Di Ruang Tunggu

Perlahan aku melangkah, menyusuri tangga pesawat yang licin karena hujan. Di bawah sana, genangan tipis air di permukaan aspal. Aku harus berjingkat agar sepatuku tak basah, tasku pun aman dari air.

Cukup lama juga aku melangkah di bawah terpaan gerimis yang menerpa kepala. Ah, kenapa juga aku tak bawa topi kesukaanku itu?

Langkahku menyusuri aspal itu semakin mendekatkan kita, kendati sampai sekarang aku tak tahu apakah dirimu sudah berada di pintu kedatangan atau belum.

Secara konyol, aku bahkan membayangkan kamu berada di anjungan tempat pengantar melihat kerabatnya dibawa terbang pesawat, seperti saat terakhir kamu mengantarku dulu. Ingin rasanya kudongakkan kepala melihat ke anjungan itu, barangkali saja pandangan mata kita akan beradu. Sayangnya, rintik gerimis cukup merepotkanku, aku pun tak bisa melakukan itu.

Hmm… atau barangkali kamu sekarang sedang menyusuri terowongan yang menghubungkan tempat parkir dengan pintu kedatangan?

Dasar bodoh, kenapa aku masih saja membayangkan dan memikirkanmu? Bukankah hal itu justru akan memperlambat langkahku?

Bersicepat, kusalip beberapa penumpang yang bersikeras menarik tas mereka yang beroda. Hahaha, kenapa tak diangkat saja, biarpun cuma genangan air, kurasa air itu tetap akan membuat tas dan isinya basah.

Sampai di pintu, penumpang harus antri. Aku menjadi salah seorang di antara mereka. Sebagian sudah ada yang berkerumun di sekitar tempat pengambilan bagasi, biarpun belum ada gerakan, sekadar tanda-tanda, bahwa sebentar lagi tas-tas dari bagasi akan segera keluar. Aku abaikan kerumunan itu, langkahku pasti, keluar di pintu kedatangan.

Sudah banyak penjemput yang berada di sana. Ada yang memegang papan, berisikan nama dan instansi seseorang yang akan dijemput. Ada anak kecil yang sudah tak sabar, barangkali menunggu ayahnya yang baru pulang dari perantauan. Seorang bapak menjulurkan kepalanya, tampak dahinya yang penuh kerutan, sementara mata tuanya sibuk mencari-cari, mungkin anaknya yang sudah lama dinanti. Ah, kenapa juga kuperhatikan orang-orang ini?

Hei, di sana, kulihat kau berdiri. Aku tak akan lupa gerai rambut dan lekuk pundakmu. Saat itu, kau membelakangiku. Dirimu seperti sedang sibuk dengan sesuatu, ah, pasti itu hapemu.

Hah, hape? Aku lupa, sejak turun dari pesawat tadi, barang itu belum hinggap di genggamanku. Kuambil dari kantong celanaku, kemudian kumatikan fitur terbang. Sontak saja, beberapa sms masuk. Dari bosku, kenapa juga dia masih cerewet padahal aku kan mengambil cuti. Kuabaikan. Dari ibu, pasti beliau khawatir kalau-kalau aku belum sampai. Nantilah kubaca dan kubalas sekalian. Dari Ila. Eh, dari Ila?

“Aku tunggu kau di tempat biasa kita melihat senja.”

Sesingkat itu sms darinya, aku sudah paham di mana tempatnya. Kemudian aku baru sadar, kalau Ila menunggu di tempat senja terlihat berbeda, lantas siapa wanita yang gerai rambut dan lekuk pundaknya kulihat tadi?

Mungkin, mungkin ia bukan siapa-siapa, hanya bayangannya. Barangkali aku terlampau rindu padanya.

[adsenseyu1]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>