Stimulus untuk Bayi Prematur

Share in top social networks, email, translate, and more!

Tetangga di kontrakan saya beberapa bulan yang lalu baru saja melahirkan. Saya kaget pada saat itu, karena kelahiran bayinya jauh dari perkiraan hari lahirnya. Ya, tetangga saya tersebut melahirkan prematur. Saya banyak mendengar cerita tentang ketidaknormalan bayi yang lahir prematur. Tak urung, saya pun ikut khawatir pada kondisi bayi tetangga itu.

Syukurlah, di koran langganan saya, ada satu ahli, dr Rini Sekartini, seorang dokter anak, yang membagi pengetahuannya mengenai bayi prematur. Menurut beliau, agar tumbuh kembang bayi prematur tidak mengalami kelambatan, bayi tersebut membutuhkan stimulasi yang kontinyu dan berkesinambungan.

Bayi prematur memerlukan rangsangan yang terus-menerus agar keterlambatan serta risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan dapat dicegah. Pada prinsipnya, pemberian stimulasi pada bayi prematur sesuai dengan bayi lainnya, yang perlu diperhatikan adalah pada saat penilaian pemantauan tumbuh kembang harus menggunakan usia koreksi. Begitu pula saat memberikan strimulasi, lakukan sesuai usia koreksinya.

Stimulasi bayi prematur

Pertama, stimulasi rangsang taktil dengan memijat (masase atau sentuhan). Kedua, stimulasi vestibular kinestetik dengan menimang dan mengayun. Ketiga, stimulasi pendengaran dengan menyanyikan lagu, memperdengarkan musik, rekaman suara ibu, dan irama jantung ibu. Keempat, stimulasi visual dengan gerakan, warna, dan bentuk.

Stimulasi sesuai usia perkembangan

Stimulasi dilakukan teratur dan berkesinambungan dalam aktivitas sehari-hari saat menjelang tidur, memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makan, menggendong, mengajaknya bermain, dan sebagainya.

Bayi 0-3 bulan: memberi rasa nyaman dan aman, memeluk, menggendong, menatap matanya, mengajaknya senyum, berbicara, membunyikan berbagai suara atau musik bergantian, menggerakkan benda dengan arah horisontal ke kiri dan kanan melewati garis tengah dengan menggunakan benda berwarna mencolok, bunyi, serta merangsang si kecil untuk meraih dan memegang mainan.

Bayi 3-6 bulan: bermain cilukba, melihat wajah bayi di cermin, bayi dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, dan diajarkan mengucapkan beberapa suku kata seperti “ma… ma… ma…” atau “pa… pa… pa…” atau “da… da… da…”

Bayi 6-9 bulan: panggil namanya, ajak bersalaman, tepuk tangan, bacakan dongeng, duduk  sendiri, merangkak, ajari menunjuk, dan mengucapkan kata “mama” dan “papa” sesuai artinya.

Bayi 9-12 bulan: memanggil mama-papa, dada atau gaga, memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, oper bola, dilatih berdiri, merambat, dan berjalan dengan berpegangan (titah).

Bayi 12-18 bulan: mencoret dengan krayon, menyusun balik puzzle, memasukkan dan mengeluarkan benda kecil dari wadah, bermain boneka, sendok, piring, gelas, teko, sapu, dan lap. Latihlah berjalan tanpa berpegangan, memanjat tangga, menendang bola, melepas celana, memahami perintah sederhana (ambil bola, sayang mama), menyebut nama atau menunjukkan benda-benda. Usia 18 bulan anak sudah dapat mengucapkan 6-10 kata yang benar dan tepat.

Bayi 18-24 bulan: mengenal bagian tubuh dengan cara bermain. Melihat gambar benda, menyebutkan nama binatang, dan mengajaknya bicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum, mandi, main, cara meminta dan lain-lain). Melatih keterampilan jarinya dengan menggambar garis-garis, mengenakan pakaian, bermain lempar bola, dan melipat.

Usia 2-3 tahun: mengenalkan kata sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit), menyebutkan nama teman, menghitung benda, memakai baju dan mengancingkannya, menyikat gigi, bermain bersama anak lain (boneka, masak-masakkan), menggambar garis, lingkaran, manusia, berdiri di satu kaki, dan toilet training.

Setelah umur 3 tahun: stimulasi diarahkan untuk persiapan sekolah, misalnya cara memegang pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti perintah sederhana (buang air kecil atau buang air besar di toilet), dan kemandirian (makan sendiri, membuka celana atau baju, cuci tangan, dan sekolah tanpa ditunggu), berbagi dengan teman, berempati, dan lain-lain.

Nah, dengan mengetahui hal-hal tersebut di atas, semoga bayi prematur tidak harus mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

Tulisan ini mengambil dari fitur Klasika di Koran Kompas, 02 September 2012 dengan judul, ‘Tumbuh Kembang Bayi Prematur’.

[adsenseyu1]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>