lembar buku yang sudah penuh tertulis dan tidak ada tempat untuk mengoreksi tulisan. Oleh sebab itu, setiap hari baru berarti lembaran baru yang harus kita isi dengan lebih baik lagi. Dengan demikian, kita tidak berlarut-larut meratapi nilai yang buruk. Hal ini juga berarti kita mudah berpindah ke tugas-tugas lain yang setiap hari menghadang.

Senangnya menjadi pelajar di sini adalah semua teman mendukung apa pun capaian kita. Tidak ada bullying hanya karena kita mendapatkan nilai jelek. Teman-teman saya akan berkata, “Tidak masalah dengan nilaimu yang penting kamu paham. Saya pernah menemukan tugas yang bagus dengan nilai jelek, sementara tugas jelek justru mendapat nilai bagus.”

Dukungan dari teman tersebut tentu sangat berarti untuk memudahkan langkah ke depan, bukan?

Tak hanya itu, terkadang nilai untuk soal dan tugas yang tidak membutuhkan jawaban benar dan salah seperti itu juga sangat bergantung kepada selera penilai. Bisa saja kita telah menjawab persoalan dengan baik, tetapi tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh penilai. Hasil akhirnya tentu nilai kita pun tidak akan bagus.

Dengan demikian, nilai yang kita terima adalah misteri yang sulit dipecahkan. Hanya dengan bekerja lebih baik dari hari ke hari, maka barangkali nilai yang lebih baik pun akan diterima.

Berapa nilai tugasmu, kawan?

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *