Guru SD Saya

Pagi itu saya sudah berdiri di beranda di lantai empat sebuah penginapan di Bengkulu. Dari tempat tersebut, saya layangkan pandangan ke seantero sudut. Hei… di kejauhan sana laut rupanya, ah, sayangnya saya belum sempat ke sana. Pemandangan terus berlanjut, ada permukiman yang biasa saya lihat, padat dan kurang teratur dengan atap seng yang menaungi. Kemudian saya pun melihat menara sebuah masjid. Oh, dari situ rupanya suara adzan yang saya dengar subuh tadi.

Kemudian, lama saya berhenti memandangi aktivitas di bawah sana. Di sebuah sekolah, dua sosok guru sedang berdiri tak jauh dari pintu gerbang. Satu bapak dan satu ibu guru. Berangsur-angsur murid-murid masuk ke dalam sekolah, mereka melintas di depan guru tersebut, berhenti sebentar dan menyalami keduanya.

Hmmm… sudah sangat lama rasanya saya tak melihat pemandangan seperti itu. Di mana guru begitu dihormati oleh muridnya. Kenangan terakhir tentang penghormatan kepada guru adalah manakala saya masih di sekolah dasar.

Setiap pagi, saya dan teman-teman akan menyusuri jalanan berbatu kurang lebih sejauh dua kilometer. Di kanan kiri jalan tersebut terdapat sungai kecil, di mana teman saya, Anto, biasa mencari ikan sepulang sekolah nanti. Setelah sungai, terhampar sawah dengan tanaman berganti-ganti tergantung musim. Terkadang kami, murid-murid yang berjalan pulang akan mampir ke sawah-sawah tersebut dan meminta tebu, semangka, melon, sekadar untuk penawar haus.

Guru kami ada yang mengendarai sepeda. Khas bunyinya, karena sepeda tua itu sudah tak kencang lagi bautnya. Ketika roda-roda menghantam bebatuan, maka akan berbunyi, besi beradu dengan besi. Saat itulah, kami akan menepi, menanti guru tersebut lewat. Nah, saat beliau melintas, kami akan membungkukkan badan, memberi penghormatan.

Sekarang ini, apakah masih seperti itu?

Barangkali gurunya masih sama, ada yang masih mengendarai sepeda yang sudah tak kencang bautnya sehingga terdengar bunyi logam beradu dari sepedanya. Namun, sekarang ini mungkin ia tak lagi menemukan murid yang berjalan kaki berangkat ke sekolah karena sudah diantar oleh orang tuanya menggunakan sepeda motor. Atau, bahkan ada yang sudah mengendarai sepeda motor atau mobil sendiri dan melintas, menyalip guru tersebut dengan penuh gaya.

Guru akan selalu sama, mendidik muridnya, tak peduli pada nasibnya sendiri. Melihat murid-muridnya sudah berhasil adalah kebanggaan baginya. Bukankah begitu seharusnya?

Mengenai hal ini, saya teringat Bapak yang juga seorang guru. Beliau kerap bercerita tentang muridnya yang sudah menjadi anggota DPRD, atau satu lagi muridnya yang sekarang sudah menjadi bos sebuah perusahaan travel dan memiliki berpuluh bus. Ada nada bangga dalam suaranya kala bercerita.

Apabila mengingat hal itu, saya pun menjadi sadar diri. Barangkali saat itu, ketika saya berdiri di beranda sebuah penginapan di Bengkulu, guru SD saya dulu pasti sekarang sudah sepuh. Mungkin beliau masih mengajar atau sedang menghadapi sakit tuanya yang membuatnya kesulitan melangkah, saya kurang tahu. Padahal, semestinya saya lebih banyak mengigatnya, bukankah karena jasa beliau, maka sepagi itu saya bisa berada di tempat yang jauh dari asal? Berkesempatan berkeliling seantero Indonesia, berpeluang mendapatkan informasi dengan membaca, mengartikan huruf yang dirangkai menjadi kata, kemudian kalimat. Dari beliau-beliau itu saya mengenal huruf, belajar merangkainya, mengartikannya.

Saya sudah keliling ke mana-mana, sementara guru SD di kampung sana mungkin masih setia menyusuri jalan yang sama dari hari ke hari. Setiap tahun bertemu dengan anak yang berbeda-beda, barangkali ada yang nakal, bisa jadi ada yang bandel dan menuntut perhatian lebih. Beliau-beliau ini membutuhkan pengganti, namun tengoklah sekarang, siapa yang bercita-cita menjadi guru?

Tulisan terkait:

One thought on “Guru SD Saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>