Bertadarus di Masjid

Saya termasuk golongan orang yang terbiasa membaca Al Quran sendiri di rumah atau di mana saja, mengingat sekarang dalam ponsel saya pun ada aplikasinya. Kemudian hal yang berbeda saya rasakan manakala saya mencoba ikut bertadarus di masjid.

Di sana seseorang yang sedang membaca akan didampingi atau disimak oleh beberapa orang lagi. Pada tahap ini terjadi koreksi bacaan, pembetulan tajwid atau hal lainnya.

Saya baru sadar, rupanya saya masih banyak melakukan kekeliruan. Saya abai pada panjang pendeknya bacaan Quran. Syukurlah dalam proses bertadarus tersebut, Bapak-bapak di masjid berkenan untuk mengoreksi. Kini, saya tak lagi mengacuhkan tanda-tanda atau huruf yang menandai sebuah bacaan panjang atau pendek.

Hal lain yang menarik saat bertadarus di masjid. Terutama saat proses menyimak itu, seorang kakek tua, saya tak tahu nama beliau, bersemangat sekali mengikuti tadarus. Beliau kerap berada di urutan awal dalam membaca bergirliran. Adapun bagaimana bacaan beliau? Menurut saya pribadi tak lancar-lancar amat. Masih terdapat kesalahan di sana sini dan seringkali orang lain membetulkan bacaannya.

Kemudian hal aneh terjadi saat beliau sudah selesai membaca dan ganti kini menjadi penyimak. Dalam hal ini beliau sangat piawai. Matanya sungguh jeli menangkap kekeliruan bacaan orang lain. Kemudian dengan suara lantang beliau akan membetulkan bacaan tersebut.

Apabila saat membaca beliau beberapa kali, bahkan mungkin kerap melakukan kesalahan, saat itu beliau tak sadar dan orang lain yang mengingatkannya. Namun, saat orang lain membaca, beliau cepat sadar kalau terjadi kesalahan dan segera membetulkan.

Dari situ, barangkali hikmahnya adalah, kita tak selalu mengerti kesalahan kita sendiri, namun orang lainlah yang justru lebih paham.

Gambar pinjam dari sini

4 thoughts on “Bertadarus di Masjid

  1. tahun tahun lalu saya bertadarus di masjid. baru ramadhan kali saya belum pernah bertadarus di masjid. saya bertadarus di rumah. hehe

    target saya sederhana tetapi tidak tercapai, yaitu ingin konsisten 1 juz per hari, nyatanya kadang kurang dan hari berikutnya melengkapi kekurangan hari sebelumnya :)

    [Jawab?]

    unclegoop menjawab:

    @jarwadi,
    hahaha, saya pun begitu…
    kebetulan harus menjadi imam untuk istri, lebih sering, sih, di rumah :D
    dan metode kita pun sama, belum bisa memenuhi target juga :(

    [Jawab?]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>