Menunggu Berbuka
Saya kira bukan proses berbuka puasa yang menggoda, namun kemampuan bersabar untuk menunggu sampai saat berbuka itu tiba yang benar-benar diuji.
Sejujurnya, saya termasuk penunggu waktu berbuka yang khusuk. Bunyi adzan itu saya tunggu-tunggu, tentu dengan kurang sabar. Dalam menunggu tersebut, sudah barangtentu banyak sekali godaannya, namun saya tetap kukuh bersabar. Habis, mau bagaimana lagi? Apa mau makan atau minum? Hehe
Temperatur orang yang hendak berbuka puasa tidaklah bersahabat. Maksudnya mereka cenderung menjadi mudah marah. Bukti paling sahih pernyataan di atas adalah apa yang terjadi pada diri saya sendiri. Maka, bila waktu berbuka puasa menjelang, harap jaga jarak sedikit dengan saya.
Anehnya, kenapa ya, segala sesuatu menjelang buka itu terasa kurang beres. Misalnya, sudah tahu adzan yang kita tunggu, tapi televisi malah getol menyiarkan iklan, mana durasinya panjang-panjang pula, ya kan?
Ada lagi ustad yang kerap nongol menjelang waktu berbuka. Eh, sudah gitu kasih ceramahnya panjang lebar tak tentu arah. Mana yang disampaikan itu lagi dan itu lagi. Saya berharap mbok ya ada inovasi gitu. Saat itu orang kan nunggu adzan, bukan nunggu si ustad. Udah, dong, adzan magribnya buruan, jagan ngoceh aja!
Tadi kan saya sudah bilang, temperatur orang nunggu buka kurang mudah diprediksi. Begitu pun kalau tulisan ini jadi agak kurang asyik atau terkesan emosi, ini lagi-lagi Cuma bukti pernyataan menyangkut orang menunggu buka itu.
Kapan adzannya, sih?
Gambar pinjam dari sini
Page 1 of 2 | Next page