Pesawat Parkir

Syukurlah, akhirnya pesawatku pun mendarat dengan sempurna kendati kondisi cuaca mengkhawatirkan. Kucoba bersabar tetap duduk di kursiku yang di pinggir dekat dengan jendela. Sabuk pengaman pun masih tetap kukenakan, seperti instruksi dari awak pesawat.

Kulihat penumpang lain sudah tak sabar. Biarpun pesawat belum berhenti, mereka sudah melepaskan sabuknya, bahkan sudah ada yang berdiri dan mengambil tas di kabin. Diam-diam aku menertawakan ketidakpatuhan mereka ini, antara lucu dan miris.

Oiya, di antara mereka sudah ada pula yang menyalakan telepon genggamnya meskipun jelas-jelas dikatakan, perangkat elektronik baru boleh menyala dan digunakan di ruang tunggu bandara. Huh, dasar bodoh.

Setelah pintu pesawat dibuka, satu per satu penumpang pun turun. Aku masih tetap duduk, seolah-olah tak ada ketergesaan dalam diriku. Padahal, tahukah kau, Ila, ada gemuruh di dalam sana, berdegup-degup seakan ingin mendobrak rongga dada.

Debaran itu hadir sebagai jenis yang lain daripada yang tadi kurasakan saat hendak mendarat. Ini debar pengharapan. Mengharapkan dengan sangat saat-saat pertemuan denganmu yang tinggal beberapa menit lagi.

Situasi seperti itu sering kurasakan manakala perjumpaan denganmu menjelang. Ada harapan besar yang datang bersamaan dengan kekhawatiran yang juga tak kecil.

Ila, sudahkah kau berada di pintu kedatangan, manakala nanti aku keluar pintu bandara?

Sumber Gambar

[adsenseyu1]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>