Mengapa Catharine Terus Menulis?

Share in top social networks, email, translate, and more!

Sebuah kisah tentang seorang ibu dan penulis kolom mingguan.

Adalah Catharine Bramkamp namanya. Ia adalah seorang penulis kolom mingguan di sebuah surat kabar yang sangat kecil, sangat lokal. Ia menulis sebagai pekerjaan tambahan. Pekerjaan utamanya adalah membesarkan dua bocah laki-laki.

Ia menulis bermacam-macam topik, terutama tentang cerita kehidupannya sehari-hari. Ia juga menulis mengenai apa yang ia ketahui, sisi politis, sisi komersial, sisi lucu menjadi seorang ibu modern dan lain-lain.

Ia mempunyai seorang pembaca tetap bernama Susan. Sosok yang bukan saja menyukai kolom mingguan Catharine tapi juga setuju dengan apa yang tertulis di sana. Kedua ibu-ibu ini memang tugas utamanya adalah membesarkan putranya, mereka cocok satu sama lain.

Catharine dan Susan saling berkunjung paling tidak seminggu sekali. Mereka berbagi cerita tentang apa saja, berupa epik-epik panjang yang melibatkan berbagai peran terdiri atas teman-teman dan kerabat. Persahabatan mereka terbentuk karena kebutuhan, terkadang karena rasa putus asa. Mereka perlu berkomunikasi dengan orang dewasa lain, menggunakan kata-kata yang terdiri dari banyak suku kata dan kalimat-kalimat panjang. Mereka perlu berbicara tentan g berbagai rasa frustasi yang diderita, karena tugas membesarkan anak, karena suami, karena menjadi begitu sendirian dalam sebuah masyarakat yang tampaknya tak lagi mengharai kehidupan sebagai ibu.

Sebagian besar wanita pada saat itu yang seumuran dengan Catharine dan Susan sedang berlomba meniti karier. Pada masa itu seorang perempuan seharusnya menjadi pengacara, pialang saham, pengguna setelan abu-abu. Namun, kedua ibu, Catharine dan Susan, tak melakukan semua itu.

Satu hari, Susan harus pindah ke kota lain yang jaraknya tiga jam perjalanan dari tempat tinggal Catharine. Si penulis kolom di koran mingguan kecil ini pun menuliskan perasaan kehancuran hatinya yang ditinggal sahabat di kolomnya.

“Kebanyakan dari kita terpusat pada yang besar. Peristiwa besar, tragedi besar, cerita besar. Hal kecil sehari-hari yang menghabiskan lebih banyak jam dan hari kehidupan sering diabaikan.

Kaum ibu di rumah sering diabaikan karena ibu-ibu tak pernah terlihat melakukan apa pun yang besar. Jika seorang ibu melakukan pekerjaan yang baik, kita takkan pernah membacanya dalam berita. Ucapkan kata “Ibu-ibu” seperti dalam sekelompok ibu, dan masih terbayang gambaran para perempuan yang duduk-duduk di sebuah dapur yang tak bernoda dan cerah sambil minum kopi sementara anak-anak mereka berlarian di sekeliling rumah dengan hanya mengenakan pakaian dalam dan topeng Teenage Ninja Turtle.

Gambaran ini tetap ada karena kenyataannya masih begitu.”

Kedua ibu tersebut memang menjalani hari yang hampir mirip. Setiap pagi kedua mobil mereka berpapasan ketika mereka mengantar anak-anak ke TK yang berbeda. Setiap kali berpapasan, mereka saling melambaikan tangan. Bagi Catharine, dengan melihat ibu lain yang melakukan hal sama dengan apa yang dia lakukan, telah menjadi pemompa bagi dirinya sendiri.

Pada hari setelah Susan pindah, secara otomatis Catharine memindai jalanan, mencari mobil Susan. Baru setelah satu menit pencarian, ia menyadari, bahwa ia takkan pernah melihatnya lagi. Hal ini telah membuatnya menangis sepanjang perjalanan ke TK pada pagi itu. Apa yang membuat Catharine sedih adalah ia kehilangan salah satu sambungan kecil dalam rantai peristiwa sehari-hari, sebuah peristiwa kecil, namun sangat berarti untuknya.

Waktu berlalu, Catharine mulai pulih dari kehilangannya. Pada saat ia berbelanja, seorang perempuan menghentikannya.

“Anda menulis untuk surat kabar, kan?” Tanya perempuan itu.

“Ya.” Catharine menjawab singkat sambil memilih apel. Ia menduga, perempuan itu akan berkomentar tentang buah-buahan yang ia pilih atau ia membeci kolom minggu lalu.

“Terima kasih,” ia malah berbisik. “Sahabat saya baru saja pindah, dan Anda mengatakan apa yang saya rasakan, tapi saya tak punya kata-katanya.”

Di detik itu, Catharine merasa beruntung. Seseorang benar-benar menghadapkannya pada kekuatan pekerjaan. Hal itu membuatnya menyadari bahwa pada akhirnya menulis bukanlah tentang uang. Uang adalah peristiwa besar, kejadian hebat yang meskipun menyenangkan, tidak bertahan lama dalam hati.

Menulis adalah tentang frase-frase yang mengesankan, penggambaran yang menyentuh. Menulis adalah tentang tersambung dengan pemahaman orang lain mengenai dunia. Pagi itu, Catharine belajar, bahwa menulis adalah tentang memberi seseorang, satu pembaca, kata-kata yang tepat.

Dirangkum dari, Chicken Soup for the Writer’s Soul, Halaman 51-54.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>