Menjadi tua, tentu semua orang yang dikaruniai umur panjang akan mengalaminya, bukan?
Konon, Tuhan memberikan anugerah berupa umur panjang dan pada saat yang sama ia juga menarik banyak kenikmatan seiring bertambahnya usia. Dari yang mudah kelihatan, misalnya jalan tak lagi tegak, kulit yang mengeriput, rambut memutih, mata tak lagi awas, telinga sudah menurun daya dengarnya. Hanyalah sebagian kecil dari berbagai kenikmatan yang ditarik kembali oleh Tuhan dari manusia.
Hari ini ada dua teman yang saya ketahui sedang merayakan ulang tahunnya. Selain itu, masih banyak tentu di belahan dunia, entah, yang sedang merayakan kelahiran. Kemudian barangkali pada saat yang sama juga ada yang sedang ‘merayakan’ kematian.
Kemudian kenapa saya mendadak menulis tentang menua ini?
Secara tidak sengaja seorang teman mengajak saya untuk menemui saudaranya. Di luar perkiraan, ternyata saudara tersebut belum terlampau sepuh, namun terlihat agak kurang sehat.
Usut punya usut, memang beliau mengidap berbagai penyakit. Diagnosa dokter di samping beliau mengidap jantung, pada saat yang sama asam urat, kolesterol, dan diabetesnya pun turut mengintai di belakang.
Karuan saja, Si Bapak ini begitu khawatir. Terutama apabila beliau mendengar berita anak buahnya yang meninggal. Si Bapak dulu menggadang-gadang agar stafnya itu bisa maju dan menggantikan dirinya. Namun, kenyataan berkata lain, Si Bapak masih melihat mentar bersinar, namun tidak demikian dengan anak buahnya itu.
Bapak tersebut apabila mendengar berita meninggalnya anak buah, maka serta merta tensinya akan naik dan memengaruhi berbagai penyakit yang sudah mendekam di tubuhnya. Bila saat ini tiba, ia kemudian harus meminum obat. Gara-gara obat pula sebenarnya, sehingga ia yang tadinya hanya menderita penyakit jantung, ke sini justru telah mempengaruhi seluruh sistem di dalam tubuh.
Mulanya adalah jantung, kemudian dikasih obatnya. Namun, justru sakit terasa di perut. Rupa-rupanya ini adalah pengaruh dari obat untuk jantung yang diminumnya. Tersebutlah kemudian adalah diabetes yang memerlukan obat lain lagi. Oiya, saat putranya harus memotong-motong gabus untuk dekorasi yang merupakan pekerjaannya sehari-hari, Si Bapak itu pun kambuh asmanya.
Kini obat menjadi bagian terbaru dari sistem tubuhnya. Apabila ada gangguan, maka satu obat diminum. Obat ini kemudian menyebabkan sakit yang lain, obat lain pun diminum lagi, dan begitu seterusnya.
Sumber gambar
[adsenseyu1]