Ini hujan pertama di tahun ini, kau pun tahu itu.
Seperti tahun-tahun yang telah lalu, hujan mendadak membuatku bisa mencurahkan isi hati dalam selembar kertas ini. Kau pun tahu itu.
Hujan ini, Ila, diam-diam menelusupkan rinduku padamu.
Seperti tahun-tahun yang telah lalu, rindu mendadak menyeruak di relung sana mengusik hati yang cuma selembar ini. Tentu kau pun tahu itu, bukan?
Aku berada di dalam pesawat yang hendak mendarat di Jogja. Sontak saja, hal itu membuatku takut setengah mati. Bukankah bandara Jogja begitu pendek landasannya, sehingga membahayakan setiap penerbangan yang dilakukan pada cuaca semacam ini?
Kemudian di tengah goncangan badan pesawat yang merembet ke badanku dan membuat debar di hatiku aku berdoa. Semacam doa yang biasa kudengar dari Bapak agar diberi keselamatan.
Dari jendela pesawat kulihat keluar, di bawah sana rumah-rumah bergerak begitu cepat. Di sekeliling pesawat, awan tipis membentuk semacam tirai, namun dengan efek dahsyat berupa goncangan itu. Sebagian awan, ada pula yang menelusup di bawah dan atas sayap, membentuk semacam hembusan begitu cepat yang memiliki lekukan sempurna.
Dan kau, Ila, kutahu pasti kau pun merasakan degup itu di dadamu. Melihat cuaca, hujan rintik dan landasan pacu yang basah seakan menjadi medan luncur bagi pesawatku. Barangkali saat itu wajahmu pias.
Namun, kehadiranmu di bandara itu tentu menjadi sesuatu yang sempurna buatku. Sebentar lagi, ya, semoga pesawat ini dan aku yang berada di dalamnya bisa mendarat dengan sempurna.
Nanti, bukankah kita akan bersepeda motor menyusuri jalanan yang basah sehabis hujan dan berujung di sego pecel kesukaanku?
Sumber gambar
[adsenseyu1]
aaahhh rasanya nyesek sekali baca ini… berasa ikut ngerasain rindunya
[Jawab?]