Lapangan di Dekat Rumah

Tahukah kau, kawan, beberapa saat yang lalu di dekat rumahku terdapat sebuah lapangan bola.

Aku suka membayangkan diriku ini akan bermain bola di sana. Yah, memang sekadar membayangkan karena sampai dengan detik ini, tak pernah sekali pun aku bermain bola di sana.

Aku hanya tahu, setiap sore warga kampung bermain bola di lapangan itu. Saat aku pulang bekerja, sebagian dari mereka pun pulang ke rumah sambil menenteng sepatu bola dan kaos basah oleh keringat.

Ah, betapa ingin aku menjadi bagian dari mereka itu dan turut bermain bola.

Apabila hari minggu tiba, maka begitu riuh di lapangan itu saat pagi hingga tengah hari. Yah, di sana terdapat sebuah sekolah sepak bola yang memberikan latihan di minggu pagi. Anak-anak sebagai siswa sekolah itu pun berlari dengan penuh semangat mengejar bola. Para orang tua yang mengantar anaknya berdiri di pinggir lapangan mengawasi dengan was-was, khawatir kalau anaknya sampai cedera.

Aku suka melihat keriuhan itu, sayangnya aku hanya menjadi penonton, tak pernah terlibat langsung.

Di sebuah sore sekitar sebulan yang lalu, kebetulan aku harus mengantar istri berbelanja di toko waralaba dekat rumah. Aku hanya mengatarnya sampai di parkiran dan kubiarkan ia memasuki toko seorang diri agar ia lebih leluasa berbelanja.

Kuamati seorang tukang parkir berjaga di depan waralaba itu. Ia pun mengamatiku, barangkali ia kurang suka karena aku tak turun dari motor dan turut masuk ke dalam toko. Dengan aku menduduki motorku sendiri, maka lazimnya aku tak perlu membayar parkir. Tentu saja ini sebuah kerugian bagi tukang parkir itu, bukan?

Ah, dia malah mendekatiku, mengajakku mengobrol. Singkat cerita, kami pun terlibat dalam pembicaraan seru mengenai toko elektronik di seberang waralaba itu yang kini mulai ramai. Ia menanyakan di mana aku tinggal, ia pun menyarankan agar aku segera pindah dari tempatku mengontrak sekarang.

Kenapa, ya, batinku mulai merasa ada yang tak beres.

“Di sana itu, mas, sudah dibeli semua sama pengembang perumahan. Tahu lapangan sepak bola di deket rumah, mas itu, kan? Nah, di situ sebentar lagi akan dibangun perumahan yang baru.”

Ahhh, bahkan aku belum pernah sekalipun menendang bola di lapangan itu. Selama ini masih sekadar niat saja tak pernah kesampaian.

Sekarang ini, saat aku melintas di jalan samping lapangan itu dapat kulihat, peralatan berat sedang menggali tanah. Tumpukan hasil galian tanah yang menggunung mulai terbentuk di pinggir lapangan sisi timur, dan sebentar lagi tentu bergeser ke barat. Aku melihat hijau rerumputan yang masih tersisa di lapangan itu dengan masygul.

Mereka seperti memanggilku untuk menendang bola, untuk berlari bertelanjang kaki di sana.

4 thoughts on “Lapangan di Dekat Rumah

  1. misalkan lapangan nanti jadi bangunan, carilah data di BPN dan sumber data lainnya lima tahun kemudian apakah status lapangan tersebut. Pasti berbeda dari amatan visual citra satelit untuk publik versi Google :)

    [Jawab?]

    unclegoop menjawab:

    @antyo,
    wah gila kalau soal itu, Paman.
    di Jogja dan Klaten, sekadar contoh, banyak yang statusnya lahan sawah abadi, namun jadi permukiman, perumahan dan sebangsanya :cry:
    entahlah….

    [Jawab?]

  2. Di Jakarta apa di Magelang? sedih, kalau ruang terbuka begitu dicaplok buat perumahan, apalagi mall dan pabrik :(

    [Jawab?]

    unclegoop menjawab:

    @arya,
    Di Jakarta Barat, Mas Bro
    iyaa… sekarang main bola pun di jalan :(

    [Jawab?]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>