Belajar Hal Baru: Meditasi

Terkadang bila kita bosan, maka belajar hal baru bisa menjadi pilihan.

Seperti hari ini, saya belajar ikut kegiatan meditasi di asrama. Saya penasaran dengan sesi meditasi ini dan apa salahnya belajar hal baru, bukan? 

Masuk ke ruangan belum ada orang. Saya menunggu beberapa saat sampai kemudian berkumpullah beberapa orang, mungkin sekitar sepuluh orang. Kemudian, dipimpin oleh teman se-asrama, mulailah kami bermeditasi.

Diawali dengan penjelasan mengenai posisi duduk, mata terpejam, kemudian diminta untuk berkonsentrasi dengan pernapasan kita. Rupanya, itulah fondasi meditasi, yaitu memerhatikan pernapasan.

Wuah, kok gampang, ya….

Ternyata tidak gampang betul. Setelah duduk agak lama, saya merasakan beberapa hal berikut ini. Pertama mulai terasa pegel di tulang belakang karena harus duduk bersila dalam posisi tegak untuk waktu yang cukup lama. Kedua alih-alih berkonsentrasi pada pernapasan, pikiran saya justru mengembara ke mana-mana. Ini satu hal yang sebaiknya tidak dilakukan pada saat bermeditasi. Jalan keluarnya adalah dengan membiarkan pikiran itu pergi dan kemudian kembali berkonsentrasi ke pernapasan kita. Merasakan bagaimana udara masuk dan keluar ke tubuh.

Ketiga, saya merasa mengantuk, haha. Bayangkan saja, kita harus duduk cukup lama, kemudian memejamkan mata, dan cuma diminta memerhatikan napas kita. Lama kelamaan tak terhindarkan lagi, rasa kantuk itu pun datang. Bila ini yang terjadi, maka kita bisa membuka sedikit mata untuk membiarkan cahaya masuk.

Saya merasa sangat terbantu dengan hadirnya instruktur dalam sesi meditasi awal tadi sore. Hal ini dikarenakan dia akan selalu mengingatkan apabila kita mulai berpikir yang macam-macam. Suaranya perlahan, membawa kita ke kesadaran dan konsentrasi pada pernapasan.

Setelah sesi meditasi selesai yang kurang lebih memakan waktu 20 menit, maka dilanjutkan dengan sesi tanya jawab kepada instruktur. Pada kesempatan tersebut, saya pun menanyakan, kenapa kita perlu bermeditasi?

Dia bilang bahwa meditasi dilakukan untuk membawa kita pada kesadaran diri. Hal ini berarti bukan memikirkan masa lalu yang sudah lewat atau masa depan yang belum datang. Meditasi mengajarkan kepada kita untuk merasakan momen saat ini, bahwa hidup adalah rangkaian sekarang, sekarang, sekarang, yang sangat panjang.

Sebenarnya, pada menit-menit awal bermeditasi, instruktur memang mengajarkan agar kita merasakan berbagai bagian tubuh kita sendiri. Sambil terpejam, kita diminta untuk melemaskan (relaxing) berbagai bagian tubuh. Dimulai dari bagian depan kepala, turun ke mata, ke hidung, ke dagu, dada, perut, tangan, kaki dan lain-lain.

Adapun untuk berkonsentrasi pada pernapasan, caranya pun cukup mudah. Kita diminta untuk merasakan aliran udara yang masuk dan keluar di hidung. Namun, kalau ini sukar dilakukan, maka perhatian bisa ditujukan ke perut/dada yang mengembang dan mengempis seiring kita menarik atau menghirup napas.

Terus terang saya belum tahu apa manfaatnya. Tetapi menurut Sang Instruktur, meditasi membantu kita berkonsentrasi. Selain itu, meditasi juga menjaga agar mental kita stabil. Sebab, sekarang ini banyak orang melakukan latihan untuk tubuh seperti berlari atau ke gym, atau memakan makanan yang sehat, namun mengesampingkan kesehatan mental.

Nah, kesehatan mental itulah yang disasar oleh aktivitas bermeditasi. Kegiatan ini menjaga perasaan/mental kita berada di tengah-tengah. Manakala senang kita tidak terlampau senang dan manakala sedih kita pun tidak terlalu sedih.

Manfaat lain dari meditasi katanya adalah untuk melatih konsentrasi. Sang Instruktur bercerita, bahwa saat dia mengalami berbagai hal yang melelahkan, dia akan melakukan meditasi. Oleh sebab itu, dia hampir tiap hari bermeditasi untuk mengembalikan kesadaran, mengendapkan perasaan, dan menstabilkan mental.

Dalam sesi tanya jawab saya juga bertanya, apakah meditasi harus dilakukan dengan cara duduk bersila? Dia bilang tidak perlu. Meditasi bisa dilakukan saat kita duduk, berdiri, berbaring, bahkan berjalan. Semua aktivitas itu diiringi dengan perhatian pada pernapasan, yaitu dengan memperhatikan udara yang masuk dan keluar dari tubuh.

Saat kesulitan berkonsentrasi, sering lelah karena sebab tidak jelas, banyak tugas sekolah, dan berbagai kejadian lain yang mengganggu mental, maka saya kira meditasi bisa menjadi jalan keluar yang bisa saya ambil. Barangkali saya akan mencoba untuk melakukannya setiap hari. Tentu dengan catatan semoga bisa rutin dan tidak bosan.

Bila ditarik ke skala yang lebih luas dan melihat manfaat bermeditasi, maka mungkinkah kegiatan ini bisa mendamaikan mereka yang berselisih? Sekadar contoh kecil, di media sosial kita sering menemukan berbagai hal yang diam-diam membuat marah, ingin mengumpat, iri, dan dengki.

Saya penasaran, melihat manfaat meditasi, yaitu untuk menstabilkan perasaan, maka semua perasaan-perasaan dari ber-media sosial itu apakah bisa hilang? Jika bisa, akan sangat menyenangkan sekali, bukan? Kita akan menemukan atau membuat status di Facebook dan Twitter atau di mana saja yang tidak reaktif. Kita akan lebih bersabar saat membaca atau membagikan satu isu di media sosial. Kita akan lebih arif melihat berbagai persoalan dunia.

Guna dunia dan masa depan yang lebih baik seperti yang kita cita-citakan, apa salahnya belajar hal baru yang bisa membantu kita meraih cita-cita itu? Sayangnya, banyak orang menginginkan hal yang baik dalam hidup, namun hal-hal yang dilakukannya dalam keseharian, termasuk dalam bermedia sosial, tidak sejalan dengan cita-cita itu. Hal ini, semakin menguatkan perlunya berlatih hal-hal baru yang positif untuk kebaikan semua orang dan dunia.

Apakah Anda setuju?

Sumber gambar: Pixabay


 

 

2 thoughts on “Belajar Hal Baru: Meditasi”

  1. Aku baru mulai mengenal meditasi saat aku latihan yoga. Sekarang setelah cukup rutin yoga, yang berarti rutin meditasi juga, aku merasakan manfaatnya. Emosiku terasa lebih stabil. Lebih tenang begitu deh. Tapi, entahlah ini pengaruh dari meditasi atau hanya sugesti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *